Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Kabar Baik


__ADS_3

****


Saat itu diruang kerja kakek.


Reynand terus merasakan gejolak itu setiap saat. Mual dan pusing dikepalanya itu selalu menerpanya. Ya, tuhan. Reynand benar-benar sudah tidak kuat lagi dengan keadaannya saat ini. Dimana pun dia berada pasti rasa mual itu datang.


Mata mbok Yana yang tengah menyediakan makanan untuknya melotot heran saat Reynand tiba-tiba berlari ke wastafel yang berada disudut ruangan untuk menuntahkan seluruh makanannya di siang hari itu.


"Mas Reynand nggak apa-apa?" Tanya mbok Yana ragu-ragu. Ia pun mendekat kalau-kalau Reynand butuh pijatan ditengkuk, mungkin.


Lalu memejamkan mata sesaat Reynand berbalik menatap mbok Yana. "Nggak tau mbok, tiba-tiba mual-mual terus nih." lalu ia mual lagi seolah itu adalah sebuah penyiksaan dan tidak ada habisnya.


Eh, mual-mual terus. Maka mbok Yana pun mulai menerka-nerka. "Mau ada kabar baik kali mas." ucap mbok Yana spontan.


Reynand menatap mbok Yana bingung. "Kabar baik apanya mbok, mual-mual begini kok kabar baik. Yang adanya malah derita?"


Tahu rasa bingung Reynand, mbok Yana lalu menjelaskan dengan hati-hati. "Mas Reynand mual-mual begitu mungkin gara-gara bawaan jabang bayi kali." terangnya lagi lalu tersenyum. Mbok Yana merasa antara lucu dan bahagia. Bakalan ada sosok ayah muda dirumah ini. Memejamkan mata lalu berkhayal, duh, pasti seru lihat mas Reynand gendong-gendong baby.


Ha? Mata Reynand mengerjap. "Masak sih, mbok? Mbok Yana jangan ngarang deh. Tau dari mana coba?"


Lalu wanita yang tengah memegang nampan berisi piring itu pun menjelaskan. "Tuh, buktinya mas Rey mual-mual. Mbok nggak pernah loh, lihat mas kayak gini. Apa lagi coba kalau bukan tanda-tandanya, hayo."


Reynand mengernyit bingung. "Mbok asal nebak nih." Namun sembari masih merasakan mual itu Reynand termangu sesaat. Apa mungkin?


"Eh, mas Rey nggak percaya? Banyak kok suami yang kondisi persis kayak mas Reynand begini. Pas istrinya lagi hamil bahkan ada yang sampai ngidam yang aneh-aneh loh mas. Iya, mungkin aja mbak Nayla sekarang lagi isi, tapi mas Reynandnya nggak tahu. Cepat-cepat dijemput deh mas terus ajakin periksa ke dokter, siapa tahu beneran positif dedek bayinya udah ada diperut." Jelas mbok Yana polos.


Tunggu! Tunggu! Dia mual-mual karena akan menjadi ayah. Apa mungkin Nayla, hamil?


Wanita paruh baya dengan logat medok kental itu kembali berucap. "Begini, ya Mas. Bukannya mbok mau sok tau. Tapi ya, biasanya nih, wanita yang lagi hamil itu selalu butuh suami disisinya. Apalagi kalau hamil muda. Bisa jadi kan mas Reynand mual-mual begini karena dedek yang diperut lagi kangen." Mbok Yana tersenyum tersipu karena rasa bahagia mengalir pada dirinya. "Tapi, Itu hanya pendapat mbok loh mas."


Reynand termangu lama untuk hal yang baru dia dengar itu, lalu....


"Reynand!!" Begitulah suara menggelegar kakek menghentikan langkah cepatnya.


Laki-laki yang baru memasuki ruang kerja itu berusaha menghentikan. "Mau kemana kamu?"


"Kek, aku mau ketemu istri aku." Jelasnya kemudian berusaha keluar dari sana. Maka beberapa pengawal yang sengaja diperintahkan kakek untuk menjaga diluar itu pun menahannya.

__ADS_1


"Duduk!! Kamu belum boleh kemana-mana apalagi bertemu istri kamu." Jadi beberapa hari ini, Reynand memang terkurung didalam rumah berkutat dengan berkas-berkas kakek dan dia hanya diperbolehkan istirahat saat makan dan mandi. Jadi kakek juga membiarkan Reynand untuk tidur didalam ruangan itu.


