
*Bukit Belakang, 15.40*
Aku kembali berlatih bersama Herlin di tempat seperti kemarin. Meskipun dia menyebutnya sebagai latih tanding, tapi sebenarnya Herlin sama sekali tidak membalas seranganku dan yang ia lakukan hanya menghindar sampai aku kelelahan dengan sendirinya.
Kami sudah melakukan hal seperti ini sebanyak dua kali, hari ini dan kemarin. Kemarin aku melakukannya selama tiga jam dan tidak ada satupun seranganku yang mengenainya. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya sangat kuat.
Saat ini aku juga sedang melakukan hal yang sama. Dan semua seranganku tidak ada yang mengenainya. Di tengah-tengah latihan, Herlin yang daritadi menghindari seranganku kemudian lompat menjauh ke belakang.
"A-Ada apa?" ucapku yang sedikit bingung dengan perilakunya.
"Lemah."
Jleb…
Sebuah panah imajiner lagi-lagi menusukku karena kata-kata tajamnya. Dia melompat jauh ke belakang hanya untuk menghinaku? Perempuan ini benar-benar minta dihajar.
"Hah?! Apa maksudmu?!"
"Ada yang salah dengan pola gerakanmu, sehingga aku sangat mudah untuk menghindarinya."
"Kalau begitu! Jangan cuma menghindar dan tunjukkan aku cara yang benar!"
Setelah aku bicara seperti itu, tatapan Herlin tiba-tiba berubah. Ia kemudian mengeluarkan tangannya dari kantung Hoodie-nya dan kemudian memasang kuda-kuda menyerang.
"Kalau begitu, selanjutnya kau yang menghindari seranganku. Bersiaplah."
Ini pertama kalinya dia memasang kuda-kuda menyerang seperti itu. Apa dia benar-benar ingin menyerangku dengan kekuatan tubuhnya? Apa jangan-jangan dengan kekuatan tak terlihatnya?!
"Tenang saja, aku tidak akan memberikanmu serangan kejutan. Sekarang fokuslah untuk menghindari serangan dari orang yang ada di depanmu ini."
Darimana dia tau hal itu? Tapi baguslah, sekarang aku bisa lebih fokus untuk menghindarinya saja kali ini.
Tap… Tap…
Herlin kemudian melesat ke arahku. Aku telah siap memasang kuda-kuda bertahan. Dia dengan polosnya mengarahkan pukulannya ke arah wajahku. Tapi sebelum sempat mengenaiku, ia melesat dengan cepat dan menghilang entah kemana. Aku mencarinya ke kanan dan kiri tapi tidak ada.
Zwuuushh…
"Di belakangmu!"
Ucapannya membuatku refleks menengok ke belakang. Herlin telah berada di belakangku dan sekarang pukulannya sudah sangat dekat dengan kepala bagian belakangku. Tapi dengan sigap aku masih bisa menghindarinya dengan menarik kepalaku ke kiri dan disaat bersamaan, menangkap tangan kanannya lalu melemparnya cukup jauh ke arah depanku.
Grab… Swuuushh…
Herlin yang telah dilempar olehku masih bisa mengatur posisi tubuhnya dengan baik dan mendarat secara sempurna. Dia kembali berlari ke arahku dan menyerang dari depan seperti yang tadi ia lakukan.
Ujung bibirku sedikit terangkat. Rasa percaya diriku tiba-tiba meningkat. Jika keadaan seperti ini terus berulang, maka kemenanganku tidak terelakkan lagi.
"Jangan lengah!"
"Mana mungkin aku le—"
"Tidak berguna."
"Eh? Apa i—?"
Apa yang terjadi. Sekilas bayangan wajah Hasuki seperti muncul dan kemudian menghilang lagi. Tidak bisa! Aku harus fokus sekarang dan—
Buuaakk…
Aku terkena pukulan telak di wajah dari Herlin yang membuatku sedikit kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah. Herlin dengan cepat melesat mendekatiku dan menyapu kakiku dengan tendangannya yang membuatku terjatuh.
Bruuukk…
Tanpa jeda, dia mengarahkan tendangan tumit dari atas ke bawah mengarah tepat ke wajahku. Tapi dia menghentikannya tepat sebelum tumitnya mengenai wajahku. Setelah menahannya beberapa saat, Herlin kemudian menjauhkan kakinya dari wajahku dan kembali berdiri seperti biasa.
