Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 75 : Serangan Balasan Dimulai!


__ADS_3

Serangan balasan telah ditentukan waktunya. Tengah malam ini, Herlin dan yang lainnya akan menuju ke tempat para Assassin itu bersembunyi. Sampai menunggu tengah malam tiba, Mei-senpai diajak oleh Herlin untuk istirahat sebentar di panti asuhan.


"Akhirnya kita akan melakukannya, ya?" tanya Mei-senpai.


"Ya begitulah."


Herlin meregangkan otot-otot di tubuhnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi karena latihan yang dilakukannya tadi.


"Oh iya Senpai, bagaimana kalau malam ini Senpai menunggu di tempatku saja?"


"Menunggu? Apa tidak apa-apa?"


"Ya jika sekedar numpang makan malam dan mandi saja sih, kurasa tidak akan ada masalah. Selain itu aku khawatir terjadi apa-apa pada Senpai saat di jalan pulang nanti."


"Begitu ya. Baiklah kalau begitu, tapi kurasa aku akan—"


Senpai tiba-tiba terdiam. Ia tadinya ingin mengeluarkan HP-nya dan menelepon orang rumah, mengabarkan kalau dia tidak akan pulang hari ini. Tapi ia sadar kalau di rumahnya tidak ada orang selain ayahnya yang koma. Jadi Senpai mengurungkan niatnya.


Herlin yang melihat tingkah aneh Senpai langsung menanyakannya.


"Senpai, apa kau tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa."


Tapi Herlin sedikit tidak percaya kalau Senpai baik-baik saja. Ia sempat melirik kearah Mei-senpai beberapa saat lebih lama, tapi ia mencoba melupakannya dan menghargai privasi milik Mei-senpai.


Malahan Herlin mengeluarkan HP-nya dan berniat memberi pesan pada Yuuki-san. 'Makan malam biar aku yang buat dengan Tetsu". Lalu kirim. Dengan begini Yuuki-san tidak perlu terburu-buru untuk pulang dan menyiapkan makan malam untuk anak-anak di panti asuhan.


"Senpai, apa Senpai bisa memasak?"


"Hmm? Aku bisa, memangnya kenapa?"


"Kalau begitu bantu aku memasak ya nanti?"


"Kurasa aku lebih pandai memasak dari pada kau, Herlin," ucap Mei-senpai percaya diri dengan senyuman di akhir kalimatnya.


"Bagaimana denganmu, Tetsu? Apa kau mau membantuku memasak?"


"Diabaikan?!"


Dengan wajahnya yang datar, Herlin bahkan tidak terprovokasi oleh ucapan Mei-senpai. Ia malah mengabaikan semua perkataannya. Hal itu rasanya membuatnya sadar kalau percuma saja ingin membuat Herlin marah, justru malah kau yang terpancing emosi dengan ketidakpeduliannya itu.


Mei-senpai menghentikan langkahnya yang telat disadari oleh Herlin karena sedang berbicara dengan Tetsu.


"Apa kau bilang memasak?! Tentu saja aku akan membantu!" ucap Tetsu semangat.


"Tetsu bilang dia akan memban … tu …. Senpai, ada apa?"


"Kalau begitu hanya ada satu kemenangan yang bisa kupastikan dengan mutlak …," gumam Senpai.


"Eh? Kemenangan?"


"… Yaitu adalah ini!"


Boing… Boing…


Mei-senpai meremas dada Herlin dengan kegirangan dan penuh balas dendam. Sementara Herlin yang masih belum mengerti apa yang terjadi hanya bisa mendorong wajah Senpai, tapi itu percuma.


"Se-Senpai!"


"Bagaimana?! Apa kau mengakui kekalahanmu?"


"Apa maksudnya … kekalahan—!"


Senpai masih belum berhenti meremasnya sampai Herlin mengakui kekalahannya. Dan seperti sadar akan hal itu, akhirnya Herlin mengatakannya.


"Ba-Baiklah, Senpai yang menang. Tapi kumohon hentikan," ucap Herlin dengan wajah yang memerah.


"Hehe … akhirnya aku menang!"


Mei-senpai akhirnya melepaskan tangannya dari dada Herlin setelah ia mengakui kekalahannya. Senpai dengan bangganya memeragakan pose 'peace' pada Herlin. Sementara Herlin hanya bisa memeluk dadanya dengan kedua tangannya agar Senpai tidak bisa meremasnya lagi.


"Senpai … sudah lemah, mesum pula."


"Biarin! Yang terpenting kau sudah mengakui kekalahanmu sendiri," ucap Mei-senpai bangga.


