
"Ada urusan apa kalian datang malam-malam begini, Murasaki Oita?"
"Kebetulan aku punya aku urusan dengan kalian, Astaroth." Oita-san mengeluarkan seringai di akhir kalimatnya.
Pertarungan mereka sudah ada di depan mata. Untuk mengambil kembali keluarga mereka yang diculik, Mereka akan bertarung habis-habisan.
Beberapa menit sebelum Murasaki Oita dan yang lainnya datang menyerbu mereka, sempat terjadi perdebatan di antara para Assassin. Tepatnya antara Caramel dan Astaroth.
Suara perdebatan mereka menggema jelas akibat reruntuhan gereja tua yang luas dan juga kosong ini.
"Kenapa aku tidak boleh ikut bertarung?! Hei, bos! Beritahu aku alasannya!"
"Bukankah sudah jelas? Tubuhmu saat ini sedang tidak dalam kondisi terbaik, kau masih terluka. Tugasmu untuk membuat barrier saja itu sudah lebih dari cukup. Barrier mu jauh lebih tipis dari yang biasanya, bukan?" ucap Astaroth.
"Tapi tetap saja! Meski begitu—"
"Hentikan, Caramel."
Tiba-tiba Nimis masuk ke dalam perdebatan mereka berdua. Awalnya ia tidak ingin melakukannya, tapi ia merasa kalau perdebatan ini tidak ada gunanya.
"Apa? Kau juga kasihan padaku?" tanya sinis Caramel.
"Hentikan keegoisan sia-siamu itu, jika bos sudah mengatakan tidak berarti artinya tidak. Kau seharusnya yang paling paham soal dirimu sendiri."
"Berhenti menceramahiku, sialan! Aku tidak ingin mendengar hal itu darimu."
Nimis tidak mengatakan apa-apa lagi, ia merasa kalau itu tidak ada gunanya. Seharusnya ia tahu kalau berbicara dengan Caramel adalah hal yang sia-sia, makanya sekarang ia memilih untuk diam.
Setelah merasa memenangkan adu mulut dengan Nimis, Caramel kembali mencoba merayu Astaroth kembali agar memperbolehkannya untuk ikut bertarung.
"Hei, bos!"
"Tidak bisa! Sekali tidak bisa tetap tidak bisa!"
"Tapi—"
"Jika kau mati sia-sia, itu akan jauh lebih merepotkanku. Ini adalah keputusan akhir dariku, kau akan menjaga barrier ini tetap kuat saat pertarungan nanti."
Duaaarrrr…
Sebuah bunyi keras terjadi di depan pintu reruntuhan gereja, itu terjadi karena benturan sebuah benda yang mencoba merusak barrier milik Caramel. Tapi meski begitu, benturan tadi belum cukup untuk meruntuhkan yang bahkan lebih lemah dari biasanya.
"Akhirnya mereka datang. Nimis, Ardenter, Delta, kalian bertiga ikut denganku."
Tanpa menjawab, mereka langsung berdiri dan mempersiapkan dirinya untuk pertarungan ini. Sementara Caramel yang seperti ditinggalkan oleh mereka semua terlihat kesal dan merajuk.
"Caramel, kau tunggu disini dan jaga inang Subject C."
"Hmph!"
Meskipun sebenarnya ia ingin ikut bertarung, tapi karena Astaroth melarangnya dan menyuruhnya untuk menunggu disini, Caramel pun mau tidak mau harus menurutinya. Tapi ia tidak mengucapkannya secara langsung, ia hanya membuang muka seiringan dengan yang lainnya berjalan keluar.
Saat semuanya sudah keluar dan meninggalkan Caramel sendiri, ia yang merasa kesepian kemudian berjalan menuju ruangan gereja yang lebih dalam. Di ruangan kecil itu, terdapat seseorang yang tengah duduk dengan keadaan yang menyedihkan sedang tidak sadarkan diri.
