
Caramel memandangiku dengan tatapan curiga. Ia mengira kalau aku sedang merencanakan sesuatu saat aku bilang kalau aku ingin bicara dengannya soal sesuatu.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Caramel.
"Bukan sesuatu yang serius, hanya obrolan biasa untuk membunuh waktu."
Caramel tersenyum dan kemudian duduk di aura transparan yang sepertinya sudah ia buat dari tadi. Ia duduk tepat di sampingku seolah tidak takut akan apapun yang aku lakukan padanya—lagi pula aku juga sedang tidak bisa berbuat apa-apa sih.
"Membunuh waktu, ya? Baiklah, aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, tapi mari kita mengobrol. Aku juga sudah lama ingin mengobrol denganmu," ucap Caramel.
Sebenarnya aku tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak, tapi aku serahkan hasilnya pada skill komunikasi milikku. Aku pun sedikit mengeluarkan seringai dan kemudian bicara padanya.
"Pada waktu pertama kali kita bertemu, apa yang sedang kau lakukan waktu itu?"
"Ahh … waktu di kamar mandi itu, ya? Itu aku sengaja melakukannya!"
"Se-Sengaja?!"
Kalau dipikir-pikir lagi hal itu bodoh juga ya. Ia tanpa ragu masuk ke dalam toilet pria, di tambah juga dia mengatakannya tanpa beban sama sekali. Wanita ini menyeramkan!
Aku kemudian berdehem untuk membersihkan tenggorokanku lalu kembali bertanya padanya.
"Ehem …! Baiklah, baiklah, jadi tujuanmu masuk ke dalam toilet pria itu untuk menemuiku?"
"Yap."
"Lalu kenapa saat itu sikapmu berbeda sekali dengan yang sekarang?"
"Mudah saja, aku hanya berakting menirukan sifat orang yang kau sukai."
"A-Aku sukai? Maksudmu?"
"Kau terlihat dekat dengan Ririsaka Herlin waktu itu, jadi aku mencoba menirukannya dan ternyata dugaanku tepat. Ehehe …!"
"Jangan 'ehehe' doang, oi! Lagipula Herlin itu bukan orang yang aku sukai!"
"Oh, aku salah mengira di bagian situ? Ya terserahlah, yang penting aku bisa menyelesaikan tugasku."
Perempuan ini benar-benar berbahaya! Dan yang paling berbahaya adalah saat dia tiba-tiba masuk ke kamarku waktu itu. Yang dia lakukan hampir membuat hubunganku dengan Herlin jadi berantakan.
"Kau ini …, lalu saat kau masuk ke dalam kamarku dan tiba-tiba menciumku, apa ada pembelaan soal kejadian itu?" tanyaku.
"Soal itu aku memang harus melakukannya. Karena jika tidak, aku akan gagal melakukan tugasku."
"Hn? Maksudmu?"
Caramel kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan lalu berhenti tepat di depanku. Ia mengarahkan tangannya ke dahiku lalu menyentilnya tanpa sebuah alasan yang jelas.
Ptaakk…
Aku yang sedang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa menerima sentilan darinya itu yang membuat dahiku sedikit memerah, tapi sedetik kemudian warna merah pada kulitku menghilang.
"Adu—! Apa yang kau lakukan sih?!"
"Aku menciummu waktu itu untuk mencegahmu apabila kau bisa mengendalikan Subject C. Tapi lihat kau sekarang, bekas sentilan yang aku berikan padamu langsung menghilang begitu saja tanpa ada bekasnya."
"Jadi begitu, alasan regenerasiku melambat itu semuanya karena kekuatanmu."
"Ya begitulah. Tapi …."
"Hn? Ada apa?"
Caramel mendekatkan wajahnya dengan jarak yang sangat dekat padaku. Sampai hampir tidak ada jarak antara aku dengannya.
"Kau itu benar-benar menarik perhatianku, Satou Iraya."
