
Ishikawa Kyujiro PoV
"Hakh?!"
Aku membuka mataku. Dan secara tiba-tiba aku berada di tempat yang tidak aku ketahui. Padahal seharusnya aku berada di tempat tidur dan sedang tidur di kamar, tapi sekarang malah di tempat yang bahkan tidak dapat aku lihat dengan jelas.
"Di-di mana aku?"
Anginnya cukup kencang di sini. Bahkan aku bisa mendengarnya dengan jelas, tapi anehnya itu tidak membuatku kedinginan atau menggigil. Selain angin kencang, hal aneh lainnya di sini adalah terdapat kabut yang menghalangi pandanganku.
Kabut yang tebal sekali jika bisa kubilang. Seingatku, aku padahal tidak pernah mengunjungi tempat-tempat dengan kabut super tebal seperti ini. Setiap kali aku melangkah, hanya ada kabut di sepanjang mata memandang.
Jadi yang bisa aku lakukan saat ini hanya berharap kalau langkah kaki tak pasti milikku ini dapat membawaku keluar dari sini. Tapi percuma, kabut ini seperti tidak ada habisnya. Diriku bahkan sampai menyerah dan berhenti karena sudah kelelahan.
"Sebenarnya ... aku ini di mana?"
Ketika aku ingin menyerah, tiba-tiba sebuah suara terdengar kepadaku yang lama kelamaan semakin mendekat, seolah seperti langkah kaki yang berjalan mendekat.
Aku pun menoleh ke belakang untuk memeriksa. Dan mataku melebar ketika suara yang aku dengar bersumber dari sesuatu yang tidak aku sangka— bahkan aku tidak percaya saat melihatnya.
"Ka-Karai ...?"
Benar. Mataku tidak mungkin salah lihat dengan orang yang ada di depanku saat ini. Orang itu benar-benar Karai yang merupakan temanku. Tapi ada sesuatu yang aneh dari gelagatnya.
"Huh?!"
Belum sempat aku mencerna sosok Karai yang ada di hadapanku, suara langkah kaki di belakangku kembali menarik perhatianku. Dan kembali, saat berbalik, seseorang yang seharusnya sudah tidak ada kini berada di hadapanku dalam keadaan tanpa luka.
"Kenapa ... kau ada di sini, Hisui?!"
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Gelagatnya juga sama anehnya dengan yang ditunjukkan oleh Karai. Sorotan matanya kosong, seperti orang yang sudah mati dan mereka seolah tidak fokus kepadaku.
"Oi! Jawab aku! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Lagi-lagi mereka tidak menjawabku dan hanya diam. Sebagai gantinya, mereka malah melangkahkan kakinya mendekat. Perilaku aneh mereka membuatku sedikit waspada, jadi aku mencoba untuk tidak terlalu dekat dengan mereka, tapi tidak bisa. Kakiku seolah tertanam di tanah saat ini.
"Kau yang terburuk, Kyujiro." Hisui berbicara dengan nada datar seperti robot.
"A-apa?"
"Kau membiarkan kami mati dan tidak melakukan apapun."
"Tidak! Aku tidak bermaksud untuk diam saja. Tapi aku ...."
Saat itu aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Di satu sisi, aku ingin membantu mereka dan mengalahkan orang itu bersama mereka. Tapi di sisi lain, ada sesuatu di dalam tubuhku yang mengatakan, kalau aku tidak boleh bergerak sedikitpun jika ingin tetap hidup.
"Hisui, maafkan a—"
Craashh...
Mataku melebar karena sesuatu terjadi pada Hisui bahkan ketika aku belum menyelesaikan kata-kataku. Darah memancar deras keluar dari lehernya, sebuah benda tajam menusuk dari belakang leher menembus ke depan.
"Ti-tidak ... jangan lagi, Hisui!"
Kakiku yang tadi terasa kaku tiba-tiba dapat dirasakan dan membuatku langsung menghampiri Hisui yang sedang terluka parah.
"Kyu ... jiro ...."
Sebelum aku sempat untuk mencapai tubuh Hisui yang tergeletak di tanah, lagi-lagi suara teriakan seseorang yang aku kenali tidak memberikanku istirahat sama sekali untuk berpikir jernih.
"Arghhkh ...!"
Kini yang diserang adalah Karai. Serangan yang tak diketahui asalnya itu melubangi kepala belakang Karai, menghancurkan tengkoraknya sampai tembus melewati mulutnya. Lalu dia juga ambruk ke tanah, dua temanku kini sudah kembali mati di hadapanku.
Aku sudah muak menjadi tidak berguna dan pada akhirnya berteriak sekencang-kencangnya kepada seseorang yang menyerang Karai dan Hisui. Dia cukup hebat. Kecepatannya yang tak biasa membuatku teringat pada seseorang.
