Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Panggil Aku dengan Sebutan Sayang


__ADS_3

****


Reynand merenung didalam mobilnya yang terhenti dipinggir jalan sepi dibawah pohon mangga. Dia bukannya tidak punya tempat yang dituju. Dia punya apartemen, bukan berarti dia juga tidak ingin melarikan diri kesana. Tapi, sekarang dia hanya butuh waktu untuk berpikir sejenak.


Bukannya dia tidak sadar kalau telah menyakiti hati orang lain. Akan tetapi, hanya saja dia tidak menyangka akan seperti ini.


Nayla terbawa perasaan soal Maminya. Dan, dia juga tahu kalau gadis itu sangat sensitif.


Soal Mami yang selalu datang setiap kali ada pemberitaan tentang dirinya dan Airin.


Mungkin Reynand memang mengabaikan soal pemberitaan itu karena menurutnya tidak terlalu penting. Ia juga tidak perduli tentang penilaian orang terhadap dirinya. Maksudnya, selama ia tidak melakukan apa yang orang-orang tuduhkan, dia tidak ingin memusingkannya.


Tapi kembali lagi, Nayla memikirkan perasaan Maminya sampai sesedih itu dan itu benar-benar membuatnya merasa bersalah.


Dia jadi berpikir, tentang menerima permintaan kakek secepatnya.


Reynand menjenggut rambutnya keatas. Dia benar-benar pusing. Hari ini banyak hal yang membuat emosinya terkuras.


Ragu-ragu dia berpikir untuk pulang sekarang. Tadi dia meninggalkan Nayla saat gadis itu tengah menangis dikamar mandi.


Reynand hanya berpikir Nayla pasti butuh waktu sendiri untuk melepaskan seluruh apa yang ia rasa.


Sadar meninggalkan ponselnya dirumah. Lalu dia lirik jam dimobilnya, sudah hampir tengah malam.


Berpikir sejenak lalu ia menghidupkan mesin mobil dan bergegas untuk pulang.


~


Beberapa saat kemudian dia sudah sampai dirumah. Memasuki kamar ia lihat lampu kamar masih menyala. Pandangan Reynand langsung tertuju pada sosok yang sedang tertidur itu. Lagi-lagi perasaan bersalah itu kembali timbul.


Perlahan melangkah, namun tiba-tiba ia melihat piring bekas makan diatas meja rias. Makanan untuk Nayla yang ia suruh Mbok Yana untuk memberikannya.


Mengintip dibalik penutup makanan itu, tersisa banyak. Nayla tidak menghabiskan makan malamnya.


Menghampiri sosok yang sedang tertidur itu diatas ranjang, kemudian Reynand ikut berbaring disampingnya.


Ia tarik pelan tubuh itu kedalam dekapannya. Menjadikan satu lengannya sebagai bantalan.


Ia kecup keningnya pelan lalu memandang wajah itu sebentar, lalu mengulanginya lagi. Mencium kedua sisi pipinya, hidung dan juga mengecup bibirnya lama.


Mata itu masih terpejam, namun Reynand dapat merasakan kalau tiba-tiba kedua tangan gadis itu menarik tengkuknya. Membuat pelukan mereka semakin erat.


"Tadi kemana?" Suara gadis hampir tidak terdengar, mungkin karena ia membenamkan wajah dileher Reynand.


"Pergi sebentar..." tiba-tiba jantung Reynand berdegup kencang. Apalagi saat is merasa salah satu kaki mulus Nayla terangkat untuk menarik dan mengapit tubuhnya.


Lalu disaat kerongkongannya mulai mengering Reynand berusaha berucap. "Sayang...."


"Em...." Lagi-lagi Nayla menyahut pelan, bahkan mungkin ia tidar sadar kalau kulit wajahnya yang bersentuhan dengan leher itu telah mengusik ketenangan Reynand.


Berdecap, Nayla malah menciumi lehernya.

__ADS_1


Astaga! Huh, Reynand dapat merasakan aliran darahnya semakin cepat dan tubuhnya tiba-tiba memanas.


"Nay, kamu jangan gini. Nanti aku...."


Astaga, gadis itu kini malah menyusupkan tangan dibajunya.


"Sayang...."


Bukannya berhenti Nayla malah semakin mengelus-elus tubuhnya, hingga jari-jari lentik itu terasa menggelitik.


Reynand benar-benar sudah tidak tahan. Dengan cepat ia membalik tubuh itu hingga berada dibawahnya.


Lalu ia memegangi kedua sidi pergelang itu kuat. Nafasnya sudah tidak teratur lagi namun ia masih berusaha berbicara.


Reynand memandang sosok wajah tanpa rasa bersalah itu. Tanpa rasa bersalah karena telah mengusik ketenangannya. "Kamu, sengaja ya." Ucapnya ngos-ngosan.