Aku tidak bisa bereaksi apa-apa saat ia berkata seperti itu, hanya pipiku yang lama kelamaan semakin memerah. Dengan wajahnya yang terlalu dekat, lalu matanya yang tepat menatapku secara langsung, dan senyumannya yang sedikit menggangguku.
Lalu ia pun menjauhkan wajahnya dariku dan melanjutkan perkataannya sambil berjalan-jalan di sekitar ruangan ini.
"Dari sekian banyak manusia yang kami ujicoba, mereka semua pada ujungnya bernasib sama, yaitu tubuhnya meledak karena tidak kuat menahan kekuatan yang begitu besar yang ada pada Subject C …."
Ia mulai bercerita tentang asal usul Cecilia. Dengan tangan dan tubuhnya yang tidak bisa diam karena terus menerus berkeliling di ruangan yang kecil ini, ia pun melanjutkan ceritanya.
"… Tapi kau, setelah insiden kaburnya Subject C. Kami berusaha untuk mencarinya karena ia memiliki ketahanan diluar inangnya lebih lama daripada Spirit biasa, jadi kami berasumsi kalau ia sudah pergi jauh dari Tokyo. Lalu aku mendengar dari salah satu kantor cabang kami di Kyoto kalau Subject C ada di sana.
Saat Nimis dan Ardenter gagal menjalankan misinya karena bertemu dengan halangan terbesar kami, yaitu Murasaki Oita. Aku kemudian ditugaskan untuk pergi ke Tokyo dan mengamati orang yang diduga Subject C, dan disitulah aku bertemu denganmu.
Awalnya aku tidak percaya saat melihatmu kalau orang ini adalah inang Subject C, tapi saat melihatmu bertarung di turnamen itu aku jadi yakin kalau kau memang benar orangnya," jelas Caramel.
Mendengar cerita utuh dari Caramel membuatku hanya bisa terdiam. Jadi itu semua terhubung, aku menyadari jika saja aku tidak penasaran saat itu, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Cecilia dan yang lainnya. Dan mungkin saja, ibuku juga masih hidup.
Sryiiingg… Blaaaaaarrr…
Saat aku sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat besar bahkan bisa terdengar dari sini. Aku juga bisa melihat sekilas kalau langit malam dalam sekejap berubah menjadi terang.
"Ap-Apa itu?!"
"Sepertinya pertarungan mereka semakin sengit."
Aku tidak bisa diam disini lebih lama lagi. Aku harus sebisa mungkin keluar dari sini dan membantu mereka semua.
**
PoV Ishikawa Kyujiro
Lawanku kali ini adalah Ardenter ya? Hah … padahal sudah kubilang pada Oita-san kalau aku ini tidak cocok dalam pertarungan satu lawan satu. Tapi kenapa dia masih memaksaku untuk ikut pertarungan ini.
Meskipun aku menggerutu seperti tadi, tapi itu tidak merubah fakta kalau aku sedang berada di dalam perisai berduriku sendiri karena sedang melindungi diriku dari serangan Ardenter.
Dari informasi yang aku dapatkan dia ini adalah seorang Physical Strength. Jadi dia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kepadaku, semoga saja dia hanya mencoba menghancurkan perisaiku dengan kekuatannya. Aku harap sih begitu.
Tapi karena dia seorang Assassin, aku rasa dia tidak mungkin hanya akan berdiam diri saja menungguku untuk keluar dan dia pasti punya semacam senjata lain untuk melawanku.
"Oi! Keluar kau pengecut!"
Ardenter berteriak kepadaku dan menyuruhku untuk keluar. Aku sudah menambahkan duri-duri tajam di seluruh bagian perisaiku, jadi dia tidak akan semudah itu untuk menghancurkannya. Jika dia memaksanya dengan kekerasan, duri-duri itu setidaknya akan melukai dirinya.
"Coba saja buat aku keluar!" ucapku memprovokasinya.
Merasa seakan ditantang, Ardenter akhirnya menuruti permintaanku dan mulai mengeluarkan aura mengerikan yang belum ia keluarkan dari tadi. Dan sekarang ia melesat kearahku dengan cepat.