Terlebih lagi, dia bisa menyembunyikan keberadaannya dengan sangat baik. Kabut yang kelewat tebal juga semakin menyulitkanku untuk memprediksi kedatangannya.
"Sialan! Cepat keluar kalau berani! Jangan jadi pengecut!"
Aku berteriak untuk memprovokasinya. Meskipun tidak yakin ini akan berhasil atau tidak, tapi aku sudah muak karena terus dipermainkan. Aku yakin kalau dia ada di sekitar sini, karena hawa keberadaannya dapat terasa walaupun hanya sekejap.
"Cepat keluar dan lawan aku, dasar penakut!"
"Hehehe ... penakut?"
Tawa kecil memenuhi tempat ini. Suaranya terdengar seperti mengelilingiku yang membuatku khawatir akan diserang dari berbagai sisi. Sial. Apa kabut ini juga ulah musuh? Ini benar-benar mengganggu jarak pandangku.
Menengok atau membalikkan badan pun juga percuma, karena hasilnya nihil setiap sumber suara itu terdengar. Seolah tidak ada wujud dan hanya suara saja.
Zwuuushh...
Seseorang dengan cepat melesat ke belakangku dan lolos dari pengamatanku. Dia kini berada di belakangku dan berhasil mengunci leherku dengan lengannya, membuatku tidak bisa membalikkan badan atau bahkan menengok.
__ADS_1
"Siapa kau?!"
"Skakmat, dasar sampah rendahan."
Suara ini. Aku pernah mendengar suara ini sebelumnya. Tidak salah lagi, ini adalah suara dia.
"K-kau ...."
**
Aku kembali membuka mataku. Kali ini yang aku lihat adalah langit-langit kamarku, bukan tempat penuh kabut seperti sebelumnya.
Cahaya matahari dapat masuk kedalam kamarku lewat sela-sela tirai jendela yang tidak tertutup sempurna, di tambah kicauan burung yang saling bersautan menandakan kalau matahari sudah tinggi.
Aku kemudian terduduk di tempat tidurku, melamun. Melamun memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Aku melihat ke arah sebuah foto yang berisi tiga orang laki-laki saling berangkulan dengan senyum lebar yang mereka hasilkan. Tiga laki-laki di dalam foto itu adalah aku, Hisui, dan Karai.
"Mimpi, ya?"
Sepertinya itu jawaban yang paling tepat untuk menjelaskan kejadian sebelumnya. Sialan. Mimpi itu terasa terlalu nyata.
Tapi tiba-tiba HP-ku bergetar, membuyarkan lamunanku. Biasanya yang meneleponku ada di antara Karai ataupun Hisui, tapi sekarang mereka sudah tidak ada. Jadi aku mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponku.
Ternyata itu berasal dari Murasaki Oita. Oh iya, aku memberinya nomor teleponku semalam. Pikiranku terlalu kacau semalam sampai secara percuma. Padahal aku bisa mengulur waktu dan pergi dari kota ini.
"Hah ... Maafkan kawan bodohmu ini, Karai, Hisui." Aku menyadari kebodohanku sendiri.
Setelah itu aku mengangkat teleponnya. "Halo?"
"Yo, kau sudah bangun? Aku tidak akan banyak basa basi, jadi bisa kau segera kesini?"
"Tanpa istirahat sama sekali, ya?"
"Ahahaha ... aku sudah tidak sabar untuk mengetes kemampuanmu. Ngomong-ngomong, lokasinya akan aku kirim lewat Messenger."
"Baiklah. Aku akan segera kesana."
Aku menaruh HP ku di atas meja. Mimpi tadi masih terbayang di kepalaku. Aku yakin orang yang membunuh aku, Karai, dan Hisui di dalam mimpi adalah Murasaki Oita, karena aku mendengar suaranya dengan sangat jelas.
Lalu aku melihat ke arah telapak tanganku. Itu bergetar. Hanya dengan berbicara lewat telepon saja sudah membuatku gemetaran seperti ini. Yang membuatku hanya mengeluarkan senyuman getir.
"Si pengecut ini sedang ketakutan ternyata," ucapku meledek diriku sendiri.
Tapi untuk saat ini, sepertinya aku bisa sedikit tenang, mungkin? Dia berjanji tidak akan membunuhku jika aku menurut padanya. Ya ... itu pun kalau dia tepat janji, sih.
Setelah menaiki bis dan berjalan kaki sebentar, akhirnya aku sampai di lokasi yang telah dikirimkan olehnya. Sebuah Kafe. Di plakatnya menunjukkan kalau Kafe ini bernama Haiiro Cafe. Jadi tanpa ragu, aku langsung masuk ke dalam.
"Selamat datang."
Seorang pelayan wanita menyambutku dengan ramah, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk mencari di mana Murasaki Oita berada.
