Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 54 : Misi Bagi Ishikawa-san


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu semenjak hari pertama Kurobane-senpai ikut bergabung dengan latihan kami. Latihan tersebut berjalan cukup baik, meskipun kadang-kadang Senpai agak shock dengan kata-kata yang dikeluarkan Herlin kepadanya.


Tapi seminggu ini benar-benar tidak ada hal besar yang terjadi. Walaupun aku mendengar di daerah lain masih ada beberapa kasus monster menyerang kota, tapi intensitas serangannya mulai menurun.


Tetsu juga sudah semakin terbiasa dengan pekerjaan rumah yang aku berikan. Tapi ia tidak bisa terlalu lama berada di luar pedangnya selayaknya Spirit pada umumnya. Ia keluar dari pedangnya pukul 8 pagi dan kembali ke dalam pada pukul 9-10 malam. Benar-benar seperti asisten rumah tangga sewaan.


Hah… Kedamaian seperti ini yang tidak pernah aku dapatkan akhir-akhir ini akhirnya bisa kurasakan sekarang. Aku melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tetsu juga sudah kembali ke dalam pedangnya dan ini sudah waktunya bagiku untuk tidur.


Sebelum tidur aku sempat memikirkan sesuatu. Tentang hubungan dari Kurobane-senpai dan Herlin.


"Aku harap Senpai bisa bertahan dari omongan tajam Herlin. Kelihatannya dia tidak terbiasa dengan perkataan seperti itu."


"Dari ceritamu, dia itu terkenal di sekolah, 'kan? Mungkin yang biasa ia dengar adalah pujian. Tentu saja dia merasa shock jika tiba-tiba mendapat perkataan seperti itu."


"Benar juga."


Aku kemudian mematikan lampu kamar dan bersiap untuk tidur karena besok aku masih harus sekolah.


"Kalau begitu, aku tidur dulu ya."


"Ya, selamat malam."


"Selamat malam. Tetsu juga selamat malam."


Tapi tidak ada jawaban darinya, kemungkinan dia sudah tidur dari tadi. Aku pun menutup mataku dan kemudian tidur.


**


Cecilia PoV


Aliran nafasnya sudah melambat dan lebih tenang. Itu artinya dia benar-benar sudah terlelap sekarang. Aura Tetsu juga sedang dalam kondisi stabil dan kelelahan akibat pekerjaan rumah yang ia lakukan. Dasar anak bodoh itu, mempekerjakan Spirit tidak semestinya.


"Baiklah, saatnya melakukan apa yang harus kulakukan."


Aku kemudian menutup mataku dan berkonsentrasi. Melepaskan aura ku sedikit demi sedikit agar bisa beradaptasi dan menyatu dengan tubuh Iraya. Aku melakukan hal ini hanya saat ia sedang tidur karena saat dia bangun, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi.


Banyak pemikiran tidak penting dan suara-suara berisik yang membuatku tidak bisa fokus. Jadi satu-satunya waktu yang tepat adalah saat ini. Padahal ini juga demi kebaikannya sendiri.


"Hah …."


Aku menghela nafas berat karena tidak percaya akan melakukan hal ini kepada bocah sepertinya.


Beberapa menit sudah berlalu dan tidak ada kendala, tapi tiba-tiba aliran aura ku terganggu dan terdapat bunyi aneh disekitar sini.


Ctiiing…


Bunyinya seperti ada sesuatu yang coba menerobos masuk tapi terpantul oleh sesuatu. Karena ini menganggu penyatuan aura ku, aku kemudian memeriksa apa yang terjadi.


Kalau tidak salah ingat, ini sudah terjadi selama beberapa minggu lalu. Aku kira ini hanya perasaanku saja, tapi proses penyembuhan yang kulakukan terhadap tubuh Iraya secara aneh melambat.


Ini terjadi sejak saat itu, sejak dia bertemu dengan gadis aneh yang mencoba merayu dan mencium Iraya. Aku mencoba mengingat kejadian itu. Apa psikologis nya terganggu karena hal seperti itu? Tidak tunggu dulu, bukankah laki-laki seharusnya akan senang jika mendapatkan hal-hal macam itu?


Pikiran aneh terus memenuhi kepalaku sembari tubuhku yang terus menerus menelusuri arah dari penyebab suara aneh tadi. Dan setelah berjalan cukup lama, aku akhirnya menemukan sesuatu yang tidak biasa.