__ADS_1
Braaaakkkhh…
Tanpa ragu ia memukul perisai berduriku dengan tangan kosong, membuat perisaiku sedikit bergetar. Tapi bagian yang dipukul oleh Ardenter juga masih terdapat durinya, seharusnya itu bisa membuatnya sedikit kesakitan.
Tapi seakan menghiraukan hal itu, ia terus saja memukul bagian yang sama berulang-ulang kali sampai bagian duri yang ia pukul dari tadi hampir rusak. Dia benar-benar tidak peduli pada kondisi tubuhnya sendiri dan ingin segera membuatku keluar dan menghajarku.
Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Level 2, aktifkan!"
Aku berlutut di atas tanah dan menaruh telapak tanganku di atas tanah juga, Lalu aku memfokuskan auraku untuk lebih memperkuat perisaiku lagi. Dan hal itu pun terjadi.
"?!!"
Zwuusshh…
Ardenter yang menyadari kalau ada perubahan pada perisaiku pun memilih untuk melompat mundur ke belakang dan bersamaan dengan itu duri-duri yang baru saja ingin Ardenter hancurkan, tiba-tiba memanjang dan seakan menusuk siapa saja yang masuk ke daerahnya.
Setelah serangan dadakan pertamaku pada Ardenter gagal, duri-duri yang memanjang tadi kembali aku panggil dan menjadi seperti semula lagi.
Total duri yang ada di seluruh bagian perisaiku saat ini adalah 25 buah. Dan aku hanya bisa mengendalikan lima dari mereka secara bersamaan, jaraknya juga hanya bisa mencakup area seluas 15 meter saja.
Sial. Meluaskan auraku, mempertahankannya, dan menyerang secara bersamaan benar-benar menghabiskan staminaku. Andai saja saat itu aku ikut latihan bersama Herlin-chan dan Iraya-kun, mungkin saat ini keadaannya akan jadi lebih mudah.
Aku hanya bisa tertawa miris karena hal itu. Lagipula penyesalan itu datangnya selalu di akhir. Aku kemudian fokus lagi pada pertarungan ini, Ardenter masih belum melakukan pergerakan apa-apa lagi setelah aku menunjukkan duri yang bisa memanjang itu padanya.
Tapi meskipun dari jarak sekitar 20 meter ini, aku bisa melihat wajah kemarahan yang dari tadi sudah tertanam di wajahnya.
Swuuushh…
Aura disekitarnya berbeda lagi. Kali ini samar-samar aku bisa melihat aura berwarna abu-abu perak transparan yang menyelimuti sekitar tubuhnya. Perasaan ngeri juga tiba-tiba saja terasa di bagian leher belakangku.
"Jika kau tidak mau keluar, aku yang akan mengeluarkanmu sekarang, sialan."
"Coba saja!"
"Baiklah kalau itu maumu."
Suaranya sudah terdengar lebih tenang dari yang tadi. Dia sudah mulai serius sekarang, kalau begitu aku juga. Aku menutup mataku dan terfokus untuk merasakan pergerakannya lewat auraku. Jika ia masuk ke dalam perluasan auraku, aku bisa langsung menyerangnya.
Aku juga menutup seluruh bagian perisaiku dan menjadi tidak ada celah sama sekali baginya untuk menyerangku. Setelah beberapa saat menutup mata, aku masih belum merasakan keberadaannya di dalam area auraku.
Tap…
Aku mendengar satu langkahnya, tapi setelah itu ia hilang lagi.
Tap… Tap… Tap…
Aku mendengar langkahnya lagi. Kali ini lebih banyak dari yang tadi dan juga jaraknya semakin mendekat ke arahku. Tapi kemudian menghilang lagi. Ia seperti sangat berhati-hati kali ini dan gerakannya benar-benar rapi.
Tap…
"Ini dia!"
Ia mengincar bagian belakang perisaiku dan mencoba menyerang lewat titik butaku, tapi sayangnya aku masih bisa merasakannya. Aku memanjangkan duriku dan mencoba menyerang Ardenter.
