
Mencari sesuatu untuk bahan rencana nanti? Apa yang dia maksud adalah monster-monster untuk menyerbu sekolah ya?
"Baiklah. Aku akan menemanimu nanti."
Herlin membalasnya dengan sebuah anggukan dan kami pun masuk ke kelas karena jam pelajaran pertama sudah dimulai. Tidak ada yang spesial selama jam pelajaran berlangsung dan setelah pulang sekolah, kami berdua berjalan bersama menuju ke tempat yang dibicarakan Herlin tadi.
Biasanya setelah pulang sekolah kami pergi ke bukit belakang untuk melakukan latihan. Tapi kali ini, kami masuk lebih dalam dari tempat biasanya dan tujuan kami saat ini adalah mencari sarang monster.
Yap. Kalian tidak salah dengar, yang kami cari adalah sarang monster.
Aku mengikuti Herlin yang sepertinya sudah tahu letak sarang monster itu berada. Ini pertama kalinya aku masuk ke daerah hutan yang lebih dalam lagi.
Hawa dan suasana disini aneh dan membuatku tidak nyaman. Hutan rindang yang lembab dan cahaya matahari yang minim akibat rindangnya daun pepohonan sepertinya membuat hutan ini terasa angker dan menyeramkan.
Aku terus mengikuti Herlin menelusuri hutan lebih dalam lagi. Kalau menurutnya, monster yang akan kulawan adalah tipe yang gesit dan lincah tapi memiliki daya serang yang rendah.
Ujung bibirku terangkat. Tiba-tiba aku jadi merasa bersemangat, saat pembalasan dendam kepada Hasuki-san akan segera tiba. Aku mengepalkan tanganku untuk menyembunyikan kesenanganku.
Nantikanlah, Hasuki-san! Aku akan menunjukkan sisi kerenku kepadamu nanti.
Setelah berjalan cukup lama dan dalam ke dalam hutan, langkah Herlin terhenti tepat di depan sebuah bibir gua. Ia memerhatikan gua dengan stalakmit dan stalaktit di bibir gua itu. Untuk ukuran gua, pintu masuknya tidak begitu besar, hanya berukuran dua kali lipat tinggiku.
"Kita sudah sampai," ucap Herlin.
"Jadi disini? Kalau begitu, apa kita berdua perlu masuk?"
"Tidak. Untuk kali ini biar aku saja yang masuk. Terlebih lagi kau tidak tahu seluk-beluk gua ini. Jadi nantinya hanya akan merepotkanku."
"Ba-Baiklah …."
Ya dia ini juga sudah cukup kuat sih, jadi aku tidak perlu ikut masuk juga sih. Tapi kalau dia sudah kuat begini, aku jadi tidak bisa menepati kata-kataku pada Oita-san, dong.
Aku kemudian teringat dengan kata-kataku sendiri kepada Oita-san.
"Aku ini laki-laki! Aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitinya."
Mengingat hal itu membuatku terlihat seperti orang bodoh. Ekspresi Oita-san juga hanya tersenyum saat itu, seakan menganggap hal itu adalah hal yang lucu. Akhh! Siapapun tolong bunuh aku!
"Tolong pegang ini dulu."
"Ah, Nn … baik."
Ia memberikan tas dan kacamatanya kepadaku agar benda itu tidak mengganggunya di dalam. Ia kemudian melepas ikatan rambut ponytail-nya dan menggoyangkan-goyangkan rambutnya agar tidak kusut.
Aku yang melihatnya melakukan hal itu hanya tertegun. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang barusan ia lakukan adalah 'indah'.
Dan setelah itu, pada akhirnya Herlin benar-benar masuk ke dalam gua yang gelap dan lembab itu sendirian. Aku tidak bisa melihat apa-apa dari luar sini karena terlalu gelap. Tapi dia masuk dengan santainya tanpa penerangan sama sekali.
"Hei, Iraya." tiba-tiba Cecilia berbicara di dalam kepalaku.
"Hn? Ada apa?"
"Apa kau mau tahu bagaimana caranya dia masuk ke dalam gua tanpa penerangan sedikitpun?"
Makhluk satu ini. Kemampuan membaca pikirannya perlu dikendalikan atau itu akan berubah menjadi lebih menyebalkan.
"Apa kau mau tahu?"
"Sudahlah cepat beritahu saja bagaimana caranya!"
"Fokuskan auramu di daerah mata, lalu lihatlah hasilnya."