Cih, Nayla memalingkan wajah. Tadi, yang tidak sabaran itu siapa sih, sebenarnya.


Reynand juga memalingkan wajah, ia sadar Nayla sedang mencibirnya. "Aku tau tadi aku yang minta kamu untuk ini. Tapi, suasana hati kamu lagi nggak bagus. Dan...." Ucapannya terhenti saat ia mendapat pandangan sendu dari telaga bening itu.


"Nayla...." Reynand menunduk sejenak. "Aku, minta maaf." Ucapnya tulus.


Memberikan sedikit senyuman lalu gadis itu mencoba melepas genggaman Reynand yang melonggar pada pergelangannya, kemudian kembali menarik tengkuk laki-laki itu untuk mempertemukan bibir mereka.


Reynand yang awalnya kaget karena perlakuan tidak terduga ini perlahan mulai membalasnya, ia menyusupkan lidahnya dalam-dalam. Menerima itu dengan mesra, mencicipi rasanya. Saling memilin, beradu dengan lihai didalam sana.


Kehabisan nafas mereka menghentikannya sejenak lalu mengulangnya lagi. Keduanya melakukan dengan menggebu-gebu dan memburu melepaskan rasa yang tertahan sedari tadi. Berguling-guling mereka berganti posisi.


Tangan Reynand mulai kesana kemari, mengelus dan meraba-raba. Dikulit belakang istrinya. Menemukan apa yang ia cari, lantas ia melepas kain yang menjadi penghalang itu.


Tangan Nayla pun terangkat, saat Reynand mencoba melepas pelindung atas tubuhnya tanpa sisa.


Gundukan itu memuncak indah. Naik turun seiring dengan deru nafas yang keluar dari pernafasannya.


Reynand meneguk cairan di kerongkongannya. Ia tatap wajah yang berada dibawah kungkunganya itu. Pandangan mereka kembali beradu.


Perlahan ia kembali menurunkan wajahnya. Kembali memagut gadis itu dengan mesra. Tak urung Nayla juga mengalungkan tangannya. Kakinya pun kembali mencapit tubuh yang berada diatasnya itu.


Nayla dapat merasakan tangan panas Reynand mulai menangkup puncak dadanya. Mengelus dan mengusap-usap perlahan. Bermain disana hingga pijatan itu semakin terasa.


Ia menggeram, berkeringat dan tersengal.


Satu-persatu busana itu terlepas dari tubuh mereka.


Aliran darah mengalir semakin cepat dan tubuh mereka pun semakin memanas.


Memposisikan tubuh mereka senyaman mungkin, maka Reynand pun memulainya perlahan serta seiring dan berirama. Dia tidak ingin terburu-buru. Ingatan ketakutan Nayla malam itu masih terbayang-bayang dibenaknya. Bahkan malam itu, ia pun sempat ragu untuk melanjutkan kegiatan mereka atau tidak.


Ia tatap wajah istrinya, melihat setiap peluhnya yang bercucuran.


Berkali-kali ia menyakan apakah Nayla merasa nyaman atau tidak dengan penyantuan mereka ini, hanya karena dia tidak ingin gadis itu merasa tersakiti.

__ADS_1


Pandangan mata yang berkabut itu seperti memberikan jawaban untuknya. Mereka sama, sama-sama menikmati ini.


Reynand membiarkan Nayla mencengkram bahunya kuat saat gadis itu hampir meledakan.


Hingga setelah sangat lama mereka berdua memburu dan menyatu. Ledakan itu pun sampai secara bersamaan.


Mereka berdua terengah. Mencoba mengatur nafas beberapa saat Reynand kemudian berguling disamping istrinya. Memeluk tubuh yang kelelahan itu dengan erat. Ia pun mulai mengecup puncak kepalanya dengan pelan.


Ditengah deru nafas yang belum teratur itu Reynand mencoba berucap.


"Sayang...."


"Em...." Nayla membalas pelukan itu erat.


"Panggil aku dengan sebutan sayang...."


Gadis itu menengadah. Lalu ia tersipu menatap sosok itu. "Sayang...." Lirihnya pelan.


Reynand membalas senyum malu-malu itu. "I love you...."


"I love you too...."


*


*


*


*


Selamat menikmati and happy reading.


Like, vote dan komennya dong. Biar cerita ini nggak sepi sunyi dan menyendiri.


Aku ada tips dan cara untuk menyenangkan author :


1.Like


2.Vote



Komen (komen menyemangati, membangun dan tidak membuat sakit hati).



Ingat itu hanya saran, tidak ada kata paksaan, kok.


Author senang up pun lancar😘


Jangan diambil hati, aku yakin kalau pembaca setia pasti paham, iya kan.😜

__ADS_1


Dah itu aja, oke! πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


__ADS_2