
*Tiga Bulan Kemudian*
Tiga bulan telah berlalu semenjak penyerangan para Lizard itu ke sekolah. Berita tersebut telah menyebar ke seluruh negeri dan masyarakat mengenalnya dengan nama 'Penyerangan Makhluk Misterius Keisatsu School'. Para polisi juga datang setelah mereka semua mati dibunuh oleh kami dan mayatnya dibawa untuk diteliti.
Bangunan sekolah yang sempat rusak berat yang membuat kami libur selama dua minggu juga sudah diperbaiki dan kami sudah bisa bersekolah seperti biasa lagi. Rasa trauma para murid juga sudah berangsur menghilang dan menjadikan pembelajaran bagi mereka kalau ada sesuatu yang masih belum mereka ketahui di dunia ini.
Dan juga tindakanku yang mengalahkan Lizard di depan teman-teman kelasku membuat mereka kembali bersikap baik padaku. Tapi ada salah satu teman sekelasku yang berencana menyebarkan berita itu, aku pun memohon kepada mereka untuk merahasiakannya karena aku tidak terlalu suka untuk menjadi pusat perhatian.
Lalu kemudian Hasuki-san, orang yang menjadi target utama dalam penyerangan sekolah ini. Karena aku bisa menerima sifat aslinya dan juga menangis di pelukanku, sifatnya sekarang sudah berubah menjadi lebih baik kepadaku. Ia juga memberitahu kalau fitnah yang ia sebarkan adalah sebuah kesalahpahaman semata.
Pokoknya semuanya mendapatkan happy end mereka masing-masing dan kehidupan normalku sudah kembali.
Atau mungkin, menurutku begitu.
Teng… Teng… Teng…
Bunyi bel istirahat selesai telah berbunyi dan aku juga telah menghabiskan bekalku. Oh iya, semenjak Hasuki-san bilang kalau fitnah itu hanyalah kesalahpahaman, aku sekarang sudah memakan bekalku di kelas dan tidak menyendiri lagi di atap.
Dalam jeda saat guru belum masuk ke kelas, aku sempat memperhatikan seisi kelas. Lalu aku melirik ke arah Herlin. Dari awal ia masuk kesini, Herlin sangat jarang berbicara dengan seseorang dan lebih sering duduk diam dan memainkan smartphone nya. Aku pun menghampirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku menyapanya. Tapi seperti biasa dia tidak menjawabku dan masih fokus ke smartphone nya.
"Hah … kau ini. Cobalah bicara pada seseorang."
Ia tiba-tiba berhenti mengetik di HP-nya dan kemudian mematikannya. Lalu setelah itu menatap tepat ke mataku dalam diam cukup lama.
"A-Ada apa?"
"Kau tidak perlu mengajariku, aku tau apa yang harus aku lakukan. Lagipula, bukankah lebih baik kata-kata itu ditujukan untuk dirimu sendiri?"
Jleb…
Lagi-lagi panah imajiner menusuk tepat ke jantungku. Kata-kata tajamnya benar-benar yang terburuk di seluruh dunia. Aku pun berdehem dan kembali bertanya kepadanya.
"Ehem … kau sendiri apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sudah tidak punya urusan lagi disini?"
"Apa kau belum tau?"
"Apanya?"
"Ada orang lain selain kita berdua yang memiliki kekuatan khusus. Dengan kata lain, ada Exception lain di sekolah ini."
"Exception lain … disini?"
Seseorang yang memiliki kekuatan khusus bersekolah disini juga? Siapa dia? Aku mencoba mengingat kejadian tiga bulan yang lalu dan menemukan fakta yang mengejutkanku. Meskipun samar-samar, aku masih ingat kalau ada seseorang yang membantuku mengalahkan salah satu Lizard.
"Tapi. aku masih belum tau orangnya. Dia sangat ahli dalam menyembunyikan aura miliknya."
"Hmm …. Kalau tidak salah ingat, aku pernah diselamatkan oleh seseorang saat melawan salah satu Lizard."
"Benarkah? Apa kau melihat wajahnya?"
Tiba-tiba Herlin menjadi sangat antusias berbeda dengan tadi.
