Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
So Sweet


__ADS_3

****


Reynand kembali kekamar Nayla dengan segelas susu dan dan semangkuk bubur yang tadi Ia pesan secara online. Dilihatnya Nayla masih terbaring lemah diatas sofa.


“Nayla.” Reynand meletakkan susu dan bubur yang Ia bawa keatas meja.


“Em.” Nayla menoleh kearah Reynand.


“Kamu makan dulu ya, habis itu minum obat.”


Nayla pun beranjak duduk membuat Reynand juga ikut duduk disampingnya seketika. Sontak Nayla menoleh menatap Reynand karena laki-laki itu tiba-tiba duduk disampingnya dan laki-laki itu dengan polosnya juga memberi tatapan yang sama. Sial, wajah mereka terlalu dekat. Reynand langsung memalingkan wajah seketika. Kenapa tiba-tiba perasaan ini membuat Ia merasa canggung. Padahal dulunya Ia tidak merasa begitu dan sebaliknya dulu Nayla yang selalu terlihat gugup dihadapannya.


Akhirnya dengan hati-hati Nayla mulai menyendok susu dan perlahan memasukkan kedalam mulutnya. Sebenarnya Reynand ingin menyuapinya saat itu, namun entah kenapa Ia merasa kikuk.


“Panas.” Spontan Nayla meletakkan kembali sendok yang Ia pegang kedalam mangkok bubur.


“Sudah sini biar, a em….” Sudahlah langsung suapi saja. Reynand bingung sendiri bagaimana memposisikan dirinya saat ini. Biasanya Ia tidak akan canggung untuk menyebut dirinya secara formal. Namun sekarang entah kenapa rasanya Ia agak susah menyebut dirinya dengan kata ‘Saya’.


Dengan hati-hati Ia menyendok susu tersebut dan meniupnya sebelum diberikan kepada Nayla.


Nayla perlahan membuka mulutnya. Rasanya enak sekali, manis. Lidahnya yang tadi terasa pahit sekarang mulai bisa merasai.


Sedari tadi rambut Nayla terjuntai-juntai dan sepertinya sangat mengganggu saat Ia menerima suapan dari Reynand.


“Bentar. Aku mau ikat rambut dulu.” Perlahan Nayla bangkit.


“Biar saya saja yang ambilkan.” Reynand pun beranjak dari duduknya.


“Dimana?”


Nayla menunjuk dimeja belajarnya. Dengan segera Reynand mengambil ikat rambut yang terletak dimeja belajar itu dan kemabli ketempat duduknya semula.


“Sini biar Saya yang ikat rambut kamu.”


Nayla pun memutar tubuhnya membelakangi Reynand. Ia dapat merasakan Reynand mulai menyentuh rambutnya. Ia bergidik saat tangan mulai merasai tangan Reynand menyentuh rambut dan kepalanya. Ia tidak tahu kenapa sentuhan Reynand membuatnya begitu.


Sementara itu Reynand mulai merasakan hal yang sama. Melihat tengkuk Nayla yang putih dan mulus mulai membuat Ia menjadi berdebar. Suasa yang membuat darahnya berdesir. Entah kenapa rasanya Ia ingin menciuminya. Perlahan sambil menelan ludah Reynand mulai menurukan bibirnya menyentuh pundak Nayla.


Deg!


Nayla dapat merasakan itu. Ia dapat merasakan bibir Reynand menempel dipundaknya namun Ia tidak tahu apa. Darahnya kembali berdesir. Cukup lama Reynand melakukannya, Ia terus menyusuri pundak Nayla. Sementara Nayla matanya sudah terpejam, Ia sepertinya terhanyut dengan sentuhan itu.


Aktivitas Reynand terhenti saat tiba-tiba terdengar suara lenguhan dari mulut Nayla. Ia pun tersadar, dengan segera Ia menyelesaikan aktivitas mengikat rambut secepatnya.


“Sudah selesai.” Reynand mencoba berbicara senormal mungkin. Ia tau Ia baru saja melakukan dosa besar.


Nayla memutar tubuhnya kembali. Gadis itu masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi.


“Iya terima kasih.” Wajah Nayla terlihat merona.


“Maaf tadi saya. Saya tidak bermaksud….”


Drrt… drrt…


Panggilan masuk dari ponsel Reynand.


“DION.”


“Sebentar Saya angkat telpon dulu.”

__ADS_1


Nayla menganggukkan kepalanya.


Reynand pun keluar dari kamar Nayla. Takut ada hal penting yang tidak seharusnya didengar oleh Nayla.


“Halo Rey. Lo udah siap-siap belum. Pagi ini Lo sama Airin ada jadwal dateng ke acara Talk Show di NN TV jam 9.” Terdengar suara Dion dari seberang.


“Gue kayaknya nggak bisa datang.”


“Lah kenapa?”


“Nayla sakit.”


“Wah udah gol bro?! Jangan-jangan Nayla udah isi.”


“Apaan sih Lo nggak lucu. dia sakit beneran.”


“Masak.” Dion mulai menggoda.


“Gue matiin nih.” Reynand mulai emosi.


“Sori, sori, sori gue cuma becanda kali. Jadi Lo nggak dateng nih.”


“Iya, tolong Lo urus. Buat alasan apa gitu.”


