
Pedang baru telah aku dapatkan secara 'ajaib' dari toko Kenshin-san dan Nezumi. Dan aku pun pulang dengan perasaan campur aduk. Senang karena berhasil memiliki senjata yang luar biasa, tapi juga bingung bagaimana cara untuk melunasinya.
Tapi aku memutuskan untuk memikirkan hal itu nanti. Untuk saat ini aku hanya akan pulang dan menunjukkan ini kepada Tetsu dan Caramel.
Dan saat sampai di rumah aku pun disambut oleh mereka berdua. Aku kemudian memberitahu berita bahagia ini kepada mereka, pedang baru untukku sekaligus rumah baru untuk Tetsu.
Aku juga punya hutang karena secara tidak sengaja juga menghancurkan rumah Tetsu, jadi semoga pedang pengganti ini bisa ia terima sebagai permintaan maafku. Dan saat melihatnya dan memeriksanya, Tetsu memberikan reaksinya.
"Aku tidak suka!"
"Eh?"
"Ini bukan besi! Malah gigi hewan yang menjijikkan! Aku tidak mau tinggal di dalamnya!"
Begitulah reaksi pertama Tetsu saat melihat pedang baru ini. Aku baru sadar kalau selama ini ia hanya tinggal di dalam besi dan pedang baru ini terbuat dari taring naga.
"Tapi ini cukup kuat, loh," ucapku meyakinkannya."
"Tidak mau! Aku tidak suka!"
"Wah ... ini bakal merepotkan."
Cecilia juga menyadari kalau ini tidak akan semudah yang ia kira. Aku yang sudah lelah dan hanya ingin istirahat pun menengok ke arah Caramel. Menunjukkan wajah melas dan meminta bantuan.
Caramel yang menyadari tanda minta bantuan dariku hanya bisa menghela nafas berat dan kemudian menghampiri Tetsu yang sedang merajuk.
"Tetsu."
"Caramel?"
"Coba kau bayangkan hal ini."
"Bayangkan?"
"Benar. Bayangkan saat ini kau berada di dalam pedang baru Iraya, pedang yang sangat kuat."
Tetsu yang tadi merajuk kemudian menuruti Caramel dan mulai membayangkan hal yang disuruh olehnya sambil memejamkan mata.
"Bayangkan ... Iraya melawan musuh yang banyak, kuat, dan berbahaya."
"Ooh?!"
Dalam bayangannya, Tetsu di dalam pedang sedang berhadapan dengan ratusan monster dengan wujud yang menyeramkan serta gigi yang tajam. Iraya kemudian melesat dan menyerang secara membabi buta sehingga tercipta hujan dan genangan darah.
Tetsu yang sedang membayangkannya pun sampai mengeluarkan air liur karena saking tergodanya. Ia pun kemudian membuka matanya lagi.
"Be-benarkah itu yang akan terjadi?!" tanya Tetsu semangat.
"Nn! Kalau tidak percaya tanya saja Iraya."
"Iraya! Apa benar kalau aku masuk ke dalam pedang itu, aku akan dapat darah yang banyak?!"
"Jadi itu yang kau bayangkan dari tadi," ucapku datar.
Tapi menaklukkan Tetsu ternyata lebih mudah dari dugaanku, dia sangat mudah tergoda dengan makanan kesukaannya. Ya namanya juga anak kecil—meskipun umurnya enggak, sih.
Aku mengiyakan khayalan Tetsu tadi dan ia pun langsung menjadikan pedang ini sebagai rumah barunya. Caramel juga melihat ke arahku dan aku pun memberikan jempol ke atas kepadanya.
**
Tengg... Tengg... Tengg...
Jam istirahat sudah berbunyi dan guru pun sudah keluar dari kelas. Suasana kelas seketika jadi ramai dan aku juga meregangkan tubuhku akibat kaku, ternyata benar kalau lama-lama duduk di satu tempat itu tidak baik bagi tubuhku.
Setelah pindah ke kelas baru ini, aku masih belum mendapat teman baru. Hanya Herlin dan Anna-san yang sering aku ajak bicara. Aku sebelumnya memang tidak terlalu dekat selain dengan orang di kelasku, jadi tiba-tiba pindah ke kelas baru cukup menyiksa jiwa penyendiriku.
Tapi aku memang tidak ingin terlalu dekat dengan mereka. Aku sudah belajar dari pengalamanku sebelumnya, kematian teman kelas A ku adalah salahku, jadi aku akan mencoba tidak terlalu dekat dengan orang biasa.
Benar. Itu adalah keputusan yang sudah aku buat.
"Bilang saja kau tidak tahu cara memulai pembicaraan dengan orang baru, kan?"
Jleb...
