
****
Mama menghela nafas sesaat setelah kakek keluar dari ruangan itu. Sudah tiga hari kakek membiarkannya terkurung disana. Mama sebenarnya merasa kasihan. Kakek memang tidak melakukan kekerasan akan tetapi ia melakukan suatu hal yang lebih menekan putranya.
"Pa, kasihan pa Reynand." Begitulah mama Adel mengatakan kegundahannya kepada kakek.
Kakek bungkam. Ia tidak menggubris mama Adel. Kebungkaman yang mengerikan itu ia rasa cukup untuk memberikan jawaban atas ucapan mama Adel tadi. Melihat raut terdiam putrinya maka kakek pun melangkah untuk berlalu dari sana.
Mama Adel menunduk. "Aku boleh lihat Reynand kan, pa?"
"Em...." Satu kata yang mengiyakan permintaan itu.
Dua orang pengawal membiarkan mama untuk masuk keruangan.
"Reynand...." Mama menghampiri putranya yang terduduk lesu dengan tumpukkan berkas dihadapannya.
"Ma, aku kan udah setuju buat jadi penerus perusahaan, tapi kenapa kakek malah ngelakuin ini? Aku pusing ma ngelihat berkas-berkas ini. Aku mual dan ngerasa nggak enak badan bahkan kakek nggak perduli."
Mama bungkam menatap putranya dengan seksama. Sudah lama Reynand tidak berkeluh kesah seperti ini padanya. Entah kenapa Mama jadi merasa sangat senang.
"Ma aku kayak dipenjara kalau begini." Reynand kembali memelas. "Perasaan aku juga nggak enak. Ada yang ngeganjel terus dari beberapa hari yang lalu."
Mama menghela nafas. "Mungkin kakek ingin kamu instropeksi diri sebentar, Reynand. Lebih baik kamu pakai keadaan saat ini untuk berpikir. Kamu turuti aja dulu ya apa maunya kakek. Nggak bakalan lama."
Reynand mendesah cepat. "Ma, aku nggak bisa mikir kalau begini. Udah tiga hari aku dikurung begini. Aku bisa gila Ma. Aku udah bilang kalau aku setuju mau nerusin perusaan kakek. Tapi kakek malah menyuruh aku buat mempelajari berkas-berkas ini dan bukannya mengadakan konferensi pers buat ngenalin aku. Ma, berkas ini bahkan udah ada sebelum mama lahir. Ejaannya pun beda dengan ejaan sekarang. Ma jaman sekarang tuh udah canggih. Kenapa sih Ma kakek bisa jahat begini?"
Mama Adel tersenyum melihat kegundahan itu. Berapa sih umur putranya ini sebenarnya, kok sifatnya masih seperti ini sih. Untung saja sekarang sudah ada istri. Jadi sifatnya yang keras dahulu sedikit melunak. Tapi, dari pada putranya terlalu banyak tanya dan ia merasa sulit untuk menjelaskan setiap pertanyaan itu maka mama pun segera keluar dari ruangan itu.
Reynand lalu berjalan cepat dan menghentikan langkah kakinya dihadapan mama. "Ma, tolong.... ma aku keluar sakarang bareng mama, oke. Bilang sama om pengawal itu aku lagi sakit atau apa gitu, buat alasannya."
Mama menunduk dan tersenyum lagi sejenak, ia benar-benar tidak tahan melihat tingkah Reynand seperti ini. Sampai akhirnya ia berlalu dari putranya. Reynand mengejar melangkah cepat. Namun, saat ia berada didepan pintu para pengawal kakek yang perawakan fisiknya mirip ala militer dan super berotot layaknya Mike Tyson itu kembali menghalanginya.
"Om, tolong. Aku mau keluar." pintanya pada dua pengawal itu dengan wajah super memelas.
"Aku tiba-tiba sakit om." Alasannya. "Om plis...."
Seperti tidak perduli pengawal itu segera menutup pintu kembali dengan cepat.
"O-om.... tolong"
Ya, tuhan. Reynand pun hanya bisa menghela nafas panjang.
Apa sebenarnya tujuan kakek mengurungnya seperti ini? Reynand lalu mendudukan dirinya kembali di sofa.
Aiiisshhh, dia benar-benar tidak bisa di perlakukan seperti ini.
__ADS_1
Reynand mondar-mandir sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagimana kalau dia kabur saja dari sini. Reynand benar-benar tidak betah. Ia bisa gila, benar-benar bisa gila kalau didalam sini terus. Ia yakin kakek malah akan lebih kebingungan lagi kalau memiliki cucu yang tiba-tiba terkena gangguan jiwa.
Ia adalah orang yang berjiwa bebas. Dikurung dengan pengawalan ketat seperti ini sungguh ia akan jadi frustasi. Jika beberapa hari lagi dia berada di dalam ruangan ini ia yakin dirinya akan benar-benar tidak waras.
Maka dari itu Reynand mulai berusaha mencari jalan keluar lain. Bodoh, kenapa tidak dari kemarin ia memikirkan cara ini. Kenapa coba dia harus menahan diri terkurung di tempat yang membosankan seperti ini.
