
Kami berhasil menyelamatkan kota Nagoya dari serangan para Assassin bawahan Astaroth yang tersisa, bahkan aku dengar kalau Mei-senpai berhasil membunuh dua Assassin berkat bantuan dari Nimis dan Ardenter. Itu benar-benar hal yang patut di apresiasi.
Lalu selain itu untuk Arisu, yah ... dia jadi pahlawan bagi masyarakat Nagoya. Pandangan Exception lain terhadap dirinya juga jadi lebih mendingan dibandingkan dulu yang hanya menganggapnya 'Idol yang baik'.
Terlebih lagi dia melakukan hal-hal berlebihan lainnya kepada kami. Benar. Dia membantu usaha Haiiro Cafe kami yang awalnya hampir bangkrut menjadi laku keras seperti sekarang.
Hal itu berkat Arisu yang mempromosikannya secara langsung lewat media sosialnya. Aku bahkan tidak tahu apakah itu legal atau tidak, tapi berkat hal itu kami harus bekerja keras setiap harinya.
Bicara tentang keuntungan menjadi populer. Tapi dengan begini aku rasa satu masalah sudah terselesaikan. Andai saja si bodoh Iraya itu tidak menerima tawaran sparing dengan Oukami Yuu yang sama bodohnya, pasti bayaran yang kami dapatkan akan lebih banyak lagi.
Kadang aku tidak bisa memprediksi sampai mana sifat bodohnya itu dapat merugikan kami, padahal sudah hampir satu tahun kami bersama. Aku tidak percaya dia bisa jadi lebih bodoh lagi.
Memang banyak hal baik terjadi pada kami, tapi tentu saja berita baik tidak datang sendirian, pasti ada berita buruk yang mengikuti dari belakang. Lebih tepatnya ini adalah berita buruk untukku, sih.
Oita-san hidup kembali.
Tidak salah lagi. Beliau memang hidup kembali. Tapi kembali hidup menjadi musuh bukanlah satu hal yang menyenangkan, apalagi untuk orang seperti Oita-san. Aku yakin kata-kata terakhir tentang 'impiannya tercapai' adalah keinginannya untuk mati di tangan kami berdua.
Karena dia tidak ingin menjadi bidak musuh. Meskipun tubuhnya berbeda, tapi aura yang ia miliki tidak dapat menipuku yang sudah bertahun-tahun bersamanya.
Makanya ketika serangan Iraya melubangi perutnya, ia malah tersenyum senang. Dia memang benar-benar Oita-san yang aku kenal. Orang yang melakukan itu terhadapnya tidak akan aku ampuni! Aku tidak pernah dengar ada seseorang yang bisa menghidupkan orang mati dari para Assassin bawahan Astaroth.
Jadi itu berarti ... salah satu dari mereka.
"Pulanglah ke tempat ayah dan ibumu berada, Herlinia."
Kata-kata itu tidak pernah lepas dari kepalaku semenjak saat itu. Lalu saat aku melihat penampilannya .... Rambut dan iris matanya. Benar-benar mirip sampai membuatku merinding.
Tidak ada seorang pun yang mirip denganku di sini. Bola mataku bahkan lebih lebar dari orang Jepang pada umumnya— sama seperti perempuan itu. Itu menandakan kalau aku tidak berasal dari sini. Aku berasal dari tempat yang jauh dan aku sudah menyadari hal itu sejak lama, tapi di dalam hatiku, aku terus menyangkalnya.
Karena aku ingin tetap berada di sini. Tempatku dibesarkan adalah negara ini dan aku senang berada di sini. Tapi kata-katanya serta kata-kata Oita-san membuat kepalaku rasanya ingin meledak karena terus kepikiran.
Ayah.
Ibu.
Lalu perempuan yang ada di mimpiku.
Aku yakin mimpi itu bukanlah imajinasiku semata, itu adalah ingatanku saat kecil yang aku ingat secara samar-samar. Tapi aku tidak dapat menemui kedua orang tuaku bahkan di dalam mimpiku— jangankan bertemu, melihatnya saja tidak pernah.
Sialan. Apa takdirku memang sekejam ini? Apa aku bahkan tidak boleh bertemu kedua orang tuaku di dalam mimpiku sendiri? Apa aku benar-benar harus meninggalkan masa laluku begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya? Apa itu memang jawaban yang tepat?
