
Pertarungan kami terus berlanjut. Dan kelihatannya sama sekali tidak berjalan terlalu baik untukku. Luka yang aku terima di kepala sebelumnya benar-benar membuatku kehilangan performa terbaik.
Walau menyebalkan untuk mengakuinya, tapi si otak otot ini untuk sekarang masih lebih kuat dariku. Terlebih aku tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik karena harus fokus pada proses penyembuhan.
Yang ngomong-ngomong! Sepertinya aku tidak terlalu merasakan perubahan signifikan dari penyembuhan Cecilia, tidak seperti biasanya. Halo, Cecilia-san? Apa anda sungguh-sungguh melakukan pekerjaan anda atau tidak, sih? Aku masih sabar menunggu di sini, lho.
Oleh karena itu, kini selama pertandingan yang bisa aku lakukan hanya bertahan dan menghindar, atau sesekali melakukan serangan balik ketika aku melihat celah kecil. Tapi Oukami sangat mampu menutup celah-celah itu sehingga membuatku hampir tak berkutik melawannya.
Kami kembali beradu senjata dan sama-sama mundur untuk menjaga jarak.
Napas yang aku keluarkan sudah cukup berat dan pendarahan di kepala ku juga semakin membuat semuanya menjadi lebih buruk.
“Hah ... hah ... hah ....”
"Masih belum menyerah juga? Kau benar-benar cecunguk yang tak tahu kapan untuk menyerah!”
"Aku punya janji yang harus aku tepati. Mana mungkin aku bisa menyerah begitu saja!"
Akhir pertandingan sudah semakin dekat. Aku bisa merasakannya.
Aku memegang pedang dengan kedua tanganku. Kembali memasang kuda-kuda yang sudah semakin melemah setiap menit berlalu.
Oukami kembali menyerang. Ia melesat mengarahkan gadanya dengan pola yang sama seperti ketika ia berhasil menipu ku. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku menghindar yang merupakan keputusan tepat. Efek dari gada yang menghantam arena membuatnya menjadi retak.
Serangan selanjutnya diarahkan Oukami, tanpa jeda ia tidak mengangkat gada miliknya, tapi mengarahkan perisai dan mencoba menghempas ku keluar arena. Serangan itu kembali masih bisa ku hindari.
Sejauh ini masih aman.
Tidak terkena serangan fatal adalah yang terpenting bagiku. Kini aku kembali mengatur napas dan memasang kuda-kuda lagi.
Serangan-serangan berikutnya kembali ia lancarkan. Tapi aku dapat menghindari semua. Jika aku fokus pada serangannya, sebenarnya kecepatan ku sedikit unggul darinya, tapi hanya itu. Kecepatan saja tidak akan secara ajaib membuatku jadi unggul segalanya.
"Jangan terus-terusan menghindar, dasar pengecut!"
Wah ... apa aku tidak salah dengar barusan? Dia marah karena aku terus menghindari serangannya. Kalau tidak salah, ia juga melakukan yang sama pada pertandingan kemarin, kan? Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya itu, sih?
Sementara Mitsu dari bilik komentator bersama Caramel juga tidak kalah bersemangat dengan pertandingan ini. "Woahh! Apa ini?! Si anak baru itu dapat menghindari semua serangan Oukami! Tapi apakah pertandingan akan terus seperti ini?"
Oukami masih terus mencoba menyerang dengan segala kemampuannya, begitu juga dengan diriku yang masih konsisten menghindarinya. Bisa dibilang, pertarungan ini berubah menjadi adu stamina.
Dan Herlin sang iblis stamina itu yang menjadi pelatih ku. Kalian pasti tahu kalau aku tidak akan kalah semudah itu. Malah, aku akan memalukan nama Herlin jika kalah dalam urusan stamina.
“Ini aneh.”
Tiba-tiba Cecilia berbicara ketika aku sedang fokus menghindar.
“Ada apa?”
“Proses penyembuhannya terhambat secara drastis. Kalau begini terus, kau tidak akan sembuh saat pertandingan ini berlangsung.”
