Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 85 : Serangan di Tokyo (2)


__ADS_3

Di langit kota Kyoto, saat Murasaki Oita masih terkejut dengan berita yang ia dapat dari Ryuzaki membuat mata Oita-san sedikit melebar. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dalam ekspresi wajahnya.


Meskipun begitu ia tidak ingin terlarut lebih lama lagi dalam rasa terkejutnya dan kemudian menaruh HPnya lagi ke dalam kantong celananya. Ia kembali fokus pada Astaroth yang saat ini sedang berada di depannya.


Astaroth masih tersenyum lebar karena rencananya sukses besar yang dapat ia lihat dari wajah Oita-san. Tapi meski begitu, ia tidak bisa menikmati wajah terkejut Oita-san terlalu lama karena ia langsung memasang wajah seperti biasa lagi.


"Kuakui kau membuatku sedikit terkejut, Astaroth."


"Heh … sekarang tidak ada yang bisa kau lakukan karena serangan itu terjadi di luar Kyoto. Tidak mungkin kan kau akan berlari kesana untuk menyelamatkan mereka semua?"


"Hehehe … benar, tidak mungkin aku menyelamatkan mereka semua sekaligus. Tapi asal kau tahu saja …."


"Hnm?"


Senyuman percaya diri keluar dari wajah Oita-san, seakan tidak ada keraguan atau rasa khawatir dalam dirinya ketika serangan terjadi di kota lain secara bersamaan. Ia percaya kalau teman-temannya dari Kuni no Hashira tidak akan kalah semudah itu, apalagi dengan monster buatan seperti itu.


Saat Astaroth kebingungan dengan wajah Oita-san yang tidak khawatir sama sekali, Oita-san mengatakan sesuatu kepada Astaroth.


"… Jangan anggap remeh mereka, oi! Ada banyak Exception yang tidak kau ketahui jika bekerja sama maka kekuatannya bisa mengalahkanku atau bahkan kau. Jadi kalau cuma makhluk buatan yang tidak jelas jenisnya apa, aku sih tidak khawatir sama sekali!" jelas Oita-san.


"Mulutmu besar juga, aku tidak tahu darimana datangnya kepercayaanmu itu, tapi Exception di Jepang hanyalah sampah bagiku!"


"Bicara sekali lagi maka akan kututup paksa mulutmu!"


Pertarungan di udara kembali terjadi antara mereka berdua. Setelah perdebatan yang mereka lakukan sekaligus untuk beristirahat sebentar, mereka kembali beradu kekuatan.


**


Sementara itu di Tokyo, tempat dimana Ryuzaki dan yang lainnya sedang bertarung. Saat Ryuzaki sedang sibuk bertarung sembari mengulur waktu melawan Gashadokuro, lima orang yang bisa dibilang paling kuat di Tokyo bertarung bersama melawan ratusan monster buatan Ayakashi Corp.


Mereka adalah Hayashi Satou, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan dari Ryuzaki. Kemampuan Physical Strength miliknya merupakan salah satu yang terkuat yang ada di Tokyo.


Lalu ada Aoi Mitsuyama, atau biasa dikenal dengan nama Mitsu yang merupakan komentator dalam turnamen The One yang biasa diselenggarakan setahun sekali di Tokyo oleh para Kuni no Hashira. Ia adalah seorang Elemental yang dapat mengendalikan besi bahkan zat besi di dalam darah makhluk hidup.


Selanjutnya ada dua bersaudara, Shima Rui dan Shima Sui. Dengan rambut berwarna biru tua yang seragam, mereka seakan ditakdirkan untuk bersama meskipun kemampuan mereka berbeda. Sang Kakak Rui memiliki kemampuan Elemental air sementara sang adik seorang Physical Strength yang brutal.


Dan terakhir adalah Nabara Yosuke, Exception dengan kemampuan Mind Power. Masih belum banyak yang diketahui darinya, tapi dia juga masuk ke dalam organisasi Red Flame bersama dengan Hayashi dan Mitsu.