"Ini …."


Di hadapanku terdapat sebuah rantai setengah transparan yang sangat besar dan menghalangi jalanku untuk lewat ke tempat di depanku. Rantai yang saling mengikat tersebut begitu besar dan lebar hingga aku tidak bisa melihat ujung dari kanan dan kirinya.


"Apa mungkin ini penyebabnya?"


Ziiing…


Aku menengok keatas lalu memfokuskan aura di bagian bawah tubuhku dan kakiku yang membuatku dapat terbang keatas. Aku mencoba terbang setinggi mungkin untuk melihat ujung dari ikatan rantai ini.


Duukk…


"Adu— !"


Saat mencapai atas, kepalaku tidak sengaja membentur sebuah barrier tak terlihat.


"Hmm? Apa-apaan ini?"


Duung… Duung… Duung…


Aku mengetuk-ngetuk barrier itu beberapa kali dan berasumsi kalau ini adalah aura asing yang sebelumnya tidak ada disini dan bukan berasal dari diriku.


Tinggi rantai ini sekitar 50 meter dan barrier diatasku juga menghalangi pergerakanku. Aku berpikir sebentar dan kemudian menemukan sesuatu.


"Apa ini untuk membatasi pergerakanku?"


Hal itu bisa saja terjadi. Karena sumber kekuatan Iraya berasal dari aura yang kukeluarkan sedikit demi sedikit. Tapi hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mengetahui keberadaanku di dalam tubuh Iraya. Aku pun terkejut dengan fakta yang baru saja kutemukan.


"Gadis itu sudah mengetahui keberadaanku?"


Itu bisa saja, mengingat orang mana yang secara acak mencium seseorang yang baru saja ia temui. Orang suruhan Ayakashi Corp. ya?


Tapi itu masih menjadi sebuah dugaan, tapi aku tidak memiliki bukti lain selain hal itu. Aku menyingkirkan dugaan itu untuk saat ini dan kembali turun ke bawah.


Aku kembali berfokus ke rantai yang ada di hadapanku. Aku membuat sebuah aura tajam yang kemudian kulemparkan ke arah rantai tersebut.


"Ayo kita gunakan kekerasan!"


Ctiiing… Craasshh…


Rantai setengah transparan itu kemudian putus dan meninggalkan bekas yang cukup besar. Ini tidak sekeras yang aku bayangkan. Kalau begitu akan kuhancurkan dengan kekuatan yang lebih besar lagi.


"AaaArRggghh !!"


"Eh?"


Tapi saat aku ingin melakukannya lagi, Iraya tiba-tiba berteriak sangat keras seperti seorang yang sedang sangat kesakitan.

__ADS_1


"I-Iraya? Oi! Kau tidak apa-apa?"


Dia menggeliat kesakitan diatas tempat tidur sambil memegangi kepalanya. Teriakannya itu kemungkinan besar terjadi karena aku menghancurkan rantai ini. Maafkan aku Iraya, tapi kau harus menahannya sedikit lebih lama.


Aku kembali fokus ke arah rantai tadi. Tapi yang kulihat sangat mengejutkan, rantai tersebut sedikit demi sedikit beregenerasi dan setelah beberapa lama pulih seutuhnya.


"Arrgh …! Hah … Hah …."


Saat rantai tersebut pulih, teriakan Iraya perlahan berhenti dan kemudian ia jatuh pingsan.


"Ini gawat."


Aku tidak bisa menghancurkan rantai ini tanpa melukai Iraya. Kemungkinan terburuknya, rantai ini akan lepas jika dia …


"Rantai ini akan terus mengekangnya sampai dia mati. Benar, itu kemungkinan terburuknya," gumamku.


Setelah itu, aku mencoba untuk mengalirkan auraku keluar dan ternyata ia masih bisa tembus lewat sela-sela yang ada di rantai tersebut. Tapi prosesnya akan menjadi sangat lambat.


"Maafkan aku Iraya, aku lengah. Sekarang aku akan melakukan apa yang aku mampu."


Kemudian aku berjalan menjauhi rantai tersebut dan fokus untuk mengalirkan auraku dari tempat ku yang biasanya.


