
Misi pertama kami di bawah kepemimpinan Ishikawa-san seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mendebarkan, tapi semuanya berubah ketika ada satu orang tambahan yang datang membantu kami.
"Ka-Kau?!" Aku dan Oukami sama-sama berteriak ketika mata kami bertemu.
"Benar! Dia!" Mushino-san malah menimpali teriakan kami berdua dengan nada senang. "Karena ini adalah daerah yang cukup asing bagi kalian, jadi aku pikir kalau setidaknya kalian butuh pemandu," jelasnya.
"Tunggu sebentar! Aku tidak dengar kalau ada Exception dari luar kota yang akan datang!" ucap Oukami protes.
"Aku juga tidak pernah tahu kalau ada orang lain selain kita!" Sedangkan aku protes ke Ishikawa-san.
"Ja-jangan tanya ke aku, aku sendiri juga tidak tahu, Iraya-kun."
"Aku memang tidak meminta persetujuan kalian berdua, ini adalah keputusanku sendiri. Apa ada masalah?"
"Tentu saja ada!"
Kedua belah pihak—terutama aku dan Oukami melakukan protes keras atas kerja sama ini. Tapi Mushino-san tidak terlalu menggubrisnya dan hanya tersenyum melihat kami berdua yang berusaha memprotesnya.
"Pokoknya aku tidak mau jika bekerja sama dengannya!" ucap Oukami.
"Aku juga!"
"Ahahaha ... kalian berdua terlihat akrab, ya?" ucap Mushino-san.
"Dari mananya?!" Aku dan Oukami lagi-lagi berteriak secara bersamaan memprotes ucapan Mushino-san.
Sebenarnya aku tidak masalah bekerja sama dengan siapapun. Tapi aku punya perasaan kuat kalau orang ini membenciku, aku bisa merasakannya sejak di Turnamen The One. Aku melihat ke arah tatapannya yang sedang kesal dan ia pun membalasnya.
Bzzt... Bzzt...
Petir permusuhan terjadi di antara tatapan kami berdua. Tapi kemudian berhenti ketika Nigiyaka-san bertanya sesuatu pada Mushino-san.
"Apa terjadi sesuatu pada mereka?"
"Ah, tidak ada sesuatu yang serius, kok. Mereka hanya pernah bertarung saja saat Turnamen The One. Lalu Oukami menang."
"Hanya itu saja?"
"Bukan itu saja, Nigiyaka-san! Bahkan setelah ia menang dan menjuarai turnamen itu, dia masih memberikanku tatapan mengesalkan itu! Tentu saja aku kesal padanya!"
"Tch! Orang lemah yang kalah denganku tidak berhak mendapatkan tatapan hormat dariku."
"Kau ... ternyata kau beneran ngajak ribut?"
"Apa kau mau kekalahanmu terulang lagi?!"
Lagi-lagi petir permusuhan kembali tercipta diantara kami. Tapi yang lainnya hanya menatap datar kami berdua dan menghela nafas.
"Apa yang lainnya bersedia bekerja sama?" tanya Mushino-san sekali lagi.
"Sudah aku bilang, aku tidak—!"
"Kami bersedia."
"Eh?" Jawaban tak terduga dari teman-temanku membuatku kaget dan menengok ke arah mereka. "Kok, kalian bersedia?!"
"Tidak apa-apa, kan? Lagipula semakin banyak orang pekerjaannya akan semakin mudah."
"I-Ishikawa-san ...."
Aku tidak percaya Ishikawa-san yang sudah sangat aku percayai malah mengkhianatiku. Aku pun kemudian mencari pembelaan lainnya dengan melihat ke arah yang lainnya.
Nigiyaka-san dan Akihito-san malah mengangguk dan setuju dengan Ishikawa-san. Lalu Caramel hanya bisa mengangkat kedua bahunya seakan tidak bisa melakukan apapun untuk membantuku.
Dan yang terakhir, meskipun aku tau ini percuma, aku menengok ke arah Herlin untuk mencari pembelaan terakhir. Tapi dia malah membuang wajahnya yang membuatku seperti terkena panah imajiner lagi. "Jangan buang muka, oi!"
Begitu juga dengan Oukami yang masih tidak terima karena kelompok kami malah menyetujuinya. Tapi Mushino-san menghentikan protes dengan nada bicaranya yang serius.
"Oukami, apa kau lupa dengan hukumanmu?"
"Gekh ...!"