Oi, oi, oi. Bukankah itu berita yang sangat gawat? Apa itu artinya usaha ku menunggu dan menghindari semua serangan Oukami dari tadi menjadi sia-sia? “Lalu aku harus bagaimana?!”
“Pilihannya antara menyerah atau ....”
“Aku tidak akan menyerah!”
“Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Dengan begitu, dengan kondisimu yang sekarang yang bisa kau lakukan adalah ....”
Cecilia berpikir sebentar. Aku juga menunggu apa yang akan dia lakukan. Lalu setelah itu, ia menjelaskan rencananya. Yang secara mengejutkan setelah mendengarnya—dan aku juga optimis—bisa ku lakukan dalam kondisi ini.
“Bagaimana?”
“Itu layak untuk dicoba. Biarkan aku menyesuaikan diri terlebih dahulu.”
Serangan Oukami berhasil aku tahan dan melontarkan ku ke ujung batas arena. Tapi itu yang memang ku incar. Aku mengatur napas, menguatkan kembali kuda-kuda, lalu menatap tajam nan fokus pada Oukami.
“Kau ... tatapan itu ...?”
Oukami sepertinya juga menyadarinya. Aku tidak akan terus menghindar selamanya, kini giliranku untuk menyerang.
Memang sedikit menyiksa dan terasa sakit. Tapi masih bisa aku tahan. Memfokuskan aura pada salah satu bagian seperti yang biasa aku lakukan. Akan ku jalankan rencana Cecilia.
Lalu setelah itu aku bergerak satu langkah.
Satu langkah yang membuat Oukami terkejut dan berhenti menyerang untuk beberapa saat.
Satu langkah yang membuat bingung seluruh arena karena beranggapan kalau mata mereka menipu mereka. Karena setelah satu langkah itu, sesuatu yang membingungkan semua orang di sini terjadi.
***
Sementara di tribun, Herlin yang melihat pertandingan itu juga sama terkejutnya dengan penonton lainnya. Bisikan para penonton dapat terlihat jelas dari arah tribun. Sementara Oita-san hanya tersenyum menyaksikannya.
“Ahahaha ... Iraya-kun memang selalu membuat kita terkejut, bukan?”
“Dia bergerak cepat? Tidak, seharusnya ia tidak meninggalkan bayangan kalau bergerak secepat itu. Tapi bagaimana ...?” Herlin masih tidak mengerti apa yang terjadi.
"Sebuah ilusi bayangan."
“Karena bergerak terlalu cepat? Bukankah seharusnya ia tidak meninggalkan beberapa bayangan di belakangnya?”
"Hmm ... penjelasan secara mudahnya adalah Iraya bergerak seperti sebuah kipas angin.”
“Kipas angin?”
“Benar. Kalau kita analogikan mata kipas saat kipas angin itu mati adalah tiga. Tapi saat dinyalakan, dalam kecepatan tertentu akan terlihat bahwa mata kipas itu berubah menjadi empat atau lima. Lalu semakin cepat kipas berputar, maka mata kipas itu akan hilang sepenuhnya. Apa aku benar?"
"Iya."
“Jadi yang Iraya-kun lakukan untuk menciptakan ilusi bayangan tersebut adalah memperlambat gerakannya sesaat lalu kembali melesat.”
"Hal seperti itu, tidak pernah ia lakukan dalam latihan.”
Herlin mengerti dengan penjelasan singkat Oita-san, tapi yang membuatnya terkejut adalah kemampuan berpikir cepat Iraya dalam menghadapi hal genting. Ia melihat ke arah Iraya yang sedang berjumlah empat sampai lima sekarang.
“Iraya ....” Herlin bergumam pelan, berbicara dengan suara yang tidak bisa di dengar oleh siapa pun kecuali dirinya.
***
Baiklah, baiklah. Aku akui kalau ini adalah teknik yang sangat keren. Koordinasi antara kecepatan dan berhenti sesaat yang ku lakukan dapat membentuk sampai lima bayangan sehingga Oukami sempat terkecoh dengan bayangan itu.
