Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 108 : Saatnya Bertindak


__ADS_3

Herlin sudah memutuskannya, kalau ia akan mengurus semuanya sendirian tanpa meminta bantuan Iraya. Karena pada masalah kali ini, ia merasa kalau dirinya lah yang membuat kehidupan sekolah Hanasaki-san menjadi tidak tenang.


"Sabar sebentar lagi. Aku akan membantumu."


**


Ririsaka Herlin PoV


Hari seperti biasanya. Ini adalah pagi yang normal setiap saat aku ingin berangkat sekolah, sebelumnya aku juga sudah membantu Yuuki-san untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti lainnya. Dan setelah itu selesai, aku kemudian mandi lalu bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Di perjalanan juga tidak ada hal yang spesial. Aku berjalan sebentar, lalu di pertigaan blok perumahan aku bertemu dengan Iraya yang setiap pagi berjalan ke sekolah dengan wajah mengantuk dan menguap setiap beberapa menit sekali.


Selain Iraya, kadang ada juga dua teman Iraya yang menghampiri kami yaitu Takushi-san dan Tooru-san lalu ikut berangkat ke sekolah bersama.


Tapi meskipun ini adalah hari yang sama dan normal seperti biasanya, tapi ada yang sedikit berbeda bagiku. Aku akan melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap masalah Hanasaki-san.


Aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Kenapa? Jika kalian tanya begitu, ya sebenarnya ini adalah keegoisanku semata saja serta aku merasa kalau akulah yang menyebabkan masalah ini. Meskipun aku tidak melakukannya secara langsung.


"... Lin! Herlin!"


"Hn? Ada apa?"


"Kenapa kau melamun seperti itu? Apa ada sesuatu?"


"Tidak, tidak ada."


Iraya menyadari lamunanku. Meskipun bodoh, tapi aku akui kadang dia ini berguna juga. Meskipun harus benar-benar menunggu di saat yang tepat, jika di momen biasa seperti ini, dia tidak jauh berbeda dari murid peringkat bawah di kelas.


"Benarkah? Ya sudahlah."


"Ya."


Hening sebentar yang sudah biasa terjadi antara kita berdua. Aku tahu kalau itu sedikit canggung tapi aku tidak terlalu memperdulikannya karena aku tidak terlalu suka untuk basa basi. Sampai pada akhirnya Iraya kembali membuka pembicaraan.


"Nee. Apa kau sudah menyerah dengan Hanasaki-san?"


"Maksudmu?"


"Aku sadar kalau dia butuh bantuan, tapi dia seperti menolak keberadaan kita."


Sepertinya Iraya juga menyadarinya, Hanasaki-san dengan tegas menolak bantuan dari kita itu adalah yang dia katakan sebelumnya. Tapi sepertinya Iraya tidak paham sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Hanasaki-san waktu itu.


Tapi untuk sekarang, aku anggap saja kalau Hanasaki-san menolak bantuan kita.


"Ya mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa kita lakukan jika orangnya tidak mau."


"Be-benar juga, sih."


"Oi! Kalian berdua sedang membicarakan apa? Tega sekali meninggalkan kami berdua begitu saja."


"Aah ... bukan urusan yang terlalu penting, kok. Oh iya, ngomong-ngomong ...."


Iraya kemudian mulai berbicara hal yang tidak aku mengerti dengan kedua temannya, jadi aku tidak terlalu mendengarkannya dan memilih untuk fokus menyusun rencana nanti.


**


Jam istirahat telah berbunyi dan guru juga sudah keluar dari kelas. Ini adalah saat yang tepat untuk mencari informasi. Pertama yang harus aku lakukan adalah mengetahui nama dari lima orang yang akan jadi targetku. Dan aku sudah mendapatkannya dengan mendengarkan absen tadi pagi.


Aku tahu, aku tahu. Konyol memang karena tidak hafal nama teman sendiri. Tapi kalian harus ingat kalau aku baru berada di kelas ini selama beberapa minggu, jadi aku tidak sepenuhnya salah di sini.


Pokoknya, aku sudah mendapatkan namanya dan menulisnya di sebuah kertas kosong yang aku taruh di kantong seragamku.


"Haku Rin, Aiko, Misaka, Touko, dan satu lagi ... orang yang menghempaskan bekal Hanasaki-san, Himeko. Aku sudah dapat semuanya."