Sementara itu Ardenter yang mencoba menyerang bagian belakang perisai terkejut karena pergerakannya dapat ditebak olehku. Belum sempat Ardenter mau memukul, ia sudah harus menghindari seranganku lagi dan mundur kembali.
Tap… Tap… Tap…
Braakk…
Dia sudah berhasil memukul perisaiku bahkan sebelum aku sempat mendeteksi keberadaannya. Langkah yang aku rasakan saat ini terlalu banyak. Aku membuka mataku dan mencoba lebih keras untuk mendeteksi keberadaannya yang sesungguhnya.
Braakk… Braakk…
"Ini gawat."
Disaat gempuran pukulan yang Ardenter terus lancarkan saat ini, jika terus kubiarkan akan semakin gawat. Aku kemudian menghilangkan perluasan auraku dan fokus pada penyerangan saat ini.
"Sial!"
Zwuusshh… Sryiiingg…
Aku mengorbankan pertahananku untuk melakukan serangan yang satu ini. Aku memanjangkan semua duri yang ada di perisaiku untuk menghasilkan serangan area yang membuat perisaiku saat ini seperti landak.
Tapi aku tidak merasakan kalau aku mengenai siapapun pada duriku. Mataku kemudian melebar saat tahu kalau hampir semua duri-duriku hancur disaat yang bersamaan.
Kraaakk…
"Ap-Apa?!"
Braaaakhh… Grebb…
Saat duri pada perisaiku sudah rusak parah, tiba-tiba perisai tanpa duri itu pun hancur saat sebuah tangan menerobos masuk ke dalamnya dan memegang kerah bajuku lalu berusaha menarikku keluar. Tapi lubang yang dibuatnya terlalu kecil sehingga aku hanya menabrak bagian dalam perisai saja dan tidak menembusnya.
"Akhirnya aku mendapatkanmu!" ucap Ardenter.
Wajah kami saling bertemu diantara lubang perisai yang Ardenter buat. Ia mengeluarkan seringai kepuasan diantara ekspresi marah yang menguasai wajahnya. Tapi aku hanya membalasnya dengan senyum percaya diri, seolah aku ini belum kalah.
"Haha … apa kau yakin soal itu?"
"Hah?!"
Aku mengunci tangan Ardenter yang sedang memegangi kerah bajuku sehingga ia tidak bisa bergerak kemana-mana. Lalu setelah itu, aku memfokuskan auraku di area jantungku dan menciptakan sebuah duri dadakan yang bisa memanjang dan melesat tepat kearah wajah Ardenter.
Sryiiingg… Srrttt…
Tapi ia masih bisa menghindarinya, walaupun meninggalkan sedikit goresan di pipinya. Setelah berhasil menghindarinya, Ardenter kembali menatapku.
"Apa itu serangan terakhirmu?"
"Tentu saja tidak!"
Aku memegang lengan Ardenter lebih erat lagi. Seranganku tidak berhenti sampai yang tadi saja, dari belakang perisai yang sudah hampir rusak semua tiba-tiba melesat lima duri yang tersisa. Kali ini dur itu bisa melesat ke berbagai arah, tidak hanya lurus seperti yang sebelumnya.
"Kena kau!"
Ardenter yang menyadari seranganku berusaha untuk melompat mundur, tapi gerakannya terhambat karena aku berhasil menahannya. Ia mencoba memberontak melepaskan genggamanku, tapi tidak akan semudah itu.
"Lepaskan, sialan!"
__ADS_1
"Jangan harap!"
Ardenter melihat duri-duri yang melesat kearahnya dengan cepat. Ia pun mengubah rencananya yang tadinya berontak untuk melepaskan genggamanku, berubah menjadi menyerangku.
Ia menarik kerah bajuku ke depan dan menabrak perisai buatanku sendiri cukup keras sehingga genggamanku melemah. Tapi itu masih belum membuatku melepaskan tangannya.
"Kubilang lepaskan, sialan!"
"Coba saja, brengsek!"
"Le-pas-kan!"