"Sayangnya tidak."
"Begitu …. Ya, aku tidak telalu berharap lebih darimu."
"Oi!"
Blam…
"Semuanya duduk di tempatnya masing-masing."
Protesku atas perkataannya terpotong karena guru yang sudah datang dan menyuruh kami duduk. Herlin tidak lupa untuk mengingatkanku tentang latihan sore ini.
**
*Bukit Belakang*
Tiga bulan berlalu dan latihan kami masih terus berlanjut. Selama tiga bulan itu latihanku hanya berkutat pada pengembangan stamina dan latihan kecepatan saja. Sesekali kami juga berduel, contohnya seperti saat ini.
Saat ini kami berada dalam posisi duel dengan jarak yang cukup jauh. Aku sudah memasang kuda-kuda dan menguatkannya, sementara Herlin masih berdiri santai seperti biasanya.
Setelah berlatih selama ini, staminaku sudah berkembang jauh dan kecepatan ku juga lebih baik dari sebelumnya. Tapi, aku menyadari kalau aku masih jauh dari level Herlin. Aku bahkan belum bisa mengenai sehelai rambutnya. Sebenarnya apa yang harus kulakukan, sih?
Aku tiba-tiba tersenyum. Seharusnya aku sudah tahu jawabannya. Hal yang harus kulakukan hanyalah kerja keras dan berlatih setengah mati. Hanya itu. Untuk melindungi ibuku dan orang-orang yang kusayangi, aku tidak boleh berhenti berusaha.
Aku memejamkan mataku. Mencoba untuk konsentrasi dan mengalirkannya ke seluruh tubuh lalu memfokuskan lebih banyak ke arah kedua tangan dan kaki. Auraku mulai mengalir ke tangan dan kakiku. Tapi aku yakin kalau itu masih belum cukup, belum cukup bahkan untuk menyentuhnya. Lebih … lebih … lebih banyak lagi. Aku terus mencoba mengalirkan auraku lebih banyak lagi.
Tiba-tiba suasananya berubah. Suasananya menjadi tegang ditambah hembusan angin lembut yang membuat tempat ini lebih dingin dari biasanya.
Herlin masih menunggu dengan apa yang aku lakukan. Dia bisa merasakan perubahan yang terjadi di tempat ini akibat dari aliran auraku membuat tekanan di tempat ini menjadi lebih kuat.
"Kau … mulai berkembang, ya?"
Aku tidak bisa mendengar ucapannya dengan jelas karena terlalu fokus. Setelah kurasa cukup, aku membuka mataku. Tatapanku kosong dan hanya tertuju pada orang yang ada di hadapanku.
"Aku mulai."
Aku melesat kearahnya langsung dari depan, meninggalkan sebuah retakan ditempat aku berpijak sebelumnya. Kali ini kecepatanku jauh lebih cepat dari biasanya. Bahkan Herlin sempat terkejut dengan kecepatanku, tapi hal itu tidak membuatnya kehilangan fokus.
Swuuushh…
Aku melancarkan tendangan horizontal tepat kearah kepala Herlin, tapi dia masih bisa melompat kebelakang untuk menghindarinya. Tanpa jeda, aku melanjutkan seranganku dengan pukulan bertubi-tubi. Tapi semua seranganku masih bisa dihindari dengan sempurna olehnya.
"Fyuuh …."
Menyadari kalau seranganku tidak ada yang berhasil, aku melompat ke belakang untuk menjaga jarak. Mengatur kembali nafasku agar staminaku tidak terbuang sia-sia. Terus menjaga konsentrasiku agar tidak melemah. Masih belum …. Aku masih belum bisa menyentuhnya.
"Kalau begitu, aku akan mencoba yang ini!"
__ADS_1
Aku mengatur pernafasanku dan mengumpulkan aura yang lebih banyak lagi di kedua kaki. Bayangkan sebuah kilat yang bergerak secepat cahaya berkumpul di kakiku.
Bzztt… Bzztt…
Percikan-percikan kecil listrik terlihat di kedua kakiku. Aura berbentuk listrik ini meningkatkan kecepatan dan membuat penggunanya bergerak secepat kilat. Kali ini pasti bisa! Aku yakin bisa mengenainya!