"Ano ... Apa ada yang bisa kubantu?" Pelayan wanita itu dengan wajah bingung bertanya padaku.
"A-ah! Maaf, maaf, apa ada seorang pria dengan rambut ungu klimis di sini? Dia selalu menampilkan senyum mengerikan dan terlihat ingin memakan seseorang." Aku memberikan deskripsi yang paling mudah dibayangkan.
"Senyum mengerikan dan seperti ingin makan orang?" Pelayan wanita itu berpikir sebentar. "Aku rasa tidak ada orang seperti itu, tapi pria dengan rambut ungu klimis di sini hanya Murasaki Oita," lanjutnya.
"Benar! Dia yang aku cari. Kalau boleh tahu, apa dia ada di sini?"
"Dia ada di dalam ruangannya. Masuk saja, tidak apa-apa." Dia menunjuk ke salah satu pintu di pojok ruangan ini.
"Aku mengerti, terima kasih banyak."
Aku langsung berjalan ke arah ruangan yang diberitahu oleh pelayan wanita itu dan langsung masuk ke dalam. Tapi pada saat di dalam, tidak ada satu orang pun di sana.
"Kau sudah datang?"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar di sini. Padahal tidak ada orang. Ah! Jangan-jangan dia juga bisa komunikasi jarak jauh?! Aku akui dia cukup waspada meskipun lawannya hanya orang sepertiku.
"Iya, ini aku. Ngomong-ngomong, kau di mana sekarang?"
Tapi ternyata aku salah. Dia membalikkan kursi putarnya dan sekarang sedang duduk di sana. "Aku di sini." Oh, aku menilainya terlalu tinggi.
"Jadi, untuk apa kau memanggilku? Apa kau akan menyuruhku melakukan misi-misi berbahaya yang tidak ingin kau lakukan sendiri?"
"Otakmu tajam juga, ya? Tapi tenang saja, aku juga memikirkan kemampuanmu. Jadi misi yang akan kau ambil sekarang tidak akan terlalu, yah ... meskipun bakal memakan waktu."
"Memakan waktu?"
"Kau akan menjadi mata-mata, tugasmu menyamar menjadi pihak musuh dan mencuri informasi tentang mereka."
"Mata-mata? Kau ingin aku memata-matai siapa? Kafe sainganmu?"
"Ahaha ... Kalau hanya itu, aku tidak akan memerlukanmu. Pertama-tama, apa kau ingat tentang orang yang menyerang anak itu, Iraya-kun?"
__ADS_1
"Aku tidak melihatnya begitu jelas karena dia pergi saat aku menghampirimu. Tapi perasaan yang kurasakan saat berpapasan dengan mereka masih aku ingat, perasaan merinding karena perbedaan kekuatan."
Aku tahu kalau diriku masih lemah, lagipula aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Karai dan Hisui. Jadi mungkin, jika bergabung di sini, aku mungkin bisa bertambah kuat.
"Mereka memang lumayan, tapi ada yang jauh lebih kuat dari mereka."
"Masih ada yang lainnya?"
"Ya. kalau tidak salah kelompok mereka berjumlah tujuh orang. Dan mereka bekerja di bawah sebuah perusahaan bernama Ayakashi Corp. yang merupakan lawan kita saat ini."
"Ayakashi Corp. itu, kalau tidak salah ...."
Murasaki Oita kemudian mengeluarkan sebuah artikel koran dari bawah laci meja dan menunjukkannya kepadaku. Artikel tentang Ayakashi Corp. yang merupakan perusahaan mencurigakan, tapi tidak ada yang bisa berbuat apa-apa karena tidak ada cukup bukti.
"Ayakashi Corp. adalah sebuah perusahaan yang 'katanya' bergerak di bidang kesehatan manusia dan hewan. Tapi itu semua hanya trik yang mereka gunakan untuk menutupi apa yang sebenarnya mereka lakukan," lanjutnya
"Dan 'hal sebenarnya' itu adalah?"
"Kau sudah melihatnya, kan? Anak itu— Iraya-kun, merupakan salah satu korban dari Ayakashi Corp. Ada sebuah makhluk yang tinggal di dalam tubuh Iraya-kun yang merupakan ciptaan dari Ayakashi Corp. Yah ... meskipun Iraya-kun bilang kalau hanya kebetulan bertemu dengan makhluk itu, tapi tetap saja dia adalah korban."
"Anak itu ...."
Aku mengingat kembali wajah anak yang kutemui saat belanja pada tempo hari. Dia terlihat seperti anak baik yang polos, meskipun aku sempat dimarahi olehnya karena terlalu santai, tapi itu masih batas wajar. Dan mendengarnya merupakan korban dan ada sebuah makhluk aneh yang tinggal di dalamnya, membuatku jadi kasihan padanya.
