Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 72 : Permintaan Kecil Oita-san Kepada Ryuzaki


__ADS_3

Herlin yang awalnya datang kerumah Iraya untuk memberitahukan keterlambatan pulang Iraya pada ibunya, malah dikejutkan dengan kehadiran seorang anak kecil dan juga Cecilia yang tidak berada di tubuh Iraya.


Selain kehadiran mereka berdua, kejutan lainnya datang dari ibunya Iraya sendiri. Ia mendengar kabar dari Cecilia kalau ibunya Iraya sudah meninggal dan Iraya bahkan tidak berbicara apa-apa padanya.


Setelah beberapa saat merenung dan terdiam, akhirnya Herlin bisa kembali kuat dan mulai mendengarkan rencana Iraya yang ternyata adalah memasukkan Cecilia ke dalam tubuh Herlin.


Meskipun Cecilia berhasil masuk ke dalam tubuh Herlin, tapi aura mereka berdua tidak cocok sehingga Herlin terpaksa bertarung tanpa aura miliknya. Maka dari itu ia membawa pedang Tetsu sebagai senjata sementaranya saat ini untuk nanti menyelamatkan Iraya.


Setelah semuanya siap, Herlin pun berjalan menuju ke Haiiro Cafe untuk menemui Oita-san. Memberitahunya tentang rencana yang dibuat Iraya.


Malam hari telah tiba dan Herlin telah berada di depan pintu Haiiro Cafe yang sudah hampir tutup. Ia kemudian masuk ke dalam dan membunyikan bel tanda masuk ke dalam Cafe. Di dalamnya suasana sudah sepi dan Herlin juga melihat Yuuki-san yang tengah mengelap meja-meja kosong dan sudah bersiap untuk pulang.


"Herlin-chan? Apa yang kau lakukan disini? Cafe sudah mau tutup."


"Aku sedang mencari Oita-san, apa dia ada di ruangannya?"


"Dia sedang keluar sekarang."


"Kalau begitu aku akan menunggunya disini sampai ia kembali."


Herlin pun menuju ke salah satu meja yang telah dibersihkan Yuuki-san dan kemudian duduk di tempat duduknya. Yuuki-san yang bingung melihat sikap keras kepala milik Herlin kemudian memiringkan kepalanya. Yuuki-san lalu menyadari bahwa Herlin membawa sebuah pedang di punggungnya lengkap dengan sarungnya.


"Herlin-chan, pedang itu ...."


"Ah ini, ini milik Iraya. Ia sedang tidak memakainya, makanya aku membawanya."


"Begitu, ya. Kalau begitu tunggu disini sebentar, ya."


"Baiklah."


Yuuki-san kemudian pergi ke dapur dan meninggalkan Herlin sendirian disini. Suasana saat ini sangat sepi hingga ia bahkan bisa mendengar suara angin berhembus. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara di dalam kepalanya.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"


"Siapa?!"


Herlin langsung menjadi waspada saat ia mendengar seseorang dan tanpa sadar memfokuskan auranya. Beberapa saat setelah memfokuskan auranya, Herlin langsung merasakan sensasi panas luar biasa di seluruh tubuhnya yang membuatnya ambruk di tanah.


"Akkhh …!!"


"Herlin-chan, kau tidak apa-apa?"


Suara teriakan Yuuki-san menyadarkan Herlin dari rasa sakitnya. Ia pun sadar kalau sekarang ia memiliki sesuatu di dalam tubuhnya dan dilarang untuk memfokuskan auranya.


Ia pun secara perlahan membuyarkan fokus auranya dan perlahan rasa sakitnya menghilang. Setelah benar-benar menghilang, Herlin kemudian duduk lagi dan bersikap seperti biasa lagi meskipun masih sedikit terengah-engah.


"Ada apa dengan reaksimu tadi? Bukankah reaksi terkejutmu sedikit berlebihan?" tanya Cecilia.


"Aku masih belum terbiasa, maaf saja jika aku terlihat seperti orang bodoh tadi."


"Ahahaha … ternyata kau menyadarinya!"


Herlin benar-benar merasa jengkel sekarang. Ia berpikir betapa merepotkannya Iraya harus bersama dengan makhluk menyebalkan ini setiap saat. Tapi setelah beberapa saat kemudian, Herlin pun memenangkan dirinya dan mencoba untuk tidak terlihat jengkel lagi. Cecilia menyadari itu dan memuji bagaimana cara Herlin mengontrol emosinya.


"Kau lumayan hebat juga dalam mengatur emosimu. Itu adalah sesuatu yang harus kupuji, kau tahu."