Ucapan Cecilia menusuk jantungku sekaligus merusak pendirian kerenku tadi.
"Hah ... kenapa semua orang tidak membiarkanku bersikap keren sedikitpun, sih?" gumamku.
Mengabaikan ucapan Cecilia, aku pun memperhatikan teman sekelasku. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok pertemanan yang tentu saja ada di setiap kelas. Aku melihat ke arah sekelompok perempuan.
Ada sekitar lima orang perempuan dengan gaya yang modis dan juga memakai riasan yang cukup berlebihan bagi anak SMA. Sepertinya mereka adalah kumpulan perempuan-perempuan highclass yang pilih-pilih teman.
Sebenarnya ada banyak lagi orang-orang yang berkelompok seperti mereka, tapi ada seseorang yang menarik perhatianku. Perempuan yang duduk paling depan di dekat pintu keluar.
Berbeda dengan yang lainnya, ia nampak sendirian menyantap bekal sederhana dengan tenang dan sunyi. Tidak ada juga teman sekelasnya yang mengajaknya bicara saat ini.
Entah kenapa aku merasa kasihan tapi juga bersyukur. Kasihan karena sepertinya ia sudah dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang lama, tapi juga bersyukur karena bukan hanya diriku yang tidak punya teman di sini.
Aku memperhatikannya cukup lama. Aku dalam posisi aman karena dia saat ini dalam posisi duduk di depan dan aku hanya dapat melihat punggungnya saja, sehingga ia tidak menilaiku sebagai seorang penguntit.
"Apa kau tidak ingin menghampirinya?" tanya Cecilia.
"Hn? Entahlah, nanti akan muncul kabar aneh-aneh lagi jika aku yang menghampirinya. Kita perlu orang lain yang sepertinya cocok untuk hal seperti ini."
Tanpa sadar pandanganku menuju ke arah Herlin yang sedang sibuk mengatur tempat duduknya untuk makan bersama dengan Anna-san.
"Orang yang cocok?" tanya Cecilia bingung.
"Yap. Mungkin hanya butuh waktu yang tepat saja. Oh?"
Pandanganku tertuju pada gadis tadi lagi. Kali ini ia menutup bekalnya dan berdiri dari bangkunya lalu berjalan menuju ke meja belakang. Dan sepertinya ia menuju ke arah meja Herlin.
Herlin dan Anna-san yang menyadari hal itu pun kemudian menengok ke arah gadis itu yang berdiri di samping meja mereka berdua, sementara aku hanya memperhatikannya dalam diam saja.
"Siapa?" tanya Herlin.
__ADS_1
"Hanasaki-san?" Anna-san menyebutkan nama gadis itu yang membuatku teringat.
Aku sempat melihat ke buku absen dan melihat nama itu. 'Hanasaki Yurei' kalau tidak salah tertulis disitu. Aku belum pernah melihat dia mengobrol dengan siapapun setelah pindah kesini dan orang pertama yang aku lihat ia ajak ngobrol sekarang adalah Herlin.
"Hanasaki-san?" tanya Herlin kepada Anna-san.
"Dia teman sekelasmu, Herlin-san. Masa kau tidak mengenalnya."
"Mm ... itu ... maaf, aku lupa. Ngomong-ngomong apa kau punya urusan denganku?"
"Apa itu milikmu?"
"Eh?"
Suara kecil dari Hanasaki-san yang bernada dingin. Hanasaki-san pun mendekatkan mulutnya ke telinga Herlin dan mengulangi pertanyaannya.
"Makhluk yang selalu mengikutimu itu ... apa dia milikmu?"
Mata Herlin sedikit melebar karena terkejut mendengar pertanyaannya. Makhluk yang sering mengikutinya, tidak salah lagi itu adalah Banshee. Orang biasa tidak mungkin bisa melihat atau merasakan keberadaannya.
"Kau ... apa kau—"
"Oi!"
Tapi sebelum Herlin menyelesaikan kata-katanya, lima orang perempuan datang menghampiri mereka semua. Mata Herlin dan mereka bertatapan, ia sadar kalau dirinya mengenal wajah perempuan ini.
Lalu Herlin melirik ke arah Anna-san yang terlihat gugup dan ketakutan. Ia juga tidak berani menatap mata kumpulan perempuan itu.
"Apa kau punya urusan denganku?" tanya Herlin.
"Tcih! Ayo kita pergi dari sini!"
Mereka semua kemudian pergi dari situ meninggalkan Herlin dan Anna-san. Tapi mereka menarik secara paksa tangan Hanasaki-san dan membawanya ikut bersama mereka. Salah satu perempuan tadi juga membisikkan sesuatu ke telinga Hanasaki-san.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Herlin.
"Sepertinya mereka tidak suka dengan keberadaanmu di sini, Herlin." Aku menyela.
