
****
Reynand menarik Nayla dari duduknya hingga beranjak dari kursi kedalam pelukan. Tatapan menuduh ia berikan kepada perempuan yang telah baru saja terlepas dari pelukan Nayla. Matanya membulat dengan dada yang membuncah.
Perempuan itu berusaha tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Reynand tentangnya saat ini. Ternyata memang sulit ya merelakan seseorang. Jantungnya masih berdegup kencang melihat sosok laki-laki yang masih memenuhi relung hatinya itu.
"Hai Rey!" Sapa Airin. "Udah lama kita nggak ketemu." ia berusaha tersenyum dengan dada yang sesak. Namun, hati yang tergores itu berusaha untuk menerima apa yang ia lihat sekarang. Sebuah pemandangan yang membuat hatinya seketika berdenyut kuat.
Reynand tidak menjawab ucapan itu. Matanya masih melotot tajam menyoroti wanita yang tengah merasakan canggung dihadapannya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Ia mengelus-elus kepala Nayla pelan sembari masih menatap Airin dengan sorot mata tajam.
"Aku nggak apa-apa kok, tenang aja." ia mengelus-elus dada Reynand pelan. "Nggak usah emosi." pinta sembari tersenyum mencoba menenangkan.
"Aku cuma ngajak istri kamu ngobrol sebentar." ia memandang Nayla dan tersenyum. "Terimakasih udah ngasih kesempatan gue buat cerita semuanya." ujarnya pada Nayla.
Nayla membalas dengan senyuman. Lagaknya dia masih tidak percaya kalau Airin bersikap seperti ini.
Sementara Reynand masih diam memantung dan enggan mengatakan apa pun. Airin lantas mengambil tasnya dari kursi.
"Rey, aku cuma mau bilang, nanti sore aku berangkat ke luar negeri. Maaf untuk semua yang aku lakuin selama ini." Setelah mengucapkan perkataan tersebut, ia lantas berlalu dari hadapan Reynand dan Nayla menemui Bianka yang menunggunya dimeja dekat pintu keluar restoran.
"Abang tau dari mana aku disini?"
Reynand belum menjawab itu. Ia malah memeluk Nayla semakin kuat.
Namun, sepertinya Nayla tahu siapa yang sudah memberitahukan semua ini.
Riko dan Tia yang duduk berdua disudut restoran membuktikan tentang sosok yang mengadukan apa yang lakukan tadi bersama Airin kepada Reynand.
••••
Malam itu tat kala mereka tengah berada didalam kamar. Sembari bersyair Reynand tengah mengelus-elus perut Nayla dengan pelan.
"Anak ayah, cepetan lahir, ayah mau ketemu." Reynand menurunkan kepalanya untuk mengecup perut itu pelan. "Iya, kamu juga gak sabar kan mau ketemu ayah." Ia terus melakukan obrolan ringan kepada sang anak.
Nayla yang tengah berbaring tersenyum melihat tingkah suaminya. Sesekali wanita itu menghela nafas berat karena jujur saja ia semakin kesusahan bernafas oleh perutnya yang semakin membesar.
Selesai bercengkrama dengan janin didalam perut, Reynand kemudian beralih untuk bersender disisi ranjang bersama istrinya.
"Em, tadi kalian ngomongin apa aja sama Airin?" Tanya Reynand.
Nayla menoleh dengan mata mengerling. "Penasaran banget soal Airin." ujarnya mencebik.
Reynand menarik erat Nayla dalam dekapannnya. "Nggak usah cemburu, aku cuma penasaran obrolan kalian tadi apa?"
"Penasaran sama obrolannya apa sama orangnya?" ujar Nayla lagi.
Ya, ampum Reynand benar-benar tidak habis pikir akan jalan pikiran istrinya. Bisa-bisanya Nayla berpikir seperti itu.
"Kan, aku cuma tanya sayang."
Cuma tanya? "Waktu itu perasaan abang sama dia gimana?"
Reynand mengernyit. Perasaan apa sih yang dibahas. "Nggak ada Nay, aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia."
__ADS_1
"Boho...." Nayla terdiam saat bibir Reynand menyentuh lembut permukaan bibirnya.
"Kenapa sih, kok tiba-tiba cemburuan gini. Itu kan sudah lama. Kita udah mau punya anak, nggak mungkin Nay aku masih nyimpen perasaan sama perempuan lain." Ia menyelipkan anak rambut Nayla ditelinga.
"Aku kan cintanya cuma sama kamu. Sekarang itu prioritas aku cuma kamu dan anak kita." ia kemudian menyatukan kening mereka. Reynand kemudian kembali menyatukan bibir mereka lama.
Nayla mengalungkan tangannya ke leher Reynand. Wanita itu lantas tersenyum setelah ciuman mereka terlepas.
"Pijitin...." pinta Nayla..
Reynand yang mendengar ucapan tersebut langsung menegakkan tubuhnya. "Apanya yang dipijitin?" matanya malah turun memandang gundunkan indah yang semakin membesar dihadapannya.
Nayla mengikuti arah pandang itu. "Ih, bukan itu...."
"Pijitin itu juga nggak apa-apa." Reynand menautkan alisnya menyeringai.
"Pinggang." ujar Nayla. "Pijitin pinggang aku pegel."