"Aku punya satu pertanyaan," tanyaku.
"Apa itu?"
"Kenapa aku? Masih banyak orang yang lebih kuat dariku, kan?"
Murasaki Oita kemudian tersenyum mendengar pertanyaanku. "Yang pertama adalah karena kau berhutang nyawa padaku, jadi aku akan melakukan apapun yang aku mau padamu. Lalu untuk pertanyaan selanjutnya ...."
Murasaki-san yang tadinya duduk dengan posisi wajahnya dipangku oleh punggung tangannya, langsung menyandarkan tubuhnya ke badan kursi di belakangnya. Senyumnya juga langsung menghilang.
"... Black Rain awalnya adalah sebuah organisasi kecil dan hanya aku sendiri anggotanya. Lalu kami memiliki organisasi pusat di Tokyo bernama Kuni no Hashira. Dan mereka menaungi empat organisasi besar di daerah-daerah penting. Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Kyoto.
Awalnya memang hanya tiga, tapi mereka mengakui kekuatan dan keberadaanku di Kyoto, jadi Kyoto menjadi daerah penting bersama tiga kota itu. Di Kyoto juga sebenarnya bisa dibilang banyak Exception yang tersembunyi dan aku berhasil merekrut beberapa dari mereka. Tapi ...."
Tiba-tiba tatapan Murasaki Oita menjadi lebih sedih. Tidak, aku juga bisa merasakan dendam bercampur dalam tatapan kesedihannya itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada beberapa tahun lalu.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
Murasaki Oita melanjutkan ceritanya. Intinya adalah pada tujuh tahun lalu, kejadian yang membekas di dalam ingatannya. Dulu Kuni no Hashira ingin menyerang Ayakashi Corp. yang usianya masih sebiji jagung.
Kedua pihak kehilangan banyak nyawa dan itu menjadi salah satu pertempuran paling berdarah. Dan awalnya mereka sudah berhasil unggul, tapi dari pihak Ayakashi Corp. ada satu orang yang datang bagaikan bencana.
Orang itu memiliki kekuatan yang sangat mengerikan. Bisa membantai hampir seluruh anggota Kuni no Hashira sendirian, yang membuat keadaan pertempuran langsung berubah drastis. Dan Murasaki Oita adalah salah satu orang yang selamat dari pertempuran itu.
"Apa orang yang kau maksud masih ada di sini?"
"Sepertinya begitu. Kekuatan regenerasinya sangat curang bahkan membuatku jijik."
Kira-kira aku sudah tahu beberapa hal di sini. Ternyata misi ini lebih sulit dari yang aku bayangkan setelah mendengar cerita itu.
"Ada apa? Apa kau jadi takut dan percaya dirimu menurun setelah mendengar cerita itu?" Dia mengejekku.
Tentu saja. Jika aku salah sedikit saja, bisa-bisa nyawaku yang dalam bahaya. Atau lebih buruk lagi, menjadi tikus percobaannya. Tapi sekarang aku tidak punya banyak pilihan, kabur pun sudah tidak bisa.
Senyuman getir keluar dari mulutku. Kurasa pilihanku hanya dua. Mati di sini tanpa mencoba, atau kemungkinan besar mati di sana setelah berguna untuknya. Benar-benar kehidupan yang menyedihkan.
"Takut? Apa kau mengejekku, sialan?"
Tapi jika ada pilihan untuk hidup lebih lama lagi, aku akan memilihnya. Demi Karai dan Hisui! Dan jawabanku membuat Murasaki Oita tersenyum.
"Aku mengandalkanmu, Ishikawa-san."
Setelah negosiasi yang cukup panjang itu akhirnya selesai, kami keluar dan ternyata bertemu dengan dua anak sekolahan yang masih memakai seragamnya. Mereka adalah Iraya-kun dan teman perempuannya, kalau tidak salah namanya Ririsaka-san.
"Ishikawa-san? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Iraya-kun.
"Hehe ... Orang penting sepertiku tentu saja datang karena punya urusan dengan Murasaki-san. Tapi sayangnya aku sudah ingin pergi sekarang."
"Pergi? Padahal kami baru sampai, lho."
"Seperti yang dia bilang, Ishikawa-san adalah orang yang sibuk. Jadi dia masih ada urusan di tempat lain. Bukan begitu, Ishikawa-san?"
"Benar sekali! Kalau begitu, aku pergi dulu semuanya! Adios!"
Mereka mengantar kepergianku dengan wajah datar dan sepertinya menganggapku seperti orang aneh. Tapi aku tidak peduli. Murasaki Oita bilang kalau aku harus bersikap normal di depan mereka.
Dan sekarang, aku punya misi yang harus dilakukan.
Bersambung
__ADS_1