
****
Malam itu disela-sela Nayla mengerjakan tugas sekolahnya. Tiba-tiba Ia merasakan perutnya berbunyi. Ia baru ingat sedari tadi pagi hanya sedikit makanan yang masuk kedalam perutnya. Ia ingin sekali kedapur. Namun masih belum memiliki keberanian ditempat barunya itu. Untuk melakukan banyak hal saja entah kenapa Ia masih malu dan kikuk. Kalau ini rumahnya mungkin Ia bisa bebas melakukan apa saja, bahkan mengambil makanan didapur.
Akhirnya gadis itu lebih memilih untuk menahan rasa lapar. Beberapa kali kepalanya terasa pusing. Tangannya yang memegang pena sudah sedikit gemetar. keringat dingin mengalir dari tubuhnya. Tentu saja keadaan ini benar-benar membuat Ia tersiksa.
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari luar kamar. Nayla beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
Cklek!
“Iya.” Menjawab dengan suara gemetarnya.
Terlihat Reynand berdiri didepan pintu. Ia dapat melihat wajah Nayla yang mulai memucat.
“Gadis ini.”
Reynand mulai panik melihat wajah sayu Nayla. Ia merasa bersalah saat itu.
“Lo laper? Mau makan apa? Biar gue pesenin online." Reynand memegang ponsel ditangannya.
“Em….” Nayla terlihat ragu, padahal tubuhnya sudah mulai melemah.
“Nggak apa-apa santai aja. Kakek bilang mulai sekarang lo itu jadi tanggung jawab gue. Jadi lo nggak usah sungkan.” Reynand menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, entah mengapa Ia merasa sedikit geli dengan ucapannya barusan. Tidak menyangka bahwa sekarang gadis didepannya itu adalah tanggung jawabnya.
Ngomong apaan sih Gue. Tanggung jawab?
“Terserah abang. Aku nurut aja.”
“Nasi goreng mau?” Reynand merasa itu adalah makanan yang paling praktis saat ini.
Nayla menganggukkan kepalanya pelan. Nasi goreng atau apa pun yang jelas ia merasa sangat lapar saat ini.
Beberapa saat kemudian, hanya kesunyian yang terasa dimeja makan saat itu. Belum ada yang membuka pembicaran. Hanya beberapa kali terdengar dentingan suara sendok yang beradu pelan dengan piring.
“Em sori ya, elo cuma gue kasih nasi goreng.” Reynand membuka percakapan.
"Iya gak apa-apa."Nayla tersenyum menanggapi.
“Lo bisa masak?”
“Bisa.” Sahut Nayla cepat.
“Lo bisa pakai dapur sesuka lo kalau mau masak. Tapi dikulkas cuma ada makanan instan.”
“Makanan instan?” gadis itu mulai berani mengikuti arah pembicaraan Reynand.
“Iya.”
“Emang abang nggak ada yang masakin?” Nayla bertanya ragu-ragu.
“Nggak ada. Gue disini kan tinggal sendiri.”
“Maksudnya abang nggak bisa masak.” Nayla mengulangi pertanyaan yang Ia anggap salah.
“Nggak.”
“Kalau abang mau. Aku bisa kok masak setiap hari.”
Seketika Reynand menatap Nayla dengan sorot mata dalam.
Melihat Reynand menatapnya seperti itu Nayla langsung terdiam. Membuat jantungnya berdebar saja.
Reynand tersenyum melihat reaksi salah tingkah Nayla. “Emang, elo bisa masak?” tanyanya kemudian.
Nayla menganggukkan kepalanya. Entah kenapa Ia tidak ingin terlalu banyak bicara lagi.
“Tapi dikulkas nggak ada bahan-bahan buat masak. eo bisa belanja?”
Nayla mengangguk lagi.
Reynand tersenyum. Ia pikir gadis itu sama seperti anak SMA pada umumnya. Gadis polos yang tidak tau apa-apa atau anak muda yang hanya mengikuti arus zaman. Sibuk bermain gadget dengan berbagai aplikasi menarik yang dapat membuat Ia mengeksplor dirinya setiap waktu. Ia jadi penasaran, apa benar gadis dihadapannya ini belum pernah berpacaran sekali pun.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, dengan terburu-buru Nayla yang baru saja selesai mandi bergegas memakai seragamnnya. Sial, Sepuluh menit lagi dia akan terlambat kalau belum sampai kesekolah.
