Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Dasar Keras Kepala


__ADS_3

****


Pagi hari itu Nayla terbangun dari tidurnya. Senyumnya mengembang tatkala mengetahui Reynand masih berada disampingnya dengan tangan yang masih mendekapnya erat. Ada sedikit rasa bersalah saat itu. Rasa bersalah yang membuat Reynand tersiksa. Bagaimana pun sebenarnya Ia tahu resiko akibat ulahnya semalam. Ia memilik wajah yang memang terkesan polos, tapi tentunya Ia mengerti hal-hal seperti itu. Nayla tersenyum geli ketika mengingat tingkah konyolnya semalam. Tapi, walau bagaimanapun Reynand memang telah membuat dirinya tidur lebih nyenyak dan menghilangkan mimpi buruk yang sering datang padanya dikala tidur dimalam hari.


Nayla menyimbakkan rambut lurus yang menutupi kening Reynand. Ia ingin melihat wajah laki-laki itu lebih jelas. Untungnya Ia bangun lebih cepat dari Reynand. Sehingga Ia bisa lebih leluasa mengamati wajah itu. Benar-benar wajah yang sempurna.


Perlahan Nayla mengangkat kepalanya. Ingin memperhatikan wajah Reynand lebih seksama. Tangannya mulai menyentuh rambut, telinga dan perlahan sebuah kecupan kecil mendarat dipipi Reynand. Nayla menjauhkan wajahnya, Ia tersipu oleh ulahnya sendiri.


Deg! Deg! Jantungnya berdebar-debar. Segera Nayla beringsut bangun dan menuju kekamar mandi. Ia merinding sendiri, kenapa Ia bisa jadi segila ini.


Beberapa saat kemudian. Reynand terbangun oleh suara semprotan parfum dan wangi lembut dari parfum tersebut. Ia pun mulai membuka matanya. Ah, dia sedang berada dikamar nayla. Namun kenapa gadis itu tidak ada disampingnya. Jam berapa sekarang. Kemana gadis itu? apa dia sudah bangun?


Saat membalik badannya samar-samar Ia melihat seseorang tengah menyisir rambut panjangnya. Ia duduk didepan kaca dengan memakai seragam sekolah lengkap. Sontak Reynand pun terduduk.


“Kamu mau sekolah?”


Nayla berbalik arah dan menoleh kearah Reynand.


“Abang udah bangun?” terlihat gadis itu masih menyisir rambutnya.


“Jawab dulu pertanyaan saya. Kamu benar-benar mau berangkat sekolah.”


Nayla mengangguk.


“Tapi kamu masih dalam masa pemulihan.”


“Aku udah sehat kok bang.” Nayla segera meletakkan sisir kembali ketempatnya kemudian mengambil tasnya.


“Abang. Aku pergi dulu ya, takut telat.” Ia terlihat terburu-buru. Gadis itu duduk disofa untuk memakai sepatunya.


“Bentar kamu naik apa?”


“Naik ojek online.”


“Nggak. Jangan naik ojek. Biar saya antar kamu.”


“Nggak usah Abang. Ojeknya udah mau nyampe.” Nayla memperlihatkan layar ponselnya.


“Tapi Nayla nanti kamu bisa masuk angin kalau naik ojek. Apa lagi ini cuacanya lagi mendung.”


“Aku bakalan pakai jaket. Kan nggak mungkin ojeknya aku cancel.”


Reynand pun terdiam. Ia terus memperhatikan Nayla yang terlihat sibuk mondar-mandir menutup lemari pakaiannya.


“Abang aku pergi ya.” Gadis itu segera bergegas keluar dari kamar karena memang sudah hampir terlambat.


Akhirnya Reynand hanya memandangi kepergian Nayla. Karena menurutnya gadis itu tidak bisa dinasehati.


“Dasar keras kepala.”


Reynand memandangi ruangan kamar yang entah kenapa tiba-tiba terasa kosong sepeninggal Nayla berangkat sekolah. Ia kembali menghempaskan dirinya diatas kasur.


Ingatannya kembali pada tadi malam. Ketika gadis itu memohon untuk ditemani tidur. Ah, kenapa dia malu sendiri ya. Harusnya Ia tahu kan siapa sebenarnya yang lebih pantas untuk merasakan malu. Siapa coba yang minta untuk ditemani tidur.


“Tunggu dimana dia tadi ganti pakaian?”


Saat itu disekolah. Nayla dengan terburu-buru turun dari ojek. Berlari mengerjar waktu. Sepertinya kesehatannya benar-benar sudah pulih. Gadis itu sudah sangat lincah. Ia mempercepat langakahnya. Benar-benar harus cepat. Lima menit lagi bel berbunyi.

__ADS_1


Bugh!


“Awww.” Nayla terduduk saat tiba-tiba Ia tidak sengaja bertabrakan dengan Riko.


“Nay, Lo udah sekolah? Lo udah sembuh.” Bukannya meminta maaf Riko pun langsung jongkok sebegitu senangnya melihat Nayla.


“Malah banyak nanya. Bantuin berdiri.” Nayla terlihat cemberut. Dengan senyum masih menyungging dibibirnya Riko bergegas memegang tangan Nayla dan menariknya bangkit.


“Ya ampun Nay. Gue seneng akhrinya Lo sekolah.” Riko merentangkan tangannya seperti hendak memeluk.


“Mau ngapain?” Nayla segera menepis tangan Riko pelan.


“Gue tu kangen sama lo Nay. Gue kangen banget.” Mata Riko berbinar-binar menatap Nayla.


“Iya entar aja kangen-kangenannya. Bentar lagi masuk.”