"Bagaimana kau tahu kalau aku sedang mengontrol amarahku?"


"Kau dengan cepat menormalkan nafasmu yang tadinya tidak teratur, kau juga merilekskan otot-ototmu yang awalnya sedang tegang karena marah. Jadi wajar kurasa jika kau memiliki stamina yang bagus karena tidak banyak energi yang terbuang. Hah … andai saja Iraya bisa setenang dirimu."


"Kau bisa merasakan semuanya?"


"Hn? Tentu saja. Lagipula saat ini kita sedang berbagi tubuh. Apa yang sedang kau rasakan, aku juga bisa merasakannya."


"Berbagi tubuh, ya …?"


"Ada apa? Kau punya masalah dengan itu?"


"Tidak, tidak ada. Aku hanya merasa kalau privasiku menjadi sedikit terganggu saja."


Saat mereka berdua sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Yuuki-san datang sambil membawa secangkir kopi panas. Ia kemudian menaruhnya di meja Herlin.


"Herlin-chan, apa kau tadi berteriak?"


"Iya, tadi aku hanya terkejut karena sesuatu. Makanya aku berteriak."


"Terkejut?"


Yuuki-san memiringkan kepalanya bingung. Berbeda dengan Herlin yang dengan santainya meneguk kopi panas itu tanpa memikirkan kalau ada yang aneh dari kata-katanya barusan. Setelah satu tegukan, Herlin kemudian bertanya lagi.


"Lalu bagaimana dengan Oita-san? Kapan dia akan sampai?"


"Kalau itu, dia menyuruhmu untuk tidak menunggunya. Masih ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan, makanya dia tidak pulang malam ini."


"Malam ini tidak pulang …?"


Setelah mendengar itu, Herlin sedikit kecewa karena tidak bisa melaksanakan rencananya secepat yang ia kira. Hal ini pun membuatnya bingung dengan hal yang akan dia lakukan saat akan menunggu Oita-san.


"Bagaimana kalau mulai besok kita melatih teknik berpedangmu?"


Itu ide yang bagus dari Cecilia. Herlin pun juga menyadarinya kalau ia tidak boleh menunda terlalu lama lagi soal latihannya. Herlin kemudian menganggukkan kepalanya dan berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah kalau begitu."


"Eh? Herlin-chan, apa kau bicara sesuatu?"


"Tidak ada. Untuk sekarang aku akan pulang dan beristirahat dulu, besok aku akan melakukan latihan."


"Latihan?! Bagaimana dengan lukamu?"


Herlin melewati Yuuki-san yang bertanya tanpa menjawabnya. Tapi saat ia sudah berada di depan pintu keluar Cafe, Herlin berbalik dan menghadap kearah Yuuki-san.


"Hn?"


Herlin kemudian membuka sedikit bajunya sampai perutnya terlihat dan menunjukkan kalau bekas luka di pinggang kirinya telah hilang. Yang ada saat ini hanyalah kulit mulus Herlin yang indah tanpa bekas luka sama sekali.


"Aku sudah tidak apa-apa, Yuuki-san."


Herlin pun keluar dari Cafe meninggalkan Yuuki-san yang masih bingung dengan perilakunya.


"Kau jadi lebih berekspresi ya, Herlin-chan," gumam Yuuki-san dengan sebuah senyum di akhir kalimatnya.


**


Sementara itu beberapa saat yang lalu, saat Herlin baru saja keluar dari Haiiro Cafe untuk pergi ke rumah Iraya. Oita-san kemudian mengambil telepon dari dalam saku bajunya.

__ADS_1


"Baiklah …, saatnya bekerja."


Oita-san menelepon kontak yang jarang sekali ia hubungi. Tapi meski begitu, setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilannya pun tersambung.


"Apa yang kau butuhkan sampai-sampai menelponku, Oita?"


Suara yang tidak asing baginya karena ia baru saja bertemu dengannya belum lama ini, yaitu saat penyerangan laboratorium Ayakashi Corp.


"Aku butuh bantuanmu lagi, Ryuzaki."


"Butuh bantuanku? Memangnya kau pikir mendapat bantuan dari organisasi Red Flame semudah membuka pintu Cafe mu?"


"Aku tahu itu, makanya aku akan membicarakan hal ini denganmu. Apa kau sedang ada di kantormu saat ini?"


"Ya, aku sedang ada disini."


"Jam berapa sekarang?"


Saat bertanya tentang jam, Oita-san juga melirik kearah jam dinding yang menempel di tembok ruangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi ia tetap menanyakan hal itu kepada Ryuzaki.


"Jam? Sekarang jam tujuh, memangnya kenapa?"