"... San?"
Aku mengepalkan tanganku kuat dan memejamkan mataku kesal. Aku jadi ingat kalau Cecilia bilang aku dapat dengan baik mengontrol emosiku. Hah! Persetan dengan itu! Bahkan seorang diriku pun bisa kehilangan kesabarannya jika yang aku hadapi sekejam ini.
"... Lin-san?"
Jika kita mengabaikan kekuatan Exception dan Banshee yang aku miliki, aku hanyalah gadis kecil biasa. Apa aku tidak boleh dimanja dan dipuji? Aku juga ingin seperti gadis kecil lain yang mendapat kehidupan yang normal! Aku sudah muak dengan semua ini!
"Herlin-san!"
"Huh?"
"Apa ada yang salah?"
"Ti-tidak ada ... aku tidak apa-apa."
"Benarkah? Tapi wajahmu pucat, lho. Apa kita perlu istirahat sebentar?"
"Aku tidak apa-apa, Anna-san, sungguh. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Hampir saja aku lepas kendali. Aku tidak boleh tiba-tiba berteriak dan mengejutkan semua orang. Sial, kata-kata gadis itu membuat pikiranku jadi kacau begini. Aku harus tenang. Fokus dan konsentrasi.
"Fyuuh ...."
Ngomong-ngomong, kami bertiga sedang di mall sekarang untuk berbelanja. Yang aku maksud bertiga adalah aku, Anna-san, dan Hanasaki-san. Mereka berdua tiba-tiba mengajakku dan aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
Tapi cukup aneh mengajakku berbelanja saat aku tidak tahu apa-apa soal gaya dan fashion gadis muda jaman sekarang. Aku terdengar seperti nenek tua padahal sebenarnya aku sibuk dengan misiku.
"Apa kalian tidak bisa berbelanja berdua saja? Aku tidak mengerti apa-apa soal beginian," ucapku.
"Tidak boleh! Herlin-san harus ikut! Tidak akan seru jika tidak ada Herlin-san, tahu!" Anna-san mengomeliku. Entah kenapa sepertinya aku harus minta maaf. "Ma-maaf."
"Ini pertama kalinya aku berbelanja dengan kalian berdua, jadi aku sangat senang sekali!" Anna-san memeluk tanganku dan Hanasaki-san secara bersamaan dan mendekatkan kami berdua ke dirinya dengan ceria. "Makanya yang harus kita lakukan sekarang adalah belanja dan bersenang-senang! Apa kalian mengerti?!"
"Ba-baik ...." Kami berdua menjawab pelan.
"Ayo kita ke toko baju!" Lalu Anna-san berlari duluan meninggalkan kami.
Aku senang karena Anna-san sudah mulai terbuka dan nyaman dengan orang-orang di sekitarnya. Ini adalah perkembangan yang baik dibandingkan saat pertama kali kami bertemu.
"Dia gadis yang baik, ya?"
Aku menengok ke Hanasaki-san. Orang ini sebelumnya sangat membenciku dan Anna-san, lalu menyalahkan ketidakberdayaannya kepadaku. Walaupun aku memang tidak suka pada perundungan, tapi tetap saja menyalahkan kami adalah hal yang salah menurutku.
"Apa kau sudah baik-baik saja?" tanyaku.
"Hmm ...?"
__ADS_1
"Gadis-gadis itu."
"Ahh ...." Dia berpikir sejenak. "Mereka sudah tidak pernah menggangguku lagi, kok." Dan setelah it tersenyum kepadaku. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi. Dia terlihat dingin kepada orang, tapi sepertinya bayangan itu sudah memudar sekarang.
"Sejak saat itu, dia berjuang keras untuk menjadi akrab denganku. Dari mengajakku makan saat istirahat, membantuku mengerjakan PR, sampai membelikan minuman. Awalnya aku menolak semua bantuannya dan mengusirnya. Tapi ... dia menggunakan cara curang."
"Cara curang?"
"Ya, dia menangis keras di depan banyak orang dan membuat perhatian mereka semua tertuju kepadaku. Jadi mau tidak mau aku pun menerimanya dan tangisannya pun langsung berhenti."