Lalu langkah selanjutnya adalah mendapatkan sesuatu untuk menghubungi mereka. Ini juga aku butuhkan untuk urusan kali ini, karena aku harus mengumpulkan mereka di suatu tempat yang sama. Aku mencoba bertanya pada Anna-san apakah dia memiliki ID LINE mereka, tapi jawabannya mengecewakanku.


"Maafkan aku, Herlin-san. Aku memang suka mengumpulkan biodata seseorang, tapi aku hanya mengumpulkan biodata dari orang yang aku sukai. Maafkan aku karena tidak bisa membantu! Maafkan aku! Maafkan aku!"


Seperti biasa Anna-san terlalu merendahkan dirinya. Kalau begitu, aku akan mencoba cara yang lainnya. Ini memang jarang aku lakukan, tapi jika terpaksa maka aku tidak keberatan sama sekali.


Aku menghampiri meja salah satu teman kelasku. Ia sedang berbicara dengan temannya yang lain saat aku datang mendekatinya.


"Hei, kamu."


"Ririsaka-san? Apa kau memanggilku?"


"Benar. Aku ingin minta sesuatu, apa kalian punya ID LINE dari Himeko dan teman-temannya yang sekelompok dengannya?"


"Himeko? Ya aku ada, sih."


Aku pun berhasil mendapatkan nomor dari Himeko dan empat temannya yang lainnya dengan mudah. Sepertinya dia memang cukup terkenal di kelas ini, meskipun aku langsung lupa dengan namanya.


Lalu yang selanjutnya adalah mendapatkan nomor dari Hanasaki-san. Aku juga menggunakan cara yang sama dengan menanyakan ke teman sekelas lagi, tapi mereka sama sekali tidak tahu dan tidak pernah tertarik dengan nomor Hanasaki-san.


Menurut teman sekelas, Hanasaki-san adalah orang yang misterius dan tidak mudah untuk didekati, bahkan saat ini ia tidak ada di kelas dan makan sendiri seperti biasa.


Ia memancarkan perasaan tidak enak saat berada di dekatnya dan matanya mengintimidasi membuat orang takut dan mudah salah paham dengannya. Bahkan saat yang lainnya tahu kalau ia dirundung oleh Hanasaki-san dan kelompoknya, mereka tidak menolongnya karena merasa bukan masalah mereka.


Jadi pada akhirnya aku pun menanyakan langsung hal itu kepada Hanasaki-san. Seperti biasa dia sedang makan sendiri di parkiran sepeda dan kemudian ia menyadari kedatanganku.


"Mau apa kau kesini?" ucapnya melihatku mendekatinya.


"Kalau kau bicara begitu ke setiap orang, kau tidak akan punya teman, lho."


"Aku tidak peduli."


Ia melanjutkan makannya. Sepertinya dia tidak akan mendengarkan nasihatku jadi aku akan langsung saja menyampaikan keinginanku kesini padanya.


"Hah ... terserah kau saja. Ngomong-ngomong, aku minta ID LINE-mu."


"Hmm? Buat apa? Aku pikir kau bukan orang yang suka mengobrol dengan seseorang lewat chat."


"Itu memang benar, sih. Tapi aku membutuhkannya untuk yang lain kali ini."


"Yang lain? Aku tidak mengerti maksudmu, tapi aku tidak akan memberikannya begitu saja."


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin memberikannya kepada orang yang aku benci."


Jadi sudah sampai tahap membenciku, ya? Ternyata ini memang ada hubungannya denganku. Kemudian Hanasaki-san menatap ke depan, tapi bukan ke arahku melainkan kepada yang ada di belakangku.


Dan saat aku menengok ke belakang, ada lima orang yang sudah berdiri mendengarkan obrolan kami. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Himeko dan kelompoknya.


Mereka sempat beradu pandang denganku dan tatapannya tentu saja tidak suka. Mereka kemudian berjalan dan melewati lalu menarik tangan Hanasaki-san pergi dari sini.


"Cepat ikut denganku."


Makanan Hanasaki-san lagi-lagi tersenggol dan jatuh ke tanah, tapi Himeko tidak memperdulikan itu dan terus menarik tangannya. Dan karena sudah tidak ada orang di sini serta usahaku gagal, aku pun memutuskan kembali ke kelas.