"Aku akan sampai disana dalam satu jam. Tunggulah disana."


"Satu jam? Sekarang kau sedang berada di Kyoto, kan? Apa kau pikir bisa melintas sejauh lima ratus kilometer hanya dalam satu jam?"


Sebuah seringai dan dengusan tercipta dari mulut Oita-san. Dengusan nafas itu terdengar di telepon Ryuzaki yang membuatnya tau kalau Oita-san saat ini sedang tertawa.


"Apanya yang lucu?"


"Apa kau lupa, kau sedang berbicara dengan siapa sekarang?"


"Oi! Jangan som—"


Saat Ryuzaki masih berbicara, Oita-san langsung menutup teleponnya karena ia tau hal yang selanjutnya ia dengar adalah celotehan berisik dari Ryuzaki, makanya ia segera menutupnya.


Oita-san kemudian menaruh kembali teleponnya di kantongnya dan akan segera berangkat menuju Tokyo. Saat ia membuka pintu ruangannya, tiba-tiba saja ia berhadapan dengan Yuuki-san yang sedang menerima pesanan pelanggannya.


"Oh maaf, Oita-san."


"Ah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong Yuuki-san …."


"Iya?"


"... Aku akan pergi sebentar, telepon saja jika ada sesuatu yang terjadi."


"Baiklah."


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Selamat jalan."


Dengan senyum ramah yang mengakhiri percakapannya dengan Yuuki-san, Oita-san pun keluar dari Haiiro Cafe dan berjalan ke sebuah gang yang tidak banyak orang lewat. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa yang melihatnya sekarang, Oita-san pun memasang kuda-kuda.


"Baiklah …."


Srrtt… Buuumm…


Oita-san melesat dengan kecepatan tinggi yang membuat pijakannya sebelumnya hancur. Bahkan bukan hanya pijakannya, melainkan retakannya menyebar sampai ke tembok dan hembusan anginnya membuat beberapa benda seperti tempat sampah jatuh berantakan.


Oita-san terus melakukan hal yang sama berulang-ulang kali karena ini adalah cara tercepat untuk sampai ke Tokyo. Ia mengeluarkan teleponnya dan melihat jam yang ada di dalamnya.


Jam digital di HP nya menunjukkan angka tujuh lewat tiga puluh lima menit. Itu artinya setengah jam sudah lewat dari awal Oita-san berjalan, tapi meski setengah jam sudah terlewat, ia sudah tiga per empat jalan sampai ke Tokyo. Ini memakan waktu lebih cepat dari perkiraannya sendiri.


Oita-san kemudian berhenti sebentar untuk memperhatikan sekitarnya. Saat ini ia sedang berada di sebuah jalan kosong yang membelah perbukitan dan jurang di kanan dan kirinya.


Ia menyandarkan tubuhnya di bahu jalan dan kemudian membuka HP nya berjaga-jaga jika ada pesan masuk dari Yuuki-san, tapi sepertinya ia tidak menemukan satupun. Ia pun kemudian kembali menutup HP nya dan bersiap untuk melesat lagi.


"Mungkin saja aku akan mengejutkannya saat sampai lebih cepat dari yang kubilang. Aku ingin tahu bagaimana ekspresinya nanti."


Oita-san tersenyum sendiri memikirkan ekspresi apa yang akan dikeluarkan Ryuzaki saat ia sampai lebih cepat. Mungkin saja ekspresi terkejut atau mungkin sombong, tapi yang pasti Oita-san sangat menantikannya.


Oita-san sudah bersiap untuk melesat lagi, tapi dia tiba-tiba merasakan aura yang lumayan kuat mendekat kearahnya dengan lambat.


"Lapar …. Lapar …."


Makhluk itu keluar dari balik pepohonan yang lebat di pinggir jalan. Tubuhnya tinggi besar kira-kira berukuran empat meter, berjalan dengan dua kaki, dan membawa sebuah batang pepohonan yang terdapat darah kering di ujungnya. Wajahnya memang mirip manusia, tapi bisa dibilang dia adalah manusia terjelek di dunia jika masuk ke dalam ras manusia.


"The Unseen? Tidak, dia bukan hantu. Kalau mau menyebutnya Beast juga dia terlalu mirip dengan manusia. Jadi aku harus menyebutnya apa?" gumam Oita-san.


"Lapar …. Hee? Makanan …! Makanan!!"


Makhluk itu berlari kearah Oita-san yang ada di tengah jalan kosong. Lalu memukulnya dengan batang kayu besar yang ia bawa. Tapi dengan mudah dapat dihindari oleh Oita-san.