**


*Haiiro Cafe*


Sementara itu di Haiiro Cafe, Oita-san sedang meminum segelas kopi di salah satu kursi pelanggan yang kosong dikarenakan Cafe yang telah tutup. Ia termenung sambil melihat kopi yang baru saja ia minum, seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.


Ia hanya sendiri disini dengan sebuah lampu yang tidak terlalu terang dan hanya menerangi sebagian tempat saja.


Kriiing…


Tiba-tiba bel yang ada diatas pintu masuk berbunyi menandakan seseorang masuk kedalam. Ia adalah Ishikawa-san. Sepertinya Oita-san dan Ishikawa-san sudah memiliki janji untuk bertemu disini. Ishikawa-san kemudian duduk di sisi lain bangku pelanggan.


"Jadi, apa yang terjadi sampai kau memanggilku malam-malam begini?" ucap Ishikawa-san.


"Aku ada misi baru untukmu."


"Ya aku sudah bisa menduganya, sih."


Oita-san mengeluarkan beberapa kertas dan foto-foto yang kemudian ia taruh diatas meja. Ishikawa-san pun mengambilnya dan melihat kertas-kertas tersebut.


"Setelah melihat hasil dari penyelidikanmu belakangan ini, sepertinya aku bisa menyimpulkan dimana tempat penelitian Ayakashi Corp. berada."


Oita-san kembali meminum kopinya sambil menunggu Ishikawa-san melihat-lihat kertas yang ia berikan.


"Heiwa Pharmacy? Bukankah ini adalah produsen sekaligus distributor obat-obatan terbesar di Kyoto?"


"Selain obat-obatan, sepertinya ia melakukan sesuatu yang lebih besar daripada membantu kesehatan orang-orang di kota ini."


Oita-san kembali mengeluarkan sebuah koran berita yang selanjutnya dibaca oleh Ishikawa-san. Ishikawa-san kemudian membaca judul dari berita koran tersebut.


"'Penculikan yang semakin marak terjadi di Kyoto', 'Heiwa Pharmacy melakukan hal lain selain memproduksi obat-obatan?'. Judul-judul berita ini terdengar seperti sebuah judul berita murahan bagiku."


Ishikawa-san menaruh semua kertas, koran, dan foto yang diberikan Oita-san. Ia kemudian mulai berbicara serius dengannya.


"Jadi, apa yang harus kulakukan?"


"Kau datang ke tempat itu, cari sesuatu yang mencurigakan, lalu kembali kesini dan laporkan kepadaku. Sederhana, bukan?"


"Sangat sederhana. Mungkin itu akan semudah permainan anak kecil jika yang harus aku selidiki adalah sebuah perusahaan biasa."


"Tenang saja, aku percaya dengan kemampuanmu."


"Lalu … bagaimana jika aku mati saat melakukannya?"


Oita-san yang mendengar pertanyaan dari Ishikawa-san itu tidak langsung menjawabnya. Ia meminum sisa kopinya sampai habis dan kemudian mulai berbicara.


"Kalau akhirnya seperti itu, itu adalah kesalahanmu, kan? Itu sama sekali bukan urusanku."


Ishikawa-san tersenyum dengan jawaban Oita-san. "Kau bahkan tidak menghiburku sedikitpun."


"Tapi jika itu terjadi …"


"Hmm?"


"Mungkin tidak lama bagimu untuk menungguku agar ikut bersamamu."


Mendengar kata-kata Oita-san yang entah bertujuan untuk menghibur atau merenung. Ishikawa-san tidak bisa menahan tawanya dari omongan Oita-san tersebut.


"Ahahaha … itu baru sesuatu yang bisa kau sebut menghibur!"


**


Ishikawa-san kemudian berangkat menuju ke tempat yang dicurigai menjadi tempat penelitian Ayakashi Corp. 'Heiwa Pharmacy".


Ia akhirnya sampai ke tempat tersebut, sebuah tempat produsen dan distributor obat-obatan terbesar di Kyoto. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tempat ini sangat besar. Layaknya pabrik-pabrik industri.


Ishikawa-san mencoba memperhatikan gerbang depan dari jarak yang cukup aman. Ia melihat bahwa ada beberapa orang penjaga dengan bersenjata lengkap dan seragam. Seperti sesuatu yang sangat berharga terdapat di dalam gedung tersebut dan harus dijaga dengan baik.