"Apa kau mengerti?"
Ia kemudian bertanya kepadaku. Setelah seranganku tadi, aku pun berdiri dan membersihkan debu di bagian belakang tubuhku.
"Apanya?"
Sebenarnya apa yang harus kumengerti. Aku sama sekali tidak mengerti. Bahkan aku sama sekali tidak mendapat pelajaran dari yang barusan dia lakukan kepadaku.
"Sudah lemah, bebal pula," gumam Herlin pelan.
Jleb… Jleb… Jleb… Bonk…
Sekarang bukan hanya panah imajiner saja yang menusukku, tapi sebuah palu besar juga ikut memukul kepalaku akibat kata-kata hinaan darinya kepadaku.
"HAA?!"
Meskipun suaranya pelan, tapi aku bisa mendengar kalau dia tadi menghinaku.
"Apa yang kutangkap dari latih tanding kemarin dan hari ini adalah kau terlalu banyak melakukan gerakan tidak efektif yang membuatmu terlalu cepat lelah.
Dan saat kau mengamuk kemarin, tidak ada serangan yang kau rencanakan dengan baik. Semuanya terasa brutal dan membabi buta.
Dengan kata lain, cara bertarungmu tidak ada bedanya dengan Inuijin jika bertarung dengan brutal seperti tadi …," ucap Herlin.
"A-Apa begitu?"
Aku tidak menyangka dan tidak pernah terpikirkan olehku. Orang yang selama ini menyebalkan dan hanya bisa menghinaku. Tiba-tiba memberikan suatu hal yang sangat berguna dan terlebih lagi, dia juga mengetahui kelemahan ku.
"… Dengar ini, kau harus bisa mengatur emosimu saat bertarung. Jangan biarkan musuh memprovokasi mu dengan mudah. Kau harus bertarung dengan kepala dingin jika ingin menang.
__ADS_1
Benar …. Intinya adalah jangan biarkan perasaanmu keluar saat sedang bertarung. Pikirkan hal yang paling efektif untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat sebelum staminamu habis …," lanjutnya.
Satu hal yang aku sadari dari dia saat ini. Dia tidak main-main saat melatihku. Perempuan ini bersungguh-sungguh ingin membuatku menjadi lebih kuat. Dengan begini, aku sudah paham beberapa hal yang harus kulakukan dan kuhindari.
"Ba-Baik!"
Herlin kemudian mundur untuk memperlebar jarak dan berhenti saat jarak kami sudah tidak terlalu dekat. Ia kembali berdiri dengan gayanya yang biasa dan memasukkan tangannya ke dalam kantong Hoodie nya.
"Sekarang …. Bisa kita mulai lagi?"
"Ya!"
Meskipun begitu, masih ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Kenapa tiba-tiba wajah Hasuki terbayang saat aku sedang bertarung? Ahh! Pokoknya nanti akan kucari tahu. Aku pun memasang kuda-kuda menyerang.
"Pertama-tama, fokus pada musuh yang ada di depanmu. Kedua, jangan lakukan gerakan yang sia-sia. Dan setelah itu …. Serang!"
Aku langsung melesat ke arah Herlin untuk menyerangnya.
**
*19.00*
Kami sudah menyelesaikan latihan hari ini dan bersiap untuk pulang. Tapi, tiba-tiba Herlin menghampiriku dan bertanya kepadaku.
"Iraya, aku ingin tanya sesuatu."
"Hn? Ada apa?"
"Setelah aku menyerangmu tadi, kau terlihat tidak fokus setelahnya. Apa ada sesuatu yang kau pikirkan atau kepalamu terbentur sesuatu tadi?"
"Gekh …! Kau menyadarinya? Apa sebegitu kelihatannya?"
Herlin menganggukkan kepalanya. Dia menyadari bahwa pikiranku sedang terganggu karena wajah Hasuki yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku menghembuskan nafas pasrah. Ternyata menyembunyikan sesuatu itu sulit, ya?
"Apa kau ingin mendengarnya?"
"Jika kau tidak keberatan."