Berada di tengah-tengah ratusan monster setinggi tiga meter tidak membuat mereka berlima takut sama sekali, justru itu membuat mereka semakin bersemangat.


"Aku duluan, ya!"


Sui-chan kemudian menyerang duluan meskipun belum ada aba-aba apapun dari yang lainnya untuk menyerang. Ia menuju ke salah satu monster yang berada di dekatnya dengan gegabah dan cepat.


Monster itu melihatnya dan menyadari keberadaan Sui-chan yang mendekatinya langsung menyerangnya dengan kuku tajamnya. Meskipun Sui-chan diserang saat berada di udara, itu tidak membuatnya terkena serangannya. Sui-chan berpijak pada cakar monster itu dan mengarahkan belatinya secara vertikal tepat ke ubun-ubun monster itu.


Melihat salah satu monster terbunuh, membuat monster yang lain terpancing dan semuanya mengarahkan pandangannya kepada Sui-chan yang hanya tersenyum sambil menjilat darah monster yang tertinggal di belatinya.


"Ternyata monster bisa marah, ya?" gumam Sui-chan.


Tidak beristirahat terlalu lama, Sui-chan kembali melompat ke kerumunan monster yang mencoba menyerangnya. Ia kemudian melemparkan belatinya tepat ke dahi salah satu monster tadi dan kemudian menginjaknya agar tertusuk lebih dalam.


Sui-chan meninggalkan belati yang sudah tertancap tadi karena ia masih memiliki dua belati lainnya yang ia tarik secara bersamaan dari sarungnya. Ia pun melompat lebih tinggi lagi dan melayang indah di udara sambil melemparkan dua belati tadi secara bersamaan.


Craasshh… Craassh…


Dua belati tadi tepat mengenai dahi dua monster yang berbeda dan membuat mereka mati seketika. Sui-chan kemudian mendarat dengan sempurna di salah satu mayat monster yang ia bunuh barusan.


"Ayo, ayo, masa kalian cuma bisa mati saja? Tidak bisa melawan sedikitpun, ya?!"


Zwuusshh… Craaassh…


"Hn?"


Sui-chan mengeluarkan seringai bersama dengan ucapannya barusan. Lalu tiba-tiba ada sebuah hembusan angin di belakang tubuh Sui-chan yang membuatnya reflek menengok. Dalam satu kali hembusan yang berasal dari Hayashi itu, beberapa monster langsung mati dan terbelah menjadi beberapa bagian besar.


Lalu Hayashi pun melesat mendekat ke arah Sui-chan dan melindungi belakangnya.


"Jangan lengah."


"Aku tahu itu! Kau tidak perlu memberitahuku!"


Bwuuush… Bluub… Bluub…


Saat mereka berdua sedang sedikit berdebat, tiba-tiba cahaya malam dari bulan tertutup karena diatas mereka terdapat banyak monster yang dijebak di dalam gelembung air besar buatan Rui, lalu diterbangkan oleh Yosuke.


"Apa kalian sudah selesai bicaranya? Kalau sudah, bisa bantu aku disini?" ucap Rui yang sedang menahan gelembung air itu.


"Kau urus itu, aku urus tempat lain."


Swuushh…


Hayashi langsung pergi meninggalkan Sui-chan untuk membantu yang lainnya, sementara Sui-chan masih menggerutu sambil menggembungkan pipinya karena merajuk.


"Sudah kubilang kau tidak perlu memberitahuku!"

__ADS_1


Tap… Swuuushh…


Tapi untungnya Sui-chan tidak merajuk terlalu lama karena ia langsung mengambil ketiga belati tadi dan langsung melompat tinggi menuju ke arah gelembung yang kakaknya buat. Ia menebas lehernya satu per satu dan bahkan ada yang ditusuk berkali-kali tanpa ampun olehnya.


Sementara itu Mitsu juga tidak kalah sibuk dengan yang lainnya, ia sedang berurusan dengan sepuluh bahkan lebih monster sendirian.