Baagghh…
Ardenter menarik kerahku kuat yang membuatku menghantam perisai buatanku sendiri dengan keras dan sekaligus membuat genggamanku terlepas. Dengan tepat waktu, ia pun berhasil menghindari duri-duri milikku.
Sementara aku bangun dan kembali fokus untuk menghadapinya. Aku sempat mengelap bibirku yang mengeluarkan darah dan mencoba mengatur ulang strategi lagi. Perisaiku sudah hampir hancur, duri-duriku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku benar-benar berada di posisi yang buruk saat ini.
"Hah ... kalau sudah begini, kurasa saatnya 'do or die'," gumamku.
Aku meregenerasi perisaiku meskipun hanya di bagian depannya saja sehingga Ardenter tidak bisa melihatku dengan jelas dan aku hanya menyisakan bagian mata kananku yang terbuka.
Sementara itu Ardenter yang tidak mengalami luka yang serius kemudian kembali berjalan ke arahku. Ia tidak mengetahui rencana apa yang aku milikku tapi dia tetap berjalan ke arahku dengan santainya. Ia kembali memfokuskan auranya di bagian kepalan tangannya dan bersiap untuk menghancurkan perisaiku lagi.
"Kau masih bermain-main dengan pelindung tak bergunamu itu, hah?! Biarkan aku yang menghancurkannya untukmu."
Aku tidak menjawab provokasi Ardenter itu karena sedang fokus menyiapkan sesuatu. Sementara ia terus berjalan mendekat ke arahku. Lalu setelah cukup dekat, ia kemudian melesat dan saat di udara langsung mengarahkan tinjunya tepat ke perisai yang baru saja aku regenerasi.
Braakhh… Duuaarrr…
Pukulan itu tidak berhasil menghancurkan perisaiku dalam satu kali serangan. Sementara aku juga masih melihatnya dari tempat yang sama dan tidak bergerak sama sekali. Ardenter kemudian memukulnya beberapa kali sampai perisai itu hancur dan menampakkan wajahku seutuhnya.
Ia kemudian kembali menarik kerahku dan menabrakkanku seperti yang tadi ia lakukan. Tapi aku tidak bereaksi apa-apa, aku masih melihatnya dengan tatapan yang sama dan tidak terlihat ketakutan atau seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Apa yang kau lihat, hah?!"
"…."
"Jawab aku, sialan!"
Aku tidak menjawabnya. Hal itu pun semakin membuat Ardenter geram dan kemarahannya sudah berada di puncaknya. Ia secara cepat memanjangkan kuku-kuku jarinya dan bersiap untuk menyerangku.
"Baiklah jika itu maumu."
Sryiiingg… Kraaakk…
Ia mengarahkan kuku-kuku tajamnya kearah leherku yang langsung memisahkannya dari tubuhku dan terjatuh ke bawah. Kepalaku menggelinding di tanah seiring dengan perisai buatanku yang menghilang secara perlahan.
Ardenter kemudian menjatuhkan tubuh tanpa kepala itu dari genggamannya begitu saja. Ia melihat kearah kukunya yang baru saja memisahkan kepalaku dengan tubuhku. Tidak ada darah sisa pada kukuku pikirnya.
Karena memang bukan itu tubuhku yang asli.
Aku melompat dan muncul dari dalam tanah di belakang Ardenter yang masih bingung dengan yang baru saja terjadi.
"Kau bingung, orang pemarah?!"
"…?!"
Secara refleks Ardenter menengok ke belakang. Tapi itu semua sudah terlambat, saat aku mengarahkan tanganku ke arahnya dan merapalkan sesuatu keras-keras.
"Makanlah, Iron Maiden!"
Sryiiingg…
Aku membentuk sebuah Iron Maiden—sebuah alat penyiksaan yang terbuat dari besi dengan cara memerangkap orang di dalamnya yang dipenuhi oleh duri-duri tajam. Berniat untuk memerangkap Ardenter dan memerasnya serta membuat tubuhnya berlubang seperti sarang madu.