Tatapan Herlin saat ini kosong dan hanya terfokus padaku. Aku bisa merasakan aura yang keluar dari dalam tubuhnya. Apa itu artinya dia mulai serius kepadaku? Aku membuang pemikiran itu dan bersiap untuk menyerangnya.
Zwuusshh…
Aku melesat kearahnya lagi, tapi kali ini gerakanku berbeda dengan yang sebelumnya. Aku melakukan gerakan zig-zag yang bisa membuatnya bingung. Aku terus melesat sampai akhirnya berada dibelakangnya. Aku langsung melancarkan tendangan kearah kepala bagian kanannya, Herlin mencoba menengok kearahku tapi terlalu lambat. Kena kau, Herlin!
Bleedaaarrr…
Aku menutup mataku untuk mencegah debu masuk ke mataku. Aku kemudian membuka mataku dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apa aku mengenainya?—Tidak … tunggu sebentar! Aku melayang? Tendanganku berhenti sebelum mengenai kepalanya?
Herlin mengangkat tangan kanannya setinggi telinganya dan berhasil menghentikan seranganku menggunakan kekuatannya.
Ziiingg…
"Kau ini, tidak tahu cara menahan diri, ya?"
Jadi ini kekuatan Mind Power miliknya? Ini pertama kalinya aku melihat dia menggunakan kekuatannya. Biasanya dia mengandalkan The Unseen yang selalu menyerang secara tiba-tiba itu. Tapi sekarang Herlin benar-benar menggunakan kekuatannya.
"Pergerakanmu semakin berkembang, staminamu juga sudah lumayan. Kurasa kau sudah lulus teknik dasarnya."
"Iya, aku rasa juga begitu."
Herlin kemudian melepaskan kekuatannya dariku dan aku pun menapak di tanah dengan sempurna.
"Adu—!"
Sial! Efeknya baru terasa sekarang. Setelah melakukan gerakan tadi, kakiku menjadi sangat lemas. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri. Tidak … ini harus kulakukan jika mau terus berkembang. Tapi rasa sakitnya tidak bisa kuhiraukan begitu saja. Rasanya seperti mau mati. Huhu ….
"Lagipula sejak kapan kau menguasai teknik petir itu? Meskipun aku tau kau ini pengguna elemen petir, tapi bukankah jika tidak terbiasa itu membuat tubuhmu jadi terasa terbakar?"
"Aku selalu mengasahnya setelah kau memarahiku waktu itu. Tapi, padahal sebisa mungkin aku untuk tidak terlihat kesakitan. Tetap kelihatan juga, ya?"
Dia diam sambil memperhatikan kondisiku sebentar. Ia melihat sisa-sisa percikan listrik yang masih bisa terlihat di bagian kakiku.
"Jangan bersikap sok kuat, kau harus mengetahui kondisi tubuhmu sendiri atau kau akan mati dalam pertarungan," ucapnya.
"Maafkan aku. Tapi jika tidak memaksakan diri, maka diriku perkembangan diriku akan lambat."
"Bodoh."
"Ap-Apa?!"
"Apa kau mau tahu kelemahanmu? Kau itu terlalu naif. Kau masih menyimpan rasa kasihan walau mereka adalah musuhmu. Dan kau juga tidak memiliki tekad yang kuat untuk bertarung. Jika kau sudah memasuki sisi dunia ini, lengah sedikit artinya mati."
"Be-Begini-begini aku juga punya tekad yang kuat!"
"Apa itu?"
Herlin terdiam sebentar. Lalu setelah beberapa saat, ia kemudian berbicara lagi.
"Kalau begitu, apa boleh buat."
"Herlin …?"
"Melindungi seseorang … itu hal yang mudah untuk dikatakan, tapi sulit untuk dilakukan. Aku mengerti perasaanmu, tapi tidak bisa menerimanya begitu saja. Bagaimana jika kau memaksakan diri lalu saking kerasnya berlatih, kau malah melukai dirimu sendiri?"
"Itu …."