"Kok pinggang sih Nay? Aku maunya pijitin...." Ia kembali melirik dada Nayla dengan tangan terangakat hendak menyentuh benjolan menggoda itu.
Nayla menjauhkan tangan Reynand pelan. "Aku maunya dipijitin pinggang, pinggang aku nyeri, soalnya bawa anak kita tiap hari."
"Ya udah sini aku pijitin, buka dulu bajunya tapi." Reynand mengangkat baju yang dikenakan Nayla.
"Kok buka baju?"
"Biar enak Nay mijitnya."
Dasar! Ada saja maksud terselubung dari suaminya ini.
Nayla memunggunggi Reynand setelah perempuan itu memintanya. Ia memejamkan mata saat suaminya itu mulai memijat bagian belakang pinggangnya.
"Gimana enak?" tanya Reynand.
Nayla mengangguk pelan.
"Yang depan udah mau dipijitin belum?"
"Ih, pijitin dulu pinggangnya." sahut Nayla.
"Habis ini kasih bonus ya." bisiknya ditelinga Nayla.
"Em...."
"Yes, makasih sayang." Reynand pun tambah semangat untuk memijat pinggang istrinya.
Namun yang Nayla rasakan, lama kelamaan pijitan itu mulai merambat dan naik kebagian atas tubuhnya.
"Emh...." Nayla melenguh saat tangan suaminya kini berpindah pada gundukan bagian depan itu. "Aku kan minta pijitin pinggang.... ah." Ia kemudian berbalik menatap Reynand dengan sorot mata protes.
"Kamu lagi hamil gini malah tambah seksi ya." ia mengecup bahu Nayla pelan dan sensual penuh kelembutan.
Beberapa saat kemudian, Nayla sudah tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa terbaring saat orang yang berada diatasnya itu kini mendominasi keadaan. Ia melenguh dan mengerang dibawah sana dengan paha yang terbuka lebar. Sementara Reynand terus bergerak aktif diatasnya.
"Pelan-pelan...." ujarnya saat ia semakin terengah dan Reynand pun menghentikan aksinya. "Aku nggak bisa nafas...." tambahnya engap.
__ADS_1
Mata yang berkabut itu mengangguk dan menurunkan wajahya sejenak untuk menyatukan bibir mereka, kemudian ia memulai kembali kegiatan yang menguras kalori tersebut sesuai dengan permintaan istrinya.
Beberapa saat kemudian keduanya masih berusaha mengatur nafas masing-masing yang masih menderu kencang dengan saling memeluk erat.
"Oh, iya aku mau tanya." ujar Nayla setelah nafasnya teratur dengan baik.
"Tanya apa?"
"Soal Mama dan juga daddy Joshua, kenapa kamu nggak cerita kalau mereka sudah...."
Reynand seketika menatap serius Nayla saat mendengar ucapan itu.
Untuk sesaat suasana menjadi hening.
"Maaf, gara-gara itu aku jadi melampiasin kekecewaan aku sama kamu waktu itu."
"Nggak apa-apa, seharusnya kamu cerita. Aku pasti dengerin." ujar Nayla sembari mengusap wajah Reynand dengan jarinya.
"Maaf...."
Nayla memeluk Reynand dengan erat. Dia benar-benar baru tahu kalau Mama Adel sudah lama bercerai dengan suami keduanya. Pantas saja waktu itu Reynand mendadak emosi, rupanya Reynand masih belum bisa menerima itu.
"Aku cuma ingat masa lalu, aku rindu papa Nay. Sudah bertahun-tahun aku gak ketemu papa dan Mama, malah ngecewain aku lagi." Reynand tahu mungkin ini bukan urusannya. Tapi dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Mamanya tidak bisa mempertahankan pernikahan untuk kedua kali.
"Sabar, mama mungkin punya alasan ngelakuin itu."
"Hm...." sahut Reynand.
"Kita berdua...." Nayla menghela nafas dengan penuh harap. " Semoga kita berdua bisa bersama selamanya." lirihnya Nayla.
Reynand menyahut dengan pelan. "Iya, aku juga ingin bersama kamu selamanya. Membesarkan anak-anak kita dan juga duduk berdua bersama kamu dihari tua. Kamu jadi nenek dan aku jadi kakek."
Nayla kemudian terkekeh pelan mendengar ucapan Reynand.
"Kok, aku diketawain." protes Reynand.
"Habisnya lucu." Nayla benar-benar tidak habis pikir kalau ucapan suaminya bisa sejauh itu.
"Nay...."
Nayla tertawa lagi. "Ini saja baru mau jadi ayah udah mikirin jadi kakek dan nenek. Ih...." ia mencubit pipi Reynand gemas.
Dan begitulah obrolan kedua pasutri itu pun terus berlanjut hingga akhirnya mereka tertidur dalam dekapan masing setelah membersihkan diri dari kamar mandi.
•
•
•
•
Hai Readers!
Buat kalian yang masih suka cerita ini, aku minta maaf kalau up-nya lama banget. Jadi aku tu orangnya memang begitu, gak bisa nulis cerita yang terburu-buru dan langsung jadi dalam sekejap hehe, jadi maaf kalau kalian bosyan.
__ADS_1
Happy Reading!