Herlin masih memandang wajah tertawa Mei-senpai dengan tatapan waspada seperti melihat om-om. Tapi setelah beberapa lama, akhirnya ia sudah bersikap seperti biasa lagi dan kembali berjalan.


"Hah …. Kalau begitu ayo kita segera ke panti asuhan," ajak Herlin.


"Baiklah, baiklah."


"Tapi aku ini masih di masa pertumbuhan, Senpai. Dadaku masih bisa tumbuh lebih besar lagi."


"Kalau begitu mau kubantu mempercepatnya?!"


Kedua tangan Mei-senpai sudah siap untuk melakukan hal yang seperti tadi lagi.


"Kali ini aku akan melawan, lho," ucap Herlin cepat.


Setelah pembicaraan tidak penting yang mereka lakukan di jalan tadi, akhirnya mereka sampai juga ke panti asuhan. Sebelum masuk, Tetsu sempat keluar dari pedang agar tidak mengejutkan anak-anak di dalam.


"Aku sudah siap! Silahkan buka pintunya," ucap Tetsu.


Dengan sekali anggukan sebagai tanda siap, Herlin kemudian membuka pintunya. Saat terdengar suara pintu dibuka, anak-anak yang ada di dalam langsung menghampiri mereka semua.


"Nee-chan sudah pulang!"


"Selamat datang kembali!" ucap anak-anak panti bersamaan.


"Aku pulang, apa kalian jadi anak baik selama aku dan Yuuki-san keluar?"


"Tentu saja! Nee-chan, tadi saat aku sedang bermain kan, ya. Lalu …."


"Ada apa, ada apa?"


Anak-anak di panti asuhan sangat bersemangat menyambut kedatangan Herlin. Mereka menceritakan pengalaman mereka hari ini kepada Herlin. Mei-senpai yang melihatnya hanya tersenyum dalam diam. Herlin terlihat seperti seorang kakak bagi mereka semua.


Saat Mei-senpai sedang melamun, salah satu anak panti kemudian memanggilnya dan menyadarkannya dari lamunannya.


"Kak? Kakak yang waktu itu kesini mencari Nee-chan, kan?"


"Benar sekali, namaku Kurobane Mei."


"Mei-neesan, senang bertemu denganmu!" ucap mereka berbarengan lagi.


"Hei, aku tidak disambut nih?" ucap Tetsu protes.


Mereka pun langsung menghampiri Tetsu dan memeluknya. Tetsu yang merasa diperhatikan sangat senang dengan perlakuan para anak-anak panti. Ia kemudian memeluk balik para anak-anak yang memeluknya.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita siapkan makan malam, Tetsu, Mei-senpai."


"Ayo!"


Mereka pun kemudian mulai memasak bersama. Meskipun agak sedikit berisik dan lebih banyak main-mainnya daripada memasak, apalagi Tetsu. Tapi pada akhirnya masakannya tetap jadi, yaitu katsudon.


Katsudon adalah potongan daging sapi yang digoreng lalu disajikan dengan cara dipotong-potong menjadi empat bagian lalu ditaruh di atas nasi hangat. Tidak ketinggalan juga saus pedas manis yang dituangkan diatas dagingnya, membuat cita rasanya semakin tidak terkalahkan.


Herlin, Mei-senpai, dan anak-anak panti lainnya kemudian memakan masakannya bersama. Tapi Tetsu yang juga duduk disana tidak memakan katsudon yang ada di hadapannya, ia malah mengeluarkan sebuah pensil dari satu pak kotak dan mulai mengunyahnya. Ia sengaja membawanya untuk berjaga-jaga apabila ia lapar di jalan.


Anak-anak panti yang melihat Tetsu mencoba menghentikannya tapi usahanya terlambat, pensil tadi sudah habis dimakan oleh Tetsu.


Setelah makan bersama selesai, waktunya mereka untuk mandi. Pertama-tama mulai dari anak kecil yang dimandikan oleh Herlin dan Mei-senpai dan setelah itu baru anak laki-laki. Saat para anak panti itu sudah selesai, sekarang waktunya Herlin dan Mei-senpai yang mandi.


"Hah~ mandi memang yang terbaik!" ucap Mei-senpai yang tengah merendamkan badannya di dalam bak mandi.


"Senpai! Handuknya aku taruh sini, ya," teriak Herlin dari luar.


"Iya, terima kasih Herlin!"


Saat hening di kamar mandi itu, Mei-senpai sempat memikirkan sesuatu.


"Malam ini, ya? Pertarungan akan terjadi lagi."


