
****
Menunggu jemputan Pak Tio sementara keadaan disekitarnya sudah sepi membuat Nayla benar-benar bosan. Lama juga Pak Tio menjemputnya. Sudah hampir satu jam dia menunggu.
Ah, dia lupa kenapa tidak ditelepon saja. Dari tadi kenapa tidak kepikiran sih.
Jadi begitulah Nayla akhirnya menelepon Pak Tio. Dan, benar saja sebuah alasan masuk akal dia dengar. Mobil tiba-tiba mogok ditengah jalan dan sedang berada dibengkel.
Kesal, iya. Akhir-akhir dia memang gampang sekali kesal jika ada hal-hal seperti ini. Kenapa Pak Tio tidak meneleponnya sih, kalau mobil mogok.
Akhirnya Nayla pun berinisiatif untuk memesan taksi online. Lalu begitu, dia harus menunggu lagi sekita beberapa menit.
Lelah, lesu dan lemah semuanya dirasakan. Dia tidak mengerti entahlah. Suhu tubuhnya juga terasa aneh. Nayla bisa tiba-tiba kesal sendiri dengan dirinya entah apa penyebabnya itu.
Saat ia menunggu taksi online yang dipesan, tiba-tiba sebuah mobil merah terang menyala tiba-tiba mendekat. Mobil itu, sepertinya ia pernah melihat.
Mobil pun berhenti tepat didepannya. Seiring dengan mesin mobil yang berhenti beberapa saat kemudian sang pemilik pun membuka pintu mobilnya.
Wanita cantik nan seksi dengan lipstik merah menyala yang sepadan dengan warna mobilnya terdebut keluar dengan sempurna.
Melepas kaca mata hitamnya, lalu ia tersenyum sinis menatap Nayla.
Astaga, mata indah Nayla membulat. Wanita tidak tahu diri yang telah menjambak dan mendorongnya hari itu dengan angkuhnya mendekat.
Suara hak sepatu super tinggi yang menjadi alas kaki mulus nan jenjang itu terdengar jelas saat melangkah.
"Hai!" Begitulah Airin bersidekap dengan sebelah kacamata ditangannya.
Tidak menjawab sapaan itu Nayla malah melotot tajam. Entah kenapa tiba-tiba darahnya mendidih. Wanita ular, kenapa dia bisa-bisa ada disini.
"Kayaknya gue nggak salah orang ya." Ucap Airin kemudian sembari mengerucutkan bibir seksinya. "Owh, rupanya lo anak SMA." Airin menurunkan kepalanya untuk memperhatikan Nayla dari atas sampai bawah.
Airin kemudian menggigit telunjuknya pelan. "Lo belum jawab pertanyaan gue waktu itu." ujarnya setelah melepas gigitan seksinya. "Lo, siapanya Reynand? Adik? Sepupu?" Tanyanya penasaran.
Uh, Nayla menatap dengan seksama. Sebegitu penasaran si ular ini dengan dirinya. Nayla lalu bersidekap tak kalah menantang. Gadis itu kini terlihat berani dengan seragam SMA-nya. Cih, Nayla memalingkan wajah. Kenapa tiba-tiba ia jadi kasihan dengan si Airin ini ya. Sampai sebegitunya dia menginginkan Reynand.
Hah, benar-benar tidak tahu malu.
Airin menurunkan tangannya yang masih bersidekap. Ditatap seperti itu membuat dirinya merasa sangat direndahkan.
"Heh, lo nantang gue." Namun, segera Airin menahan kesabarannya. Ia ingat kemarahan Reynand malam hari itu. Takut-takut kalau gadis dihadapannya ini adalah bagian dari keluarga Reynand. Ya, Airin harus meyakinkan itu, dia adalah keluarga Reynand yang tidak mungkin memiliki hubungan romansa. Apalagi suami istri.
Haha, lucu sekali kalau Reynand benar-benar menikah dengan gadis SMA ini.
Duh, Nayla sebenarnya sangat malas loh bertemu dengan tante-tante ini. Sudah tidak tahu malu, main ngegas lagi bicaranya.
"Lo, bisa ngomong nggak sih sebenarnya?"