"Kek, aku nggak bisa kayak gini. Aku harus temui dia sekarang. Dia pasti butuh aku kek. Aku curiga kalau sekarang dia sedang...."


Lalu mata kakek melotot tajam dan menyambar omongan itu. "Kamu ingat perjanjian yang kamu buat. Jangan melanggar Reynand."


Ya, tuhan. Reynand tampak frustasi, ini benar-benar menyiksa batinnya. Kenapa saat ini semua orang egois. Kenapa dia seperti tidak punya pilihan begini, sih?


Sudah tiga hari dia diruangan ini tanpa internet, ponsel atau apapun yang bisa digunakan untuk berhubungan dengan dunia luar. Karena kakek tidak membiarkan benda-benda itu berada disini saat mulai mengurungnya. Ini benar-benar siksaan.


~


Malam harinya, hujan turun dengan begitu deras. Namun, Reynand yang tengah berada diruangan kerja kakek bersama tumpukkan berkas-berkas itu tampak begitu gelisah dan tidak tenang. Sedari tadi pikirannya jauh melayang. Kakek yang sedang menjelaskan begitu banyak hal tidak serius ia dengarkan.


Perasaan janggal yang ia rasakan saat ini begitu membunuhnya. Perkataan mbok Yana tadi siang terus terngiang-ngiang ditelinga. Bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau Nayla memang sedang mengandung sekarang. Beberapa kali ia menjenggut rambutnya karena ketidak tenangan itu.


"Jadi Reynand, untuk beberapa bulan ke depan kamu harus lebih giat lagi mempelajari semua ini." Kakek menambah tumpukkan berkas-berkas dihadapan cucunya hingga menggunung. "Kakek tahu ini nggak mudah untuk kamu." Berjalan menuju sofa. "Salah kamu sendiri kenapa harus terlambat menyetujui ini." Lalu kakek mendudukkan dirinya dengan nyaman.


Kakek mendesah dengan kuat saat melihat sosok yang sedang ia nasehati itu hanya diam termenung menatap tumpukkan berkas-berkas dihadapannya. Sudah tiga hari, dan Reynand terus-terusan seperti ini. Terlihat lesu dan tidak bersemangat. Apa yang dipikirkan anak ini? Istrinya? Kakek tidak menyangka saat berjauhan dengan Nayla, Reynand seperti tidak ada niat untuk melanjutkan hidup. "Reynand! Kamu dengerin kakek nggak dari tadi?"


Tersadar lalu Reynand berbalik menatap kakeknya.


"Maaf kek, kayaknya aku kurang fokus. Aku keluar sebentar aja dulu ya, cari angin segar. Udah tiga hari kek aku didalam sini. Aku nggak bisa mikir." usul Reynand untuk dirinya sendiri.


Bukan apa-apa, seharian ini ia sudah sangat kenyang berhadapan dengar tumpukkan berkas yang diberikan kakeknya. Berkas-berkas perusahan selama hampir 50 tahun yang harus ia pelajari.


Kalau dilihat-lihat bukan satu tumpukkan saja. Tapi, sepuluh lemari besar. Dan, dia harus mempelajari itu semua. Kakek benar-benar ingin menyiksanya dengan semua ini. Reynand jadi berpikir kalau kakek memang sengaja. Untuk apa coba dia mempelajarinya. Bahkan sekarang ia tengah mempelajari berkas antik kakek yang bahkan mungkin saat itu mama Adel belum lahir. Tulisan tangan yang hampir pudar itu terus ia perhatikan sedari tadi.


Tadinya ia pikir dirinya akan langsung dikenalkan sebagai pewaris. Tapi, lihatlah kakek malah membuatnya menderita seperti ini. Rasanya Reynand lebih baik mendapatkan tamparan atau pun tinju dari kakek. Atau kalau perlu kakek boleh menyuruh para pengawal yang sedang berjaga diluar ruangan itu untuk memberinya pelajaran. Menghukumnya seperti ini benar-benar membuatnya lebih merasa menderita.


Kakek menggeleng. "Jangan banyak alasan ya kamu. Kamu itu harus tahu sejarahnya perusahaan ini berdiri dengan jelas bagaimana, biar kamu lebih mengerti lagi untuk meneruskan perusahaan kakek."


Reynand benar-benar pusing. Kenapa coba dia harus membaca berkas-berkas usang seperti ini. Sekarang ini jaman sudah canggih. Ayolah, kenapa kakek tidak menyuruh karyawannya untuk memindahkan isi berkas ini kedalam file agar lebih enak dia melihat dan membacanya. Dan, dia pun bisa mempelajari berkas itu dimana saja tanpa harus terkurung diruangan seperti ini.