Tubuh orang itu pucat dengan rambut yang berubah menjadi warna hijau secara keseluruhan. Terdapat beberapa bekas suntikan di bagian lehernya. Caramel pun menghampirinya sambil tersenyum tipis.
Sruukk…
Ia membuat sebuah platform dari kemampuannya yang kemudian ia jadikan sebagai tempat untuk duduk di samping orang itu.
"Sepertinya saat ini hanya ada kita berdua, Iraya."
**
Kembali ke waktu sekarang, anggota dari Black Rain sedang berhadapan dengan para Assassin yang menghadang mereka untuk menyelamatkan Iraya.
PoV Ririsaka Herlin
Saat ini sepertinya Oita-san yang akan menghancurkan barrier milik Caramel dan setelah itu ia akan menghadapi ketua mereka, Astaroth. Tidak ada lagi yang bisa menandinginya kecuali Oita-san, setidaknya itu yang aku yakini.
Oita-san telah memukul barrier itu sekali. Tetapi belum ada perubahan dan kerusakan yang tampak pada barrier itu. Selama ada barrier itu, kita tidak akan bisa menyerang mereka.
Oita-san masih terdiam setelah kedatangan para Assassin itu. Ia nampaknya sedang memikirkan sesuatu tentang apa yang akan dilakukan terhadap barrier ini.
Duaaarrrr… Duaaarrrr…
Tapi ternyata aku salah, Oita-san kembali memukul barrier itu sama seperti tadi. Dan kali ini ia tidak melakukannya sekali, melainkan berulang-ulang kali. Hanya menggunakan kekuatan dari tubuhnya sendiri dalam beberapa kali hantaman, Oita-san sudah dapat membuat sebuah retakan pada barrier tersebut.
Kraaaank…
Setelah beberapa kali serangan, barrier itu menampakkan lubang yang membuat tinjunya menembus barrier buatan Caramel itu.
Dari pihak Assassin tidak ada yang merespon perbuatan Oita-san itu, mereka dengan sabarnya hanya melihat Oita-san menghancurkan barrier milik anggota mereka sendiri.
Kraaakk… Praangg…
__ADS_1
Setelah lubang kecil yang dihasilkan oleh Oita-san, retakannya menyebar menuju keseluruhan barrier ini. Sampai ke titik tidak ada lagi tempat yang tidak ada retakannya, barrier itu pun pecah berkeping-keping.
Setelah menghancurkannya, Oita-san melihat kearah kepalan tangannya yang tadi ia gunakan untuk menghancurkan barrier. Tidak ada luka ataupun goresan disana, hanya kepulan asap kecil yang terjadi karena gesekan antara tinju Oita-san dengan barrier yang ia hancurkan.
"Maaf ya, karena sudah menghancurkannya," ucap Oita-san.
"Hemm … tidak apa, justru aku berterima kasih padamu karena kami tidak perlu repot-repot untuk menghancurkannya," balas Astaroth.
Zwuusshh… Zwuusshh… Duaaarrrr…
Astaroth dan Oita-san kembali melesat kearah masing-masing dan beradu pukulan di udara. Saking cepatnya mereka bergerak, sampai muncul kepulan asap di tempat mereka berdiri sebelumnya dan pijakannya juga ikut hancur.
Tidak ada yang bisa mengikuti pergerakan mereka saat mereka bergerak. Tapi saat beradu di udara, aku bisa melihatnya. Seringai keduanya tergambar jelas di wajah mereka masing-masing menandakan kalau mereka bahagia akan pertarungan ini.
"Kita lihat kemampuanmu saat ini, Murasaki Oita."
"Jangan terkejut ya, Astaroth!"
Mereka kembali melesat dan beradu lagi. Malam itu, langit malam dipenuhi dengan kepulan asap akibat pertarungan mereka yang baru saja dimulai. Pertarungan mereka berjalan seimbang dan terjadi jual beli serangan disana. Mereka juga terlihat belum serius dalam bertarung karena keduanya sama-sama belum mengeluarkan aura mereka.