“Terus untuk yang nanti siang.”


“Nanti gue pikiran. Udah ya.”


Reynand segera memutus panggilannya.


Dengar berdebar-debar Ia pun kembali masuk kedalam kamar Nayla. Ia belum bisa melupakan apa yang baru saja Ia lakukan tadi. Bisa-bisanya Ia melakukan hal tersebut kepada seorang gadis yang sedang sakit.


Seharusnya Ia mengurus gadis yang sedang sakit itu dengan benar bukannya malah melakukan hal-hal yang menjijikan. Namun, Ia terkejut Nayla tidak ada disofa. Susu dan buburnya belum habis. Ia melirik kamar mandi, sepertinya Nayla ada didalam sana. Akhirnya Reynand pun kembali duduk disofa dan menunggu Nayla.


“Kenapa?” Rupanya Reynand memperhatikan ekspresi Nayla.


Nayla tidak menjawab, dirinya masih terdiam didepan pintu kamar mandi. Wajah gadis itu terlihat panik dan kebingungan.


Melihat hal tersebut Reynand mendekat. Takut ada apa-apa dengan Nayla.


“Kamu kenapa? Apa yang kamu rasain?” memperhatikan raut wajah Nayla.


“Abang.”


“Hem.” Melebarkan matanya kepada Nayla.


“Bisa minta tolong.” Nayla terlihat ragu-ragu.


“Apa bilang aja. Kamu mau apa? Nggak usah sungkan.”


“Bisa itu….”


“Ha?”


Nayla terlihat ragu mengeluarkan apa yang Ia ingin katakan.


“Kamu mau apa?”


“Bisa minta tolong beliin pembalut.”

__ADS_1


“Ha? Pembalut? Pembalut apa?”


“Aku….” Nayla terlihat menggaruk kepalanya.


Sementar reynand masih menunggu lanjutan perkataan Nayla.


“Lagi dapet.”


“Ha?” laki-laki itu masih tidak mengerti rupanya.


“Aku lagi datang bulan.” Nayla memperjelas ucapannya.


Reynand seketika tercengang.


“Kamu datang bulan.”


Nayla mengangguk, ingin sekali Ia berteriak. Ia menutup matanya seketika. Ia tidak siap menerima reaksi Reynand. Bagaimana kalau Reynand tidak mau. Ia tahu ini konyol. Tapi mau bagaimana lagi dirinya sedang tidak bisa keluar saat ini.


Reynand menelan ludahnya. Gadis itu meminta tolong dibelikan pembalut. Hal yang tidak pernah Ia lakukan sebelumnya. Tapi Nayla sedang sakit. Dan gadis itu tanggung jawabnya sekarang. Dia harus membelikannya.


“I-iya akan saya belikan.”


Nayla membuka matanya perlahan. Menatap punggung Reynand yang keluar meninggalkan dirinya dikamar. Ia tidak habis pikir kenapa datang bulannya harus datang disaat seperti ini. Sepertinya Ia benar-benar stress akhir-akhir ini, hingga menyebabkan datang bulan lebih cepat dari biasanya.


Dengan perasaan bersalah Nayla pun akhirnya menunggu reynand. Andai saja Ia punya stok pembalut, pasti tidak akan seperti ini kejadianya. Entah kenapa Ia merasa kurang ajar kepada Reynand.


Tapi, tadi saat Reynand sedang mengikat rambutnya. Itu tadi apa ya? Ia tidak menyangka Reynand melakukan itu padanya. Jujur saja sensasi seperti tadi belum pernah dia rasakan sebelumnya. Nayla kembali bergidik mengingatnya.


Saat itu Reynand tengah berada di Indojuni yang berada dekat dengan apartemennya. Ia mulai mencari-cari pembalut wanita. Kenapa dia harus melakukan ini. Ia tidak mengerti tentang pembalut wanita sama sekali. Ia pun menoleh kearah mbak-mbak Indojuni yang sedang menyusun barang.


“Mbak, pembalut wanita disebelah mana ya?”


Pegawai Indojuni tersebut langsung menoleh kebelakang. Seorang laki-laki dengan memakai masker dan topi sedang menanyakan pembalut padanya. Membuat mbak-mbak Indojuni itu tersenyum menahan tawa. Ia menduga mungkin laki-laki ini disuruh pacar atau istrinya dan karena malu Ia pun memakai masker.


“Disini mas.”


“Mau yang mana?”


“Yang paling bagus aja deh mbak.” Mana dia tahu tentang pembalut.


“Mau yang untuk siang atau malam.”


“Ha?”


“Mas mau yang dipakai untuk siang atau malam?” mbak-mbak Indojuni mengulangi perkataannya. Ia sudah tidak tahan bisa menahan tawanya. Sepertinya Ia dapat merasakan rasa malu Reynand.


“Dua-duanya aja deh mbak.” Reynand sudah tidak ingin banyak bicara lagi. Ia benar-benar sudah merasa sangat malu saat itu. Ternyata pembalut tidak cuma merk-nya saja yang beda tapi ukuran dan jenisnya pun beda.


“Masnya sosuit ya.” Mbak-mbak Indojuni kembali tersenyum geli menggoda Reynnad.


“So sweet apaan. Cuman beli pembalut so sweet.”


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2