Aku kemudian duduk di tanah dan berpikir terlebih dahulu untuk menceritakan apa yang daritadi aku pikirkan. Setelah tahu ingin bercerita dari mana, aku pun menceritakan semuanya kepada Herlin.
"Sebenarnya, aku memiliki suatu masalah …."
Kemudian aku menceritakan semua masalah yang ada disekolah mulai dari teman-teman kelasku yang menjauhiku dan Hasuki yang menyebarkan rumor dan menuduhku dengan fitnah yang kejam.
"Tapi aku masih memiliki dua orang yang mempercayaiku di sekolah."
"Jadi begitu."
"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"
Herlin menundukkan kepalanya dan memegangi dagunya. Ia kemudian berpikir sebentar dan setelah itu, ia berbicara kepadaku.
"Benarkah?"
"Besok kau sekolah, kan? Kau lihat saja apa yang akan terjadi di sekolahmu besok," ucapnya.
Aku menelan ludah. Entah kenapa, dari kata-kata Herlin barusan aku bisa merasakan hal buruk akan terjadi besok. Entah kenapa. Suatu hal akan terjadi di sekolah.
"Ayo pulang."
"A-Ayo."
Pokoknya setelah ini aku ingin mandi lalu tidur. Peduli setan dengan yang terjadi di sekolah besok. Mungkin saja.
**
*Keesokan Harinya*
Aku berangkat sekolah seperti biasa pada jam-jam mepet sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Aku penasaran kejutan apa yang akan ditunjukkan Herlin kepadaku nanti.
Teng… Teng… Teng…
Bel masuk kelas telah berbunyi. Saat ini keadaannya masih sama seperti kemarin, tidak ada seseorang di kelasku yang mengajakku bicara. Seperti biasa juga, bangku Hasuki hampir tak terlihat karena dikerubungi oleh para anak perempuan. Setelah menunggu beberapa lama, seorang guru masuk ke kelas.
"Semuanya! Duduk di tempat masing-masing. Kali ini kelas ini kedatangan murid baru."
"Woah …!!"
Tiba-tiba seisi kelas mulai ramai. Laki-laki mengharapkan kalau yang datang adalah perempuan cantik sementara yang perempuan sebaliknya. Sementara aku, hanya berharap orang tersebut mau bicara denganku. Selain itu, aku tidak terlalu tertarik siapa yang akan pindah kesini. Aku hanya menunggu kejutan yang dijanjikan oleh Herlin.
"Kalau begitu, silahkan masuk."
Murid baru tersebut masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba seluruh laki-laki kecuali aku dan Hira meneriakkan sebuah kata dengan semangat.
"Perempuan!"
Sementara para anak perempuan kecuali Hasuki memperlihatkan wajah yang kecewa. Anak baru itu memiliki mata hijau yang indah serta rambut blonde yang diikat dengan gaya ponytail. Tunggu sebentar. Tunggu sebentar.
"Harap tenang semuanya! Silahkan perkenalkan dirimu, nak."
"Namaku Ririsaka Herlin, salam kenal."
Braakk…
"Kau bercanda, kan?"
__ADS_1
Aku berdiri dari bangkuku dan tidak sengaja memukul meja yang menimbulkan suara keras. Perilakuku tadi membuat perhatian seisi kelas tertuju kepadaku. Beberapa dari mereka juga masih memberikan tatapan jijik kepadaku.
"Apa yang kau lakukan, Satou-kun?! Cepat duduk kembali!"
"Ba-Baik."
Aku kemudian duduk kembali dan berusaha memikirkan apa yang baru saja terjadi saat ini. Jadi ini kejutan yang dia maksudkan itu? Aku tidak mengerti dengan apa yang ada dipikirannya. Tapi aku hanya bisa lemas menaruh kepalaku diatas meja.
"Aku sudah tidak peduli lagi, mungkin sebentar lagi aku akan pindah dari sini," gumamku kecil.
"Kalau begitu Ririsaka-san, silahkan duduk di kursi kosong di belakang sana," ucap guru sambil menunjuk sebuah kursi yang dimaksud.
Herlin berjalan ke arah kursi yang ditunjukkan oleh guru. Dia melewati sampingku dan aku menengok kearahnya lalu berkata dengan pelan hampir tak bersuara.
"Bo … doh …."
Tapi Herlin hanya melirikku dan kemudian berjalan tanpa menjawab sama sekali.
