
****
Reynand memandangi guling yang jadi pembatas antara dirinya dan Nayla. Padahal dalam bayangnya tadi dia akan tidur sambil memeluk istrinya itu. Nayla benar-benar menunjukkan penolakkan dengan jelas. Itu membuat dia kecewa dan sedih.
“Nay.”
Pura-pura tidur dan pura-pura tidak mendengar. Nayla terus berusaha memejamkan matanya.
“Nayla. Kamu sudah tidur.” Reynand mengangkat kepalanya mencoba melihat apakah gadis itu sudah tidur atau belum. Nayla yang menyadari hal itu buru-buru memejamkan matanya.
Akhirnya sampai tubuhnya berkeringat. Nayla belum juga bisa memejamkan mata. Apa dia harus minum obat? Kebiasaan buruknya kumat lagi. Terlalu banyak pikiran dapat membuatnya susah tidur.
Merasa tidak ada pergerakan dan Reynand tidak memanggilnya lagi. Nayla mencoba memutar tubuhnya perlahan. Reynand sudah terpejam. Sangat tenang dan….
“Belum tidur?”
Nayla terkejut. Reynand tiba-tiba membuka matanya. Mendadak dia was-was kembali. Tubuhnya tambah berkeringat. Bayangan buruk tentang artikel yang dibacanya menari-nari dikepalanya.
“Kamu kenapa? Wajah kamu pucat.” Mencoba mendekati Nayla.
“A-aku nggak apa-apa.” Menjauh.
“Nayla ada apa?” Menggeser guling pembatas dan berusaha meraih tubuh gadis itu.
“Aku nggak apa-apa.” Menepis tangan Reynand yang mencoba meraihnya.
Reynand mengehela nafas panjang. Sepertinya dia tahu apa yang dipikirkan Nayla tentangnya. Gadis itu, apa dia memucat karena takut dirinya melakukan sesuatu. Bahkan dirinya sudah membung niat itu malam ini saat Nayla mulai menolaknya tadi. Dia tahu gadis itu butuh waktu untuk paham akan hal-hal tersebut.
“Kamu kenapa? Tenang saja abang hanya ingin memeluk kamu.”
Nayla mulai tenang mendengarkan perkataan Reynand.
“Hem, jadi mau Abang peluk?" merentangkan tangannya mencoba memeluk Nayla.
Dengan ragu-ragu gadis itu akhrinya menerima pelukan Reynand. Pelukan yang sangat nyaman sebenarnya. Dia benar-benar telah memikirkan hal yang bukan-bukan. Nayla merasa sepertinya otaknya perlu segera dibersihkan dari prasangka buruknya terhadap Reynand
~
Pagi hari yang cerah. Nayla terbangun dari tidur lelapnya. Dia ingat, dirinya ada dirumah kakek. Dilihatnya jam yang ada diatas meja. Nayla tersentak, sudah jam 06:20. Hari ini hari senin. Dia harus sekolah. Dengan hati-hati dilepaskannya pelukan Reynand yang melingkar erat ditubuhnya. Tubuh Reynand sangat berat. Bagaimana ini? jika dia menggesernya kuat Reynand akan bangun.
Huh! Akhrinya dia dapat melepaskan diri dari pelukan Reynand. Bergegas diambilnya handuk dan segera masuk kekamar mandi.
Baju sekolah. Iya baju sekolahnya dimana? Bagaimana ini? dia benar-benar buru-buru.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa bolak balik begitu.” Reynand memasang senyum sumringah dengan muka bantalnya. Laki-laki itu berbaring telungkup sembari wajahnya menghadap kearah Nayla.
“Abang dari kapan sudah bangun?” Santai sekali. Apa sedari tadi Reynand memperhatikan gerak gerikny? Nayla tidak sadar kalau Reynand sudah bangun dari tidurnya. Dia menutup bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangan.
Melihat hal tersebut membuat Reynand tertawa geli. Apa yang dipikirkan gadis itu? Memang ada niatan apa dirinya dipagi hari seperti ini?
“Abang baju sekolah aku, barang-barang aku mana?” Masih memasang wajah kesalnya.
“Sebentar saya tanya dulu kesupir yang mengambil baju kamu semalam.” Beranjak dari kasur. Kemudian keluar dari kamar dengan rambutnya acak-acakannya.
Sementara itu Nayla masih menunggu didalam kamar. Sudah sejak kapan Reynand melihatnya mondar mandir seperti itu. kenapa akhir-akhri ini dia selalu salah tingkah jika Reynand memandangnya seperti itu. Ada apa dengan otaknya sekarang. kemana Nayla yang dulu? Nayla yang berpikiran polos dan lugu. Ini semua gara-gara dia membaca artikel sialan itu. Andai saja dia tidak mencari tahu tentang hal itu pasti sekarang pikirannya tidak akan teracuni seperti ini.