"Eh? Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya."
"Herlin-san, apa kau lupa? Kau menyelamatkanku waktu itu dari mereka."
"Ah~"
Herlin memperhatikan Hanasaki-san yang meninggalkan kelas dibawa oleh lima perempuan itu.
**
Dan seperti biasa setelah pulang sekolah, aku, Herlin, dan Mei-senpai berlatih di bukit belakang. Latihan ini semakin rutin kami lakukan semenjak kepergian Oita-san.
Tidak ada waktu lagi untuk bermalas-malasan karena bisa saja bahaya yang lebih besar akan datang dan untuk selanjutnya, tidak ada bantuan dari Oita-san. Dan sekarang kami sedang melakukan sparing.
Zwuuushh... Zwuuushh...
Kali ini yang sedang melakukan sparing adalah Herlin melawan Mei-senpai. Sudah lima menit berlalu dan pertarungan mereka masih terus berlangsung, sementara aku dan Anna-san yang menjadi wasitnya sedang memperhatikan dari samping.
Zwuuushh...
Keduanya sedang fokus dan serius sampai mereka mengabaikan kami berdua. Mei-senpai yang terbang dengan bantuan anginnya, ia tersenyum saat berhasil menghindari semua lemparan batu tadi dengan berkelok-kelok melewati pepohonan.
"Jangan kabur, Senpai!" ucap Herlin.
"Kabur? Tidak mungkin! Rasakan ini!"
"?!!"
Dari belakang Herlin yang sedang fokus menyerang tiba-tiba sekumpulan batu yang tadi ia lempar melesat kearahnya. Tapi dengan cepat ia menyadari hal itu dan mengarahkan kemampuannya dan menahan semua batu yang mengarah kepadanya.
Ziiing...
"Senpai pikir ini cukup untuk mengalahkanku?"
"Tentu saja tidak!"
Zwuuushh...
Menggunakan kesempatan itu, dengan sangat cepat Mei-senpai melesat lalu turun dari bor angin di kakinya. Disaat bersamaan, ia mencoba untuk menendang kepala Herlin.
Tapi Herlin dengan refleksnya yang tinggi mampu menarik kepalanya sehingga ia berhasil menghindari tendangan dari Mei-senpai. Tapi serangannya tidak berhenti sampai disitu, Senpai masih terus melesat dan tidak memberi Herlin kesempatan.
Swuushh... Swuushh... Swuushh...
Semua serangan yang diberikan oleh Mei-senpai masih bisa dihindari oleh Herlin, tapi di satu sisi Herlin tidak bisa memberikan serangan balasan. Ia terus menghindari sambil bergerak mundur dan pada akhirnya punggungnya menabrak pohon di belakangnya.
Braakh...
"Gawat."
"Akhirnya aku bisa mengenaimu!"
Braaghh... Zwuuushh...
Pukulan yang ditambah dengan kekuatan angin membuat debu di sekitar mereka beterbangan dan menghalangi pandanganku dan Anna-san, sehingga kami belum bisa menentukan pemenang pada sparing ini.
"Si-siapa yang menang?" tanya Anna-san.
"Entahlah."
Dan setelah beberapa saat menunggu, debu-debu tadi perlahan menghilang dan kami pun akhirnya bisa melihat hasilnya.
"Apa?!" ucap Mei-senpai tidak percaya.
Senyuman Mei-senpai yang sejak tadi muncul kita sirna sekejap ketika melihat tinju miliknya di tangkap oleh tangan Herlin. Meskipun dengan gemeteran, tapi ia masih bisa menahannya dengan baik.
"Apa Senpai pikir ... aku lemah dalam pertarungan jarak dekat?"
__ADS_1
"Eh?"
Set... Bruugh...
"Akhh!"
Saat Mei-senpai masih bingung, Herlin menarik bagian baju Mei-senpai lalu membantingnya dengan bantingan yang biasa ditemui dalam beladiri Judo.
"Pertandingan selesai! Pemenangnya ... Herlin-san!"
Herlin pun kemudian melepaskan tangannya dari baju Mei-senpai lalu membiarkannya bangun sendiri, sementara ia berjalan menghampiri kami berdua. Disusul oleh Mei-senpai yang wajahnya terlihat tidak puas.
"Kerja bagus~" ucapku pada mereka berdua.
"Hah ... padahal aku kira aku sudah menang tadi."
"Senpai tadi terlalu lengah di akhir karena mengira sudah mengalahkanku dan disaat itulah aku langsung membalikkannya."
"Iya, iya, debu-debu tadi sangat menggangguku, sih."
"Alasan," ucapku kecil.
