
Di dalam dome yang seharusnya menjadi pusat kekacauan yang menyebabkan tragedi berdarah di kota Nagoya ini, perlahan-lahan mulai dapat diredakan karena Arisu secara tidak sengaja berhasil menyembuhkan temannya yang juga terkena cuci otak.
Oleh karena itu, secercah cahaya harapan berhasil mereka temukan di sana dan mereka berniat untuk menyembuhkan semua orang yang ada di dalam sana.
Selain mereka, Nigiyaka, Akihito, dan Mei menuju ke luar dome karena mendapat sebuah pesan yang Nigiyaka sudah tahu darimana pesan itu berasal.
Sebuah kartu remi yang terdapat sebuah pesan di salah satu sisinya. Ia sudah yakin orang yang mengirimnya adalah orang yang ia kenal dan ketika datang ke titik pertemuan, mereka melihat dua orang yang tidak asing.
Dalam jarak yang aman sekitar sepuluh meter, mereka bertiga berhenti bergerak dan saling menatap satu sama lain.
"Seharusnya aku tahu," ucap Nigiyaka.
"Hehe ...! apakah kau terkejut?"
Bocah laki-laki itu—Lennova, bersandar di tiang sebuah bangunan sambil memainkan kartu remi di kedua tangannya, seakan menjadi tanda kalau dia sudah menunggu mereka. Selain Lennova, Ivis juga terlihat berada di sampingnya berdiri dengan tegak dan setia menjadi pendamping Lennova.
Seringai diperlihatkan oleh Lennova ketika melihat kedatangan Nigiyaka dan yang lainnya. Tapi ekspresi sebaliknya dikeluarkan oleh Nigiyaka dan kelompoknya— serius dan waspada.
"Aku punya firasat kalau kau terlibat dalam kekacauan kali ini dan ternyata firasatku benar."
Seringai yang awalnya dikeluarkan oleh Lennova perlahan memudar dan berganti ke raut wajah bosan. "Apa sih? Tidak ada ekspresi terkejut dari wajahmu. Tidak seru, ah."
"Kau mengenalku, Lennova. Aku tidak akan terkejut jika hanya sesuatu seperti ini."
Nigiyaka sebenarnya sedikit berbohong. Ia tidak menyangka kalau Lennova bisa melakukan hal sebesar ini. Tapi untuk saat ini adalah yang penting adalah bersikap tegar dan tak terlihat panik.
"Begitu, ya. Kurasa kau benar. Malahan aku yang terkejut karena kau berani memperlihatkan wajahmu di depanku."
Mei yang tak bisa mengikuti percakapan mereka hanya bisa diam dan pada akhirnya bertanya pada Nigiyaka. "Nigiyaka-san, mereka itu siapa?"
"Kurasa kau sudah mengetahuinya, mereka adalah salah satu Assassin yang bekerja di bawah perintah Astaroth. Yang bocah itu namanya Lennova, sementara yang di belakangnya adalah Ivis."
Mata Mei melebar ketika mendengar fakta tersebut. Itu berarti dia akan melawan salah satu Assassin lainnya. Hal itu membuat Mei mengepalkan tangannya dan ingin berbicara langsung padanya.
"Kalau begitu—"
"Selain itu, orang di sampingmu itu siapa? Aku tidak tahu kalian punya kenalan yang bisa diajak kerja sama." Tapi sebelum Mei sempat berbicara, Lennova terlebih dahulu memotongnya.
"Apa pedulimu tentang anak ini?" ucap Akihito.
"Kau benar, aku tidak peduli. Aku hanya heran, ternyata kalian tidak semenyedihkan yang aku kira dan itu membuatku lumayan kesal."
"Benarkah? Lalu apa yang kau harapkan terjadi pada kami?"
"Setelah membelot dari kami, aku harap kalian mati kelaparan, kedinginan, dan dalam keadaan yang kotor di tengah jalan ...." Seringai di wajah Lennova menghilang dan berubah menjadi tatapan kebencian kepada Nigiyaka dan Akihito.