Kau menyeramkan, Anna-san.
Tapi dia benar-benar berjuang keras. Aku rasa aku tidak bisa melakukan semua itu hanya untuk membuat orang menyukaiku. Aku selalu bilang kepada Iraya kalau aku akan mudah mendapatkan teman, tapi sepertinya aku hanya bermulut besar.
"Walaupun awalnya terpaksa, tapi aku merasa kalau yang diberikan padanya tulus padaku dan tidak ada hal yang ia sembunyikan. Dia murni ingin berteman denganku. Hanya itu saja."
Itu memang terdengar seperti Anna-san. Dia memang gadis yang kadang pemalu tapi juga kadang bisa melakukan hal yang memalukan. Meskipun begitu, hatinya aku akui memang sebersih malaikat.
"Apa yang kalian lakukan?! Jangan diam saja! Ayo cepat ikuti aku!"
Aku dan Hanasaki-san terkejut ketika Anna-san kembali dan meneriaki kami. Tapi setelah itu ia langsung berlari lagi ke toko baju yang memang menjadi tujuan kami.
"Aduh!"
Saat ingin menyusul Anna-san, tiba-tiba ada seseorang yang jatuh tepat di hadapanku dan barang-barang yang ia bawa juga ikut berserakan di lantai.
"Kau tidak apa— Hn?" Saat aku ingin membantunya, ternyata orang yang jatuh itu adalah orang yang kukenal. "Iraya? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah! So-soal itu ...! A-aku ... aku ...!"
Aneh. Dia terlihat gelagapan saat menjelaskannya. Lalu aku melihat belanjaannya yang berserakan di tanah saat ini. Aku dapat melihat sekilas kalau ada semacam confetti dan hiasan ulang tahun lainnya.
"Biar aku bantu."
"Ah! Tidak usah! Tidak usah! Aku bisa membereskannya sendiri!" Tapi dia menolak bantuanku mentah-mentah dan bahkan tidak membiarkanku melihat dari dekat belanjaannya itu.
"Sikapmu jadi aneh. Sebenarnya apa yang terjadi? Kau tahu kan kalau berbohong dariku sama dengan mati?"
"Hiikh ...! I-itu .... Bukannya aku mau berbohong ..., ta-tapi— Uhoogkh!"
Saat Iraya ingin menjelaskannya, tiba-tiba sebuah tinju masuk telak ke pipi Iraya dan membuatnya terpental jauh. Dan ternyata yang memukulnya adalah dua temannya yang selalu bersamanya— Takushi-san dan Tooru-san.
"Maaf atas gangguannya, Ririsaka-san. Aku akan menyingkirkan hama ini segera."
DIa kemudian menyeret Iraya yang sudah setengah sadar karena pukulannya. Sementara Takushi-san mengumpulkan barang-barang belanjaan milik Iraya lalu menyusul mereka berdua.
Apa-apaan drama jelek itu?
"Kadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran anak laki-laki, iya kan, Herlin-san?"
"Ah ..., hnm, mungkin?"
Kami kemudian lanjut menuju toko baju. Aku melihat mereka berdua diam-diam merasa lega pada sesuatu yang tidak aku ketahui. Apa mereka sedang merencanakan sesuatu?
Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Setelah sampai di toko baju, kami langsung memilih-milih baju. Anna-san dan Hanasaki-san terlihat sangat tertarik dengan hal-hal seperti ini sementara aku hanya menunggu mereka selesai.
Mereka berdua juga sempat mencoba beberapa baju yang akan mereka beli.
"Bagaimana penampilanku?!"
Yang pertama keluar adalah Anna-san. Dia memilih baju terusan berwarna kuning yang panjangnya sampai betis. Ditambah dengan tas selempang khusus wanita dan topi jerami kecil, membuat Anna-san terlihat seperti ingin pergi piknik.
"Ya, bagus," ucapku.
"Ehehe ...! Terima kasih!"
Selanjutnya yang keluar adalah Hanasaki-san. Dia memakai baju kemeja wanita berwarna abu-abu yang ia masukkan ke dalam rok motif hijau tua dan muda dengan kancing besar tersusun ke bawah.