Buumm…


Salah satu monster mencoba menghantamnya dengan kedua bogemnya secara vertikal, tapi Mitsu masih bisa menghindar ke samping dan setelah itu langsung menusuk tangan monster tadi dengan kedua jarinya.


"GrrRrouggHh …!!!"


Meninggalkan monster yang sudah ia tusuk tadi, Mitsu mengalihkan fokusnya kepada monster yang lain. Ia diserang dengan cakaran diagonal berulang-ulang tapi masih bisa dihindari Mitsu dengan gerakan sederhana sambil berjalan mundur.


Tapi tanpa disadari Mitsu saat ia sedang menghindari serangan bertubi-tubi salah satu monster, dari belakang sudah menunggu cakaran yang siap untuk merobek wajahnya.


Daakh… Buum…


Beruntung ia masih sempat menahannya meskipun sempat sedikit terkejut. Kali ini lengan tangan Mitsu sedang menahan lengan monster itu agar tidak bisa mencakar wajah Mitsu. Tapi kukunya yang panjang serta telapak tangannya yang besar berada di luar perkiraan Mitsu sehingga pipinya tergores sedikit cakar monster itu.


Tidak mau terluka lebih banyak lagi, Mitsu kemudian menendang dagu monster itu dengan tumit kanannya dan membuat monster itu hampir kehilangan keseimbangan. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Mitsu langsung menusuk bagian bawah dagu monster itu hingga menembus mulutnya.


Craasshh…


Saat Mitsu telah mengalahkan dua monster itu, datang Hayashi dengan cepat langsung membantu tanpa sepatah katapun. Ia langsung menebas monster-monster yang mendekat dengan kemampuan pedangnya dan daya hancurnya yang dapat menghancurkan sebuah rumah dalam satu kali ayunan.


"GrrRrouggHh …!!!"


Zwuusshh… Craaassh… Craaassh…


Meskipun bantuan datang, tapi Mitsu tidak ingin tinggal diam saja. Ia pun juga ikut menyerang membantu Hayashi. Meskipun kemampuannya tidak sekuat Hayashi, tapi ia tetap berusaha sebisa mungkin agar tidak kelihatan menjadi beban.


Craasshh… Craaassh…


Beberapa menit mereka bertarung bersama di tempat itu dan sinkronisasi yang mereka lakukan berjalan sangat baik. Monster-monster itu seakan tidak punya kesempatan untuk menyentuh mereka berdua.


Mereka berdua dapat menjaga satu sama lain dan tidak terjadi salah komunikasi satu sama lain. Bagaikan sedang menari bersamaan di antara darah dan monster mematikan.


Lalu di suatu momen saat pertarungan mereka berdua berjalan, dengan insting dan kepekaannya terhadap sekitar yang tinggi, ia malah menebas ke arah Mitsu yang sedang waspada. Mitsu yang terkejut melebarkan matanya dan langsung menarik kepalanya ke belakang untuk menghindari tebasan Hayashi.


Craasshh…


Saat Mitsu menghindar, tepat di belakangnya terdapat sesosok monster yang kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya akibat tebasan Hayashi barusan.


Sadar akan kode yang diberikan oleh Mitsu, Hayashi langsung membalik pedangnya ke bagian yang tumpul. Sementara itu Mitsu yang tadi berada di posisi menunduk ke belakang langsung melakukan salto dan lompat ke atas berpijak ke bagian tumpul pedang Hayashi.


"Maju!"


Swuushh…


Dengan kemampuan Physical Strength-nya, Hayashi meluncurkan Mitsu ke arah lima monster yang sedang berkumpul.


"GroaAakHh …!!!"


Monster-monster itu menyadari kedatangan Mitsu yang melesat dengan cepat ke arah mereka. Monster-monster itu kemudian bersiap dan sudah mempersiapkan cakar tajam dan giginya untuk menyerang Mitsu.