Mei-senpai kemudian memasukkan setengah wajahnya sampai bagian mata ke dalam air. Ia masih memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.


"Semoga saja semuanya selamat."


Acara mandi pun telah selesai juga dan anak-anak lainnya sudah bersiap untuk tidur dan kembali ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Herlin serta Mei-senpai juga akan tidur dulu untuk beristirahat sebentar.


"Tapi …."


"Ada apa, Herlin-chan?"


"… Kenapa Senpai tidur di sampingku? Masih ada ruangan kosong lain di tempat ini."


"Memangnya tidak boleh? Jarang-jarang kan kita bisa tidur bersama seperti ini."


"Senpai tidak akan melakukan hal 'itu' lagi, kan?"


Herlin sedikit menjauh dan melindungi dadanya dari Mei-senpai. Ia takut kejadian tadi terulang lagi saat ia sedang lengah. Sementara Mei-senpai tersenyum dan tangannya bersiap untuk beraksi lagi.


"Hehe … apa kau mau merasakannya lagi?"


"Senpai, hentikan!"


"Ahaha! Baiklah, baiklah. Kau juga sudah mengakui kekalahanmu jadi aku sudah menjadi pemenangnya."


"Hah … Senpai ini seperti anak kecil saja."


Mereka berdua kemudian terdiam memandangi langit-langit di dalam selimut yang sama. Herlin sudah mulai memejamkan matanya sementara Mei-senpai masih segar dan belum mengantuk. Lalu ia mengajak Herlin berbicara.


"Nee, Herlin-chan."


"Ada apa?"


"Apa ada seseorang yang kau suka?"


Herlin yang tadi memejamkan matanya langsung membuka keduanya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Tidak ada seseorang yang aku sukai."


"Benarkah? Lalu bagaimana kalau kuberitahu inisialnya."


"Yap. Inisialnya adalah 'Satou Iraya'. Apa kau mengenalnya?"


"Itu bukan inisial, Senpai."


Senpai hanya terkekeh kecil dan kemudian menunggu penjelasan dari Herlin. Sebenarnya ia malas untuk membahas hal seperti ini, tapi daripada malah menyebar menjadi gosip yang tidak jelas, lebih baik ia menjelaskannya sekarang saja.


"Kurasa … dia hanya temanku."


"Teman?! Iraya pasti akan bunuh diri jika mendengarmu memanggilnya teman."


"Tidak, kurasa tidak sampai berlebihan seperti itu juga. Tapi Iraya itu bukan teman biasa, aku tidak tahu menyebutnya bagaimana tapi …."


"Tapi?"


"… Iraya adalah orang pertama setelah sekian lama yang membuatku merasakan banyak hal. Seperti senang, sedih, bahkan perasaan yang tidak bisa kujelaskan pun semuanya karena dia. Dia benar-benar berharga bagiku."


Mei-senpai hanya terdiam melihat Herlin yang mendeskripsikan Iraya dari sudut pandangnya. Selain soal latihan, Herlin jarang berbicara panjang lebar seperti ini, jadi ini adalah hal yang langka.


"Bagaimana kalau kau menyebutnya sebagai keluarga? Ya meskipun aku yakin Iraya masih tetap akan mau bunuh diri jika kau bilang kalau dia adalah keluargamu."


"Kenapa Senpai selalu mengaitkan Iraya dengan bunuh diri?" balas Herlin datar.


"Tapi kalau keluarga … kurasa aku bisa menyebutnya begitu. Orang yang berharga bagiku," lanjutnya.


Sadar kalau dirinya sudah bicara terlalu banyak, Herlin kemudian memalingkan tubuhnya ke samping berlawanan dengan Mei-senpai.


"Sekarang lebih baik Mei-senpai cepat tidur. Kita akan bangun pada jam sebelas nanti."


"Baiklah."


Mei-senpai kemudian memalingkan tubuhnya juga. Tapi ia malah menghadap ke arah punggung Herlin. Lalu dengan nada yang kecil ia mengucapkan selamat malam pada Herlin.


"Selamat malam."


**


Herlin membuka matanya. Tapi ia menyadari kalau dia tidak sedang berada di kamarnya, melainkan berada di sebuah tempat dengan ramai orang di sekitarnya.


Ia menengok ke kanan dan kiri memperhatikan orang-orang yang ada disini. Mereka semua memakai pakaian formal dan seperti sedang menghampiri acara pesta. Dan kebanyakan dari mereka memiliki rambut berwarna pirang dan wajah yang lebih putih dari orang Jepang kebanyakan.


"Ada apa ini?"