"Tidak usah terburu-buru, kau pasti akan bertambah kuat dan bisa melindungi orang yang kau sayangi. Karena itulah aku disini, kau masuk Black Rain karena alasan itu juga, kan? Maka dari itu, aku yang akan memastikan hal itu. Memastikan kalau kau akan bertambah kuat. Ingat itu baik-baik."
Kata-kata darinya … benar-benar membuatku tenang. Membuatku berharap kalau aku bisa mencapai tujuanku. Dan jawabannya adalah orang ini. Ririsaka Herlin. Ujung bibirku terangkat lebar, aku yakin hal itu bisa terjadi.
"Terima kasih ya, Herlin."
Herlin tidak menjawab ucapan terima kasihku. Ia malah menatapku diam dalam waktu lama seperti ada yang sedang dipikirkannya.
"Hn? Ada apa?"
"Kau juga lemah terhadap perempuan, bagaimana kalau yang jadi musuhmu nanti adalah seorang gadis cantik? Sudah dipastikan kau akan kalah sebelum bertarung."
"I-itu tidak benar …! Aku hanya …. Hah … ya mungkin kau ada benarnya. Tapi aku sudah mengerti sekarang kalau tidak ada ampunan untuk lawan."
"Ya baguslah kalau begitu."
Tiba-tiba Herlin melihat kearah sekitarnya dan mengambil beberapa batu kecil yang ada di tanah. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang ingin dia lakukan. Tapi kemudian ia berbicara kepadaku sambil melemparkan batu-batu kecil tadi ke atas dan ke bawah seperti sedang dimainkan.
"Iraya, aku ingin tanya sesuatu padamu …."
"… Apa aku …, sudah terlihat seperti seorang guru bagimu?"
"Hah?"
Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?
"Dari kecil, aku selalu mengagumi seseorang yang menjadi guru. Menurutku mereka menakjubkan. Kesabarannya dalam mengajar murid-muridnya, kemampuannya untuk menjawab sesuatu yang tidak kau ketahui. Bukankah itu menakjubkan? Dirimu yang bodoh bisa berguna berkat bantuan seorang guru."
Aku mengerti maksud perkataannya. Tapi aku tidak menyangka …. Orang sepertinya, orang yang awalnya kulihat seperti seorang monster pembunuh memiliki keinginan sederhana seperti itu. Aku yang mendengarnya tidak bisa menahan tawaku dan akhirnya tertawa keras.
"Pfft …! Ahahaha …. Maaf tapi aku tidak bisa menahannya. Aku tidak menyangka kau memiliki impian seperti itu."
"Aku tahu itu impian yang bodoh bagi orang sepertiku. Tapi aku—"
"Itu tidak bodoh."
"Eh?"
"Menjadi seorang guru bukanlah impian bodoh. Dan kurasa kau sudah melakukannya dengan baik. Maksudku kau mengetahui kelemahanku, kau juga sudah mengajari aku yang lemah ini, dan yang terpenting kau mau membantuku. Mungkin aku tidak bisa berbaikan dengan Hasuki-san jika bukan tanpamu.
__ADS_1
Jadi bagiku kau sudah lulus dasarnya untuk menjadi seorang guru. Lagipula kau ini guruku kan, Herlin-sensei?"
"Begitu …. Begitu, ya?"
Dia kemudian berdiri menghadap ku. Mengeluarkan sedikit auranya dan membuat batu-batu kecil tadi terbang.
Ziiing…
"Maafkan aku karena sudah bicara yang tidak-tidak. Sekarang, latihan selanjutnya adalah melatih instingmu."
"Haha … tidak apa-apa, aku jadi bisa mengenal sisi lain dirimu. Itu bagus untuk kedepannya nanti."
"Semoga saja."
Swuuushh…
Herlin melesatkan beberapa batu kearahku dari berbagai arah yang berbeda dengan kekuatan Mind Power miliknya. Aku dengan mudahnya menghindari serangannya dan berhasil menghindari semua batu yang dia arahkan kepadaku.
"Hah! Jangan remehkan perkembanganku."
