Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Libur


__ADS_3

****


Saat itu didalam mobil. Langit terlihat begitu gelap, tidak ada bulan ataupun bintang yang keluar. Sepertinya akan hujan, angin mulai berhembus kencang.


Reynand terdiam didalam mobilnya. Kegiatan hari ini cukup melelahkan juga. Rasanya Ia ingin segera sampai keapartemen mandi air hangat dan langsung tidur. Sementara Dion fokus menyetir dikursi kemudi.


“Tadi Nayla dateng, Lo nggak liat? Dia sama teman-temannya.”


Reynand menganggukkan kepala, pandangannya datar kedepan.


“Gue tanya dia, kenapa dia nggak nemuin Lo.”


“Hmmm?” Reynand menunggu lanjutan ucapan Dion.


“Dia nggak jawab apa-apa, Terus kabur ke toilet.”


Mereka berdua terdiam sejenak.


“Lo tau nggak gue nanyanya gimana? Emang nggak mau nemuin suaminya.” Dion tergelak dengan ucapannya sendiri.


Sementara Reynand ikut tersenyum tipis mendengar cerita Dion. Seperti Ia tertarik.


“Katanya dia dipaksa, sama temen-temennya.” Dion tertawa kembali.


Reynand kembali tersenyum, padahal tadinya Ia pikir gadis itu datang atas kemauannya sendiri.


“Dia bosen kali ngelihat Lo.” Dion melanjutkan ucapaannya candaannya dengan tawa.


Hujan pun turun dengan derasnya, sangat deras. Angin bertiup sangat kencang. Mendadak lampu padam disepanjang jalan. Sepertinya listrik mengalami kerusakan akibat terputus oleh hujan deras dan angin kencang.


Bersyukur saat diapartemen, keadaan listrik baik-baik saja. Rupanya imbas hujan deras dan angin kencang tidak sampai ketempat mereka.


Seperti biasa lampu kamar Nayla masih menyala dijam tengah malam seperti ini. Gadis itu rupanya seorang yang benar-benar keras dalam belajar. Laki-laki itu dapat mendengar suara printer yang berbunyi dari luar kamar. Reynand jadi penasaran sehebat apa gadis itu disekolahnya.


Mendadak listrik padam. Nayla yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya merasa kebingungan. Ia mengambil ponselnya. Namun sial, batre tinggal lima persen. Padahal tugas sekolahnya sebentar lagi selesai. Ia pun segera keluar kamar hendak mencari apa pun yang bisa dipakai untuk penerang. Keadaan yang gelap membuat Ia dengan baik-baik menggunakan sisa batre ponselnya sebagai penerang.


Gadis itu hampir jantungan ketika mendadak Ia tidak sengaja mengarahkan lampu senternya kearah wajah Reynand.


Reynand tersenyum dibali kegelapan. Ekspresi gadis itu hampir membuatnya tertawa.

__ADS_1


“Mau kemana?” wajah Reynand sedikit terlihat dibalik cahaya remang-remang.


“Itu, aku belum selesai ngerjain tugas sekolah.” Nayla terdengar mengadukan keluhannya. Ia agak panik saat itu.


“Terus.”


“Em, Abang ada senter atau sesuatu yang bisa dipakai.” Memberanikan diri untuk bertanya.


“Sini.” Reynand berjalan menuju kamarnya.


Nayla masih terdiam mematung, batre ponselnya tinggal dua persen.


“Kenapa masih disitu. Sini.”


Nayla bergegas. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya. Lalu tidur. Bisa-bisa Ia tertidur lagi saat jam pelajaran dikelas. Ia harus segera mengerjakan tugasnya dan segera kekasur.


Nayla mengikuti Reynand masuk kedalam kamar. Laki-laki itu juga memakai ponselnya sebagai penerang. Ia mengambil sesuatu didalam lemari.


“Nih.” Sebuah kotak ponsel, Ia serahkan kepada Nayla.


Nayla belum mengambilnya, Ia sedikit bingung. Apa maksud laki-laki itu menyerahkan kotak ponsel baru padanya.


“Nih ambil.”


“Itu hape masih baru. Gue nggak pake.buat Lo aja.”


Nayla memperhatikan ponsel pemberian Reynand. Ia ingat ponsel ini pernah diiklankan di TV dengan Reynand sebagai modelnya.


Blaam….


Ponsel Nayla benar-benar mati. Sial, Ia mengutuki hal itu.


“Ya udah pakai dulu hape gue yang ini.” Menyerahkan ponsel yang sedang Ia pakai sebagai penerang.


“Terus abang?” Nayla merasa tidak enak.


“Gue pakai hape yang satunya lagi.”


“Ahhh, orang tajir benar-benar beda.”

__ADS_1


“Ya udah, tunggu apa lagi? Sekarang kerjain tugas sekolah Lo.”


Nayla tersadar. Benar, tugas sekolahnya harus Ia kerjakan segera.


Petir masih menyambar-nyambar terlihat dari kaca jendela yang tertutupi gorden.


Hujan semalaman turun dengan derasnya. Bahkan pagi itu, rintik-rintik hujan masih terlihat.


Nayla yang sudah siap dengan seragam sekolahnya mendadak bingung. Dari atas apartemen Ia dapat melihat jalanan penuh dengan genangan air dan terlihat sepi. Bagaimana Ia akan berangkat sekolah. Atau jangan-jangan sekolah libur, begitu pikirnya.


Tak berapa lama listrik hidup. Nayla langsung meraih ponselnya hendak menghubungi teman-temannya. Ia harus tau ada kabar apa digrup chat kelas hari ini.


Dan benar saja Ia dapat melihat grup sudah heboh. Banyak pesan masuk diponselnya.


“Woi hari ini libur.”


“Banjir, banjir….”


“Sekolahan emang banjir woi?”


“Jalannya yang banjir.”


“Sekolah juga banjir.”


“Iye gue nggak ada perahu buat berangkat wkwk.”


“Udah-udah mending dirumah aje. Bobok dikasur.”


Sudah jelas. Ia tidak jadi berangkat sekolah.


Tidak ada komentar yang ditinggalkan oleh gadis itu. Ia memang lebih memilih untuk jadi pengamat digrup chat sekolahnya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2