
****
Nayla lantas menoleh kearah Tia menunjuk. Riko yang berjongkok dihadapannya pun langsung bergegas menjauh dengan wajah nyengir kuda.
Laki-laki dengan membawa bunga besar berwarna merah dan putih itu mendekat. Nayla tidak bisa mengenali sosok itu karena tertutup bunga besar didepan wajahnya. Tapi dari pakaian, postur tubuh dan juga pakaian sepertinya nayla tahu itu siapa.
"Kok mukanya ditekuk?" tanya laki-laki itu setelah memperlihatkan wajahnya yang sangat familiar dimata Nayla. "Cie, yang ngambek...." laki-laki itu tersenyum jenaka.
Nayla lantas memalingkan wajahnya.
"Masih ngambek ya?" Reynand mendekatkan wajah mereka. Ia pun lantas tersenyum. "Kejutan...." ia menyerahkan bunga besar itu pada Nayla sehingga membuat Tia merasa iri meihatnya.
"Aaaa.... so sweet, pengen deh dikasih bunga." celetuk Tia spontan.
Nayla masih terdiam belum meraih bungan yang Reynand berikan.
"Suka gak bunganya?" Reynand menautkan kedua alisnya dengan senyum sumringah.
"Ih suka banget...." lirih Tia heboh.
"Iri ya...." bisik Riko Tia dan gadis itu langsung mengangguk dengan mata memicing saking terpesona oleh pemandangan dihadapannya.
"Diterima gak nih bunganya?" Reynand mengintip wajah Nayla yang masih datar. Duh, masih ngambek rupanya. Lantas laki-laki yang masih memegang bunga besar itu langsung memeluk wanitanya perlahan dengan senyuman dan erat.
"Ternyata tadi pagi aku berhasil juga ya bikin kamu kesal...."
Berhasil? Jadi yang tadi itu sengaja?
"Iya tadi pagi kamu berhasil bikin aku kesal, terus ngapain kesini? Bukannya sibuk kerja ya." sindir Nayla
Reynand kemudian terkekeh. "Yuk kita check up kerumah sakit. Mau lihat jenis kelamin dedek bayi kan?"
****
Saat itu didalam mobil saat tengah perjalanan menuju ke rumah sakit Nayla terus menoleh kearah suaminya dengan sesekali mengendus wangi bunga segar dipangkuannya.
Sebenarnya sangat jarang Reynand melakukan hal seperti ini, membawa bunga dan juga memberi kejutan. Maksudnya Reynand itu mempunyai cara romantis yang berbeda.
"Terima kasih ya, bunganya."
Reynand yang tengah menyetir mobil mengangguk.
"Tapi, tumben kamu kasih aku bunga?" Nayla menatap suaminya dengan mata berbinar. "Biasanya kan aku dikasih gombalan." tambahnya kemudian.
Reynand yang sedang menyetir mobil langsung menepikan mobilnya dipinggir jalan yang cukup sepi dibawah pohon yang rindang.
Setelah beberapa saat mobil terparkir, Reynand kemudian menatap Nayla dengan dengan intens. Laki-laki itu kemudian menarik nafas berat. "Suka kan bunganya?"
__ADS_1
Nayla mencium bunga itu sekali lagi kemudian mengangguk. "Suka banget...." Selama mereka menikah Reynand sama sekali tidak pernah memberinya bunga. Bahkan satu kali pun!!!! Nayla lalu menatap suaminya tidak percaya, ya ampun ini benar-benar pertama kalinya Reynand memberinya bunga.
"Kamu tau...."
"Nggak!" Sambar Nayla cepat.
"Bentar dulu, aku belum selesai ngomong."
Nayla pun tersenyum dan dia siap untuk mendengarkan suaminya. "Silahkan pak...." candanya.
Lagi-lagi Reynand menghela nafas. "Kamu itu harusnya bersyukur...."
"Bersyukur? untuk?"
"Ya harus bersykur, karena perempuan pertama yang aku kasih bunga itu kamu...."
"Iya?" tatap Nayla kaget, mengerjap beberapa kali.
"Terus-terus lanjutin...." ucapnya penasaran.
"Soal cinta pertama yang kita bahas tadi pagi, ya itu jawabannya...."
Nayla seketika terperangah. " Maaf pak, maksudnya gimana, gimana?!" Entah kenapa jantung Nayla serasa dipompa cepat. "Apa kaitannya cinta pertama sama kenyataan kalau aku perempuan pertama yang dikasih bunga...."
Nayla menunggu jawaban dari Reynand dengan hati berdebar. Namun laki-laki dihadapannya ini masih bungkam dengan raut tidak terbaca seolah menyuruh dirinya untuk menerka sendiri jawaban dari pertanyaanya tadi.
"Jawab dong...." ujar Nayla. "Sayang...."
"Sayang...."
Reynand tersenyum.
"Jadi, kaitannya aku wanita pertama dikasih bunga sama cinta pertama itu apa...." Nayla seketika meneguk ludahnya kaku.
Jangan-jangan, tidak mungkin! Seorang mantan artis yang banyak melakukan adegan bersama perempuan cantik.
"Ini serius?!" Tanya Nayla heboh.
Reynand mengangguk pelan membuat jantung Nayla semakin dag dig dug ser, kalau kata netizen melebihi anak SD umur sepuluh tahun yang sudah pakar tentang cinta dan segala hal lainnya.
"Iya...."
"Nggak mungkin, jangan bikin aku geer."
"Nggak."
"Ih, masak sih seorang Reynand cinta pertamanya sama seorang...."
__ADS_1
"Tapi, nyatanya seperti itu." sambar Reynand.
Rasanya Nayla jadi ingin memanggil nama suaminya ini. "Kamu ngomong gini karena ngerasa bersalah soal tadi pagi, kan?" terka Nayla.
Lagi-lagi Reynand menggeleng pelan.
"Ih, Reynand." Tuh, kan. Nayla benar-benar ingin menyebut nama suaminya ini.
Reynand kemudian terkekeh mendengar Nayla menyebutnya seperti itu. Ini pertama kali mendengar Nayla memanggilnya dengan nama.
"Apa kamu bilang?"
"Kamu gak bohong kan, Reynand."
Reynand kemudian tertawa. "Ya ampun Nay, kok lucu banget sih kita berdua. Kayak anak kecil tau gak."
"Kata siapa?"
"Kata netizen yang sering komen difilm-film...." canda Reynand.
"Gak usah bercanda, aku mau dengar ucapannya langsung dari mulut kamu."
Setelah itu dengan cepat Reynand melepas sealbeltnya. Ia kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga Nayla, yang mana bisikan itu hanya mereka berdua yang tahu.
Mendengar hal tersebut lantas Nayla tersenyum sumringah. "Aku juga sama...."
"Aku tau...." Jawab Reynand. "Aku tahu segalanya tentang kamu."
"Iya Reynand."
"Nay...."
"Apa sih Rey?"
Merasa greget Reynand langsung menarik tengkuk istrinya dan melakukan ritual mesra. "Aku suka dipanggil begitu. Tapi, kalau didepan orang banyak jangan gini ya manggilnya." ujarnya setelah ciuman mereka selesai dengan senyum yang mengembang.
Perempuan itu lantas menggangguk pelan.
*
*
*
*
Maimun : Tor lain kali kalau bikin novel alurnya jangan begini, begitu, begino.... karakternya harus begini begino bla.... bla.... tidak boleh ini itu ono
__ADS_1
Aku : Jadi begini mun...
Happy Reading!