Ia kemudian juga menyadarinya, kalau suaranya lebih ringan dari yang biasanya. Herlin kemudian melihat kearah tubuhnya dan pakaian yang sedang ia kenakan adalah gaun hitam yang terlihat mewah dan elegan.


Saat rasa kebingungan menyelimuti pikiran Herlin, tiba-tiba ia dipanggil oleh seseorang di sampingnya.


"Herlinia-sama, apa ada sesuatu yang anda pikirkan?"


Herlin yang mendengar namanya dipanggil kemudian menengok kearah sumber suara. Seorang gadis berumur sekitar dua puluh tahun bertanya dengan bahasa yang sudah lama ia tidak dengar dengan sedikit aksen di dalamnya.


"Bahasa Inggris?"


"Hmm? Herlinia-sama?"


Herlin walaupun sempat kebingungan tapi akhirnya dia menggunakan bahasa Inggrisnya yang seadanya.

__ADS_1


"Ah … aku tidak apa-apa."


"Begitu ya, tapi wajah anda kelihatan seperti orang yang sedang kebingungan."


"Tidak usah terlalu dipikirkan."


"Baik."


Pembicaraan mereka pun selesai. Herlin kembali melihat-lihat kearah sekitaran sini. Lalu saat ia melihat ke lantai dua, Herlin melihat seorang perempuan dengan gaun merah yang terlihat mewah dan memiliki beberapa renda sebagai hiasannya. Perempuan itu juga sadar kalau ia sedang diperhatikan dan menengok balik kearah Herlin.


Beberapa saat setelah bertatap-tatapan, ekspresi perempuan itu berubah menjadi kesal dan tidak nyaman seperti melihat sebuah sampah di hadapannya. Herlin yang masih tidak mengerti hanya bisa melihatnya pergi.


Tapi sebelum pergi, ia sempat menggumamkan sesuatu yang dapat Herlin lihat lewat pergerakan mulutnya yang tentu saja memakai bahasa Inggris.


Setelah perempuan itu menghilang dari pandangan Herlin, ia sempat memikirkan kemungkinan siapa yang baru saja ia lihat. Tapi tidak ada waktu bagi Herlin untuk berpikir, karena tiba-tiba ada sebuah ledakan yang menghancurkan pintu depan.


Duaaarrrr…


Dan dari balik kepulan asap itu muncul banyak orang yang memiliki kemampuan pengendali api karena terlihat dari tangannya yang dapat mengeluarkan dan menembakkan api.


"Herlinia-sama!"


Belum sempat ia melihat jelas wajah orang yang menyerang tempat ini, tapi Herlin dengan tubuh kecil dan ringannya ditarik oleh gadis yang selalu berada di sampingnya dari tadi.


Dan yang terakhir ia lihat adalah sebuah seringai yang


keluar dari mulut wajah penyerang itu tapi bagian wajah keatas tidak terlihat karena tertutup asap hitam tebal.


**


Kriiing… Kriiing…


Herlin kembali membuka matanya. Yang pertama ia lihat kali ini adalah langit-langit kamarnya dan itu membuatnya sangat lega. Herlin kemudian duduk di tempat tidurnya dan memegang kepalanya, memikirkan hal yang baru saja ia lihat tadi.


"Mimpi?"


Herlin mencoba untuk melupakan hal itu untuk sementara waktu karena ada hal yang lebih penting untuk dilakukan saat ini.


Karena kamarnya yang gelap serta diiringi oleh jam weker yang sudah berbunyi dari tadi, Herlin pun mematikan jam weker itu dan melihat sudah jam berapa sekarang. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit, berarti alarm tadi sudah berbunyi kurang lebih selama lima menit.


Ia berpikir dirinya hebat juga karena tidak terganggu dengan bisingnya jam weker tadi. Herlin pun segera membangunkan Mei-senpai yang masih tertidur pulas disampingnya.


"Senpai … Senpai bangun sudah mau tengah malam."


Herlin mengguncangkan tubuh Senpai beberapa kali untuk membuatnya bangun. Dan setelah beberapa saat, Senpai pun bergerak. Ia membuka matanya dan melihat kearah Herlin dengan tatapan yang kosong.


"Senpai?"


Setelah melihat kalau yang berada disampingnya adalah Herlin, Mei-senpai sedikit tersenyum dan kemudian memejamkan matanya lagi sambil menarik selimut untuk menutupinya.


"Senpai jangan tidur lagi!"


Setelah lima menit berjuang, akhirnya Herlin berhasil membangunkan Mei-senpai.