Ziiing…
Aku mengikuti instruksi dari Cecilia dan memfokuskan auraku ke daerah mata. Tiba-tiba saja aku melihat banyak sekali aura-aura asing yang bertebaran di dalam gua, baik diatas ataupun di dinding gua.
"I-Itu terlalu banyak …!"
Tapi tiba-tiba aura yang ada berada dimataku menghilang dan gua itu kembali menjadi gelap seperti sebelumnya.
"Apa yang terjadi?"
"Fokus! Jika kau tidak fokus aura mu tidak akan bertahan lama."
Tapi sepertinya itu sudah diperlukan lagi karena Herlin sudah keluar dari sana. Ia keluar sambil menyeret sebuah makhluk yang tidak biasa.
Bentuk tubuhnya tidak jauh berbeda dari pria dewasa. Kepalanya botak, warna kulitnya hitam legam, bola matanya sepenuhnya berwarna hijau, dan mempunyai bentuk tangan dan kaki yang aneh dan lebih mirip cakar burung.
"I-Ini yang akan kulawan nanti?"
"Benar. Saat aku masih kecil aku tidak sengaja masuk ke dalam gua karena penasaran dan bertemu dengan makhluk ini. Dia mencoba menyerangku, tapi sayangnya malah mereka yang terbunuh."
"Tunggu dulu …!"
"Ada apa?"
"Saat kecil kau berhasil membunuhnya?!"
"Iya, apa ada masalah?"
Aku sudah tidak mengerti lagi yang mana yang monster dan yang mana yang manusia di depanku saat ini. Orang ini malah lebih monster daripada monster itu sendiri.
"Ngomong-ngomong, dia adalah seekor Beast. Karena dia tidak mempunyai sebutan, aku menamainya 'Lizard'."
"Be-Begitu …."
Ya aku tidak peduli dengan namanya, sih.
__ADS_1
"Sekarang …. Cobalah untuk melawannya."
Swuush…
Saat Herlin melepas genggamannya dari makhluk itu, makhluk itu dengan cepat langsung melesat kearahku. Meski begitu aku masih bisa menghindarinya walaupun dengan susah payah.
Aku terkejut dengan gerakannya yang sangat cepat. Untung saja aku memiliki refleks yang bagus. Aku berbalik badan untuk melihatnya, dia sekarang sedang menempel di batang pohon. Makhluk itu mencengkeram batang pohon dengan kuat dan bahkan hampir merusaknya.
Swuushh… Swuushh…
Makhluk itu kembali melesat kearahku dan mencoba mencakarku dengan kuku-kuku dari cakarnya yang tajam. Tapi lagi-lagi masih bisa aku hindari. Kecepatannya memang melebihi kecepatan manusia biasa, tapi refleks ku lebih cepat darinya.
"Sepertinya kau bisa melawannya dengan baik …."
Aku tidak terlalu mendengar pujian dari Herlin karena masih fokus untuk melawannya. Dan kemudian dia berbicara saat aku menghiraukannya.
"Kalau begitu …."
Swuush… Swuushh…
"…?!!"
Dua 'Lizard' kembali muncul dan melesat kearahku dari dalam gua yang gelap. Aku tidak bisa menghindari serangan dadakan dari kedua 'Lizard' itu dan menahannya dengan kedua tanganku kusilangkan ke depan, membiarkan mereka mencengkeram kedua lenganku.
Sial. Cengkeramannya kuat sekali. Aku kemudian melemparkan mereka berdua kearah 'Lizard' yang sudah kulawan sebelumnya dan akhirnya menabrak mereka.
Braakkhh…
Aku melihat bekas cengkeraman mereka yang merobek lengan baju seragamku. Aku pun mendesah pelan karena sudah pasti aku akan dimarahi oleh ibuku. Aku harus mencari alasan yang bagus untuk hal ini.
Kesampingkan hal itu terlebih dahulu.
Sekarang aku berhadapan bukan dengan satu melainkan tiga Lizard. Serangan mereka memang tidak terlalu besar, tapi kecepatannya itu yang membuatnya menjadi masalah. Tapi aku tahu cara mengatasinya.
Aku pun tersenyum cukup lebar dan menatap para 'Lizard' itu dengan tatapan menantang. Aku meningkatkan fokus ku dan mengalirkan aura ke seluruh tubuhku—tapi aku memusatkan lebih banyak di area mata dan kaki.
Herlin yang melihatku tersenyum dan mulai bersemangat melawan mereka tiba-tiba bergumam pelan.
"Aku tidak mengerti."
"Sekarang, majulah kalian!"