Iron Maiden itu terbuka dan setelah berhasil menangkap Ardenter di dalamnya karena ia tidak sempat bereaksi, Iron Maiden kemudian menutup dengan sendirinya dan duri-duri di dalamnya mulai melakukan tugasnya untuk memeras Ardenter. Aku juga bisa melihat sedikit darah yang keluar dari Iron Maiden itu.
"Hah … hah … hah …."
Nafasku terengah-engah, tapi untung saja setidaknya aku berhasil memenangkan pertarungan kali ini. Aku menengok ke arah yang lainnya, sepertinya mereka semua masih bertarung. Aku pun berjalan ke suara samar-samar pertarungan untuk membantu entah itu Kurobane-chan ataupun Herlin-chan.
Kriiieett…
Aku melihat ke belakang dan mengecek Iron Maiden karena aku mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan. Iron Maiden itu sudah terbuka lagi. Tidak mungkin! Seharusnya ia terbuka ketika sudah memastikan kalau korban di dalamnya benar-benar mati. Tapi aku ragu kalau Ardenter mati secepat itu.
Buuaakkhh…
Saat aku lengah, tiba-tiba aku mendapatkan pukulan telak tepat di pipiku. Membuatku terpental sangat jauh sampai terbang dan menabrak apapun yang aku lewati dan baru berhenti saat setelah menabrak dinding rumah warga.
Buuaakkhh…
Aku yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi mencoba untuk turun dari tembok yang hampir hancur ini karena tubuhku. Tapi pukulan selanjutnya kembali datang bahkan sebelum aku sempat berkedip. Aku kembali terpental sampai menembus tembok rumah warga dan masuk ke dalamnya lalu keluar lagi.
Sementara itu keluarga pemilik rumah itu yang berada di dalamnya hanya bisa bersembunyi di bawah meja sambil saling memeluk satu sama lain. Lalu dari balik tembok yang pertama hancur itu muncul Ardenter yang masuk dan langsung keluar lagi, menghiraukan keluarga yang ketakutan tadi.
Ia terus berjalan dengan wajah marahnya dan menghampiriku yang babak belur karena terpental dan menabrak benda apapun yang aku lewati. Aku pun kemudian berusaha berdiri dengan kepayahan tapi ia tidak membiarkanku begitu saja.
Braakkkhhh…
Ia memukulku kebawah sehingga aku kembali jatuh ke tanah lagi dengan keras. Meskipun begitu aku mencoba melihat orang yang menghajarku sampai babak belur begini.
"Ba-Bagaimana … bisa?"
Aku tidak perlu jawabannya. Aku sudah bisa melihat tangan kanannya yang berdarah parah dan penuh dengan lubang. Jadi begitu, dia menahan tekanan Iron Maiden dengan tangan kanannya yang dilapisi aura.
"Lalu … apa yang akan kau lakukan selanjutnya …?"
"Aku ingat kalau masih ada perlu denganmu, jadi aku tidak bisa membunuhmu terlalu cepat."
"Begitu, ya? Jika kau ada urusan denganku, maka kau tidak boleh mengganggu yang lainnya."
Aku mengangkat tanganku yang sudah gemetaran tinggi-tinggi. Lalu kemudian melepaskan aura terakhirku saat ini untuk membuat sebuah perisai kotak yang terpisah dari dunia luar. Sebuah kubus berukuran 5×5 yang bersifat absolut dan tidak bisa dihancurkan apapun syaratnya.
"Oi! Apa yang kau lakukan?!" tanya Ardenter.
"Aku mengurungmu disini bersamaku. Tidak peduli apa yang akan kau lakukan, kau tidak akan bisa menghancurkannya dari dalam. Bahkan jika kau membunuhku sekalipun. Kita akan berada disini selama 2 jam penuh."
Hehehe … dengan keadaanku saat ini, aku hanya bisa mempertahankannya selama 2 jam. Menyedihkan sekali. Kepalaku tiba-tiba terasa sangat berat dan semuanya menjadi buram. Seketika aku pun jatuh ke samping dan kehilangan kesadaran.
"Sialan kau," gumam Ardenter.
__ADS_1
Bersambung