"... Setelah bos tiada, aku berpikir kalau organisasi Assassin kita akan bubar. Tapi Ivis dan Baram meyakinkan dan menguatkanku kalau kita dapat melewati hari-hari berat ini bersama."
"Jangan bercanda! Kalian tidak berhak bicara begitu setelah melakukan begitu banyak kerusakan!"
"Diam!"
"??!!"
"Kalau tidak diam, akan kubunuh."
Mei kesal dengan kata-kata Lennova yang merasa kalau dirinya yang paling tersakiti setelah melakukan semua hal buruk itu di masa lalu. Tapi bulu kuduk Mei langsung berdiri ketika Lennova mengancam dan menatapnya dengan tatapan membunuh yang membuatnya terdiam.
Itu bukan hanya sekedar kata-kata ancaman biasa, aura besar mengelilingi tubuh kecil Lennova yang dapat dirasakan dengan jelas oleh mereka semua yang ada di sini.
Setelah membuat Mei diam, Lennova kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi sepertinya ada dua orang yang berbeda pikiran dengan kita. Kalian berdua, kalian malah memilih pergi dan bergabung dengan Black Rain. Aku akan membuatmu menyesal karena telah pergi di saat-saat yang sulit, dasar pengkhianat!"
Hening sesaat terjadi ketika Lennova menyelesaikan kata-katanya. Tapi itu tidak berlangsung lama, Nigiyaka yang ingin menanggapinya langsung dihentikan dengan gestur tangan oleh Akihito lalu kemudian ia maju selangkah ke depan.
"Terserah kau ingin menganggap kami apa, tapi hanya satu jawaban yang akan aku berikan padamu."
"...??"
"Aku tidak peduli."
"Apa?!"
Jawaban yang diberikan oleh Akihito bukan hanya membuat Lennova kesal, tapi Ivis dan duo temannya juga bingung dengan jawabannya.
"Aku dan Nigiyaka yang menentukan jalan kami berdua. Dan bagaimana kau melihat kami, itu tidak ada hubungannya dengan kami. Jika kau menganggap aku dan Nigiyaka sebagai pengkhianat, silahkan saja.
Tapi asal kau tahu satu hal, yang mengkhianati kami berdua pertama kali adalah Astaroth itu sendiri. Dia ingin membunuh kami dengan meteor yang ia ciptakan dan yang kami lakukan hanyalah bertahan hidup," jelas Akihito.
"Bos pasti memiliki alasannya sendiri melakukan hal itu."
"Kau mentolerir hal itu tapi tidak dengan pengkhianatan kami?"
"Tentu saja, sampai akhir dia masih terus berpihak padaku. Berbeda denganmu!"
__ADS_1
"Jadi begitu, sekarang aku mengerti."
"Apa yang kau mengerti?"
"Sekarang aku mengerti betapa egoisnya dirimu, dasar bocah!"
"...."
"Kau menganggap orang yang berkhianat padamu adalah pengkhianat, sementara orang yang juga berkhianat tapi masih menguntungkan bagimu itu tidak kau anggap. Sikap kekanak-kanakanmu itu yang membuatku bersyukur kalau aku keluar dari sana."
"Lalu apa aku salah?"
"Kau pikirkan sendiri sana! Kau sudah cukup dewasa untuk berpikir kan, bocah? Atau mungkin kau bisa menjadikan ini sebagai PR dan dicatat di buku tulis daripada bertarung di sini."
Lennova terkejut dengan perkataan dan tatapan kesalnya bertambah. Sementara segelintir tawa keluar dari mulut Nigiyaka meski ia sudah menahan sekeras yang ia bisa.
"Pfft! Aku awalnya khawatir karena kau jadi lebih pendiam setelah masuk ke Black Rain, tapi sepertinya kekhawatiranku sia-sia," ucap Nigiyaka.