Sryiiing…
Dua 'Lizard' menyerangku dari depan secara bersamaan, sementara yang satu lagi masih diam di tempat. Aku yang sudah bersiap-siap untuk menyerang tiba-tiba terkejut karena dua 'Lizard' itu malah berbelok. Dengan gerakannya yang cepat, ia melesat dari satu batang pohon ke batang pohon yang lain berusaha untuk mengecohku.
"Percuma saja," gumamku.
Dengan aura di mataku, aku jadi bisa melihat dunia lebih lambat daripada aslinya. Ini membuat semua gerakan mereka untuk mengecohku menjadi percuma. Mereka mulai menyerangku, tapi gerakan mereka terlalu sederhana.
Braakkhh… Daaakk…
Satu 'Lizard' yang tersisa itu tidak bergerak untuk beberapa saat. Aku mencoba menghampirinya tapi saat aku mendekat, 'Lizard' itu bergerak dengan cepat dan kembali ke dalam gua.
"Eh …? Dia kabur?"
"Itu sudah sewajarnya. Instingnya mengatakan kalau dia tidak bisa menang melawanmu, jadi dia memilih untuk kabur."
"Begitu ya. Jadi bagaimana pendapatmu soal pertarunganku tadi?"
"Hmm …."
Herlin terdiam sebentar dan berpikir. Ia mencoba menganalisis pertarunganku dan menemukan kelebihan dan kekurangan yang aku miliki untuk diperbaiki ke depannya.
"Gerakanmu masih belum efisien tapi sudah membaik. Tentu saja melawan mereka satu persatu adalah hal mudah bagimu. Jadi …."
"Jadi?"
"… Aku harus mengirim berapa ekor untuk melakukan penyerangan ke sekolah?"
"Kalau begitu bawa sepuluh ekor! Aku yakin aku bisa mengatasi jika hanya sepuluh dari mereka."
"Tidak, kalau sepuluh sih—!"
Tiba-tiba Herlin terkejut dan seperti menemukan sesuatu yang membuatnya berpikir ulang. Dan setelah berpikir, ia kemudian membuat keputusannya.
"Aku rasa aku bisa membawa sepuluh dari mereka. Untuk jaga-jaga."
"Jaga-jaga? Ya … meskipun aku tidak terlalu mengerti detailnya, tapi kuharap balas dendamku ini berjalan lancar!"
"Kau …, apa kau benar-benar membenci Hasuki Chifu itu? Ya wajar saja sih kau membencinya, hidupmu hancur karenanya dan—"
"Aku tidak membencinya, kok."
"Eh?"
"Aku tidak membencinya. Aku hanya kasihan kepadanya karena ia tinggal di tempat yang enak dan selalu diberikan apapun keinginannya, jadi ia tumbuh menjadi anak yang manja. Aku ingin mengajarinya kalau dunia ini bisa menjadi keras, bahkan untuk dirinya."
Herlin terdiam sebentar memperhatikan ku cukup lama dengan wajah heran. Lalu ia kembali berbicara kepadaku.
"Aku tidak mengerti …."
"Ada apa?"
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau lakukan saat ini. Meskipun aku bilang kalau aku akan membantumu, tapi aku masih tidak mengerti. Kau melakukan hal sejauh ini kepada orang yang sudah menghancurkan hidupmu hanya demi memberinya sebuah pelajaran. Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu."
Aku tersenyum dengan rasa bingung yang Herlin alami saat ini. Sejujurnya aku juga tidak mengerti kenapa aku ingin berbuat sejauh ini untuknya. Tapi jika aku harus menjawabnya. Mungkin … ini hanya untuk kepuasan diriku saja.
__ADS_1
"Aku rasa hanya satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan tindakanku saat ini."
"Apa itu?"
"'Bodoh.' ya, kan?"
Swuuushh…
Angin lembut berhembus dan mengibarkan sedikit rambut panjang Herlin. Angin itu berhembus bercampur dengan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan di dalam hatinya saat ini.
"Benar, itu sangat bodoh."
"Aku tahu, aku tahu! Kau tidak perlu mengulanginya!"
"… Tapi sangat tulus di lain sisi. Kau memang benar-benar menarik, Iraya."
Kata-kata yang ia berikan tadi membuat wajahku memerah seperti tersetrum oleh sesuatu. Aku pun mencoba mengalihkan pembicaraan ini ke topik yang lain.
"Be-Benar juga! Se-Sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau kau kutraktir sesuatu?"
"Hmm …. Kalau begitu, aku ingin kopi."