Ting tong! Bel sekolah berbunyi.


“Tuh kan bel udah bunyi.”


“Udah ya. Gue kekelas dulu. Bye!” Nayla pun bergegas pegi meninggalkan Riko.


“Entar istirahat ketemuan ya. Nay.” Teriak Riko.


“Iyaaaaaaaa.” Nayla menyahut dari jauh.


Saat itu pada jam istirahat sekolah. Seperti biasa Nayla akan diajak oleh teman-temannya untuk nongkrong dikantin. Disana mereka akan mengisi perut untuk mengganti tenaga setelah sedikit terkuras akibat melewati beberapa pelajaran pagi ini. Ya bisa jadi mereka masih mengalami masa pertumbuhan. Jadi butuh asupan lebih banyak.


“Lo beneran udah sembuh.” Tia merasai kening Nayla.


Nayla mengangguk.


“Hmm nggak apa-apa.” Suci tersenyum. Dalam hatinya sudah banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan kepada Nayla. Rasa penasaran yang Ia tahan selama dua hari ini. Ia merasa harus meminta penjelasan Nayla tentang pernikahannya dengan sang aktor Reynand Anugrah.


Nayla pun melirik kearah Suci. Sepertinya Ia mengerti kenapa suci bersikap seperti itu. Tentu saja penyebab Ia mengtahui pernikahannya dengan Reynand pasti adalah penyebabnya. Gadis itu sedari tadi terlihat ingin bertanya banyak hal padanya. Namun sepertinya Ia tahu keadaan, mengingat Tia belum tahu apa-apa tentangnya.


“Nay.” Tiba-tiba Riko datang dan langsung duduk disebelah Nayla.


“Heh Lo nggak usah deket-deket Nayla.” Suci menatap Riko dengan tatapan menusuk.


“Ye emang kenapa? Nggak ada juga yang bakalan marah.” Sewot Riko.


”Gue yang marah.” Suci pun berdiri sembari berkacak pinggang. Ia semakin melototi Riko. Tentu saja Ia melakukan itu karena tahu soal status sahabatnya itu sekarang.


“Nay temen Lo gila ya.” Riko mendengus dan balik melotot kearah suci.


Nayla tidak menjawab, kelakuan kedua temannya itu malah membuat Ia pusing.


“Nay, entar jalan yuk berdua.” Ajak Riko.


“Heh nggak boleh.” Suci kembali membuat Riko kesal.


“Lo kenapa si. Sewot banget.” Riko mendelik. Ia semakin menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Nayla.


“Aduh Lo tu ya nggak usah nempel-nempel sama Nayla.” Suci segera beranjak dan mendorong Riko jauh dari Nayla. Ia pun duduk menggantikan Riko disebelah sahabatnya itu.


“Lo kenapa sih Ci aneh banget hari ini.” Tia menatap Suci heran, karena menurutnya sikap Suci terlalu berlebihan.

__ADS_1


“Iya Lo napa sih sewot banget. Atau jangan-jang Lo suka ya sama gue.” Sewot Riko. Ia pun beralih duduk disebelah Tia.


“Ih ya ampun geer banget sih Lo. Gue ini lagi ngelindungin Nayla karena…..” nih anak udah punya suami. Dan dia sendiri nggak sadar seharusnya dia nggak boleh deket-deket cowok lain kalau udah nikah. Suci melempar tatapan dalam pada Nayla.


“Aduh Ci biarin aja kenapa.” Bisik Nayla pada Suci.


“Biarin gimana Lo kan udah punya su…..”


“Lo tuh ya.” Nayla segera membekap mulut ember Suci.


“Kalian berdua kenapa sih?” Tia menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian.


“Nggak apa-apa.” Sewot Suci.


“Aneh banget. Lo berdua ngerahasiain sesuatu ya dari gue.” Tia menuding kedua sahabatnya.


Nayla dan Suci memilih diam. Menyimpan sebuah rahasia besar untuk diri mereka masing-masing. Rahasia yang akan membuat semua orang tercengang jika mengetahuinya.


~


Saat itu disebuah tempat Gym. Hanya mereka berdua disana, Reynand dan sang manager.


“Aneh banget sih Lo tiba-tiba ngajak Gue ngegym.” Dion berjalan lambat diatas treadmill-nya.


“Woi. Lo denger gue nggak sih.”


Reynand tidak menjawab. Ia malah menambah laju kecepatan treadmill yang sedang Ia naiki. Ia ingin tubuhnya bergerak lebih banyak saat ini. Dirinya mengeluarkan keringat lebih banyak. Jujur saja beberapa hari ini Ia tidak bisa fokus dan kurang konsentrasi.


Benar saja Ia benar-benar masih tidak bisa fokus. Bayangan wajah Nayla terus hadir dipikirannya. Reynand pun kembali menambah kecepatan treadmilnya. Sampai akhirnya Ia pun ambruk dengan tubuh penuh keringat.


“Rey Lo udah siap-siap belom?”


“Siap-siap apa?” Berucap dengan nafas yang belum teratur.


“Lah hari ini, nanti siang kita berangkat keluar kota.”


“Kok Lo nggak bilang?” Reynand langsung terduduk kaget.


“Nggak bilang gimana! Ini jadwal udah dari satu bulan yang lalu. Kemarin gue juga udah bilang kan sama Lo”


Reynand terdiam.


“Astaga Reynand. Lo mikirin apa sih? Gue kira Lo udah packing.” Dion menatap Reynand dengan pandangan tidak mengerti.


Reynand masih terdiam. Ia tidak menyangka bahwa hari ini ada jadwal keluar kota.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2