Ngomong? Bisa, hanya saja Nayla enggan menjawab. Bukan apa-apa, ia sesungguhnya sangat malas untuk berdebat. Jadi, dari pada nantinya dia salah melontarkan kata-kata dan si ular ini terpancing lalu dia dapat masalah lagi, seperti dijambak mungkin, lebih baik Nayla diam sembari menunggu taksi online yang ia pesan sampai.
Nayla akhirnya berusah mengabaikan wanita dihadapannya itu.
"Heh, lo punya santun nggak sih. Kalau orang tua nanya itu dijawab." Airin berkacak pinggang.
Ya tuhan, mendengus kesal Nayla pun mencoba berlalu dari hadapan si ular.
__ADS_1
Lalu Airin pun mengejar. "Eh, lo mau kemana?" Pergelangan Nayla pun berhasil dia gapai.
"Jawab pertanyaan gue." Ujar Airin lagi.
Berusaha Nayla mencoba melepas genggaman itu. "Maaf saya buru-buru taksi online yang saya pesan sebentar lagi sampai."
Menatap tangannya yang ditepis pelan oleh Nayla. "Aduh, ya ampun anak kemarin sore aja belagu lo ya." ucapnya sinis. "Ikut ke mobil gue lo." Lalu kembali menarik paksa.
"Kok maksa sih!" ketus Nayla kemudian.
"Gue cuma mau ngajak ngobrol, apa susahnya sih." Airin semakin memaksa dengan mata melotot.
Melangkah saat tangannya tertarik cepat sementara sebuah taksi online mendekat. Dengan cepat Nayla pun mendorong tubuh Airin hingga tarikan itu kembali terlepas.
Nayla tersengal. Hanya untuk melepas pegangan Airin saja ia merasa ngos-ngosan. Merogoh saku roknya saat dering telpon berbunyi. Ia yakin itu dari supir taksi online yang berhenti tidak jauh dari mereka.
Namun saat tangan itu hendak memencet tombol disana tiba-tiba Airin mendorongnya hingga ponselnya terjatuh.
"Berani ya lo dorong-dorong gue." Mata Airin melotot tajam. Ia jadi semakin penasaran tentang siapa gadis dihadapannya ini. Tentang apa hubungannya dengan Reynand yang membuatnya panas.
"Lo mau tau? Gue udah punya istri. Gue udah nikah."
Kata-kata Reynand malam itu terus terngiang, tapi apa mungkin, Reynand menikah dengan seorang gadis SMA. Baiklah kalau gadis ini tidak menjawab, Airin sendiri yang akan memaksanya.
Bugh! Tubuh Nayla langsung tersentak di body mobil milik Airin.
"Jawab gue. Ada hubungan apa lo dengan Reynand?!" Airin mengurung tubuh Nayla dengan kedua tangannya penuh paksaan.
"Minggir aku mau pulang." Nayla mendorong tubuh itu dengan keras.
Nayla bungkam dengan sorot mata yang tidak dapat dijelaskan.
Dan, itu berhasil membuat Airin semakin tersenyum sinis. Jadi, benar.... lalu apa mungkin gadis ini....
"Reynand itu punya cita-cita, gue tau. Dan, gue nggak percaya sih dia udah nikah di usia semuda itu. Karena gue yakin itu bakalan merusak masa depannya dia." Jelas Airin dengan sengaja.
Mendengar itu Nayla menggeram, benar-benar bedebah. "Minggir!!" Ia lalu mendorong Airin dengan kasar. "Dasar nggak tahu malu!"
Owh, baiklah jadi benar-benar ada sesuatu yang tersembunyi. Maka dengan cepat Airin langsung menarik rambut panjang yang tergerai itu.
"Lo bilang gue nggak tau malu." Tariknya pada rambut halus Nahla sementara tangan satunya lagi menarik seragam Nayla dari belakang hingga tubuh gadis itu benar-benar tertarik dengan kuat.
"Aw...." Nayla memegangi rambutnya yang ditarik Airin. "Sakit...." Lemah, tubuhnya benar-benar lemah. Dia tidak memiliki tenaga untuk melawan. Rasanya dia ingin pingsan saja.
"Lo bilang gue apa?"
"Murahan!! Ular!!" Oke kali ini Nayla keceplosan mungkin karena saking kesalnya.