"Memangnya aku dapat berubah semudah itu, dasar nenek jelek?!"
"Tidak bisa kumaafkan ...."
Suasana cair sementara antara Akihito dan Nigiyaka langsung hancur ketika mereka mendengar Lennova dengan suara yang dingin dan serius.
"... Bocah, bocah, bocah! Aku sudah muak dengan kata-kata itu! Apa kalian orang-orang dewasa hanya bisa meremehkan kami?!"
"Tentu saja. Meskipun otakmu encer, tapi orang dewasa memiliki pengalaman yang lebih banyak darimu. Lagipula aku juga tidak yakin kalau kau ini seorang jenius."
"Sudah cukup basa basinya! Kalau begitu akan kita buktikan sekarang!"
Lennova yang sudah tidak bisa mentolerir kata-kata dari Akihito pun mengeluarkan aura dalam jumlah besar dan menjadi pertanda kalau dia siap bertarung. Ivis yang berada di sampingnya mau tidak mau juga ikut bersiaga.
"Kalau begitu sebelum bertarung ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," ucap Nigiyaka.
"Ada apa lagi?!"
"Kau yang menyebabkan ini semua, tentu saja kau tahu cara menghentikannya, bukan?"
"Kalau iya memangnya kenapa?!"
"Aku tahu kau suka permainan, jadi bagaimana kalau begini. Jika kau kalah, maka kau harus memberitahukanku cara menghentikan kekacauan ini. Dan jika kau menang, kau bebas melakukan apapun pada kami."
"Boleh juga. Kau akan menyesali hal itu." Lennova mengeluarkan seringainya. Ia terlihat sangat percaya diri dengan kemampuannya dan merasa akan menang dari mereka bertiga.
"Aku juga akan membantu!"
Mei yang dari tadi hanya menonton kini memiliki kesempatan untuk menjadi berguna, dia juga sudah memfokuskan auranya dan memasang kuda-kuda.
"Kau menonton saja dari sini."
"Hah?"
Tapi jawaban yang diberikan oleh Nigiyaka di luar dugaannya. Mei melirik ke arah Akihito untuk mencari pembelaan dengan memasang wajah kasihan, tapi itu tidak berhasil.
"Kenapa?! Lalu untuk apa aku ada di sini?!" Tentu saja Mei marah, karena ia pikir ia diajak untuk membantu mereka berdua.
"Yang perlu kau lakukan hanyalah mengobservasi dan mempelajari. Ini adalah pertama kalinya kau melihat pertarungan antar Assassin, jadi hal ini masih terlalu dini untukmu."
"Tapi ...."
"Lagipula ...." Nigiyaka melanjutkan ucapannya yang didengarkan oleh Mei. "... Kami berdua tidak akan kalah darinya."
Ucapannya tanpa nada. Tapi sorotan matanya serius mengucapkan hal itu yang membuat Mei enggan untuk merengek lebih jauh. Jadi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menerimanya, meskipun dengan berat hati dan sebuah helaan nafas.
"Mati kalian!"
Percakapan mereka terpaksa terpotong karena serangan pertamanya. Ia melemparkan tiga buah kartu remi yang masing-masing kemudian membelah diri menjadi dua lalu membelah diri lagi dan seterusnya sampai jumlahnya tak terhitung.
Nigiyaka menatap dengan tenang serangan itu dan mencabut Katana dari sarungnya. Aura ia alirkan ke tangan dan Katana-nya dan setelah itu ia mulai membalasnya.
"Hinokami no Chikara : Hi no Zangeki, Juunen!"
Nigiyaka kemudian menebaskan pedangnya sepuluh kali dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa, jadi yang terlihat hanya hasilnya saja yaitu sebuah kobaran tebasan api yang terbentuk di di depannya.