Guru pun melanjutkan pelajarannya sementara aku melanjutkan tidurku. Saat aku terbangun, ternyata jam istirahat sudah berbunyi. Aku mengambil Onigiri kemasan yang ada di kolong mejaku lalu memakannya secara perlahan.
Aku melihat ke bangku Herlin yang sedang di kerubungi para gadis. Mereka sepertinya penasaran dengan murid baru terlihat berbeda dengan mereka.
"Nee … Ririsaka-san, kamu pindahan dari mana?"
"Dari tempat yang jauh."
"Apa Ririsaka-san punya darah keturunan luar negeri?"
"Ada."
"Wah! Lucunya!"
"Nee … nee … Ririsaka-san. Apa kau punya LINE?"
"LINE? Aku tidak punya."
Herlin kemudian mengeluarkan Smartphone-nya dari dalam tas. Smartphone yang lumayan mahal untuk seukuran anak SMA. Salah satu anak perempuan terus mengomentari smartphone milik Herlin.
"Tidak mungkin dengan HP seperti itu, Ririsaka-san tidak mempunyai LINE, kan?"
"Aku beneran tidak punya."
"Ehh~…"
Tiba-tiba seseorang datang dari belakang lalu langsung menerobos kerumunan gadis yang mengerubungi bangku Herlin.
"Sudah, sudah, jangan membuat Ririsaka-san bingung. Ngomong-ngomong, namaku Hasuki Chifu, panggil Chifu saja, Ririsaka-san."
Hasuki-san mengulurkan tangannya untuk mengajak Herlin bersalaman yang ia terima dengan ramah.
"Kalau begitu, salam kenal, Chifu-san."
Entah kenapa aku khawatir dengan apa yang terjadi pada Hasuki-san. Dan juga kalau dipikir-pikir lagi, dari segala macam cara kenapa dia memilih untuk pindah ke sekolah ini? Ahh! Perempuan benar-benar sulit dimengerti. Dan saat bel istirahat selesai, semua berjalan normal sampai pulang sekolah.
Seusai pulang sekolah, aku memutuskan untuk menunggu Herlin di gerbang depan sekolah. Dan benar saja dia pulang sendirian. Lalu aku pun menghampirinya dan menyapanya
"Yo!"
Ia tidak membalas sapaanku dan masih terus melanjutkan langkahnya. Aku pun menyamakan posisiku dengan Herlin sehingga kami berjalan seirama.
"Ya ampun … aku benar-benar tidak percaya kalau kejutan yang kau maksud adalah dengan pindah ke sekolah ini."
"Tidak apa-apa kan? Lagipula aku sudah lama tidak bersekolah."
Sudah lama tidak sekolah? Aku sama sekali tidak mengetahui latar belakangnya dan darimana dia berasal. Rasanya meskipun kami dekat, tapi kami berdua benar-benar jauh. Kapan-kapan aku tanya, deh. Dan tiba-tiba aku teringat kejadian sesuatu tadi di kelas.
"Nee … nee … Ririsaka-san. Apa kau punya LINE?"
"LINE? Aku tidak punya."
"Nee … Herlin, boleh lihat HP-mu?"
"Boleh saja."
Dia mengeluarkan HP-nya dari dalam tas, aku pun langsung mengambilnya dengan cepat. Ia sempat protes tapi aku tidak menghiraukannya dan tetap sibuk mengutak atik HP-nya.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Sudah selesai! Aku sudah mendownload LINE dan menambahkan ID-ku disitu. Jadi jangan lupa untuk menghubungiku, ya!"
"Begitu ya."
"Apa yang kau ketik?"
Ia kemudian mengetik sesuatu di HP-nya dan tiba-tiba notifikasi LINE-ku bersuara. Aku memeriksa pesannya. 'Hari ini latihan jam 14.00 di tempat biasa!' diakhiri dengan sticker 'Brown si beruang' mengangkat jempolnya ke atas.
"Apa maksudmu?"
"Pesan pertamaku kepadamu."
"Harus banget tentang latihan, ya?"
"Tidak boleh?"
Herlin memiringkan kepalanya seakan bertanya. Aku hanya tersenyum pasrah melihat tingkah laku polosnya itu.
__ADS_1
"Ya, biarlah."
Bersambung