Tapi Mitsu sadar kalau jarinya saja tidak cukup untuk membunuh mereka semua sekaligus. Jadi kali ini saat ia sedang melesat di udara, ia mengumpulkan serbuk-serbuk besi yang berceceran di tempat mereka bertarung saat ini dan membentuk sebuah kapak besi yang sudah terbentuk dan ia genggam di kedua tangannya.


"Mati kalian!"


Mitsu tidak melesat polos begitu saja, melainkan ia memutar dirinya di udara sambil mengarahkan kapak yang ia pegang.


Craasshh… Craaassh… Craaassh…


Mitsu berhenti dan mendarat dengan sempurna saat sudah melewati mereka semua. Dengan wajah yang penuh dengan darah monster-monster itu dan kapaknya yang juga tidak kalah kotornya, Mitsu berhasil membunuh lima monster sekaligus dalam sekali terjangan.


Hayashi kemudian menghampiri Mitsu yang sedang membersihkan darah monster tadi di wajahnya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ya, hanya tergores saja."


Mitsu kemudian memecah kembali kapak yang ia buat menjadi serbuk-serbuk seperti sebelumnya dan kemudian lepas dari genggamannya.


"GrrRrouggHh …!!!"


Saat mereka sedang beristirahat sebentar, tiba-tiba kembali terdengar raungan dari monster-monster yang mendekati Yosuke. Ia hanya menghindari semua serangannya saja sambil menahan dengan menggunakan reruntuhan yang ia terbangkan dengan kekuatannya.


"Bisa bantu aku disini?!" ucap Yosuke.


Swuuushh…


Secara bersamaan Hayashi, Mitsu, Rui, dan Sui-chan langsung melesat menuju ke arah Yosuke yang sedang kesulitan. Mitsu kembali membuat sebuah kapak besi, sementara Hayashi sudah siap dengan kuda-kudanya.


Begitu juga dengan Rui yang membantu Sui-chan meluncur lebih cepat dengan menggunakan airnya. Tapi meski begitu, Mitsu sampai lebih dulu ke monster tadi dan memotong salah satu kakinya sehingga keseimbangannya terganggu dan ia pun terjatuh.

__ADS_1


Lalu hal itu tidak disia-siakan oleh Sui-chan yang langsung memotong lehernya yang membuat kepalanya terbang tinggi. Dan sebagai penyelesaian terakhir, Hayashi yang sudah memasang kuda-kuda dari tadi dengan cepat melesat dan memotong kepala sekaligus tubuh monster itu menjadi bagian-bagian kecil.


Sryiiingg… Sryiiingg… Sryiiingg… Craaassh…


Dengan dibantainya monster yang tadi itu oleh mereka, maka semua monster yang ada disini telah dikalahkan oleh mereka berlima.


"Kalian semua okey?" tanya Yosuke.


"Okey, dong!" balas Sui-chan ceria.


"Aku juga baik-baik saja," jawab Rui.


"Tidak ada luka berat," ucap Mitsu.


Sementara Hayashi hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan Yosuke. Ia kemudian memeriksa kembali HP miliknya dan mendapat beberapa pesan dari anggota Red Flame yang lain, serangan monster di utara, timur, dan selatan Tokyo masih belum selesai. Sementara di daerah barat terdapat Gashadokuro yang sedang dihadapi oleh Ryuzaki.


"Sepertinya kita harus berpisah mulai dari sini …," ucap Hayashi.


"Hmm?" balas bingung semuanya.


"… Masih ada beberapa serangan monster yang terjadi di tempat berbeda. Jadi aku minta kalian untuk berpisah dan pergi ke tempat itu masing-masing."


"Heh … seenaknya menyuruh-nyuruh, memangnya kau ini siapa?" ucap Rui.


"Betul tuh, betul tuh!" balas Sui-chan mendukung pertanyaan kakaknya.


"Kumohon, hanya untuk kali ini saja. Aku tidak bisa menyelamatkan semuanya sendirian, Ryuzaki-san juga sedang sibuk saat ini, jadi hanya kalian yang bisa aku andalkan."