Seakan menyerangnya di tempat yang tepat, Oukami langsung menghentikan protesnya dan terdiam. Suasana yang tadinya ramai langsung hening.
"Hukuman?" Aku refleks bertanya.
"Ah, soal itu, Oukami pernah membuat—"
"Hentikan!" Tapi Oukami langsung menghentikan ceritanya. "Baiklah, baiklah! Kau ingin aku bekerja sama dengan mereka?! Baiklah!" lanjut Oukami.
Lho. Apa yang terjadi dengannya. Ia yang awalnya menolak keras kini malah bersedia. Meskipun setelah itu ia keluar dari ruangan ini dengan wajah kesal.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Nigiyaka-san.
"Tenang saja, dia memang seperti itu. Tapi aku bisa menjamin kalau dia akan mengikuti misi kali ini dengan baik."
Setelah pembicaraan dengan Mushino-san selesai, kami pun berjalan keluar dari ruangan itu. Untuk masalah tempat tinggal kami selama di sini, pihak White Cloud sudah menyediakan ruang hotel untuk kami tidur dan istirahat. Seperti yang diharapkan dari anggota Kuni no Hashira.
Karena tidak ada yang bisa kami lakukan sekarang, rencananya kami semua ingin langsung pergi ke hotel untuk istirahat sekaligus mempersiapkan diri kami untuk konser dua hari lagi.
__ADS_1
Tapi sepertinya di sini kami jadi pusat perhatian.
"Hei, lihat itu. Bukankah itu duo buronan Assassin yang terkenal itu?"
"Nimis dan Ardenter. Itu benar-benar mereka."
"Apa yang mereka lakukan di sini? Apa kita akan membiarkan mereka lewat begitu saja? Tunggu ... siapa yang bersama dengan mereka itu?"
Kami menjadi bahan pembicaraan mereka. Meskipun dengan berbisik dan menutupi mulut mereka, tapi aku masih bisa mendengarnya cukup jelas. Dan aku baru sadar kalau Nigiyaka-san dan Akihito-san adalah sangat terkenal di sini.
"Kalian berdua dibicarakan, tuh. Duo Assassin terkuat memang hebat!" goda Caramel.
"Diam." Mereka berdua langsung membungkam mulut Caramel yang meresponnya dengan tawa geli saja.
"Kau tidak begitu dikenal ya, Caramel?" tanyaku.
"Hn? Ah, itu karena aku jarang muncul di depan publik secara langsung. Kebanyakan aku hanya melakukan misi pengintaian biasa dan kembali untuk melaporkannya kepada bos. Lagipula aku ini lumayan jago dalam berakting, jadi orang jarang sadar kalau mereka pernah bertemu denganku."
Berakting, ya. Aku masih ingat saat pertemuan pertamaku dengannya. Kalau tidak salah saat itu ia salah masuk kamar mandi pria dan tidak ada ekspresi malu sama sekali pada dirinya.
"Lalu yang menyelesaikannya biasanya mereka berdua, jadi wajar kalau mereka yang terkenal."
"Jadi begitu."
Dan ngomong-ngomong soal itu, sepertinya kami tidak diterima baik di sini. Tatapan sinis dan waspada adalah hal yang kami terima dari mereka. Sama seperti saat aku ke dojo Red Flame.
Setelah itu, akhirnya kami keluar dari kantor White Cloud. "Cukup tegang juga berada di dalam, ya?" ucap Ishikawa-san.
"Itu adalah resiko ketika berjalan bersama Assassin. Kalian akan sering mendapat tatapan seperti itu jika dekat-dekat denganku ataupun Akihito."
"Sepertinya aku bisa mengerti perasaan kalian." Tiba-tiba aku jadi teringat tatapan sinis dan jijik dari teman-temanku saat aku difitnah oleh Hasuki-san waktu itu.
"Di situ kau rupanya!"
"Hn?"
Saat kami berada di luar, di samping gedung kami melihat dua orang yang sepertinya sedang mengobrol dengan suara yang cukup keras. Masalahnya aku kenal salah satu dari mereka.
"Kemana saja kau?"
"Aku baru bertemu dengan Aoda-san di dalam tadi."
"Jadi begitu, bagaimana hasilnya?"
"Aku memang mendapatkan misi untuk menjadi bodyguard-mu, tapi aku tidak menyangka kalau ada orang lain yang ditugaskan oleh Aoda-san."
"Orang lain? Ya, aku memang memintanya untuk mendapatkan bodyguard baru karena yang lama tidak memenuhi persyaratanku."