Pletaak… Taakk… Taakk…
Tiba-tiba dari belakang, batu yang tadi berhasil kuhindari kembali menyerangku dari arah titik butaku yang membuatku terkena semua serangannya.
"Adu—! Duh—! Duh—!"
"Kau ini … bodoh juga ada batasnya."
"Apa katamu?!"
"Lawanmu adalah seorang Mind Power. Dengan kata lain, dia akan terus menyerangmu dari jarak aman dan sangat mengandalkan kekuatannya."
"A-Aku tau itu."
"Fokus pada apa yang ada disekitarmu. Jika kau bisa mengembangkan luas aura mu, maka kau bisa menghindari atau menahannya tanpa melihat asal serangannya."
Mengembangkan luas aura? Kedengarannya keren sekali! Baiklah aku akan melatih yang satu itu lebih giat lagi. Aku memasang kuda-kuda bertahan dan kali ini lebih siap untuk menerima serangan Herlin.
"Yosh! Sekarang serang aku sebanyak yang kau mau!"
"Kupikir sampai sini saja latihan hari ini."
"Eh?! Kenapa sekarang?!"
"Salah satu anak di panti asuhan sedang berulang tahun. Aku disuruh Aiza-san untuk menyiapkan pesta ulang tahunnya."
Sial! Waktunya tidak tepat sekali. Padahal aku sedang semangat-semangatnya dalam berlatih. Aku melihat kearah langit yang masih berwarna biru cerah, masih banyak waktu sebelum gelap.
"Herlin! Apa aku boleh ikut membantu?!"
"Ya, aku akan membuatmu bekerja keras kalau sudah sampai disana."
"Yosh!"
Kami pun berjalan menuju ke Himawari Orphanage untuk merayakan ulang tahun salah satu anak di panti. Dan dengan begitu, latihan kami hari ini selesai.
**
*Sebuah Gang di Pusat Kota Kyoto*
Sepasang kekasih sedang berjalan di sebuah gang sempit di sela-sela gedung, sampai mereka melewati tiga orang pria yang sedang duduk bersandar di tembok.
Syuush…
Salah satu dari tiga orang itu mengangkat jari telunjuknya dan tiba-tiba muncul angin yang membuat rok wanita itu terbuka dan memperlihatkan bagian ****** ********.
"Hahaha … bagian dalammu lucu sekali, manis."
"Kyaaa!"
Perempuan itu langsung menutup rok yang terkena angin tersebut. Kelakuan pria itu membuat kekasihnya marah dan menghampirinya.
"Oi! Apa yang kau lakukan terhadap kekasihku?!"
"Wah! Pacarnya marah, nih? Maaf, maaf, aku hanya sedikit menggodanya saja. Apa itu tidak boleh?"
Pria itu menggoda pasangan kekasih itu dan tertawa dengan tawa yang menyebalkan.
"Kurang ajar!"
Kekasih wanita itu mencoba menghajar pria itu. Tapi saat pukulannya berada di depan wajah pria itu, tiba-tiba dia berhenti.
"A-Ada apa ini?!"
Salah satu teman pria yang dari tadi diam saja tiba-tiba menghampiri kekasih wanita itu. Dia memegang tangannya dan kemudian memberikan pisau kepadanya. Setelah diberikan pisau, tangan pria itu mulai bergerak tak terkendali dan kemudian menusuk pacarnya. Dan si pacar jatuh akibat tertusuk.
Jleb…
"Tidak …!! Sialan! Apa yang terjadi sebenarnya?!"
"Waduh, waduh! Gawat sekali! Kau menusuk pacarmu sendiri, apa yang kau lakukan? Bukankah kau mencintainya?"
Jleb…
"Arrgghh …!! Sialan! Apa yang terjadi pada tubuhku?!"
Tiba-tiba tangan orang itu menusuk pahanya sendiri yang membuatnya jatuh tersungkur. Dia berteriak kesakitan karena apa yang telah dia lakukan. Setelah membuatnya menusuk kekasih dan pahanya sendiri, mereka bertiga pergi meninggalkan kedua pasangan itu yang tergeletak bersimbah darah.
"Ayo pergi, Karai, Hisui."
"Fufufu … okey."
Bersambung
__ADS_1