Sampai di dalam kelas, aku menyandarkan tubuhku lemas di bangku dan setelah itu memangku daguku dengan tangan. Padahal tinggal selangkah lagi aku bisa melakukan rencananya, tapi malah ada halangan.


"Ada apa, Herlin-san?" Anna-san kemudian bertanya padaku yang sedang larut dalam pikiranku sendiri.


"Aku ingin mendapatkan ID LINE Hanasaki-san, tapi ia tidak memberikannya dengan mudah. Hah ... andai saja aku bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipakai untuk menghubunginya."


Aku mengambil pensil di atas meja dan memainkannya di setiap sela jariku sambil berpikir cara apa lagi yang harus aku gunakan agar mendapatkan ID LINE Hanasaki-san.


Kalau ingin mendatanginya langsung ke rumahnya, tapi aku tidak tahu alamat rumahnya dan mau tidak mau harus mengikutinya seperti seorang penguntit.


"A-ano, Herlin-san ...."


"Iya?"


"Itu ... kalau Hanasaki-san, aku sempat punya kontaknya."


Harapanku langsung menjadi tinggi ketika Anna-san memberitahukan berita yang sangat menyenangkan itu.


"Benarkah?"

__ADS_1


Anna-san kemudian menggangguk.


Ia lanjut menjelaskan kalau dulu sebelum aku pindah ke sekolah ini, hubungan mereka berdua masih baik-baik saja meskipun Anna-san tidak terlalu dekat dengannya.


"Sebenarnya Hanasaki-san tidak punya LINE, jadi aku hanya punya nomornya saja."


"Tidak apa-apa, itu sudah lebih dari cukup."


Dengan begini aku sudah punya semua yang aku butuhkan untuk menjalankan rencananya. Tinggal bertemu dengan Caramel dan aku bisa melakukannya. Malam ini.


**


Pada Minggu malam, di sebuah komplek perumahan di salah satu kamar. Seorang anak perempuan masuk ke dalam kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk menandakan kalau ia baru saja selesai mandi.


LINE~


Saat ingin melakukan perawatan kulitnya, tiba-tiba notifikasi aplikasi LINE miliknya berbunyi yang langsung menarik perhatiannya.


"Himeko, bisa ke gedung sekolah malam ini? Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu. Yang lainnya juga datang, kok. Aku tunggu ya, bye~"


"Hnm? Aiko? Lagi-lagi kebiasaan anehnya menyerang, aku harus memperingatkannya untuk tidak keluar pada jam-jam aneh."


Perempuan itu—Himeko, kemudian menaruh handuknya di atas kasur dan mengganti baju tidurnya dengan jaket dan pakaian untuk pergi keluar. Ia menganggap kalau pesan tadi berasal dari temannya yang berkelakuan aneh.


Padahal sebenarnya bukan.


Sementara di panti asuhan, aku baru saja mengirimkan pesan kepada Himeko sekaligus menjadi yang terakhir dari kelima orang itu. Dan yang harus dihubungi sekarang adalah Hanasaki-san.


Aku keluar dari aplikasi LINE dan mencoba mengirim pesan kepada Hanasaki-san. Tapi saat sudah tinggal mengirim pesan itu, aku menjadi ragu dan jempolku berhenti tepat di atas tombol kirim.


Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menghapus semua tulisan yang ada dan langsung menekan tombol panggilan.


"Ha-halo? Siapa ini dan darimana kau dapat nomor teleponku?"


Beberapa menit akhirnya ada yang mengangkat dan nada yang aku dengar pertama kali adalah nada Hanasaki-san yang ketakutan dan panik karena ada nomor tidak dikenal yang meneleponnya.


"Ini aku. Tidak perlu takut."


"Ka-kau? Bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku, dasar stalker!"


"Aku bukan stalker. Lupakan itu untuk sementara waktu, aku meneleponmu karena aku ingin kau pergi ke sekolah sekarang juga. Masalahmu akan aku selesaikan dengan tanganku sendiri malam ini juga."


"Masalahku? Sudah aku bilang kalau aku tidak perlu bantuanmu! Jika—"


"Jika aku tidak menyelesaikan sampai ke akarnya, lebih baik tidak usah membantu sama sekali. Apa aku benar?"


Hanasaki-san terdiam saat aku bilang begitu. Ia terdiam karena yang aku katakan memang benar.