"Apa kau bilang?!" Meskipun aku hampir tidak mengeluarkan suara, tapi entah kenapa Mei-senpai masih bisa mendengar hal itu.
"Ti-tidak ... tapi yang penting sekarang soal perjanjiannya."
"Hah ... yang kalah traktir minum, kan?"
Kami berdua mengangguk. "Senpai sudah kalah dua kali dari aku dan Herlin, jadi Senpai harus melakukannya," lanjutku.
"Baiklah."
"Ayo aku temani, Senpai," ucap Anna-san.
"Benarkah?!"
Mata Mei-senpai langsung berbinar-binar mendengar perkataan Anna-san tadi, dia benar-benar menjadi malaikat kecil diantara kami yang iblis ini.
"Eh? Kan dia yang kalah, jadi dia harus menerima hukumannya dong?"
"Lagian kasihan kan kalau Mei-senpai turun dari sini sendirian setelah bertarung seperti itu, jadi aku pikir dengan adanya teman ngobrol pasti akan sedikit membantunya," ucap Anna-san.
"Kau terlalu baik, Anna-chan. Lalu siapa yang akan jadi wasitnya—Ah."
Herlin menengok kearahku. "Ada apa?" tanyaku.
"Aku akan mengetes kemampuan aslimu. Maksudku, yang benar-benar asli. Cecilia dan Tetsu, apa kalian bisa menjadi wasit?"
Syiing...
Dua cahaya berwarna putih dan kehijauan tiba-tiba muncul secara bersamaan. Dan dari dua cahaya itu kemudian muncul wujud dari Cecilia dan Tetsu.
"Ide yang bagus."
"Aku yang akan menghitung tiga dua satu!"
"Kenapa kalian berdua semangat sekali?" tanyaku datar.
"Bagus, kan? Jadi aku bisa tahu sejauh mana kemampuan aslimu," jelas Cecilia.
Aku menghela nafas berat karena keinginan mereka sudah tidak bisa aku halangi. Tapi karena ada Cecilia dan Tetsu disini, aku jadi teringat sesuatu.
"Herlin! Karena aku sudah mengeluarkan punyaku, kau juga harus mengeluarkan punyamu!"
"Punyaku? Oh maksudnya Banshee. Boleh saja, jika kau mengira aku menang berkat bantuan Banshee, maka kau salah besar. Banshee."
Tidak ketinggalan Banshee pun juga ikut dimunculkan oleh Herlin dengan wujud wanita cantik dan elegan, melayang di samping Herlin. Banshee kemudian terbang ke sebelah Cecilia dan Tetsu untuk ikut memperhatikan dari samping.
"Kalau begitu aku dan Mei-senpai akan beli minum dulu, bersenang-senanglah kalian berdua. Jangan terlalu memaksakan diri, ya!"
Anna-san kemudian turun bersama Mei-senpai, ia begitu baik kepada kami semua. Mungkin itu kenapa Herlin ingin menjadi temannya sekaligus untuk melindunginya. Memikirkannya membuatku jadi tersenyum sendiri.
"Melihatmu yang tersenyum seperti itu dan tidak tahu apa yang kau pikirkan entah kenapa membuatku merinding," ucap Cecilia.
"Hentikan, kau membuatku kelihatan seperti orang aneh."
"Kalau begitu ayo kita mulai sparing antara Iraya dengan Herlin!"
"Tunggu sebentar, Tetsu." Herlin menghentikan Tetsu sebentar.
"Hn?"
"Iraya, kau kan sekarang punya dua pedang."
"Memangnya kenapa?"
"Aku pinjam satu, tentu saja pedang yang terbuat dari taring naga itu."
"Buat apa? Kita tidak sparing seperti biasanya saja?"
"Aku yakin tanpa Cecilia dan Tetsu membuat kemampuanmu turun drastis, jadi kali ini aku ingin mengetes kemampuan berpedangku. Lalu kau bisa memakai pedang aura milikmu itu."
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."
Aku pun melemparkan pedang baru milikku itu kepada Herlin yang ia tangkap dengan sempurna. Sementara aku mengalirkan aura hijau yang berbentuk solid ke gagang pedang satu lagi, sehingga terbentuklah pedang aura.
"Aku tidak pernah melihatmu menggunakan pedang."
"Kalau begitu kau akan terkejut."
Herlin memasang kuda-kuda. Tapi kuda-kudanya berbeda dengan kuda-kuda milikku. Meskipun ia meremehkanku, tapi kalau soal berpedang ... aku tidak akan kalah darinya.
"Heh! Coba saja."
"Kalau begitu, tiga ... dua ... satu! Mulai!"
__ADS_1
Dan setelah hitungan mundur dari Tetsu, sparing antara aku dan Herlin yang sedikit berbeda pun dimulai.
Bersambung