"Sepertinya rencanamu berhasil, Cecilia!"
"Tentu saja. Memangnya kau pikir aku ini siapa? Aku adalah kumpulan ingatan-ingatan para Spirit! Tentu saja aku ini seorang jenius. Ahahaha!"
__ADS_1
Cecilia membanggakan dirinya sendiri. Sepertinya aku tidak boleh terlalu sering memujinya atau kepalanya akan sebesar kepala tuna. Tapi sekarang adalah pengecualian. Karena berkatnya, aku bisa unggul. Lalu tawanya barusan terdengar seperti seorang chuunibiyou tulen.
Mari kita hiraukan itu sebentar, kini gantian Oukami yang tersudut karena tidak bisa mengikuti gerakan dan menebak tubuhku yang sebenarnya. Ia terus-terusan menyerang bayangan yang aku ciptakan.
Aku juga berhasil melancarkan beberapa serangan kepada Oukami. Tapi itu seakan tak memberikan efek berlebih karena respon yang ia berikan hanyalah semakin murka.
"Sialan!"
Serangan ku sudah semakin lemah karena luka ini. Aku harus segera menyelesaikannya atau situasi ini akan jadi semakin buruk.
Lima diriku kini menyerangnya dari berbagai penjuru arah. Depan, belakang, kanan, kiri, dan juga atas. Oukami yang sebelumnya begitu berapi-api dan murka, kini jadi lebih tenang dan menampilkan titik lemah.
Itu dia! Aku bisa menang!
“??!!”
Tapi tiba-tiba dia menengok ke atas sambil menyeringai. Seolah yakin kalau yang dari atas adalah diriku yang asli. Heh. Aku ikut menyeringai. Meski tebakan Oukami benar, aku tetap akan menyerangnya dan menang.
Melesat dengan cepat dibantu oleh gravitasi, aku menghunuskan ujung pedang ku pada wajah Oukami. Beserta dorongan dari aura yang mendorong ku menjadi lebih cepat turun ke bawah.
"Terima ini!"
"Jangan meremehkan ku, sialan!"
Ia menggunakan perisai untuk menahan pedang ku. Tapi tekanan dorongan pada ujung pedang lebih besar daripada ketahanan perisai, sehingga itu berhasil menembus dan sekaligus menghilangkan perisai tadi menjadi partikel aura.
Pertahanannya telah aku tembus, kini saatnya mengenainya! Tapi Oukami masih bisa menangkis serangan itu dengan gada miliknya. Membuat pedang ku terpental keluar arena.
Sial! Bahkan dia masih bisa menangkis yang satu itu. Mundur sudah tidak bisa jadi jawaban, tenagaku sudah tinggal sedikit dan mengatur serangan lain semakin menipiskan kesempatan ku untuk menang.
Jadi aku bergerak cepat, lebih cepat dari kemampuan tangkap mata manusia biasa, bergerak ke belakang Oukami dan mencoba memukulnya.
"Heh." Seringai kembali keluar dari mulut Oukami. "... Kena kau!"
Oukami kemudian memutar tubuhnya searah jarum jam sambil bersiap untuk menyerang seseorang di belakangnya. Dan dia berhasil meraih ku duluan dan memberikan pukulan gada telak padaku. Membuat luka di dahi yang sempat tertutup kembali terbuka.
Entah bagaimana, Aku masih bisa menahan tubuhku agar tidak terpental keluar arena. Tapi Oukami mendaratkan serangan kedua, tepat pada siku kiri yang membuatnya mengeluarkan bunyi tulang yang dipatahkan.
"ArrGghh ...!!"
Dan kemudian menendang ku ke pinggir arena.
"Kau pikir aku akan terkena trik yang sama dua kali? Hahaha ... jangan harap!"
Aku tidak bisa mendengar kata-kata Oukami dengan jelas. Bahkan teriakan penonton, sekarang hanya terdengar seperti sebuah sayup-sayup. Pandanganku kabur dan sekarang pelipis bagian kiri juga mengucurkan darah melewati mata.
