Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Apa Cita-cita Kamu?


__ADS_3

****


Saat itu Reynand tengah ada pemotretan untuk iklan brand sepatu terkenal. Setelah Ia dipotret dengan bermacam gaya dan pose Ia pun kembali ketempat duduknya.


Huh! Dia benar-benar memiliki jadwal yang padat hari ini.


Tak berapa lama, tiba-tiba Dion menghampiri dan memberikan ponsel padanya. Sebuah panggilan masuk diponselnya saat itu.


*KAKEK*


“Halo Kek.”


“Halo Reynand tadi Kakek sudah melihat video kamu bersama wanita di acara tidak jelas itu.”


“Wanita? Maksud kakek? Kenapa tiba-tiba? Acara tidak jelas apa maksudnya?”


“Sudah Kakek bilang jangan melakukan kontak fisik dengan wanita. Kamu itu sudah menikah. Berapa kali kakek harus bilang. Kenapa diacara itu kamu menempel dengan wanita itu. Kakek lihat tayang di TV siang tadi.” Kakek terdengar emosi.


Reynand mencoba mengingat-ngingat. Mungkin Kakek melihat tayangannya bersama Airin di TV siang tadi.


“Ya ampun Kek. Kita tadi nggak ngapa-ngapain. Kita tadi cuma datang untuk promosi film.”


“Promosi film kok nempel-nempel. Sudah! Jangan sampai Kakek melihat lagi tayangan seperti tadi. Atau kamu benar-benar harus keluar dari dunia entertainment dan meneruskan bisnis Kakek.”


Reynand terdiam menahan kesalnya. Kakeknya benar-benar semaunya sendiri. Sifat keras Kakek benar-benar membuatnya mesa tertekan. Apa yang salah dengan dirinya. Ia hanya ingin bekerja, Ia hanya ingin mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri. Dirinya tidak ingin hidup atas bayang-bayang kekuasaan Kakeknya. Reynand pun mecoba mengatur perasaannya. Dadanya benar-benar terasa sesak.


Saat itu diapartemen. Reynand masuk kedalam dengan perasan campur aduk. Perkataan Kakek ditelpon tadi benar-benar merusak mood-nya. Ia merasa perkataan Kakeknya selalu menusuk hati. Kakek selalu sama saja. Suka membuat ancaman jika Ia melakukan hal-hal yang tidak disukai sang Kakek. Ternyata keputusannya untuk tinggal diapartemen sendiri masih membuatnya tidak bisa terbebas dari sang Kakek.


Tak berapa lama pandangan mata Reynand tertuju pada Nayla yang sedang tertiur disofa. Ia pun mendekatinya perlahan. Kemudian duduk berjongkong bertumpu sebelah lututnya untuk melihat wajah gadis yang sedang tertidur pulas situ.


“Lo pasti menderita kan karena pernikahan ini.” Reynand mengelus pipi Nayla pelan. Ingatannya kembali pada saat pertama kali Ia dipertemukan dengan gadis itu. Ia ingat betapa Nayla sangat tertekan ketika akan dijodohkan dengannya. Saat itu matanya terlihat merah dan sembab.


Reynand kembali mengelus pipi Nayla. Lembut seperti kulit bayi. Ia juga menyentuh ujung hidung Nayla dengan jari telunjuknya.


“Gue nggak tau harus memeperlakukan Lo seperti apa. Sebenarnya gue juga belum siap dengan ini semua. Gue juga nggak tau mau menjalani pernikahan ini kedepannya seperti apa.” Ia kembali memegang dan mengelus pipi Nayla. Gadis itu masih terpejam tidak terganggu dengan ulahnya.


Nayla belum juga terbangun, sementara Reynand masih sibuk memperhatikan wajah gadis itu. perlahan Ia mendekatkan dirinya dan mengecup kening Nayla pelan. Tak berapa lama Ia juga mengecup pipi mulus gadis itu. Sasanya benar-benar seperti kulit bayi. Ia tahu seharusnya Ia tidak melakukan itu. Namun entah kenapa Ia merasa dirasuki.


“Maafin gue. Gue udah lancang.” Reynand menundukkan kepalnya dalam. Tanpa menyadari sebenarnya Ia hanya ingin menyayanginya.


Tak berapa lama Nayla pun menggeliat. Ia menggaruk-garuk wajahnya karena merasa ada yang mengganggu. Matanya pun mulai terbuka. Perlahan Ia mulai mengenali sosok yang ada dihadapannya. Nayla pun terkejut. Sosok itu menatapnya sangat lekat.


“Abang. Udah pulang?” Ucap Nayla lirih.


“Dari kapan kamu tidur disini?” Reynand masih duduk berjongkok seperti semula. Wajah mereka sangat dekat dan berhadapan.


“Nggak tau. Kayaknya dari tadi siang.” Nayla beranjak duduk.


Reynand terdiam memperhatikan Nayla.


“Jam berapa sekarang?” Gadis itu sekarang malah bersandar disofa karena masih lesu.


Reynand pun beranjak dan mendudukkan dirinya disebelah Nayla. Ia memperlihatkan layar ponselnya pada Nayla. Nayla membelalak sekarang sudah pukul 09 malam. Lama juga Ia tidur rupanya. Ia tidak menyangka akan tidur seperti orang mati.

__ADS_1


“Kamu udah mendingan?”


Nayla mengangguk. Tubuhnya masih bersender lesu disofa.


“Abang pasti capek ya. Mau aku bikini sesuatu.”


“Nggak usah.”


Suasana hening kembali.


“Boleh saya tanya sesuatu."


Nayla menoleh seketika.