"Percaya padaku, setidaknya sekali ini saja. Aku juga merasa bersalah karena secara tidak sengaja akulah yang membuatmu jadi seperti ini sekarang."


"I-itu ...."


"Kau bisa menjelaskan semuanya nanti. Untuk sekarang turuti perintahku dulu."


Dan kata 'baiklah' terdengar dari telepon Hanasaki-san sebelum ia menutupnya. Sekarang aku juga harus segera kesana dan di depan pintu gerbang panti asuhan sudah ada seseorang yang menungguku.


"Yahoo~ akhirnya kau keluar juga." Orang yang sudah menungguku adalah Caramel.


"Ternyata kau benar-benar datang."


Dan kami berdua kemudian berjalan sambil berbicara di sepanjang perjalanan.


"Sudah kubilang kalau aku bisa, aku pasti akan datang. Dan juga kebetulan sekali aku ingin mencoba teknik baruku."


"Teknik baru?"


"Lihat saja nanti, kau pasti akan terkejut."


"Asal mereka tidak terbunuh, terserah kau saja."


Di depan gerbang sekolah, Himeko telah sampai dan memeriksa apakah teman-temannya yang lain juga sudah sampai di sini atau belum, setiap beberapa saat ia juga mengecek HP-nya jika ada informasi lebih lanjut.


Tapi Himeko menyadari sesuatu, ia melihat kalau gerbang depan sekolah tidak tertutup rapat yang menandakan kalau itu tidak dikunci. Ia pun tersenyum dan langsung masuk ke dalam untuk mencari temannya yang lain.


Himeko terus mencari. Di area lapangan sekolah yang gelap, parkiran sepeda, dan lainnya, tapi ia tidak menemukan suara berisik dari temannya. Sampai pada akhirnya notifikasi LINE dari HP-nya kembali berbunyi.


Chat dari orang yang sama yang ia anggap sebagai Aiko menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan kelas B dan ia pun langsung menuju ke sana.


Blamm...


"Kyaaa! Siapa itu?!"


"Jangan teriak-teriak, ini cuma aku."


"O-oh, ternyata cuma Himeko."


Bukaan pintu geser yang cukup keras oleh Himeko membuat teman-temannya terkejut. Tapi setelah itu, Himeko berjalan menghampiri mereka dan menanyakan tujuan menyuruhnya datang kesini.


"Malam-malam begini di kelas ternyata seru juga, ya!"


"Iya! Ini seperti acara menginap."


"Hah ... kebiasaanmu memang aneh ya, Aiko."


Himeko sedikit tersenyum melihat tingkah teman-temannya, tapi senyuman itu seketika sirna ketika Aiko memberikan penjelasan padanya.


"Kebiasaanku?"


"Ya. Mengirimkan pesan untuk datang ke sekolah malam-malam begini. Kalau mau kan kita bisa menginap di rumahku."


"Eh? Himeko, apa maksudmu?"


"Kau menyuruhku datang kesini lewat LINE, kan?"


Hening terjadi di antara mereka semua. Keempat teman Himeko malah bingung dan tidak tahu harus berbicara apa, mereka memandang satu sama lain dan membuat Himeko penasaran.


"Kalian kenapa bingung seperti itu?"


"Himeko, bukannya yang menyuruh kami semua kesini itu ... kau sendiri?"


"Eh?!"


"Tunggu! Kalau bukan Aiko yang mengirimnya, lalu yang menyuruhku datang kesini siapa?"


Ceklek...


"Kyaaa!!!"


Saat semuanya sedang bingung dan ketakutan, tiba-tiba bunyi suara stopkontak dan terangnya lampu membuat mereka terkejut dan hampir pingsan.


"Apa sih yang membuatnya menyuruhku datang kesini jam segini—Eh?"


Yang menyalakan lampu kelas adalah orang yang baru datang yang juga disuruh oleh Herlin, yaitu Hanasaki-san. Tapi ia juga terkejut ketika bukan hanya dia yang ada di kelas ini malam ini.


"Hanasaki?" tanya Himeko.


"Ka-kalian?"


Tanpa menunggu lama, Himeko langsung menghampiri Hanasaki-san dengan cepat dan mendorongnya ke tembok secara kasar seperti yang biasa ia lakukan saat jam istirahat.


"Akh!"