"Mereka ketahuan adalah fans berat Rainbow Cookies, jadi mau tidak mau aku langsung mengeliminasi mereka. Ngomong-ngomong, apa Aoda benar-benar sudah mendapat penggantinya?"
"Soal itu .... Eh?"
Saat salah satu dari mereka—Oukami melirik, ia menyadari kalau kami menguping pembicaraan mereka dari tadi. Ishikawa-san hanya membalasnya dengan sebuah senyuman canggung.
"Ehehe. Kebetulan penggantinya adalah kami."
"Waa!" Tiba-tiba perempuan satunya lagi berteriak menunjuk ke arahku. "Eh? Aku?" Aku juga terkejut karena tiba-tiba ditunjuk olehnya.
"Kau yang sebelumnya! Orang aneh yang tidak mengenalku!"
"A-apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Jujur aku lupa kalau ternyata kita pernah bertemu. Lagipula pikiranku penuh dengan gerutu karena harus menjalani satu misi dengan Oukami, jadi aku mungkin melupakan orang asing yang tidak sengaja aku temui.
"Sialan! Sudah tidak mengenalku, kau bahkan berani melupakan pertemuan yang baru beberapa jam lalu. Ngajak berantem, hah?"
Tiba-tiba dia malah marah tidak jelas. Lalu ia ingin berjalan ke arahku tapi di tahan oleh Oukami. Herlin yang memperhatikan dari tadi akhirnya berbicara untuk menjelaskan kondisi ini.
"Dia itu klien kita."
"Eh? Klien?"
"Ya, kita akan menjadi bodyguard pada konsernya pada hari minggu dua hari lagi," lanjut Nigiyaka-san.
"Eh? Konser? Klien? Itu berarti ... dia ini ...."
"Benar. Dia adalah leader dari grup idol paling terkenal di Jepang, Raibow Cookies. Namanya adalah Koyomi Arisu." Oukami kemudian melengkapi penjelasan dari yang lainnya.
Oukami kemudian melepaskan tangannya dari perempuan itu dan ia pun melipat tangan di dadanya setelah diperkenalkan oleh mereka semua.
"Hmph! Aku tidak percaya ada anak muda yang tidak mengenaliku."
"Tapi dengan begitu, dia melengkapi persyaratan untuk menjadi bodyguard-mu, kan?"
"Kurang lebih. Tapi persyaratanku hanya sampai tidak mengidolakan, aku tidak percaya Aoda mencari Exception yang antah berantah seperti ini. Ngomong-ngomong dari mana asal kalian?"
"Kami dari Kyoto."
"Kyoto? Jadi kalian anak buah Oita, ya? Ya terserah lah, pokoknya yang perlu kalian lakukan hanyalah membuat konser Rainbow Cookies berjalan dengan lancar."
__ADS_1
"Baik ...?"
Setelah berbicara seperti itu, Arisu kemudian masuk ke dalam kantor White Cloud meninggalkan kami semua yang masih dalam keadaan bingung.
"Apa dia benar-benar dari grup Idol nomor satu di Jepang?" tanyaku datar.
"Sepertinya. Tapi aku rasa dia hanya kesal karena ada orang yang tidak mengenalinya, makanya sikapnya jadi seperti itu," jelas Ishikawa-san.
"Semoga saja, sih."
Aku harap tidak ada hal merepotkan yang berasal dari hal sepele seperti tidak mengenalinya. Awalnya aku senang karena dapat misi baru, tapi setelah peristiwa mengejutkan barusan, rasanya aku jadi ingin cepat pulang.
**
Kami pun sampai di kamar hotel masing-masing, ternyata hotel yang kami pakai bukanlah hotel mewah seperti yang aku bayangkan. Hanya satu ruangan dengan tempat tidur bertipe satu orang dan sebuah lemari besar, ada juga beberapa furnitur lainnya yang tidak terlalu wah.
Karena bosan, aku pun mengajak Kudou dan Hira yang baru pulang sekolah untuk berbicara denganku lewat video call. Karena mereka sudah tahu tentang Exception, jadi aku bisa bercerita tentang misiku.
"Tidak mungkin! Kau jadi bodyguard di konser Rainbow Cookies?! Urghh! Aku iri sekali!" ucap Kudou yang terlihat iri.
"Ternyata mereka memang benar-benar terkenal, ya?"
"Tentu saja! Mereka ada di TV, MeTube, majalah, billboard di tengah kota, dan menjadi bintang iklan di produk-produk ternama! Tentu saja mereka sangat terkenal. Bahkan Hira pun tahu, ya kan, Hira?!"