Makhluk itu terus menyerang Oita-san dengan bertubi-tubi, tapi tidak ada serangannya yang kena. Sembari menghindar, ia melihat kearah sekitarnya dan melihat sebuah papan peringatan 'Hati-Hati! Sering Terjadi Kecelakaan'. Ia juga melihat pembatas jalan yang rusak sepertinya bekas kecelakaan seseorang dan mobilnya jatuh ke jurang.


"Jadi begitu." Oita-san menyadari sesuatu.


"Kau yang sering menyebabkan kecelakaan di sekitar sini, ya? Aku punya nama yang tepat untukmu."


Oita-san seperti tidak menanggapi serius serangan dari makhluk itu. Ia malah sibuk sendiri dengan pemikirannya sendiri. Makhluk itu menjadi kesal karena merasa dipermainkan.


"Makanan!!!"


"Oh? Kau kesal?"


Buuumm…


Makhluk itu menghantamkan batangan kayu tadi dengan kuat secara vertikal sampai membuat jalanan hancur. Tapi Oita-san dengan mudah menghindarinya dan sekarang malah berdiri diatas batangan kayunya.


"Maaf saja, tapi tadi itu terlalu lambat."


"Maka—!"


Makhluk itu menghentikan perkataannya saat tubuhnya tiba-tiba melayang sendiri seakan diangkat oleh sesuatu. Genggamannya pada batang kayu itu juga terlepas. Setelah terangkat lumayan tinggi dari tanah, Oita-san kemudian mendekatinya.


"Namamu adalah Monster Penyebab Kecelakaan. Bagaimana? Keren, bukan?"


"Lapar …."


"Hn? Apa hanya itu yang bisa kau katakan? Ya terserahlah."


"Gaaakkhh …!!"


"Aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu."

__ADS_1


Kreekk… Kraaakk…


Makhluk itu ditekan sampai mati oleh sebuah kekuatan tak terlihat milik Oita-san. Saking kuatnya, bunyi tulang retak dapat terdengar dan darah banyak keluar dari mulutnya sampai terciprat ke baju Oita-san.


"Apa kau tidak bisa melihatnya? Sesuatu yang mencekikmu sampai mati? Tentu saja, namanya juga Tangan Tak Terlihat."


Setelah memastikan makhluk itu mati, Oita-san kemudian membuang makhluk itu ke dalam jurang. Ia kemudian menepuk-nepuk bajunya yang terkena cipratan darah makhluk tadi.


Kriiing… Kriiing…


Tiba-tiba teleponnya berdering. Oita-san pun mengangkatnya dan yang menelponnya adalah Yuuki-san.


"Halo …. Herlin-chan menungguku? Bilang saja aku tidak akan pulang malam ini, masih ada sesuatu yang harus kuurus …. Baiklah …."


Oita-san pun kemudian menutup telponnya dan melihat kearah jam yang ada di HP nya. Dan sepuluh menit sudah berlalu saat ia mengalahkan monster dan mengangkat telepon tadi.


"Sial, kalau begini aku akan sampai disana lebih dari satu jam."


Sambil menggerutu, Oita-san mengambil posisi melesat dan kemudian melaju dengan kecepatan yang tinggi. Menghasilkan sebuah dentuman yang besar.


Ia melesat dengan cepat dan seakan dikejar oleh waktu. Dan sekarang Oita-san pun telah sampai di kota Tokyo, ia segera menuju ke Dojo Red Flame yang jaraknya berada di tengah kota. Ini sedikit merepotkannya karena Oita-san kesulitan mencari tempat untuk melesat akibat ramainya orang dan juga gedung-gedung.


"Ya ampun Tokyo ini … keramaian benar-benar bukan seleraku."


Akhirnya Oita-san memutuskan untuk berjalan seperti orang biasa di tengah keramaian malam Tokyo. Setelah beberapa saat berjalan, pada akhirnya ia pun sampai juga di gerbang depan Dojo.


Karena tidak mau menarik perhatian, ia pun melompat lewat tembok dan langsung berada di tengah-tengah bangunan dojo. Karena hari sudah malam, jadi tidak banyak orang yang berada disini jadi Oita-san bisa bergerak dengan bebas.


Ia pun bergegas menuju ke kantor Ryuzaki dan segera menemuinya. Saat masuk ke dalam, Oita-san pun langsung menyapa Ryuzaki yang sudah menunggunya di dalam.


"Yo, Ryuzaki! Apa kau menungguku?!"


Tapi Ryuzaki yang sedang duduk santai tidak membalas sapaannya dan malah melihat kearah jam dinding.


"Jam delapan lewat sepuluh menit. Kau terlambat sepuluh menit."