“Jadi cuma sampai segini, ya?” ucap Cecilia.
Makhluk ini ... dia bahkan tidak memberiku semangat atau semacamnya. Dasar tidak punya perasaan. Tapi sepertinya, memang beginilah akhirnya. Seorang menyedihkan yang bahkan tidak bisa menepati janjinya.
Aku minta maaf, Herlin.
"Iraya, oi, Iraya~”
Cecilia lagi-lagi memanggilku. Tidak bisakah dia menghargai orang yang sedang menghina dirinya sendiri ini? Beri aku istirahat, oi.
“Aku punya saran, nih.” Cecilia kembali berbicara.
Dia ini benar-benar, ya. Satu detik pun tidak di kasih istirahat olehnya. Aku bahkan sedang malas berbicara dengan makhluk ini sekarang.
Dia mengingatkan ku dengan tujuan kekanak-kanakkan milikku. Oh, ayolah. Bukankah sudah terlalu terlambat untuk hal seperti itu? Lagipula, tubuhku sudah sampai batasnya saat ini. Aku tidak bisa melakukan hal luar biasa seperti itu.
"Entah bagaimana hasil pertandingannya nanti, entah bagaimana kondisi tubuhmu setelah pertandingan ini, dan entah bagaimana reaksi yang diberikan Herlin kepadamu nanti, peduli setan dengan semua itu. Tidak ada yang melarangmu untuk tampil keren, kau tahu?”
Cecilia terus berbicara dari tadi. Entah itu hanya untuk menyemangati, berbicara santai, atau hanya mengejek saja. Tapi berkatnya, kini aku jadi ingin melakukannya. Dasar kompor sejati, kau makhluk aneh.
“Kau kalah.”
Oukami yang melihat aku tergeletak di arena kemudian berjalan mendekat. Dia memeriksa apakah aku masih sadarkan diri atau tidak. Untuk lebih memastikan, Oukami ingin menghantam ku dengan gada tepat di kepalaku.
Tapi sayang sekali, wahai temanku, Oukami Yuu.
Kau tidak menyadari satu hal yang sangat penting saat ini, yaitu sebuah percikan-percikan kecil listrik menyala di sekujur tubuhku.
“??!!”
Semua penonton yang merasa sudah menyaksikan kemenangan Oukami telah di depan mata, tiba-tiba terkejut karena gada Oukami yang seharusnya menghantam lurus ke wajah penuh darahku, kini ditahan oleh sebuah pedang.
Bukan pedang yang sebelumnya terlempar keluar arena. Melainkan sebuah pedang hijau yang tercipta dari sebuah aura.
"Aku rasa ..., tidak semudah itu."
Aku menahan serangan Oukami dan secara perlahan mulai bangkit. Wajah yang hampir seluruhnya tertutup darah dan tangan kiri yang patah, membuat Oukami terkejut karena aku masih memiliki kekuatan untuk berdiri.
"K-Kau ... Bagaimana bisa?!"
"Coba tebak sendiri."
Aku menendang dagu Oukami, memaksanya mendongak ke atas dan terhuyung mundur ke belakang. Ia bisa mengumpulkan kekuatannya dan fokus lagi, tapi saat melihat ke arahku, aku sudah tidak ada di sana.
"Ah! Di belakang?!"
Oukami melihat ke belakang, tapi tidak ada siapa pun di sana. Saat dia lengah, tiba-tiba gada miliknya terlempar keluar arena, yang kemudian menghilang karena rusak dan terbuat dari aura Oukami.
"G-Gada milikku ...?!"
"Grraaakkkhhh !!"
Sebuah sayatan besar dan panjang tercipta dari dada sampai perut Oukami. Tubuhnya juga menghitam seperti terbakar oleh sesuatu. Perisai yang ada di tangan kirinya jatuh dan menghilang sama seperti gada sebelumnya. Oukami terlutut dengan lemas dan percikan listrik menyetrum seluruh tubuhnya.
Tetapi ia masih sadar.
"Kau bisa bertahan dari itu? Hebat juga."