Hayashi menundukkan kepalanya memohon agar untuk kali ini saja Rui dan Sui-chan mau bekerja sama dengannya karena ia juga masih punya urusan lain yang tidak kalah pentingnya. Tapi tiba-tiba Rui malah tertawa tanpa alasan.


"Ahahaha … hanya bercanda, tentu saja kami akan membantumu," ucap Rui.


"Eh?! Kita benar-benar akan membantunya?!" tanya Sui-chan kaget.


"Tentu saja, adikku. Jika kota ini hancur, maka tempat tinggal kita juga akan ikut hancur. Dan juga … bisa-bisa sekolahmu nanti juga ikut hancur dan aku tidak bisa melihat penampilan indahmu dengan seragam SMA …!"


Hayashi, Mitsu, dan Yosuke hanya mengeluarkan ekspresi datar karena pernyataan Rui yang terakhir. Siscon akut memang sudah susah disembuhkan karena yang kena itu akal sehatnya. Sementara Sui-chan hanya menanggapi santai pernyataan kakaknya.


"Ya ampun Nii-chan, kalau cuma itu doang aku bisa membeli seragamnya agar kau bisa melihatku memakainya setiap hari."


"Benarkah?! Ka-Kau memang malaikat sejati bagiku, wahai adikku!"


"Ki-Kita urus itu nanti, okey? Untuk saat ini lebih baik kita berpencar terlebih dahulu daripada membuang waktu terlalu banyak. Aku akan pergi ke utara, kalian bisa pergi ke area lainnya."


Yosuke menghentikan pembicaraan siscon-brocon itu sebelum berubah menjadi lebih parah. Dan ia juga memutuskan untuk pergi ke daerah utara Tokyo.


"Kalau begitu aku akan ke selatan," ucap Mitsu.


"Baiklah, Rui dan Sui-chan berarti pergi ke timur, okey?"


"Aku mengerti."


"Iya …," jawab Sui-chan dengan tidak semangat.


Kali ini semuanya sudah ditentukan. Korban memang tidak bisa dihindarkan, tapi para Exception itu sebisa mungkin mengurangi jumlahnya. Mungkin karena itulah mereka ada. Tapi tiba-tiba Rui bertanya sesuatu pada Hayashi.


"Lalu kau akan kemana, Hayashi?"


"Ah, kalau aku …."


Hayashi menengok ke arah barat yang diikuti oleh yang lainnya. The Unseen berbentuk kerangka itu-Gashadokuro, bergerak bebas sambil menepuk angin yang dapat terlihat samar-samar kalau Ryuzaki sedang melawannya sendirian.


"… Aku akan membantu Ryuzaki-san disana. Kita tidak punya banyak waktu, jadi ayo segera berangkat."


"Baiklah, baiklah."


"Jangan lupa untuk menolong orang yang butuh bantuan saat kalian lewat."


"Kau tidak perlu memberitahukan soal itu padaku, karena memang itu tujuan utamaku," ucap Mitsu.


Swuushh… Swuuushh… Swuuushh…


Mereka pun akhirnya berpisah menuju ke empat tempat yang berbeda, meninggalkan bangkai monster-monster ini diantara bangunan-bangunan yang runtuh dan terbakar. Kondisi Tokyo saat ini benar-benar sedang kacau, tapi mereka semua sedang melakukan yang terbaik yang mereka bisa.


**


Sementara itu di tempat Ryuzaki, ia mencoba menyerang titik lemah dari Gashadokuro itu, tapi tangannya yang lebar dan besar serta hembusan angin yang ia ciptakan ketika menggerakkan tangannya sedikit merepotkan bagi Ryuzaki.


Braakkhh… Braaakhh… Braakkhh…


Setiap gedung yang dijadikan tempat mendarat bagi Ryuzaki selalu saja dihancurkan dengan sekali hempasan tangan Gashadokuro itu membuat Ryuzaki harus memikirkan cara lain untuk mendekatinya.


"Ini bakal jadi cukup sulit," gumam Ryuzaki.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2