"Ya tidak usah memperhatikan detail-detail kecil, kau tahu."


Oita-san gagal mendapatkan ekspresi kekesalan dari kehebatannya. Itu membuatnya sedikit kecewa sebenarnya.


"Jadi apa yang kau inginkan sampai datang jauh-jauh kesini? Tidak mungkin kau hanya ingin pamer kecepatanmu, kan?"


"Tentu saja."


Oita-san kemudian menunjukkan tatapan mata tajam dan serius miliknya.


"Aku kesini ingin berdiskusi denganmu."


"Hn?"


"Kau sudah mendengarnya sendiri, bukan? Aku memerlukan bantuanmu lagi."


"Kau tahu tidak semudah itu untuk meminta bantuan padaku."


"Kau mungkin benar. Meskipun kita punya perjanjian lewat pertarungan kecil Iraya dan Hayashi, kurasa itu tidak cukup untuk selalu meminta bantuanmu pada apa yang akan aku kerjakan."


"Kau mengerti juga. Kalau begitu sudah tidak ada yang perlu didiskusikan lagi."


"Tapi bagaimana kalau aku melakukan penawaran yang menarik padamu."


"Penawaran?"


"Benar, aku memiliki informasi yang mungkin berguna bagimu."


"Informasi? Informasi seperti apa yang kau maksud?"


Oita-san mengeluarkan sebuah seringai kecil yang tidak ia perlihatkan pada Ryuzaki, seakan rencana yang sudah ia persiapkan berhasil menangkapnya saat ini.


"Ayakashi Corp. tidak hanya melakukan tiga percobaan, melainkan empat, yaitu Subject D."


Ryuzaki melebarkan matanya sedikit. Ia menjadi semakin tertarik dengan informasi yang saat ini dibawa oleh Oita-san.


"Apa maksudmu? Aku tidak pernah dengar kalau mereka melakukan percobaan keempat."


"Aku juga begitu, tapi aku mendapatkan informasi itu dari rekan rahasiaku dan aku pastikan kalau informasi ini adalah asli dan bukan suatu kebohongan."


"Jadi kau meminta bantuanku untuk mengalahkan Subject D itu? Bukankah kau memiliki anak itu, anak yang menjadi inang Subject C itu."


Ryuzaki tidak boleh tahu jika Iraya sedang diculik oleh para Assassin. Jika ia mengetahuinya, maka akan lebih sulit untuk mengajaknya bekerja sama karena resiko yang dihadapi akan lebih besar.


"Memang benar kami memiliki dia, tapi kemampuannya saat ini belum bisa sepenuhnya kami andalkan. Bagaimana pun anak itu masih baru di dunia ini."


"Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa membantumu."


"Apa?"


"Selain keuntungan yang kudapatkan kurang menarik, ada beberapa hal lagi yang membuatku tidak bisa membantumu saat ini."


"Memangnya ada apa?"


"Akhir-akhir ini semakin banyak The Beast—tidak, sekarang sulit untuk menyebut mereka Beast lagi karena wujudnya yang semakin aneh. Aku akan menyebut mereka sebagai 'monster' saja …."


"… Aktivitas mereka saat ini semakin banyak dan semakin sering menyerang warga. Aku tidak tahu hal apa yang menyebabkan mereka menjadi agresif seperti itu."


"Monster …?"


Cerita Ryuzaki mengingatkan Oita-san pada makhluk aneh yang menyerangnya saat sedang berjalan kesini. Ternyata aktivitas mereka meningkat, makanya mereka keluar dari sarang mereka dan berani menyerangku. Semuanya jadi masuk akal sekarang pikir Oita-san.


"Ada apa?"


"Tidak, tidak ada apa-apa."


"Kalau begitu hasil dari negosiasi ini sudah jelas, kan? Kalau hanya itu yang ingin kau sampaikan maka lebih baik kau pulang saja."


"Apa tidak ada cara lain?"


"Cara lain? Ah, ada. Jika kau mau bergabung menjadi anggota Red Flame maka aku akan memikirkannya mungkin. Tapi aku sudah tau jawabannya."


Benar. Oita-san tidak akan mau jika bergabung dengan Red Flame apapun yang terjadi. Sepertinya tidak ada pilihan lain baginya kali ini.


Ia pun berjalan keluar dari Dojo dan terus berjalan menuju ke sebuah gang kecil, ia pun bersandar disana sebentar sambil memikirkan sesuatu.


"Sialan Ryuzaki itu! Yap, kurasa sudah tidak ada pilihan lain. Sepertinya aku akan maju di misi kali ini."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2