Aku mengacungkan pedangku tepat di depan wajah Oukami, "Ini adalah kekuatan ku yang sesungguhnya, apa kau puas?"
“Kau menyembunyikan kekuatan sebesar ini, sialan ....”
Oukami mengubah posisinya, kini ia duduk dan mundur ke belakang sampai ke paling pinggir arena hampir melewati batasnya. Aku menodongkan pedang ke ujung hidungnya. Wajahnya berubah ketakutan. Keringat keluar dari wajahnya yang bercampur dengan darah. Dia masih belum mau mengaku menyerah. Keras kepala sekali, dasar otak otot!
"Menyerah lah atau aku ...."
Eh? Tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku mulai kembali mengabur. Apa yang terjadi? Padahal sebelumnya sudah tidak seperti ini.
__ADS_1
Oukami sepertinya merasa kalau ia tidak punya pilihan lain. Jadi dengan sangat ragu-ragu dan sambil menutup mata, ia mulai berbicara.
"A-Aku ...!!"
Tapi sebelum Oukami mengucapkan kata lanjutannya, aku malah jatuh ke samping karena kepala pusing yang sudah tidak bisa aku tahan ini. Pedang ku juga langsung menghilang bersamaan dengan kesadaranku yang semakin memudar.
Dan hal terakhir yang aku dengar sebelum jatuh pingsan adalah pengumuman pemenang pertandingan kali ini. Yang dimenangkan oleh Oukami Yuu.
***
“Ah! Pertandingannya ...?!”
Aku membuka mata secara cepat. Gawat! Aku jatuh pingsan ketika sedang melawan Oukami. Bagaimana keadaannya setelah itu?
“Kau kalah.”
Eh? Cecilia tiba-tiba berbicara di dalam kepalaku. Aku memeriksa keadaan sekitar dan ternyata kini aku ada di tempat tidur. Dengan perban pada bagian kepala, tangan, bahkan hampir seluruh tubuh. Ternyata benar kalau aku kalah. Sialan! Lagi-lagi gagal menepati janji ku kepada Herlin.
Aku kemudian melihat tangan kiri ku yang di gips dan di perban. Bayangan rasa sakit saat tanganku dipatahkan masih terasa segar di ingatanku, membuat ku bergidik ngeri.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Cecilia.
“Tidak sehat.”
“Aku tahu itu, bodoh. Maksud ku secara detail.”
"Walau masih sakit, tapi sepertinya tidak mengancam nyawa. Jadi, aku baik-baik saja."
"Bagus kalau begitu. Karena akan sangat memalukan jika kau mati karena sebuah turnamen bodoh."
"Heh~"
Aku ingat kalau Cecilia yang menyuruh ku untuk mengeluarkan seluruh kemampuan ku. Dan dia juga mengatakan kalau aku bodoh. Maunya apa sih nih makhluk.
Karena bosan, Aku melihat-lihat ke sekitar dan sadar kalau aku sendirian di ruangan ini, dengan suasana yang begitu sepi dan hening. Hanya ada sebuah tirai putih dan meja kecil dengan vas bunga dan segelas air di atasnya.
Karena haus, aku pun meminum air tersebut. Lalu di bawah gelas tadi, aku menemukan sesuatu.
"Apa ini?"
Sebuah lipatan kertas tersembunyi di bawah gelas yang baru saja ku minum. Aku mengambilnya lalu membuka lipatan kertas tersebut. Ada sebuah tulisan di balik lipatan kertas itu.
Setelah dibaca, isinya kira-kira begini, "Ketika kau menemukan tulisan ini, aku berharap kau dan temanmu bisa melupakan kejadian pada malam itu dan menganggap kita tidak pernah bertemu. Karena jika kita bertemu lagi dan kau masih mengingat ku, bisa terjadi masalah besar. Oh iya, pertandingan itu adalah pertandingan yang hebat, sayang sekali kau menyembunyikan kekuatanmu dan tidak mengeluarkannya sejak awal. Kalau begitu, sampai jumpa. Tertanda, Caramel."
