
****
Hari itu di kantin kampus seperti biasa, Nayla yang tengah nongkrong bersama kedua sahabatnya. Tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seketika Bianka dihadapan mereka.Perempuan berambut ikal tersebut berjalan mendekat dengan ekspresi tak terbaca.
Nayka memperhatikan, sembari bersidekap tubuh tinggi semampai gadis itu kemudian dengan santainya menarik kursi kosong dan duduk tepat dihadapannya.
"Ngapain lo disini?" Ujar Tia yang kala itu duduk tepat disampung Nayla. "Mau bikin ulah lagi, gak kapok lo kemarin udah diserang sama bumil."
Bianka tidak menggubris itu, nampaknya dia sengaja mengacuhkan Tia dan lebih tertarik untuk bersitatap dengan Nayla.
Nayla yang merasakan keanehan sikap dari wanita yang tiba-tiba bersikap tidak dimengerti itu pun sejenak menghentikan kegiatan makannya.
"Sehat banget ya makanan lo, emang bumil makanannya harus yang sehat-sehat terus ya." ujar wanita yang sedang bersidekap tersebut tanpa basa-basi sembari menatap lauk-lauk beserta sayuran dikotak bekal Nayla.
"Em...." Sahut Nayla singkat, tanpa ingin banyak menyahuti Bianka.
Suasana dimeja tersebut kemudian hening, hanya terdengar suara-suara bising orang-orang dari sekitarnya. Dua orang dikedua sisi Nayla masih menatap bingung apa keperluan Bianka sebenarnya menghampiri mereka, sementara Nayla hanya mengalihkan pandangan karena malas beradu mata dengan sosok yang pernah membuatnya naik darah tersebut.
Akhirnya karena merasa bingung oleh sikal Bianka yang tidak juga menyampaikan apa tujuannya. Nayla akhirnya benar-benar meletakkan sendok yang ada ditangannya kembali kedalam kotak makanan. Ia kemudian menghela nafas jengah memandang Bianka yang terus-terusan melirik tidak tahu apa tujuan jelas sebenarnya.
"Mau apa sih sebenarnya?" Tanya Nayla.
Mendapat pertanyaan tersebut Biankan pun langsung menegakkan tubuh dan membenarkan duduknya merasa akhirnya mendapat respon. "Pulang kuliah nanti, lo ada waktu? Gue mau ngajak lo ke suatu tempat."
Nayla menatap Bianka dengan sorot mata menerka. Beberapa hari yang lalu dia pernah melihat Bianka bersama 'dia'. Apa ajakan ini ada tujuannya dengan itu.
"Buat apa?" tanya Nayla sembari menerka. "Mau ngajak kemana?"
"Gue gak yakin ngasih elo tentang tau ini sekarang, yang jelas ini penting buat lo ketahui"
"Kayaknya gue gak bisa, gue takut lo ngejebak gue." sahut Nayla seadanya.
Bianka seketika mendesis kesal. "Apa?!"
"Gue lagi hamil, jadi harus hati-hati sama orang asing." sahutnya lagi.
Bianka yang mendengar perkataan tersebut langsung naik darah. "Jangan asal curiga deh." suaranya seketika menjadi pelan kemudian. "Gue juga sebenarnya malas minta ini sama lo, tapi karena demi seseorang, jadi gue terpaksa ngelakuin ini!" ujar Bianka frustasi.
"Siapa orang yang lo maksud? Gue kenal?" ujar Nayla sinis. "Maaf ya kalau 'dia' yang lo maksud artinya dalam tanda kutip, perempuan ular itu, gue gak mau." tegasnya.
"Perempuan ular?" Bianka mengernyit.
"Hmm...." Nayla mengiyakan pelan.
Bianka bedecak."Susah juga ya bikin lo percaya sama gue." sahut Bianka mendengus.
"Gimana Nayla mau percaya, kemarin-kemarin lo ngebully Nay kan secara verbal, mana dia lagi hamil lagi. Untung aja mentalnya si Nay kuat." Sambar Tia dengan emosi. Sungguh melihat Bianka sesantai ini duduk dihadapan mereka rasanya Tia ingin menyembur wanita ini dengan air.
__ADS_1
"Duh gak usah ikut campur deh, gue cuma ada urusan sama temen lo." Bianka menimpali Tia.
"Ya jelas dong gue ikut campur. Nayla kan sahabat gue...." Tia menambahkan.
Nayla menyentuh bahu Tia pelan. "Udah ah yak, gak usah diladenin."
"Duh, ribet ya kalau punya teman lebay." Bianka beranjak. "Udah ah, gue cabut dulu." Ia lalu beranjak dari duduknya. "Nanti gue temuin lo lagi." Ujarnya pada Nayla. Dan, Bianka pun langsung melenggang pergi.
"Ih dasar biang kerok, nyebelin banget tuh anak." celetuk Tia.
Setelah kepergian Bianka Nayla terdiam. Ada banyak pertanyaan dikepalanya saat ini. Jadi perasaanya saat ini mengatakan kalau Bianka memang ingin mengajaknya menemui perempuan yang ia lihat waktu itu.