Duh naik apa ya.
Nayla mencoba berpikir sambil memakai sepatunya.
Sejenak Ia berpikir apakah Reynand mau mengantarnya kesekolah. Nayla menggelengkan kepalanya. Nggak mungkin itu hal yang mustahil. Jangan untuk mengantar, meminta tolong hal-hal kecil saja Ia merasa tidak enak.
Masih berpikir, sekarang Ia mengingkat tali sepatunya.
Gojek, Iya gojek. Naik gojek aja.
Kendaraan yang Ia pikir pas saat Ia mulai terlambat.
Sementara itu Reynand yang baru bangun dari tidurnya mengintip dari kaca jendela. Dari ketinggian Ia dapat melihat Nayla yang pergi sekolah dengan menggunakan gojek.
Duh sumpah gue bingung harus gimana.
****
Saat itu disekolah. Disela-sela jam istirahat, Nayla tengah duduk bersantai dibangkunya. Beberapa kali Ia menahan rasa kantuk. Rupanya Ia terlalu meporsir dirinya untuk belajar tadi malam.
“Ih ya ampun semalam gue mimpiin Reynand.” Tia mulai bercerita dengan semangat.
“Lo pasti sebelum tidur ngehalu lagi ya.” Suci mendorong bahu Tia pelan.
“Aduh, gimana dong abisnya dia cakep banget sih.” Timpal Tia.
“Nay. Lo dari tadi kok diam aja.” Suci yang duduk dibelakang Nayla mendekatkan kepalanya, mencoba menatap wajah sahabatnya itu. Terlihat Nayla menyenderkan kepalanya diatas meja berbantalkan kedua tangannya.
“Bukannya tiap hari gue emang gini ya.” Nayla menyahuti dari bangku depan, dengan suara pelan. Biasa seorang Nayla lebih suka bergriliya didalam pikirannya sendiri.
“Yeee-" Suci mecebik "Tapi hari ini lo tu beda banget. Suraaaaaaam aja mukanya.”
Nayla tiadak ingin lagi menjawab. Entah kenapa Ia merasa benar-benar ngantuk saat itu, semalam dia kembali kurang tidur.
“Eh ci, minggu depan katanya Reynand ada meet and greet lo. Dateng yuk.” Tia mulai bersemangat lagi. Gadis itu benar-benar orang yang heboh.
“Oh Iya.” Suci yang sedang melihat dirinya di cermin bedak menyahuti tidak kalah antusias.
“Dateng yuk.” Tia mengajak penuh harap.
“Oke, oke, gue mau.” Ujar Suci semangat.
“Nay, elo mau ikut nggak?” Suci memendang kursi Nayla pelan dari belakang. Terlihat wajah Suci sudah terang benderang karena tak henti-hentinya menyapukan bedak diwajahnya yang memang sudah putih.
Nayla menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mau ikut. Memilih menolak ajakan Suci.
Dirumah juga bisa lihat tiap hari.
“Woi, Nay.” Suci kembali menendang kursi Nayla dari belakang. Sehingga membuat tubuh gadis itu sedikit terayun.
Nayla menggelengkan kepalanya lagi. Buat apa ikut meet and greet kalau sekarang Ia bisa lebih sering melihat laki-laki pujaan kedua temannya itu diapartemen.
Pujaan kedua temannya? Laki-laki itu malahan adalah suaminya sekarang.
Sepulang sekolah. Nayla dan kedua sahabatnya berpisah. Tia dan Suci sudah terlebih dahulu naik gocar. Kedua gadis itu tinggal berdekatan. Sementara Nayla mereka tinggalkan berduaan dengan Riko.
“Pepet terus Rik. Jangan kasih kendor.” Tia berucap sangat heboh sebelum masuk kedalam gocar.
Riko yang mendengar semangat dari Tia menanggapi dengan wajah datar.
Sampai akhirnya kedua sahabat Nayla itu menutup pintu mobil.