"Apa?" Menarik rambut itu hingga tubuh Nayla kembali terbentur dengan sangat keras disisi mobil.
Plak!! Plak!!
Dua tamparan cepat itu pun berhasil mendarat dipipi mulus Nayla. Ia mengerjap tidak menyangka. Dirinya seketika mematung, tubuhnya bergetar kuat tiba-tiba. Dia baru saja ditampar kuat oleh Airin? Nyeri, perih dan panas, semuanya bercampur menjadi satu. Dadanya tiba-tiba sesak.
Airin kemudian menarik wajah itu dengan jari-jari panjangnya menekuk dikedua sisi pipi Nayla. "Makanya punya mulut itu dijaga jangan asal ngom...." Maka sebelum Airin selesai bicara kepalanya tiba-tiba tertarik keras kebelakang dengan cepat.
__ADS_1
"Kamu apakan putri saya!" Tangan itu terus menarik kuat rambut Airin sampai dia menjerit kesakitan.
Nayla mengangkat kepalanya sembari memegangi wajahnya yang masih panas.
Mami!
"Lepasin.... awww." Kini berbalik Airin yang dijambak dengan sekuat tenaga oleh Mami Miska hingga terseret mundur kebelakang.
"Benar-benar tidak tahu diri ya kamu." Mami Miska lalu menghempas tubuh itu hingga terjerembab dengan kuat diatas aspal.
Tak puas, Mami menaikkan lengan kemeja panjangnya lalu kembali menghampiri Airin yang masih terkejut dengan melangkah begitu cepat.
"Berdiri kamu!!" Mami Miska menarik baju Airin pada bagian dada dengan kuat sehingga gadis itu perlahan terangkat.
Plak! Plak!
Dua tamparan sekuat tenaga dari Mami Miska mendarat dipipinya. "Itu untuk dua tamparan yang baru kamu berikan kepada putri saya tadi."
Airin merasakan pipinya memanas. Matanya melotot menatap Mami Miska terkejut. Dan, saat ia mencoba berbicara tiba-tiba....
"Lalu ini....."
Plak!!!! Plak!!!!
Kali ini Mami Miska menambah kekuatan tamparannya berkali-kali lipat dengan menggebu-gebu.
"Inilah akibatnya jika berani mengganggu rumah tangga orang lain." Mami Miska ngos-ngosan, mungkin karena terlalu emosional.
Lalu Mami berkacak pinggang.
"Jangan lagi kamu ganggu anak atau menantu saya." Mami menjeda sejenak mengatur nafas. "Seharusnya saya mencari kamu dari dulu sejak berita murahan itu keluar."
Airin lalu mendongak kebingungan. Berita dia bersama dengan Reynand begitu?
"Ingat, jangan lagi kamu menyebar berita murahan seperti itu. Atau, kalau tidak bukan hanya tamparan yang akan saya berikan, saya akan melakukan apapun untuk membuat kamu lebih hancur dari ini, walau harus mengorbankan mengorbankan nyawa saya sekali pun." Mami berkata penuh keyakinan.
Ya tuhan, Nayla merasa sesak. Mami sampai berkata seperti itu untuk membelanya.
Ucapan itu kembali menggebu. "Jadi, lebih baik kamu urus hidup kamu dengan baik. Kamu masih muda, seharusnya kamu mengejar sesuatu yang lebih penting dibanding mengejar-ngejar suami orang!!" Mami Miska tersenyum dipaksakan. Maka sebelum orang-orang yang melihat mengerumuni mereka, Mami dengan cepat membawa Nayla pergi dari sana. "Ayo pulang Nay!!!!" Menarik tangan putrinya dengan cepat.
Airin memegangi pipinya yang terasa sangat sakit, terbakar dan perih. Hatinya yang sekeras batu mencelos seketika. Jadi benar, kalau Reynand dan gadis itu, mereka adalah suami istri?!
Ini sudah sakit karena empat tamparan kini hatinya juga merasakan sesuatu yang lebih sakit lagi oleh sebuah kenyataan pahit.
Ini dia tidak sedang mimpi bukan?
*
*
*
*
Happy Reading aja deh.
__ADS_1