Semua jendela yang ada di didalam ruangan ini di pasang tralis yang sangat tebal. Tapi sebenarnya ada sebuah jendela kecil dekat lemari diujung situ yang tidak dipasang tralis dan kemungkinan ia bisa berusaha keluar dari sana.
Maka dengan cepat Reynand melangkahkan kakinya untuk melangkah kesana.
Huh, jendelanya pun dikunci mati. Pikiran Reynand sangat kusut saat ini. Jadi, dia tidak bisa untuk berpikir jernih lagi sekarang. Maka dengan cepat ia ambil palu. Reynand memejamkan matanya sesaat sebelum mengayunkan benda besi itu.
Berkali-kali dia meminta maaf kepada kakeknya sebelum melakukannya.
"Maaf kek...."
Praang!!
~
Sudah beberapa tissu yang Nayla gunakan untuk menyumbat hidungnya yang tiba-tiba mimisan pada malam hari itu. Jarang-jarang ia mimisan seperti ini. Pikirnya ia begitu karena terlalu lelah untuk memaksakan diri belajar terlalu keras untuk
menghadapi ujian yang akan ia hadapi.
Malam itu hujan turun dengan sangat deras. Mami belum pulang dan hanya ada ia bersama Romeo didalam rumah.
"Pijitan kakak dek." Pinta Nayla sembari memijat mijat tengkuknya. "Pundak kakak pegel nih, kayaknya gara-gara kebanyakan nunduk."
Romeo yang baru saja meletakkan air minum diatas meja tempat Nayla duduk lalu mendekat.
"Masih keluar darahnya kak?" Tanya Romeo kemudian sembari mulai memijat pundak sang kakak.
"Em...."
"Kakak kecapean mungkin, istirahat aja dulu." Ujar Romeo khawatir.
"Besok ujian dek, ya kakak harus belajar dong." Ujarnya sembari menikmati pijatan itu.
Romeo menyunggingkan sudut bibirnya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan dikepala remaja berusia 14 tahun itu saat ini. Mengenai keadaan sang kakak yang tiba-tiba berubah drastis.
"Kakak sama bang Rey, kalian berdua kenapa sih kak? Berantem?"
"Nggak." Jawab Nayla singkat.
"Tapi, kok kalian misah gini?" Romeo memang banyak tanya. Dia tidak paham dengan perasaan kakaknya saat ini.
__ADS_1
"Kak!" Romeo masih penasaran tak sadar kalau sang kakak tak ingin untuk menjawab itu.
"Nggak apa-apa dek, kita cuma lagi sibuk masing-masing aja. Udah ah, kakak nggak mau bahas itu." Lebih baik Nayla tidak membahasnya, karen jujur saja dadanya akan semakin sesak jika ia membahas masalah itu. Ini saja dia sudah kesulitan bernafas karena terus memikirkannya.
"Tapi kok kakak balik kerumah si?? Aku heran. Kakak kan udah nikah terus sekarang bagaimana hubungan kalian kalau pisah kayak gini?" Pertanyaan polos itu terus keluar dari mulut Romeo.
"Ya masih suami istri dong dek. Kita cuman pisah sebentar." Sebentar? Tapi, Nayla merasa kecewa akan janji Reynand hari itu. Yakni, janji akan segera menjemputnya bahkan sampai sekarang tidak ada kabar.
"Kak, kalau suami istri, seharusnya nanti kalian bakalan punya anak dong."
"Iya, kalau kakak punya anak nanti kamu jadi om." Lalu Nayla berbalik menatap Romeo tersenyum.
Lalu Romeo semakin semangat memijat pundak itu. "Kakak maunya anak cewek apa cowok?"
"Apa aja dek, yang penting sehat." Nayla semakin larut dalam obrolannya dengan Romeo.
"Oh, iya kak. Kira-kira, em...." Romeo terlihat agak ragu. "Diperut kakak...." Kok Romeo jadi tidak enak dengan pertanyaan saat ini.
Kemudian Nayla menoleh kembali. "Kenapa dengan perut kakak?" Tanyanya heran.
"Udah ada bayinya belum?"
Nayla mengerjap mendengar pertanyaan itu. "Apa tadi kamu bilang?"
Romeo kemudian terkekeh. "Aku penasaran, diperut kakak udah ada adek bayinya belum?"
Deg! Bayi? Diperutnya? Nayla kemudian mengelus-elus perut yang masih rata itu. Membahas soal perut, lalu ia ingat ucapan mami beberapa waktu yang lalu.
"Kamu nggak boleh capek-capek. Nggak usah banyak gerak dulu."
"Ingat, pokoknya kamu dengerin Mami. Jangan angkat-angkat barang yang berat-berat atau apapun. Jangan lari-lari."
"Mami tuh sayang sama kamu, pokoknya kamu jangan ngapa-ngapain dulu hari ini sampai selesai ujian."
"Terus perutnya dijaga ya. Jangan sampai kebentur atau cidera."
Ya tuhan, tiba-tiba ada sesuatu yang menyusup dalam diri Nayla saat ini. Apa mungkin dirinya sedang....
*
*
*
*
__ADS_1
Kalau ada typo nanti aku perbaiki.
Happy Reading!