“Rik lo harus berusaha keras. Tuh anak orangnya nggak pekaan.” Teriakan suci sangat kencang dari dalam gocar yang mulai melaju.
“Apaan sih temen-temen lo. Gajelas banget.”
Nayla tersenyum, Ia mengangkat kedua alis dan bahunya bodo amat.
“Rik, kayak biasa. Temenin gue belanja ya.”
Riko mengangguk.
“Apa sih yang enggak buat Lo. Bahkan dunia ini pun akan gue kasih ke lo Nay.”
__ADS_1
“Lebay lo.” Nayla menepuk bahu Riko sebelum Ia memegangnya hendak naik keatas motor. Sementara laki-laki itu menanggapi dengan senyuman.
Suasana mall sangat berbeda dengan diluar. Dingin, membuat mereka yang tadinya kepanasan diatas motor kini merasa sejuk.
Sementara Nayla membaca daftar belanjaannya, dari belakang Riko mendorong keranjang trolly.
“Nay mau masuk kedalam sini nggak.” Riko mengarahkan matanya kekeranjang.
Nayla menoleh kebelakang.
“Apaan. Ogah.”
“Ayo Nay, biar gue dorong.”
“Nggak!”
“Sini gue gendong, kalau lo males gerak.”
“Apaan sih Rik. Males banget tau.”
Riko memsang wajah sok cemberut.
Nayla tidak perduli. Ia mengabaikan Riko. Kemudian kembali membaca daftar belanjaannya.
“Cabe udah, bawang udah, tomat, telor… apa lagi ya.” Nayla terus bergumam sembari mengingat-ngiat.
“Nay Lo cocok deh jadi calon Ibu dan Istri yang baik.”
“Emang.” Menjawab dengan pd-nya.
“Gue serius Nay. Lo mandiri, bisa masak, nggak malu buat ngerjain hal-hal kayak gini.”
“Terus….” Nayla menoleh kebelakang.
Riko tidak menjawab, Ia malah terdiam sekarang menatap kedua mata Nayla yang membulat kearahnya.
“Terus gimana kalau kita….” Perkataan Riko terhenti saat Nayla kembali menghadap kedepan dan tidak sengaja menabrak seorang bapak-bapak.
“Aduh maaf, maaf, nggak sengaja.” Nayla menunduk-nundukkan kepalanya beberapa kali.
Bapak-bapak tersebut tidak menjawab, namun wajahnya terlihat masam.
“Gara-gara lo sih. Udah yuk bayar.” Nayla menuding Riko.
Riko tidak menjawab. Ia menanggapi Nayla tersenyum. Namun Ia menahan kesal pada dirinya sendiri. Tadi, padahal tadi hampir saja Ia mengutarakan perasaannya pada Nayla disaat keberaniannya tiba-tiba datang. Huh, sampai kapan lagi dia harus menahan perasaan begini?
****
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada luar mall.
“Rik mulai besok nggak usah antar atau jemput gue pulang lagi ya.” Nayla mendudukkan tubuhnya.
Riko yang kaget dengan ucapan Nayla, ikut mendudukkan dirinya disamping gadis itu.
“Kenapa. Gue ada buat salah sama lo?”
“Nggak gitu. gue nggak bisa jelasin sekarang.”
“Kenapa Nay? Apa alasannya?” Riko yang memang menaruh hati pada Nayla, saat itu cukup kecewa.
Belum sempat Nayla menjawab, tak lama sebuah mobil hitam berhenti didepan mereka.
“Gocar gue udah nyampe. Gue pulang dulu ya.” Nayla beringsut sambil membawa barang belanjaannya.
“Nay. Kenapa? Lo belum jawab pertanyaan gue.” Riko masih belum puas. Ia belum mendapatkan jawaban. Namun Ia masih membantu Nayla membawakan belanjaannya kedalam mobil.
Nayla benar-benar tidak menjawab. Sampai gocar yang Ia pesan meninggalkan Riko yang masih penasaran.
Maaf Rik. Gue cuma nggak pengen ada yang tau, kalau gue sekarang udah nikah.
•
•
•
__ADS_1
•