Huh, semoga saja semuanya akan baik-baik saja.
••••
Sekitar pukul dua siang.
Saat itu didepan gerbang kampus. Sementara kedua sahabatnya tengah sibuk membeli minuman di supermarket seberang. Nayla saat itu tengah duduk menunggu jemputan pak Tio di halte bus sembari memandang jalan yang lalu lalang.
Dia sebenarnya sering ditanya kenapa tidak pernah membawa kendaraan sendiri. Jawabannya adalah dia sulit melakukan itu karena mempunyai ketakutan akan masa lalu sehingga sampai sekarang membawa kendaraan roda dua bahkan roda empat pun dia belum bisa oleh traumanya.
Tiba-tiba seketika ponselnya berdering. Nayla merogoh ponsel dari dalam tasnya. Dengan semangat sebuah panggilan masuk itu pun segera ia jawab.
"Halo!"
"Iya, aku lagi nungguin pak Tio. Abang udah makan?"
"Sudah, bekal yang kamu siapin aku habisin."
"Seneng kalau masakannya habis."
"He em, soalnya masakan kamu enak." Reynand tertawa renyah.
Nayla tersenyum mendengar pujian itu.
"Anak kita mana? Siapa tahu dia kangen ayahnya."
Nayla lantas mendekatkan ponselnya didekat perut dan mengubah mode panggilan itu ke panggilan video sembari elus-elus perutnya pelan, memperlihatkan bentukkan sang anak kepada Reynand.
"Hai anak ayah, masih bulat aja bentuknya." ia lalu terkekeh.
"Itu perutnya Mama ayah yang bulat." sahut Nayla.
Reynand terlihat tertawa oleh candaannya sendiri. "Nggak bandel kan sayang, kamu jadi anak pinter, kan." ujarnya persis seperti berbicara kepada bayi.
"Nggak dong, aku jadi anak baik hari ini ayah." Nayla menyahuti ucapan itu.
__ADS_1
Dan, percakapan keluarga kecil itu berlangsung lumayan lama.
Hal-hal seperti ini mungkin memang terlihat sangat sederhana. Namun, bagi mereka itulah cara agar mereka mempunyai ikatan yang kuat terhadap calon anak mereka. Banyak yang bilang komunikasi dan pendekatan terhadap anak itu memang harus dilakukan selagi didalam kandungan sekaligus sangat baik untuk menstimulasi janin sejak dini. Hal tersebut sangat baik untuk menenangkan janin yang ada didalam perut ibu.
Makanya Reynand dan Nayla terus mengajak calon anak mereka mengobrol disetiap waktu.
Nayla tentunya sangat senang, Reynand memang akhir-akhir ini semakin aktif untuk mengajak calon anak mereka berkomunikasi, baik mengobrol dan bercanda. Bisa saat mereka bertemu atau hanya melalui sambungan via telepon dikala mereka tengah berada dalam jarak jauh seperti sekarang ini.
Selesai Reynand berbicara dengan calon anak mereka, Nayla langsung mengarahkan ponsel kembali kearah wajahnya untuk melihat wajah tampan suaminya. Cie wajah tampan,
Dibalik panggilan video itu Nayla dapat melihat Reynand seperti mendesah pelan.
"Kenapa." tanya Nayla "Kamu capek? Semangat ya kerjanya?"
Terlihat kemudian Reynand mengangguk pelan.
"Aku balik kerja dulu ya. Sampai ketemu dirumah."
"Tunggu! Malam ini kamu nggak lembur, kan? Pulang cepet ya. Anak kita rindu nih." ujarnya sambil elus-elus perut dan memperlihatkannya kepada Reynand.
"Aku usahain." Reynand tersenyum. "Aku usahain pulang cepet. Demi kamu dan si buah hati."
Nayla terkekeh pelan oleh kata-kata suaminya. "Aku tunggu, semangat kerjanya ayah. Aku sayang kamu." ujarnya tersenyum cerah dari yang terlihat dari balik layar ponsel.
"Aku juga, aku sayang kamu dan anak kita."
Beberapa saat kemudian panggilan kedua pasutri itu puk berakhir. Perasaan lega menyelimuti Nayla. Ternyata selepas melakukan obrolan dengan Reynand mood baiknya meningkat berkali-kali lipat.
Nayla mesih menunggu di halte bus. Menunggu jemputan pak Tio dan juga kembalinya Tia serta Riko dari supermarket.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya. Lalu beberapa saat kemudian pemilik mobil pun keluar. Ia berjalan dan mendekati Nayla dengan gaya santai.
"Jadi gimana lo mau kan, ikut gue sebentar?"
•°
•°
•°
•°
Selamat menikmati, tunggu ya part selanjutnya! Hari ini aku bakal up lagi tentunya. Selamat menikmati cerita ini ya.
Q : Thor emang hobi nulis ya.
A : Aku itu pada dasarnya sangat suka menggambar, sesekali aku tambahin cerita pendek dari gambar yang aku buat.
__ADS_1
Happy Reading!