"Aku rasa, aku tidak cocok pakai rok, deh." Hanasaki-san terlihat tersipu karena pakaiannya membuat ia terlihat feminim.
Tapi Anna-san menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Itu tidak benar! Pakaian itu membuatmu tambah lucu! Ya kan, Herlin-san?!"
"Nn, aku juga berpikir begitu."
"Jika kalian berpikir seperti itu ..., kurasa aku memang sedikit menyukainya." Hanasaki-san senang dengan pilihannya sendiri.
Dan yang terakhir adalah giliranku. Padahal aku sudah bilang kalau aku tidak perlu dan hanya datang menemani mereka saja. Tapi Anna-san malah memarahiku.
"Itu tidak adil! Kita di sini mencoba pakaian baru! Dan sekarang saatnya giliranmu, Herlin-san!"
Hah ... dia memang kadang-kadang suka memaksa. Aku sudah selesai mengganti bajuku dan aku pun keluar dari ruang ganti. Mereka bilang kalau aku harus memilih pakaianku sendiri, tapi aku tidak tahu apa-apa, jadi aku memilih asal saja.
"Uwaahh!"
Mereka tampak senang. Apa pilihanku memang sebagus itu? Aku memilih sweater oversized berwarna biru navy dengan model yang aku masukkan ke dalam celana jeans pendek seukuran paha berwarna krem pucat.
"Bagus! Bagus sekali! Seperti bukan Herlin-san!"
"Apa itu pujian untukku?"
__ADS_1
"Kau beneran tidak tahu fashion? Apa cuma pura-pura?" tanya Hanasaki-san.
"Aku hanya memilih yang kelihatannya mudah untuk bergerak saat dipakai."
Aku melihat lagi ke pakaian yang aku pakai. Jika ini sudah bagus menurut mereka, aku rasa aku akan beli yang ini. Harganya juga tidak terlalu mahal.
Tapi sepertinya Hanasaki-san memiliki pemikiran lain ketika aku sedang memerhatikan pakaianku, ia tersenyum jahil dan menjelaskan apa yang ia pikirkan.
"Hmm ... apa jangan-jangan kau sedang berpikir apakah Iraya-san akan menyukainya atau—"
"Tidak." Aku langsung memotongnya. Karena aku tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Jawabanmu cepat sekali!" Ia hanya menggelengkan kepalanya lemas. "Hah ... sebelum aku tahu kalian adalah 'Exception' atau apalah ini, aku mengira kalian itu pacaran, lho."
"Nn! Aku juga berpikir begitu."
Aku memiringkan kepalaku. "Apa benar begitu?" Aku tidak tahu kalau mereka punya pikiran seperti itu soal aku dan Iraya, meskipun aku tidak pernah peduli dengan omongan orang, sih.
"Habisnya kalian terlihat berdua mulu. Mulai dari berangkat sekolah, kadang saat jam istirahat, bahkan sampai pulang sekolah. Apalagi namanya kalau bukan pacaran." Hanasaki-san menghitung dengan jarinya.
"Kami tidak bersama sesering itu. Saat berangkat aku tidak sengaja bertemu saat perjalanan menuju sekolah, saat istirahat aku kadang memberikan dia bekal, lalu pulang sekolah kami berjalan bersama karena ingin ke tempat latihan."
"Jadi semua ada tujuannya, toh?"
"Iya."
Aku memberikan penjelasan yang paling bisa mudah dimengerti dan terlebih lagi itu adalah kenyataannya.
"Beberapa anak kelas kelihatan senang ketika kalian bersama, tapi ada juga yang cemburu. Kalau aku sendiri ikut senang denganmu, karena kalian lumayan kelihatan cocok."
"Aku juga ikut senang." Anna-san juga ikutan.
Aku merenungkan kata-kata itu. "Cocok ...?" Biasanya aku akan mengelak dan bilang kalau tidak mungkin aku cocok dengannya. Tapi aku sedang tidak mood untuk bercanda seperti itu, lalu aku membayangkan ketika sedang bersama Iraya ..., kurasa aku tidak membencinya.
"Ayo kita bayar pakaian kita," ajak Hanasaki-san.
"Ayo!" Anna-san menjawab dengan semangat.