"apa mimpi kamu?”


Nayla tercekat. Tidak biasanya Reynand mengajaknya membicarakan hal-hal seperti ini.


“Apa cita-cita kamu?”


Mimpi? Cita-cita? Apa Ia masih pantas memikirkan itu dengan keadaannya yang sekarang. Dirinya saja bingung saat ini. Apakah Ia masih bisa mengejar mimpinya. Dia sadar kalau Ia sudah menikah.


“Nay.”


“Aku nggak tau. Aku nggak tau apa mimpi aku.” Nayla menundukkan kepalanya berbohong. Walau dalam hatinya berkata sebenarnya masih berharap.


“Nay maaf karena pernikahan ini kamu….”


Nayla pun meninggalkan Reynand yang sedang merasa bersalah untuk masuk kedalam kamarnya. Entah kenapa air matanya menetes. Sebenarnya Ia sudah ingin melupakan soal cita-cita-nya saat ini. Namun tadi kenapa tiba-tiba Reynand menanyakan hal itu kembali padanya. Akibatnya Ia harus mengingat kembali rencana masa depannya.


Beberapa saat terhanyut dalam pikirannya Nayla pun tersadar, Ia segera menggelengkan kepalanya. Kenapa Ia begitu cengeng. Ini pasti mungkin karena hormon datang bulannya.


Segera Ia pun menghapus air matanya. Kemudian bergegas untuk kekamar mandi. Sepertinya Ia kan membasuh wajah dan bagian tubuh lainnya saja. Ia tidak akan mandi saat itu. tubuhnya merasa sangat dingin saat terkena air. Benar-benar banyak yang mempengaruhi perasaannya saat ini. Tubuh dan lututnya yang masih sakit akibat terjatuh dan hormon datang bulannya ditambah lagi pertanyaan Reynand soal cita-citanya yang membuat Ia jadi sedih. Untungnya Ia gadis yang lumayan kuat, sekuat baja.


Setelah mengganti pakaiannya Nayla merasa lebih baik. Ia memperhatikan wajahnya dicermin. Matanya sudah tidak terlalu cekung.


“Nay.” Terdengar Reynand memanggil dari luar kamar.


Nayla pun bergegas membuka pintu. Reynand sepertinya baru selesai mandi.


“Kamu mau makan disini atau didapur? tadi saya sudah panaskan sop siang tadi.”


“Makan didapur aja.”


Saat itu dimeja makan. Mereka berdua duduk berhadapan.


“Saya suapi ya.” Reynand beranjak dan mencoba duduk disamping Nayla.


“Nggak usah. Aku mau makan sendiri.”


“Kamu lagi sakit jadi harus nurut.” Rupanya Reynand masih bersikeras.


“Abang aku bisa kok makan sendiri.”

__ADS_1


“Tapi saya mau suapi kamu.” Laki-laki itu terlihat menyunggingkan senyumnya.


Nayla bergeming menatap Reynand. Kenapa laki-laki ini jadi memaksanya seperti ini?


“Pokoknya kamu harus mau saya suapi.”


Akhirnya Nayla pun nurut dan menerima suapan dari reynand. Melihat Nayla menerima suapannya Reynand tersenyum, setidaknya Ia bisa membayar rasa bersalahnya atas gadis itu karena tadi Ia telah lancang menanyakan hal yang seharusnya tidak Ia tanyakan mengingat keadaan Nayla saat ini.


“Uhuk…. Uhuk….” Tiba-tiba Nayla tesedak. Reynnad pun segera mengambilkan air minum untuknya setelah gadis itu mengeluarkan isi mulutnya.


“Kamu kok bisa tersedak.” Reynand terlihat bingung.


Nayla menggelengkan kepalanya terlihat wajah gadis itu memerah dan mengeluarkan air mata.


“Abang itu ayamnya disuirin dulu. Itu ayamnya kegedean.” Gadis itu meletakkan makanan yang Ia keluarkan dipiring kosong.


Reynand pun menuruti Nayla untuk menyuir ayam. Ia merasa mulai menyukai sikap Nayla yang tidak sungkan padanya. Rasanya seperti sangat menyenangkan. Tidak lagi terasa canggung dan kaku. Seketika timbul ide jahil dikepalanya saat akan menyuapi gadis itu kembali.


“Aaaa.” Reynand mulai mengarahkan sendok kemulut Nayla. Gadis itu pun menganga. Saat sendok akan sampai dimulut Nayla, Reynand memutarnya kembali seperti hendak memainkan pesawat terbang. Reynand melakukan hal tersebut berulang-ulang sampai akhirnya wajah Nayla terlihat kesal.


“Ih Abang.” Nayla memukul lengan Reynand. Wajahnya cemberut.


“Ya sudah Aaaa.” Namun sialnya lelaki itu malah mempermainkannya lagi. Akhirnya Nayla pun benar-benar kesal dibuatnya. Ia pun memilih diam tak merespon saat Reynand akan menyuapinya lagi.


“Nay ayo buka mulutnya.” Nayla diam tak bergeming, Ia sudah merasa sangat kesal terhadap Reynand.


“Nay marah ya.” Reynand mencoba untuk membujuk.


“Nay.” Reynand mencoba mendekatkan wajahnya pada Nayla.


“Abang apaan sih.” Nayla menjauhkan wajahnya dari hadapan Reynand.


“Udah ya jangan ngambek. Ayo makan lagi. Saya cuma becanda.”


“Lagian Abang sih. Ngeselin.”


“Ya udah, maaf ya.”


“Iya” Walaupun begitu Nayla masih memperlihatkan wajah kesal.


Reynand kembali tersenyum geli.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2