"Sepertinya tidak mungkin aku lewat pintu depan," gumamnya.


Hal yang dikhawatirkan oleh Ishikawa-san sebenarnya bukanlah para penjaga bersenjata itu, melainkan para Exception yang masih belum diketahui apa ikut menjaga disini atau tidak. Dan kemungkinan terbesarnya adalah ada.


Ishikawa-san mencoba mencari jalan lain dan setelah memperhatikan seluk beluk gedung melalui peta yang diberikan oleh Oita-san, akhirnya ia menemukan jalan teraman untuk masuk—yaitu pintu timur gedung.


Para penjaga di pintu timur lebih sedikit dari yang ada di pintu depan, jadi itu memudahkan Ishikawa-san untuk menyelinap masuk melewati mereka. Selama jam pergantian penjaga berlangsung, itu adalah waktu yang tepat bagi Ishikawa-san untuk masuk.


Setelah berhasil menyelinap, ia kemudian menaiki tangga untuk melihat dari atas apa yang ada di dalam gedung tersebut—sekaligus menjadi jalan teraman daripada harus menyamar atau yang lainnya.


"Sekarang kita lihat, apa yang sedang kalian lakukan disini."

__ADS_1


Ishikawa-san kemudian mengintip ke dalam dan melihat tabung-tabung kaca raksasa yang berisikan manusia telanjang dan terdapat juga para peneliti yang sedang memeriksa keadaan manusia di dalam tabung tersebut.


"Hehehe … mana ada perusahaan obat-obatan yang menaruh manusia di dalam tabung kaca," gumam Ishikawa-san.


Selain peneliti dan bahan percobaannya, ada seseorang yang memakai jubah aneh dan topeng yang berbeda dari peneliti lainnya. Aura yang ia rasakan juga berbeda darinya. Perasaannya mengatakan kalau orang itu adalah Exception.


"Subjek selanjutnya! Segera dilakukan ujicoba!"


Setelah peneliti berteriak, sebuah tabung kaca yang berisikan manusia di dalamnya mulai bergerak menuju ke sebuah ruangan berbeda dari yang sebelumnya. Orang dengan jubah itu juga mengikuti tabung manusia itu ke ruangan selanjutnya—begitu juga dengan Ishikawa-san.


Di ruangan selanjutnya, terdapat lebih banyak lagi peneliti yang sepertinya akan melakukan pekerjaannya. Beberapa peneliti itu memegang sebuah catatan yang digunakan untuk mencatat perkembangan manusia-manusia itu.


"Mulai!"


Setelah diberi aba-aba, mereka mulai memasukkan sebuah cairan yang kemudian bersatu dengan air yang berada di dalam tabung kaca manusia itu.


Setelah beberapa saat, perubahan terjadi di tubuh manusia itu. Otot-ototnya secara signifikan mengembang, gigi-giginya juga menajam, tinggi badannya juga secara cepat meningkat.


"GrrRraaaAaggHhhh !!"


Lolongan mengerikan yang ia keluarkan membuktikan kalau ia bukanlah manusia normal lagi. Para peneliti itu tersenyum puas dengan pemandangan yang mereka saksikan.


"Jadi mereka melakukan eksperimen kepada manusia juga?"


Ctaaang…


Ishikawa-san tercengang dengan apa yang ia lihat barusan sampai tidak sengaja membuat suara yang menarik perhatian orang berjubah tadi.


"Sial! Aku ketahuan!"


Ishikawa-san dengan sigap mencoba berlari menjauh dari sini. Tapi saat ia baru turun dari tempatnya mengintip, ia sudah dihalangi oleh orang berjubah yang baru saja ia lihat di dalam barusan.


"Kau pasti bercanda?!"


Zwuuuushhh…


Orang berjubah itu menyerang menggunakan api yang keluar dari telapak tangan kanannya. Sementara Ishikawa-san dengan cepat membuat sebuah perisai untuk menghalangi serangan tersebut.


"Aku harus segera kabur dari sini!"


Tiiit… Tiiit… Tiiit…


Bunyi sirine disertai dengan lampu kelap-kelip berwarna merah sebagai alarm bahaya muncul saat Ishikawa-san ketahuan. Para penjaga bersenjata dengan cepat berlari ke tempat pertarungan Ishikawa-san dan orang berjubah itu.