"Hoaam …." Mei-senpai masih terlihat mengantuk terbukti kalau ia masih mengusap-usap matanya dan menguap.


"Kita harus segera bersiap-siap."


"Baik~"


Meskipun menjawab, tapi Mei-senpai yang masih terduduk di tempat tidur memiliki niat untuk tidur lagi selagi Herlin sedang tidak ada disini. Mei-senpai pun secara perlahan meluncur di atas kasur dan kembali memeluk gulingnya.


Byuuurrr…


Tapi tiba-tiba sebuah siraman air meluncur dengan mulus dan tanpa halangan langsung ke wajah Mei-senpai yang membuatnya seketika sadar. Herlin ternyata sudah kembali ke kamar dan memegang gelas yang sudah kosong.


"Apa yang kau lakukan, Herlin-chan?!"


"Maaf tanganku licin," ucap Herlin datar tanpa rasa bersalah.


"Licin matamu!"


Akhirnya mereka pun berangkat menuju ke Haiiro Cafe. Tidak ada banyak pembicaraan yang mereka lakukan saat di jalan. Sementara Herlin bisa mendengar Tetsu yang bersenandung riang karena akan menemukan makanan lagi.


Sementara Cecilia tidak menunjukkan pergerakan sama sekali di dalam tubuh Herlin. Mungkin saja dia tidur pikir Herlin. Dan akhirnya kami pun sampai di Haiiro Cafe.


Saat masuk ke dalam, sudah ada Oita-san dan Ishikawa-san yang menunggu di salah satu kursi pelanggan. Mereka terlihat sangat santai saat menunggu kami dan menyambut kami ketika kami datang.


"Kalian sudah datang? Kalau begitu kita mulai penyerangannya," ucap Oita-san.


"Baik!"


Walaupun Herlin dan Mei-senpai baru datang, tapi semuanya tidak ingin membuang waktu lagi. Jadi mereka semua langsung berjalan menuju ke tempat persembunyian baru para Assassin itu.


Ishikawa-san yang ditugaskan dalam mencari persembunyian terbaru mereka pun melakukan tugasnya dengan baik karena kali ini ia tidak pulang dengan tubuh yang cedera.


"Seberapa jauh lagi?" tanya Herlin.


"Sebentar lagi …. Itu tempatnya!"


Mereka berempat berhenti bergerak dan berdiri di atas atap salah satu rumah untuk mendapat pemandangan yang lebih jelas. Dan seperti yang Ishikawa-san sudah selidiki, tempatnya memang benar. Sebuah reruntuhan gereja tua.


Tempat itu serasa berbeda dengan yang ada di sekitarnya. Seperti perasaan mencekam dan sebuah peringatan naluriah bagi manusia biasa dari alam bawah sadarnya untuk tidak mendekati reruntuhan gereja itu.


"Jadi disini," ucap Mei-senpai.


"Benar, tidak salah lagi. Kalian bisa merasakannya sendiri, bukan?"


Swuuushh…


"Oita-san, apa yang akan kau—! Oita-san?!"


Tanpa menunggu aba-aba dari yang lainnya, Oita-san langsung melesat dan memukul pintu depan reruntuhan gereja tersebut.


Duaaarrrr…


Setelah mendapat pukulan yang cukup kuat dari Oita-san, yang lainnya yakin kalau pintu itu akan hancur tak tersisa. Tapi ternyata perkiraan mereka keliru, pintu tadi tetap berdiri kokoh dan seperti tidak tergores apapun.


"Tidak mungkin!" ucap Mei-senpai.


"Hmm … lebih tipis dari yang kuduga," gumam Oita-san.


Ia sepertinya bisa menghancurkannya dengan beberapa kali pukulan lagi tanpa harus mengeluarkan auranya. Tapi tepat dugaan dari Oita-san, tidak akan semudah itu. Karena musuh mereka yang sebenarnya sudah menunggu.


"Ada urusan apa kalian datang malam-malam begini, Murasaki Oita?"


"Kebetulan aku punya aku urusan dengan kalian, Astaroth." Oita-san mengeluarkan seringai di akhir kalimatnya.


Dari kubu Oita-san. Herlin, Mei-senpai, dan Ishikawa-san turun dari atap dan sudah bersiap di belakang Oita-san. Sementara dari kubu Astaroth. Para Assassin seperti Nimis, Ardenter, dan Delta sudah bersiap di belakang Astaroth.

__ADS_1


Pertarungan mereka sudah ada di depan mata. Untuk mengambil kembali keluarga mereka yang diculik, Mereka akan bertarung habis-habisan.


Bersambung


__ADS_2