Mereka melesat sangat jauh dari tempat kami berdiri sekarang dan kemudian menghilang dari pandangan. Yang bisa kami lihat dan dengar hanyalah tanah-tanah yang berantakan serta rumah-rumah warga yang hancur karena mereka lewati.
Kota Kyoto sekarang adalah arena pertarungan mereka.
Aku dan yang lainnya hanya bisa melihat pertarungan mereka dari bawah sini dan kemudian aku pun disadarkan oleh Ishikawa-san.
"Jangan kehilangan fokus kalian!"
"Hn?"
"Pemimpin mereka biar diurus oleh Murasaki-san! Kita akan urus yang disini," ucap Ishikawa-san.
"Baik!"
Sekarang posisinya adalah tiga lawan tiga. Posisi seimbang untuk masing-masing kubu. Aku kemudian menarik nafas dan menguatkan kuda-kudaku. Ini adalah pertarungan pertamaku tanpa mengeluarkan aura, aku harus berhati-hati.
Ishikawa-san dan Mei-senpai juga sudah selesai dengan persiapan mereka masing-masing. Sementara itu dari kubu Assassin, Nimis, Ardenter, dan Delta mendekat kearah kami tanpa ragu. Mereka seakan-akan tidak takut dan meremehkan kami semua.
"Murasaki Oita mungkin adalah sebuah masalah, tapi tidak untuk anggota lainnya," ucap Nimis.
"Ayo kita habisi mereka!"
Nimis sudah memasang kuda-kudanya dan sebuah kobaran api telah tercipta di bilah pedangnya. Sementara Ardenter juga sudah siap, ia membunyikan buku-buku jarinya dan melemaskan otot-otot yang ada di lehernya. Sementara Delta hanya diam dan berjalan santai kearah kami bertiga.
"Fokus, Herlin! Aku akan membantumu saat kau kesusahan nanti," ucap Cecilia.
"Aku juga akan memprediksi setiap pergerakan musuh kira-kira dua detik sebelum musuh melakukannya. Jadi gunakan waktu itu dengan baik," jelas Tetsu.
"Baik."
Persiapan kedua kubu sudah siap. Semuanya masih diam dan berhati-hati pada pergerakan lawannya masing-masing. Tidak ada yang mau melakukan kesalahan diawal karena akan merugikan mereka.
Tapi tiba-tiba terdapat burung kecil yang secara acak mendarat di tengah-tengah mereka. Seakan menjadi pengadil alami pertarungan ini, ia melompat-lompat kecil tanpa tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian.
Lalu burung kecil itu pun terbang, bersamaan dengan sebuah hembusan angin ribut kencang yang berasal dari Mei-senpai dilepaskan menuju kearah Nimis.
Zwuusshh…
"Tch!"
Nimis dengan sigap langsung membelah hembusan angin itu dengan pedangnya hingga tinggal menyisakan angin sepoi-sepoi yang menghembus rambut Nimis lembut.
Lalu tanpa jeda, Nimis langsung melesat kearah Mei-senpai dan menebaskan Katana-nya mengincar kearah lehernya untuk memberikannya kematian secara cepat.
Tapi sepertinya tidak semudah itu, karena Mei-senpai dengan mudah menghindari serangan milik Nimis yang menyerangnya secara langsung dari depan. Seakan sudah mengetahui rencana yang dibuat Mei-senpai, Nimis langsung mengubah posisinya saat di udara dan kemudian memegang bagian bilah Katana yang tumpul dan mengarahkan bagian bilah yang tajam kearah Mei-senpai.
"Apa?!"
Syiiing…
"Hinokami no Chikara : Bakuretsu!"