"Berani-beraninya kau mempermainkanku seperti ini?!"


"A-apa maksudmu?"


"Jangan berlagak tidak tahu! Apa yang kau rencanakn dengan mengumpulkan kami semua di sini?!"


"Bu-bukan aku yang—"

__ADS_1


"Masih mau berbohong lagi?! Sialan kau, Hanasaki!"


"Dia benar."


"Eh?"


Suara seseorang yang tidak mereka duga membuat perhatian mereka langsung tertuju ke sumber suara itu. Dari balik bayangan lorong yang gelap lalu masuk seseorang dengan rambut pirang terurai yang bersinar disinari lampu kelas.


"Kau ...."


"Dia tidak memanggil kau kesini. Yang memanggil kalian semua kesini adalah aku."


"Jadi kau, ya?"


"Sekarang bisa kau lepaskan tanganmu darinya?"


"Tch."


Himeko kemudian melepaskan tangannya dari baju Hanasaki-san, meskipun juga secara kasar dan membuatnya sedikit kesakitan.


"Baiklah, alasanku memanggil kalian kesini karena aku ingin bertanya beberapa hal."


"Tidak mau. Aku tidak sudi menjawab pertanyaanmu. Lebih baik aku pergi dari sini."


Himeko tidak menjawab pertanyaanku dan langsung pergi begitu saja dari sini. Tapi sayangnya tidak semudah itu baginya karena aku sudah mempersiapkan sesuatu untuknya.


Duung...


"Aduh! A-aku menabrak sesuatu?"


Himeko mencoba menyentuh sesuatu yang menghalanginya keluar dari kelas. Ada sebuah semacam benda transparan yang menghalangi jalan keluarnya.


"Apa ini?"


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini sebelum menjawab pertanyaan dariku."


"Sial! Cepat keluarkan aku!"


Degh... Zwuuusshhh...


Saat Himeko membentak Herlin minta dikeluarkan, tiba-tiba suasana kelas ini berubah menjadi mencekam. Bukan hanya suasananya saja, tapi perlahan-lahan mereka semua seperti berada di tengah hutan lebat dengan kabut yang cukup tebal.


"Jadi ini teknik baru yang ia bicarakan," gumam Herlin.


"Apa ini? Apa yang kau lakukan padaku?!"


"To-tolong, Himeko!"


"Teman-teman?!"


Teman Himeko yang lain di dekap oleh sekumpulan tengkorak hidup yang masih menempel sedikit daging pada tulangnya yang membuat mereka semua berteriak ketakutan. Dan bukan hanya mereka saja, seorang tengkorak lain juga datang dan mendekap Himeko sehingga ia tidak bisa bergerak.


Untuk menambah ketegangan, aku menaklukkan beberapa The Unseen yang ada di sekitar sekolah. Mereka memang tidak berbahaya, tapi setidaknya cukup untuk menakut-nakuti orang.


Melihat ekspresi Himeko dan yang lainnya membuatku sedikit penasaran dengan ekspresi Hanasaki-san, tapi saat aku melihatnya, ia menunjukkan wajah biasa dan tidak ketakutan sama sekali.


"Kau tidak takut?" tanyaku.


"Tidak, untuk apa aku takut. Malahan aku kasihan kepada mereka karena diperintah secara paksa olehmu."


"... Begitu."


Dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Jadi salah aku mengharapkan ekspresi berlebihan darinya. Kemudian aku menghampiri Himeko dan bertanya padanya.


"Baiklah, apa kau ingin menjawab pertanyaanku sekarang?"


"Apa maumu?!"


"Kenapa kau merundung Hanasaki-san? Dia tidak punya masalah apapun kan dengan kalian?"


"Hah! Itu pertanyaanmu?! Kau mengambil mainan lamaku dan masih bertanya? Tentu saja aku mencari mainan baru."


"Mainan?"


"Benar, Kuromichi adalah mainanku. Tapi dia sekarang berlindung di balik tubuhmu dan selalu mengikutimu kemanapun kau pergi! Jadi aku hanya perlu mencari penggantinya, yaitu Hanasaki."


"Apa itu benar, Hanasaki-san?"


Aku bertanya kepadanya. Tapi dia tidak menjawab dan malah memalingkan wajahnya dan sepertinya itu adalah jawaban yang benar.