Kami pun membayar pakaian yang kami beli masing-masing. Selain belanja, kami juga sempat makan siang dahulu dan bermain di arcade game sebelum akhirnya pulang. Tapi anehnya mereka malah ikut ke panti asuhan dan bukan pulang ke rumahnya masing-masing.
"Kenapa kalian ikut kesini? Rumah kalian tidak lewat sini, kan?"
Mereka memandang satu sama lain lalu tersenyum. "Ada sesuatu yang ingin kami tunjukkan kepadamu, Herlin-san."
"Benar! Dan itu ada di sini!"
"Eh? Di panti asuhan?"
Mereka mengangguk dan kemudian menutup mataku dengan kain lalu menuntun jalanku. Sepertinya mereka ingin mengejutkanku dengan sesuatu. Sebenarnya aku bisa saja mengaktifkan aura di mataku dan melihat menembus kain ini, tapi aku menghargai usaha mereka jadi aku tidak melakukannya.
Aku dituntun berjalan cukup jauh dan kemudian berhenti. "A-apa sudah sampai?" tanyaku ragu.
"Silahkan buka penutupnya, Herlin-san!"
Aku pun membuka penutup mataku dan melihat sesuatu yang mengejutkan.
Poof... Poof...
"Selamat ulang tahun!"
Bunyi confetti menyambut kedatanganku dan aku melihat ramai sekali orang berkumpul di sini. Semua anggota Black Rain berkumpul, bahkan trio mantan Assassin juga di sini, lalu semua anak panti, dan tentu saja Yuuki-san dan Iraya yang memegang kue dengan lilin angka tujuh belas.
"Eh? Ada apa ini?"
"Mou ... Herlin-san, apa kau lupa kalau ini adalah hari ulang tahunmu?"
"Ulang tahunku ...?" Aku mencoba mengingatnya lagi dan ternyata benar ini adalah hari ulang tahunku. Aku benar-benar melupakan hari ulang tahunku sendiri.
Iraya kemudian mendekatiku. "Apa kau sudah mengingatnya sekarang? Aku tahu kalau kau tipe orang yang tidak peduli pada hal seperti ini, jadi aku yang menyusun rencananya."
"Meskipun hampir gagal karena kau jatuh di depan Ririsaka-san," ucap Tooru-san.
"Gkh!" Iraya terkejut dan menyesali hal itu. Tapi ternyata hiasan ulang tahun itu ternyata adalah untukku, ya. "Kejutan kalian sukses besar, kalian tahu?" Dan semuanya tersenyum senang saat aku bilang begitu.
"Sekarang! Karena kejutannya berhasil, mari kita makan semua hidangan ini!" ucap Mei-senpai.
"Kau ini hanya tahu soal makan, ya?" Semuanya tertawa karena sifat konyol Mei-senpai.
Mereka semua bersenang-senang. Sementara aku lupa tentang ulang tahunku sendiri. Kepalaku terlalu sibuk dipenuhi oleh kata-kata perempuan itu. Bahkan karena hal itu, ada yang membuatku marah pada diriku sendiri saat ini.
Aku lupa caranya gembira di ulang tahunku sendiri. Semuanya telah bersusah payah dan kini sedang bersenang-senang di ulang tahunku. Tapi aku sama sekali tidak merasakan kebahagiaan itu. Kata-katanya sudah merasuki terlalu dalam dan mengacaukan pikiranku.
Semua itu adalah salahnya. Salah wanita itu. Tapi dia tidak ada di sini sekarang, jadi aku tidak bisa membalas atau sekedar berbicara padanya. Ini benar-benar menyesakkan. Membuatku frustasi.
Apa yang harus aku lakukan?
Tapi lagi-lagi, tidak ada yang bisa aku lakukan— lebih tepatnya, aku tidak tahu caranya. Apa tidak ada yang bisa menolongku saat ini? Tapi aku tidak bisa bilang begitu sekarang, hal itu akan mematikan kesenangan semua orang. Untuk sekarang aku hanya harus diam, dan berpura-pura kalau aku juga ikut bersenang-senang.
Benar. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.
__ADS_1
Tanpa aku sadari, Iraya menengok ke arahku dan melihatku dengan tatapan bingung.
Bersambung