Kami pun akhirnya keluar dari hutan itu. Tapi aku sempat memikirkan ucapan Herlin barusan. Jika aku menarik, maka kau itu adalah magnet. Dengan kecantikan yang tidak perlu dijelaskan lagi, kau itu sudah menjadi daya tarik untuk semua orang.
Dan kekuranganmu hanya satu. Selama bersamaku, kau tidak pernah tersenyum. Dan aku berjanji kalau aku akan membuatnya memperlihatkan senyumannya kepadaku. Itu adalah janjiku sebagai seorang pria!
**
Kami pergi ke sebuah taman untuk mencari sebuah Vending Machine yang menjual minuman kalengan. Setelah menemukannya, kami membeli dua kopi kalengan lalu duduk di kursi taman.
Kami menghabiskan minuman kami sambil melihat matahari yang sebentar lagi terbenam. Untuk memecah keheningan ini, aku kemudian memulai pembicaraan.
"Sebentar lagi, ya? Entah kenapa aku merasa gugup."
"Apa ini pertama kalinya kau menyelamatkan seseorang?" tanya Herlin.
Pertanyaannya membuatku mengingat kembali semua kejadian yg telah terjadi sebelumnya. Semuanya bermula dari aku yang menyelamatkan Cecilia. Lalu kemudian saat di Game Club aku diserang makhluk kecil yang membuat semua orang tak sadarkan diri. Dan setelah itu, semuanya menjadi merepotkan sampai sekarang.
"Tentu saja ini bukan pertama kalinya aku menyelamatkan orang."
"Kalau begitu sudah tidak ada yg perlu ditakutkan lagi. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja."
"Kau benar. Lagipula ada kau yang akan membereskan semuanya jika hal diluar dugaan terjadi."
"Nn."
**
*23.50*
Kami berdua sudah pulang ke rumah masing-masing. Aku sudah berada diatas tempat tidurku dan bersiap-siap untuk tidur. Tapi saat ini aku masih belum bisa tidur.
"Apa yang akan kulakukan supaya bisa tidur, ya?"
Apa aku terlalu semangat mengingat hal yang akan terjadi besok? Arghh! Memikirkannya terus membuatku menjadi semakin tidak bisa tidur.
Aku mencoba menutup wajahku dengan bantal tapi tidak bisa. Merubah posisi juga tidak berhasil. Apa yang harus kulakukan, ya? Aku kemudian melihat ponsel yang ada di meja samping tempat tidurku lalu mengambilnya.
Aku lalu membuka aplikasi LINE dan mencoba untuk mengirim pesan kepada Herlin. Aku sudah mengetik 'Herlin, apa kau sudah tidur?' dan tinggal memencet tombol kirim. Tapi entah kenapa rasanya tanganku kaku dan tidak bisa digerakkan. Aku kemudian melempar ponselku ke kasur karena tidak sanggup untuk mengirimnya.
"Aku hanya akan mengganggunya."
Kemudian aku kembali berusaha untuk tidur dan setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa tidur.
**
*Kamar Herlin*
Sementara itu, Herlin sedang berbaring telentang di tempat tidurnya tapi belum bisa tidur. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa aku mau membantunya?" gumamnya.
Tiba-tiba dia teringat ucapan seseorang saat ia masih kecil.
"Herlinia, apa kau mempunyai impian?"
"Um! Aku ingin menjadi kuat untuk melindungi ayah dan aku ingin menjadi seorang guru!" ucapnya dengan nada yang ceria dan senyum yang manis.
"Untuk mencapai impianmu, kau membutuhkan bantuan orang lain. Jadi, jangan ragu membantu seseorang jika dia membutuhkannya."
Laki-laki dewasa yang terlintas dalam pikiran Herlin. Sepertinya itu yang membuatnya berpikir untuk membantu Iraya. Ia kemudian menghadap ke kanan dan menutup matanya. Sebelum tidur, ia sempat menggumamkan sesuatu.
"Konyol, itu pasti sebuah kutukan untukku."
**
Pagi hari yang cerah dan tenang di panti asuhan, sementara Herlin sudah memakai seragamnya dan bersiap untuk sekolah. Ia kemudian menengok ke belakang dan berbicara ke Yuuki-san yang menunggunya di depan pintu.
"Aku pergi dulu, Yuuki-san."
"Selamat jalan."
Sementara Iraya juga baru saja keluar dari rumahnya untuk berangkat menuju sekolah.
"Hari ini, ya? Hehe …. Hadapi saja lah!"
Hari ini, rencana balas dendam milik Iraya akan dijalankan. Dan mereka menunggu waktu yang tepat untuk membuat Hasuki-san menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Bersambung