Setelah merapalkan sesuatu, Katana milik Nimis mengeluarkan cahaya yang bersinar terang dan hawa panas yang membakar. Ia melakukannya saat keduanya masih berada di udara sehingga tidak memungkinkan bagi Mei-senpai untuk menghindar.
"Tak akan kubiarkan!"
Sebelum cahaya pada Katana Nimis berubah menjadi sebuah ledakan, Mei-senpai terlebih dahulu mendorong tubuhnya ke belakang menjauh. Jarak mereka kini sudah melebar, meskipun Mei-senpai sudah merasa kalau ia telah aman. Tapi ternyata perkiraannya salah.
Ekspresi Nimis masih belum berubah dari yang sebelumnya, seakan menandakan kalau bahaya masih belum dihindari oleh Mei-senpai. Dan seakan membenarkan firasat buruk Mei-senpai, Nimis kemudian berbicara sesuatu.
"Kalau cuma jarak segitu, ledakanku tetap akan sampai."
Duaaarrrr…
Ledakan besar tercipta tepat di depan Mei-senpai. Meskipun dari jarak kira-kira sepuluh meter, tetapi ledakannya masih dapat menjangkaunya dan mendekat dengan cepat.
__ADS_1
Mata Mei-senpai melebar ketika ia sadar kalau daya ledaknya masih bisa menjangkaunya dan dengan cepat meraihnya. Sementara Nimis mendarat sempurna di tanah dan sedikit berjalan mendekat kearah bekas ledakan yang ia ciptakan sendiri.
Saat sedang memperhatikan dalam diam, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang memanggilnya dari atas langit.
"Jujur saja kau membuatku terkejut …."
"Hn?"
Nimis mendongakkan kepalanya ke atas. Ia kemudian melihat sosok wanita yang ia pikir baru saja terbakar habis oleh ledakannya, tapi perkiraannya keliru. Sosok itu melayang di langit, dengan bulan purnama yang bersinar terang di belakangnya. Ia terbang dengan layaknya meskipun tanpa sepasang sayap di punggungnya.
"… Tapi jangan pikir kalau itu cukup!"
"Hah … kenapa kau tidak membuatnya mudah saja?" gumam Nimis.
Nimis pun kembali berdiri dan memasang kuda-kudanya lagi untuk menghadapi Mei-senpai sekarang.
Sementara itu Ardenter tidak menunggu Ishikawa-san untuk bergerak. Ia memilih untuk menyerangnya secara langsung dengan kemampuan Physical Strength-nya.
Triiingg…
"Arrghh …!!!"
Tapi Ishikawa-san dengan cepat membuat sebuah perisai menggunakan auranya. Ia membuat perisai dengan ukuran sebesar tubuhnya yang ia tancapkan di tanah sekaligus menahan dengan berat tubuh Ishikawa-san.
Ardenter menggenggam perisainya lalu melompat keatas kepala Ishikawa-san. Tapi ia sudah menunggu hal itu dan Ishikawa-san kembali membuat perisai di atas kepalanya.
Ia terus melakukan hal yang sama sampai semua perisai buatannya menutupi seluruh bagian tubuhnya dan area sekitar setengah meter di depannya. Ardenter yang kesulitan untuk menembusnya kemudian mengintip di celah bagian perisai yang tidak tertutupi, di dalamnya terdapat Ishikawa-san yang sedang terlutut santai sambil tersenyum kearahnya.
"Jangan sembunyi, sialan!"
"Aku tidak sembunyi, ini adalah caraku bertarung."
"Ap—!!"
Triiingg… Triiingg… Triiingg…
Tiba-tiba dari perisai itu muncul duri-duri tajam yang cukup besar yang bisa menembus perut manusia sampai keluar lewat punggungnya. Ardenter yang terkejut karena itu kemudian lompat mundur ke belakang. Beruntung ia tidak menerima luka apapun karena kesigapannya.
Ishikawa-san kemudian menghilangkan sebagian perisainya dan menampakkan sebelah wajahnya untuk dapat berbicara dengan Ardenter.