Caramel, surat ini berasal darinya. Dan dengan mudahnya dia memintaku melupakan kejadian yang membuat hubungan ku dengan Herlin rusak. Apa-apaan wanita aneh itu?
Saat aku sedang berpikir tentang maksud surat dari Caramel. Seseorang masuk ke dalam ruangan, mereka adalah Herlin dan Oita-san. Aku buru-buru menyembunyikan surat tadi di balik bantal.
"Oh! Kau sudah bangun?! Syukurlah," ucap Oita-san lega. Sementara Herlin masih diam seperti biasanya.
"Hehe! Aku baik-baik saja, kok!"
"Syukurlah kalau begitu."
Keheningan kembali terjadi. Suasana canggung kembali menyerang antara aku dan Herlin. Oita-san yang menyadari itu malah melakukan hal yang berpotensi menambah kecanggungan diantara kami berdua.
"Karena kau sudah bangun, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu. Kalian berdua tunggu di sini, ya?" Oita-san kemudian pergi meninggalkan ruangan.
“B-Baik.”
Kerja bagus, Oita-san. Sekarang kami berdua akan kering dalam kecanggungan. Apa yang harus ku bicarakan? Cuaca? Tapi sekarang sedang di bawah tanah, jadi percuma saja mengobrol tentang template itu.
Ayo, Satou Iraya! Sebagai pria, kau harus bisa memulai pembicaraan duluan ketika berhadapan dengan perempuan. Ini menyangkut tentang harga diri sebagai seorang pria!
"Bagaimana lukamu?"
...
Herlin yang berbicara duluan. Harga diri itu sudah sama sekali tidak ada di dalam diriku saat ini.
"Ah ... Ya, kurasa sudah tidak terlalu sakit."
"Begitu, ya?"
Suasana mendingin dengan begitu cepat. Ini tidak bagus. Aku harus memikirkan sesuatu.
"Herlin."
"Iraya."
Kami berdua berbicara di saat yang bersamaan. "Ah, kau duluan saja." Kata-kata itu juga keluar di waktu yang bersamaan. Apa-apaan ini. Aku malah membuat ini semakin canggung.
"Maafkan aku ...." Herlin tiba-tiba meminta maaf.
"Eh? Untuk apa?"
"Pada waktu malam itu, harusnya aku tidak lari. Tapi aku malah berkata kasar padamu dan melarikan diri."
"Tidak, tidak! Justru aku yang harus minta maaf! Aku yang membuat mu marah karena kau melihat sesuatu yang seperti itu. Tapi, aku tidak berbohong! Perempuan itu lah yang tiba-tiba datang ke kamar ku. Aku bersumpah!"
"Benarkah?"
Aku mengangguk dengan keras sampai membuat leher ku sakit dan kepalaku pusing karena goyangannya.
"Jadi begitu, aku tahu kalau seharusnya aku mendengarkan mu terlebih dahulu."
Sekilas aku bisa melihatnya mengeluarkan senyuman. Entah itu khayalan atau bukan, tapi aku bersyukur karena sudah bisa berbaikan dengan Herlin.
Bersamaan dengan itu, aku juga mengingat satu hal penting.
"Ah, Herlin, aku punya sesuatu untukmu."
"Untukku?"
Aku memeriksa kantong celanaku dan ingin segera memberikannya kepadanya. Sebenarnya aku ingin memberikannya saat juara, tapi aku malah kalah. Jadi aku pikir sekarang adalah saatnya.
Aku memeriksa dan mencarinya cukup lama di dalam kantong saat menyadari kalau itu tidak ada di sana. "Eh? Tidak ada?"
"Hn?"
"Tidak ada! Tidak ada! Tidak ada! Bagaimana bisa tidak ada?!"
"Iraya, sebenarnya apa yang ingin kau berikan?"
__ADS_1
Herlin bingung dengan sikap ku. Sial! Apakah itu terjatuh di satu tempat? Kenapa harus di saat seperti ini, benda itu harus menghilang?! Atau mungkin ada seseorang yang mengambilnya saat aku lengah?
Bersambung