"Semakin ramai saja! Ap—?!"


Swuuushh…


Saat Ishikawa-san sedang sibuk menahan serangan api dari tangan pria berjubah itu, secara bersamaan dari tangan kirinya keluar ratusan jarum-jarum es kecil yang bersiap menghujani Ishikawa-san. Ia pun melepaskan perisainya dan kemudian menghindari hujan es tersebut.


"Du-Dua Elemen?!"


Ishikawa-san yang masih terkejut kemudian kembali fokus dan berlari meninggalkan orang berjubah itu.


Dor… Dor… Dor…


Dibelakangnya, para penjaga bersenjata itu menembaki Ishikawa-san dengan senjata api. Ishikawa-san kemudian membuat sebuah perisai yang lebih besar dari dirinya dan kemudian menancapkannya ke tanah agar ia bisa berlari tanpa terkena tembakan tersebut.


"Kalau penjaganya sih bukan masalah besar, yang masalah itu …."


Duuuaarr…


Tiba-tiba dari atas seseorang meluncur dengan cepat dan menghancurkan tanah yang ia pijakkan di depan Ishikawa-san. Dia adalah orang berjubah tadi.


"Yap, yang masalah itu kau."


Bzzztt… Bzzztt…


"Kali ini apa lagi?!"


Orang berjubah itu sekarang mengeluarkan setruman listrik dari tangan kanannya yang dengan cepat melesat ke arah Ishikawa-san. Tapi kali ini Ishikawa-san membentuk sebuah perisai dengan bahan dasar yang hampir mirip dengan karet, sehingga setruman tersebut tidak berpengaruh terlalu besar pada dirinya.


"Hah … terima kasih kepada Iraya-kun. Untung saja dia memiliki kekuatan listrik, jadi aku bisa berjaga-jaga jika harus berhadapan dengan orang sepertinya. Tapi ini gawat juga, dia sudah mengeluarkan tiga elemen alam, aku harus berhati-hati dengan apa yang akan ia keluarkan selanjutnya," gumam Ishikawa-san.


Zruuutt… Zruuutt…


Tiba-tiba orang berjubah itu menciptakan kloningan dirinya sendiri berjumlah tiga buah. Tiga kloningan barusan kemudian berdiri mengelilingi Ishikawa-san agar ia tidak bisa kabur.


"Bu-Bukankah ini sedikit berlebihan?"


Secara bersamaan orang berjubah itu mengarahkan tangannya kedepan dan kemudian menyerang Ishikawa-san dengan berbagai macam elemen yang berbeda dari setiap klonnya.


Sementara Ishikawa-san dengan cepat membentuk sebuah perisai berbentuk kubus dan kemudian ia bersembunyi di dalamnya. Ia membiarkan perisainya menerima semua serangan yang dilakukan orang berjubah itu.


Blaaaarrr… Duuuuaaarrrr…


Serangan yang diarahkan oleh orang berjubah beserta kloningannya itu benar-benar menghancurkan tanah yang dipijak oleh Ishikawa-san. Sementara perlahan demi perlahan, perisai yang dibuat oleh Ishikawa-san menghilang, tapi tidak ditemukan tanda-tanda tubuh dari Ishikawa-san. Kloningan orang berjubah itu juga perlahan menghilang.


Para penjaga yang terlambat datang akhirnya sampai dan terkejut dengan bekas pertarungan yang dilakukan oleh orang berjubah itu. Sementara orang berjubah itu memeriksa tanah tempat Ishikawa-san sebelumnya berpijak dan ia pun menemukan sebuah lubang di tanah.


"Dia kabur ya?"


Tiba-tiba pria berambut pirang datang menghampiri orang berjubah itu. Orang berjubah itu kemudian berdiri dan sedikit menunduk seolah meminta maaf kepadanya.


"Tidak apa-apa, Delta. Lain kali lakukan tugasmu dengan benar ya?" ucap pria berambut pirang—Bos sambil mengelus kepala Delta.


**


Sementara di tempat yang cukup jauh dari sana, Ishikawa-san sedang beristirahat dan duduk dibawah sebuah pohon dengan muka kotor dan luka bakar yang cukup banyak di sekujur tubuhnya.


"Sial, aku hampir mati."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2