"Hah ... kenapa sih kau harus mengganggu hidup orang lain terus? Apa kau tidak puas dengan hidupmu sendiri?"


"Ya. Hidupku menjadi lebih berwarna ketika aku melihat wajah ketakutan seseorang yang tidak berdaya. Apa aku salah karena itu?!"


"Tentu saja. Kebahagiaanmu tergantung pada orang lain sudah membuktikan kalau kau tidak berguna."


"Lalu memangnya kenapa? Apa kau akan melakukan sesuatu padaku? Berbicara denganku sampai aku merubah sikapku? Hah! Jangan sombong kau!"


Himeko sangat teguh dengan pendiriannya dan tidak bisa digoyahkan dengan mudah bahkan oleh Herlin sedikitpun. Tetapi Hanasaki-san sudah menduga hal itu, makanya ia menyuruhku untuk tidak ikut campur karena pada akhirnya perilaku Himeko terhadapnya akan jauh lebih kasar lagi.


"Ini percuma. Apapun yang kau katakan tidak ada gunanya," ucap Hanasaki-san.


"Tenang saja, Hanasaki-san."


"Eh?"


"Sudah aku bilang kalau aku akan menyelesaikan masalahmu sampai ke akarnya, kan?"


Benar. Aku sudah memutuskan untuk menyelamatkan masa muda Hanasaki-san, oleh karena itu tidak ada kata mundur untuk sekarang dan akan kupastikan kalau rencanaku akan berhasil.


"Jadi kau benar-benar tidak mau berhenti merundung Hanasaki-san?"


"Ya. Lalu kau mau apa? Ini semua pasti rencanamu agar aku dan teman-temanku ketakutan, tapi aku tahu kalau ini semua palsu!"


"Baiklah kalau begitu .... Banshee."


Sepertinya aku memang harus memakai cara terakhir. Banshee kemudian muncul secara tiba-tiba di belakangku yang membuat mereka semua ketakutan. Banshee langsung menunjukkan wajah menyeramkan dan aura menusuk yang membuat perut mereka mual lalu muntah.


"Pe-perasaan apa ini?"


"Aku akan pakai cara yang sedikit kasar. Jadi kau masih mau merundung Hanasaki-san?"


"Ti-tidak. Ja-jauhkan ... jauhkan dia dariku! Aku tidak mau! Lepaskan! Keluarkan aku dari sini!"


Tapi belum sempat ia memberikan jawabannya, Himeko sudah terlebih dahulu kehilangan kesadarannya dan pingsan. Teman-temannya yang lain juga sudah pingsan dari tadi karena ketakutan setengah mati.


"Dengan begini, mereka akan mengingat rasa takut ini saat ingin merundungmu lagi, Hanasaki-san."


Aku menengok ke arah Hanasaki-san. Tapi dia tidak bergerak dari tempatnya dan berdiri kaku melihat ke arah Banshee. Ia sudah mengeluarkan air mata ketakutan tapi tubuhnya terlalu kaku untuk ia gerakkan.


"A-apa dia ... yang selama ini bersamamu? Ke-kenapa dia terasa jahat sekali? Apa dia akan mem-membunuhku?"


Aku pun kemudian menyuruh Banshee untuk kembali dalam mode tak terlihat. Selain itu, suasana hutan dan kabut ini juga perlahan menghilang yang lalu berubah menjadi kelas biasa lagi. Dan Caramel pun juga masuk ke dalam kelas.


"Sudah selesai?"


"Oh, Caramel. Terima kasih atas bantuanmu."


"Tapi apa kau tidak sedikit berlebihan pada mereka? Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi mereka tetap saja hanya orang biasa."


"Aku tahu. Tapi aku sudah geram melihat mereka."


Aku kembali melihat ke arah Hanasaki-san yang jatuh terlutut lemas. Sepertinya aku memang sedikit berlebihan pada mereka, sih.


Lalu aku pun mengantarkan Hanasaki-san yang masih lemas ketakutan ke rumahnya. Meskipun ia masih sedikit waspada terhadapku, tapi aku tidak bisa membiarkannya jalan pulang sendirian. Sementara Himeko dan yang lainnya, aku menelepon ambulan agar orang lain yang mengurus mereka.


Semoga saja dengan caraku, aku bisa berhasil menebus kesalahanku. Meskipun dengan sedikit kasar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2