Mei seakan merasa nostalgia memperhatikan teknik yang dikeluarkan oleh Nigiyaka. Karena teknik itu pernah digunakannya ketika mereka bertarung sebelumnya. Dari sepengetahuan Mei, ini adalah bentuk terkuat dari teknik ini.
Kartu remi dan tebasan api itu beradu menciptakan ledakan serta suara yang besar yang hampir menerangi malam hari ini. Tapi itu hanya terjadi beberapa detik dan yang tersisa saat ini hanyalah debu saja.
"He-hebat ...." Ucapan kecil itu keluar dari Mei ketika semua serangan itu tidak ada yang sampai ke masing-masing targetnya.
Swuushh...
Nimis kembali menebas angin, tapi untuk saat ini hanya untuk membersihkan pandangannya dari debu sebelumnya.
__ADS_1
"Hah! Sepertinya kemampuan sudah cukup berkembang!" ucap Lennova yang masih belum bergerak dari tempat sebelumnya.
"Kau terlalu banyak bicara."
"Hmm?"
Nigiyaka membuat sebuah gestur menunjuk ke bawah dengan telunjuknya yang membuat Lennova bingung tapi juga langsung menurutinya. Mei secara refleks juga melihat ke bawah kaki Lennova berharap sesuatu terjadi.
Tapi setelah beberapa detik berlalu, tidak ada hal apapun yang terjadi di sana. Yang terkejut malah Ivis yang langsung melesat ke depan Lennova.
"Lennova!"
Karena bukan tanpa alasan, Ivis berhasil menahan sebuah serangan yang datang dengan cepat dari atas. Itu adalah Akihito, kuku tajamnya berhasil merobek baju lengan panjang Ivis yang kali ini sedang membuat huruf 'X' defensif.
Tubuh Ivis terdorong cukup jauh ke belakang, tapi kakinya tetap mantap menapak di tempat yang sama dan tidak bergerak kemana-mana. Bahkan aspal yang dipijaknya retak dan ia terdorong ke bawah.
"Tch! Kau mengganggu, kakek tua!" Respon kesal dari Akihito yang sepertinya menganggap kalau rencananya sudah pasti akan berhasil kalau tidak ada Ivis di sana.
Mei kembali terkejut ketika melihat Ardenter yang sudah berada di sana, sedetik lalu padahal ia masih berada di sampingnya dan Mei tidak merasakan pergerakannya sama sekali.
"Kau yang paling merepotkanku, Ardenter. Dari dulu."
Rasa ngeri bergidik pada punggung Akihito. Matanya melebar dan instingnya mengatakan kalau dirinya harus segera lepas dari posisinya saat ini dan ia pun melakukannya. Bersamaan dengan hal itu, dua kartu remi yang bergerak dari arah yang berbeda hanya memotong angin karena Akihito sudah tidak berada di sana.
Ia pun lompat mundur dan mendarat sempurna kembali ke samping Nigiyaka.
"Dan kau juga mudah untuk ditipu."
Nigiyaka melanjutkan kata-katanya. Gestur sebelumnya hanya untuk mengacaukan konsentrasi Lennova dan itu terbukti berhasil. Tanpa Ivis, mungkin Nigiyaka dan Akihito sudah mengakhiri pertarungan ini.
Dua kartu remi yang terbang tanpa memotong apapun sebelumnya kembali ke tangan Lennova. Matanya masih fokus pada kedua orang itu dan kali ini wajahnya berubah kesal.
"Tck!"
Ini merupakan pengetahuan umum bagi semua anggota Assassin di bawah perintah Astaroth. Meskipun kekuatan mereka rata-rata dan tidak ada sesuatu yang spesial, tapi jika mereka bertarung bersama, itu adalah cerita yang berbeda.