"Ah, iya. Aku sering melihat mereka di TV. Jadi hanya orang purba saja yang tidak tahu soal mereka." Mata Hira melirik ke arahku.
"Maaf ya, aku sudah jarang nonton TV sampai aku tidak tahu tren apa yang sedang terjadi. Lagipula belakangan ini aku sibuk bekerja di Cafe."
"Benar juga! Iraya, jika kau bertemu dengan mereka, aku titip tanda tangan mereka, terutama Arisu-chan. Dia benar-benar oshi sejuta umat!"
"Arisu-chan?"
Aku mengingat lagi yang mana itu Arisu-chan. Dan aku baru sadar, orang yang dimaksud oleh Kudou adalah perempuan yang tidak sengaja kutemui itu.
"Ah, maksudmu yang rambutnya coklat itu?"
"Benar. Apa kau bertemu dengannya langsung?! Kau bertemu langsung, kan?! Iya, kan?!" Kudou mendesakku dengan pertanyaan itu seakan ia mau masuk ke layar HP dan menghampiriku kesini. "Tenang sedikit, oi." Beruntung ada Hira yang mendorongnya kembali masuk ke dalam layarnya sendiri.
"Aku sempat bertemu dengannya, tapi aku tidak janji untuk mendapatkan tanda tangannya."
"Eh? Kenapa?"
"Ya, soal itu ...." Aku melirik ke samping dan sedikit tertawa canggung.
Pandangan pertamanya padaku sudah tidak baik. Aku bahkan ragu kalau dia mau berbicara padaku lagi. "Aku akan coba sebisaku, ya?" Hanya itu yang bisa aku ucapkan pada Kudou saat ini.
"Kau harus mendapatkannya, ya?! Janji, ya?! Janji, kan?!" Kudou mulai mulai masuk ke layar lagi. Tapi Hira kembali mendorongnya ke dalam.
"Kalau begitu, kami matikan dulu video call-nya," ucap Hira.
"Ah, baiklah, aku juga ingin istirahat sebelum nanti pergi ke tempat konsernya untuk latihan."
"Okey—Oh iya, satu lagi."
"Ada apa?"
"Aku tahu kau sibuk dengan semua urusanmu, tapi jangan lupa kalau sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas. Kau tidak ingin kami tinggal lulus duluan, kan?"
"Benar itu! Setelah ini, aku ingin belajar bersama di rumah Hira. Pastikan kau juga belajar, ya?"
"Ya, tentu."
Piip...
Pembicaraan kami pun selesai. Aku meletakkan HP-ku di kasur sampingku begitu saja—terlalu malas untuk menaruhnya di meja. Tapi aku juga tidak bisa menghiraukan ucapan Hira barusan.
"Sebentar lagi aku kelas dua, ya?"
Terlalu banyak yang terjadi selama ini sampai aku baru sadar kalau sebentar lagi aku naik kelas. Setelah misi ini, mungkin aku akan belajar bersama lagi. Dan tentu saja anak itu—Herlin harus aku ajak, dia sepertinya bakal kesulitan kalau belajar sendiri.
Aku pun memejamkan mataku sebentar untuk tidur siang. Tapi kemudian terganggu ketika ada seseorang yang mengetuk pintuku.
Tok... Tok... Tok...
"Hmm? Ada orang?" Aku dengan malas bangun dari tempat tidurku dan membuka pintuku. Dan saat aku melihat orang yang berada di depan pintu, mataku melebar karena tidak menduganya.
"Ka-kau ...."
**
Sementara itu di kamar lainnya—tepatnya kamar Mei-senpai, ia terlihat duduk di pinggir tempat tidurnya sambil melamun.
Sesekali ia mengeluarkan angin sepoi-sepoi dari jari-jarinya yang mengibarkan sedikit rambut dan poninya. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu di dalam kepalanya dan tatapannya kosong.
Tapi setelah itu, ia mengepalkan tangannya dan tatapan kosongnya berubah menjadi tatapan penuh keyakinan. "Yosh." Lalu ia berjalan keluar kamar.
Mei-senpai berjalan ke depan pintu sebuah kamar dan mengetuk pintunya. Setelah menunggu beberapa saat, seseorang keluar dari dalam sana dan ia adalah Nigiyaka-san.
"Kau? Apa ada masalah?"
__ADS_1
"Nigiyaka—tidak, Nimis-san, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Bersambung