"Apa kau punya rencana lain, orang pemarah?"
"Sialan …."
Dengan cara bertarung milik Ishikawa-san, aku rasa ia tidak akan mendapat masalah yang berarti untuk melawan Ardenter yang murni menggunakan fisiknya untuk menyerang.
Oita-san, Mei-senpai, dan Ishikawa-san sudah memulai pertarungannya. Sementara aku dan Delta masih terdiam sama sekali belum bergerak dari tempat masing-masing.
Aku tidak bisa memprediksi gerakan dan ekspresi wajahnya karena wajahnya yang tertutup oleh topeng. Ia juga tidak memasang kuda-kuda bertarungnya, sepertinya ia adalah tipe orang yang meremehkan lawannya. Ini bisa jadi kesempatanku.
"Jangan menyerang sebelum ia memulainya terlebih dahulu," ucap Cecilia.
"Aku tahu."
Tapi meski begitu, ia tidak melakukan pergerakan sama sekali. Apa dia juga memikirkan hal yang sama denganku. Aku juga tidak terlalu mengerti.
Tiba-tiba ia melakukan pergerakannya setelah lama diam, tapi ia malah bergerak mengitariku ke kanan. Aku pun membalasnya dengan juga bergerak mengitarinya berlawanan arah agar jarak kami tetap terjaga sambil tetap mempertahankan kuda-kudaku.
Kemudian ia berhenti, tepat di tempatku berdiri sebelumnya. Aku sekarang juga berada di tempat ia berdiri sebelumnya. Kami berdua sangat berhati-hati dan sama-sama menunggu lawan.
Delta kemudian melakukan suatu gerakan. Ia menunjuk kearah pedang yang aku pegang saat ini lalu melakukan gestur bertanya dengan memiringkan kepalanya sedikit. Karena aku rasa tidak ada salahnya untuk menjawabnya, aku pun kemudian berbicara.
"Benar, ini pedang milik Iraya, orang yang kalian culik. Aku akan menggunakan pedang ini untuk mengambil dia kembali. Serahkan Iraya padaku! Dia milikku!"
Aku meneriakinya. Ia tidak merespon berlebihan, ia hanya berdiri seperti biasa dan bersikap biasa lagi. Tapi nampaknya aku sudah membuat sebuah kesalahan dalam pemilihan kataku.
Blaaaaaarrr…
"Herlin! Menghindar!"
Sebuah kobaran api melesat dari tangan kanan Delta. Untuk serangan ini aku tidak bisa menahannya, jadi aku memilih untuk menghindar sesuai dengan perintah Tetsu.
Masih belum sempat berdiri sempurna, aku kembali di serang oleh Delta. Kali ini ia menginjak tanah menggunakan kaki kirinya dan getaran di tanah tempatku berpijak bergetar seperti terjadi gempa kecil. Dari arahnya kemudian berbaris tanah-tanah tajam yang semakin lama semakin besar dan dengan cepat mendekat kearahku.
"Kali ini tidak bisa menghindar. Kalau begitu …."
Sryiiingg… Braakkhh…
Aku membelah tanah tajam milik Delta yang mendekat ke arahku meskipun kuda-kudaku belum siap. Tapi untuk sekarang aku aman dari serangannya. Ia hanya berdiri seperti biasa setelah menyerangku. Apa dia masih meremehkanku.
"Ya ampun, bertarung tanpa aura itu benar-benar mustahil," gumamku.
Aku kembali berdiri dan memasang kuda-kudaku lagi. Ini tidak akan jadi pertarungan yang mudah bagiku. Sama sekali tidak mudah.
Pertarungan antara kedua pihak telah terjadi, semuanya mendapatkan lawannya masing-masing. Ada yang seimbang maupun tidak. Tapi mereka tetap terus berusaha sampai akhir untuk meraih tujuannya.
__ADS_1
Bersambung