Koordinasi serangan mereka yang rapi serta strategi yang merepotkan membuat hampir semua anggota Assassin sebelumnya hampir kalah melawan mereka berdua, kecuali Astaroth dan mungkin jika semuanya bekerja sama menghadapi mereka berdua. Dan itu yang kali ini sedang dihadapi oleh Lennova dan Ivis. Dia harus memiliki rencana untuk menghadapi mereka atau dia akan kalah.
Lennova tidak terlalu memperdulikan Mei karena ia merasakan pancaran aura yang tidak terlalu kuat darinya sehingga fokus sepenuhnya berada pada duo mantan Assassin.
"Ivis, bisa kau bantu aku?"
Seakan mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Lennova, Ivis mengangguk patuh dan berjalan ke belakang Lennova. Ia kemudian menyentuh punggung Lennova dan mulai menyalurkan aura yang ia miliki kepadanya.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Mei.
"Sial! Akihito!"
"Tch!"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Mei, tapi teriakan panik dari Nigiyaka menandakan kalau itu bukanlah hal yang bagus. Mereka berdua juga langsung melesat ke arah Lennova dan berusaha menyerangnya.
Tapi usaha mereka semua sia-sia. Meskipun jarak mereka hanya sekitar dua puluh meter, tapi mereka tetap terlambat. Aura berbentuk asap hitam tebal keluar dari tubuh Lennova dan membuat mereka berdua terpental.
Asap itu semakin lama semakin banyak dan membumbung tinggi. Mei yang melihat Akihito dan Nigiyaka terpental kemudian menggunakan kekuatan anginnya untuk menahannya di udara dengan lembut agar tidak menabrak sesuatu yang keras lalu menurunkannya secara perlahan.
"Terima kasih."
Mei mengangguk. "Tapi asap ini ...."
Meski begitu, masalah sama sekali belum selesai. Asap ini makin lama makin tebal dan menghalangi pandangan mereka. Bahkan mereka bertiga yang berada dekat hampir tidak bisa melihat satu sama lain.
"Aku rasa tidak ada pilihan lain."
Meskipun Nigiyaka bilang Mei hanya bisa melihat saja dalam pertarungan kali ini, tapi asap dapat dinetralkan dengan angin, dan angin adalah kekuatan utama Mei. Jadi tidak ada salahnya bagi dirinya untuk ikut campur.
"Hariken!"
Mei kemudian menggunakan kemampuannya. Dengan menciptakan angin disekitar tubuhnya yang secara kasar menyebar dan menjauhkan apapun yang disentuhnya. Dan ketika mereka semua sudah dapat melihat dengan jelas, pemandangan yang selanjutnya membuat mulut mereka menganga terkejut.
"Di-dimana ini?"
Seharusnya saat ini mereka berada diluar ruangan, tapi di atas mereka terdapat atap berbentuk prisma yang nampaknya terbuat dari kain berwarna garis-garis putih merah yang di topang menggunakan banyak pilar.
Selain itu kaki mereka sekarang bukan lagi menginjak aspal, melainkan tanah lembut yang membuat mereka dapat membenamkan kaki mereka jika mau.
Ada juga tribun penonton yang mengelilingi bangunan ini dan di dalamnya juga terdapat beberapa orang—tidak, itu tidak bisa disebut sebagai orang. Dengan tubuh berbentuk kartu remi tapi seukuran manusia dewasa, berjalan membawa tombak mengelilingi mereka bertiga.
Dan kemudian ada hewan seperti gajah, monyet, bahkan singa. Lalu ada berbagai macam perangkap, senjata meriam, dan perangkap lainnya yang membuat suasana ini semakin tidak bisa dipercaya.
Dan dalam keadaan bingung itu, seseorang berjalan dari arah tribun tepat di depan mereka. Ia dengan seringai puas menatap wajah kebingungan trio Black Rain.
"Ini adalah teknik yang aku latih secara rahasia, tidak ada yang pernah aku beritahu soal teknik ini bahkan Bos sekalipun. Selamat datang di Tenda Sirkus milikku!"
__ADS_1
Bersambung