"Berkas-berkas ini punya sejarah, Reynand." Lalu kakek berdiri dan mengambil berkas lainnya dilemari besar itu.


"Kamu tau ini siapa?" Kakek meletakkan beberapa poto dihadapnanya kemudian kembali duduk dikursin kerjanya.

__ADS_1


Mengambil poto tersebut Reynand menatapnya dengan seksama. "Ini poto kakek?" Poto dua orang pemuda yang terlihat sangat akrab. Mereka tersenyum begitu cerah dan sumringah.


Lalu kakek terlihat mengenang. "Kakek dan kakeknya Nayla." ucapnya menghela nafas dengan tatapan nanar.


Reynand mendongak kearah sang kakek.


"Kamu bahagia sekarang, kan Reynand?" Lagi-lagi kakek mendesah seolah ia juga memiliki perasaan yang tidak kalah menumpuk dari tumpukkan berkas itu. "Perusahaan ini kami rintis berdua kala itu."


Reynand diam menyimak.


Tersenyum, kakek lalu menatap cucunya sumringah tipis. Lalu mendongak melihat langit-langit ruangan. "Jadi, Reynand perusahaan yang kamu teruskan ini bukan hanya hasil jerih payah kakek, campur tangan kakeknya Nayla juga ada didalam sini. Bahkan dulu dia lah yang lebih banyak berkorban. Sayangnya kakeknya Nayla pergi terlebih dahulu, bahkan disaat itu kalian berdua belum lahir." Entahlah kakek begitu bahagia ketika mengenang masa-masa dulu.


"Maminya Nayla saja, yang tidak ingin untuk kakek ajak bekerja disini. Katanya pekerjaan diperusahaan ini tidak cocok untuknya." kakek sangat ingat beberpa kali mami Miska menolak untuk diajak bergabung diperusahaan dan lebih memilih untuk bekerja dibidang yang ia minati.


Reynand tentunya sangat sering mendengar cerita persahabat kakek dengan kakeknya Nayla. Namun, hal itu selalu ia abaikan. Kali ini ia benar-benar menyimak segala hal yang diceritakan oleh kakeknya. Bagaimana persahabatan mereka, jalan dan perjuangan mereka untuk mengubah keadaan. Semuanya, malam itu Reynand mendengarkannya dengan seksama, sampai-sampai ia melihat tetesan air mata tidak sengaja jatuh dari pelupuk mata itu.


"Kek, aku mau pergi dulu." Reynand beranjak dengan cepat seketika sesaat setelah cerita itu berakhir.


"Urus dulu semua ini, Reynand. Jangan bikin kakek stres."


Lalu Reynand mulai terburu-buru. "Kakek tenang aja, aku pasti bakalan nepatin janji kok. Tapi sekarang ada hal mendesak yang harus aku lakuin. Tolong izinin aku keluar kek. Aku mohon. Aku mohon pengertian kakek. Ini demi hidup dan mati aku. Demi kebahagiaan cucu kakek tersayang ini. Kakek sayang, kan sama aku? Aku juga sangaaaat sayang kakek, melebihi gundukkan berkas-berkas ini."


Mendengar kekonyolan diakhir ucapan itu kakek menggeram kesal. Suasana haru yang ia rasakan ketika mengenang sahabatnya kini berubah jadi rasa sebal akan cucunya. Benar-benar menganggu suasana. "Kamu jangan macam-macam ya Reynand...."


"Maafin aku kek, tapi aku bener-bener harus pergi sekarang. Aku mohon.... Izinin aku buat pergi. Hati aku bener-bener nggak tenang kek saat ini.... Kakek tau nggak rasan kayak ada yang ngganjal gitu, kek." Lalu Reynand beranjak pergi dari ruangan itu secepatnya. Membuka pintu ruangan kerja itu tapi tidak bisa, tentu saja karena terkunci rapat dari luar.


Kakek tersenyum oleh kegagalan itu.


"Kek, aku mohon. Setelah ini aku pasti akan menuruti semua apa yang kakek mau."


Tak menjawab kakek segera keluar tanpa perduli wajah sayu Reynand dan malah meninggalkan tanpa belas kasih. Pintu itu tertutup kembali saat para pengawal menguncinya dengan sangat cepat.


*


*


*

__ADS_1


*


Happy Reading.


__ADS_2