Beberapa saat kemudian Reynand kembali masuk kedalam kamar. Dilihatnya Nayla sudah memakai thanktop dan celana pendek ketat berwarna hitam. Reynand meneguk ludahnya. Kenapa Nayla bisa terlihat seksi begitu. Gadis itu terlihat lebih dewasa. Dia mencoba mengatur nafasnya pelan. Ini tidak bagus bagian tubuhnya mulai mengeras dan tegang.
“Mau diletakkan kemana mas Reynand.” Pak Tio salah satu sopir rumah itu meminta izin masuk. Dia membawa sebuah box besar sepertinya sangat berat.
“Eit, eit tutup mata.” Reynand merasa tidak suka saat pak Tio tanpa sengaja memperhatikan istrinya. Pak Tio pun menunduk. Menjaga pandangan mata.
“Permisi mas Reynand.” Mbok Yana membawa beberapa koper kedalam kamar.
Setelah pak Tio dan Mbok Yana keluar Reynand segera menutp pintu kembali. Diperhatinya Nayla dengan buru-buru membuka setiap koper tersebut dan membongkar-bongkar semua bajunya.
“Abang bisa minta tolong.”
“Tolong cariin buku-buku pelajaran aku untuk hari ini. ini jadwalnya. Aku mau ganti baju dulu.” Nayla segera menyerahkan ponsel yang berisi jadwal pelajaran kepada Reynand. Setelah itu gadis itu berlalu menuju kekamar mandi dengan membawa seragam sekolahnya.
Reynand kembali menghela nafas. Kenapa coba harus ganti dikamar mandi. Bukannya sedari tadi dirinya sudah melihat tubuhnya yang hanya berbalut dalaman itu serba hitam itu.
“Aduh abang ini bukunya salah. Sekarang itu semester dua bukan semester satu.” Mengembalikan kembali buku-buku yang sudah disiapkan oleh Reynand. Niatnya ingin cepat malah semakin mengulur waktu. Gadis itu mengomel-ngomel sembari memeriksa buku-bukunya didalam box. Dia benar-benar akan terlambat.
Reynand terdiam mendengar Omelan Nayla. Dia baru tahu kalau Nayla punya sifat seperti ini. Dipagi hari tanpa diduga dia diomeli oleh istrinya.
Setelah memakai sepatu dan ranselnya Nayla bergegas keluar. Meninggalkan Reynand yang bola matanya juga bolak-balik sedari tadi melihatnya. Apa gadis itu selalu tergesa-gesa seperti ini setiap pagi?
“Sarapan dulu.”
“Tapi abang nanti aku telat.” Bergegas menuruni tangga. Sementara Reynand mengikutinya dibelakang.
“Nanti kamu sakit.”
Nayla terus menuruni tangga tanpa memperdulikan Reynand.
“Ya sudah kalau nggak mau sarapan. Kamu harus bawa bekal. Biar saya suruh mbok Yana yang siapkan.” Sarkas Reynand.
__ADS_1
Nayla berdecak. Akhirnya dia pun menurut pasrah.
Setelah perdebatan tentang siapa yang akan mengantarnya sekolah. Akhirnya Nayla menurut setelah Reynand terus memaksa untuk mengantar. Ditambah oleh dukungan Mama Adel yang memaksanya untuk mau diantar oleh putra semata wayangnya itu.
“Abang aku turun ya.” Bergegas membuka pintu mobil. tidak bisa dibuka.
“Abang buka pintunya nanti aku telat.” Lagi-lagi merengek.
“Tapi kamu ada yang kelupaan.”
“Apa? Nggak ada.”
Reynand tersenyum. Dia memajukan wajahnya. Menunjuk pipi sebelah kirinya dengan telunjuk.
“Maksudnya?” Nayla menatap heran.
“Sun.”
Nayla terdiam sejenak dengan sorot mata sebal.
"Ayo!" Makin memajukan wajahnya.
Akhirnya dengan terpaksa Nayla memajukan bibirnya. Dia tentu saja tidak ingin terlambat sekolah. Dan…. Cup! Bibir mereka bersentuhan. Reynand memutar wajah tiba-tiba menghadapnya. Alhasil bukan pipi Reynand yang dia cium. Melainkan bibirnya.
Nayla terpaku begitu lama. Membuat dia lupa bahwa dia hampir terlambat. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan oleh Reynand. Dia menangkup wajah Nayla cepat dengan kedua tangannya.
Cup…. Cup…. Cup…. 3 kali kecupan dibibir Nayla.
“Abang!.” Gadis itu merengek dan menggeram. Wajahnya merah padam. Jantungnya berdegup kencang. Nayla benar-benar salah tingkah. Dengan cepat dia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kencang.
Reynand tidak bisa menahan tawanya didalam mobil. Dia senyum-senyum sendiri memandang kepergian Nayla. Satu kata yang terlintas dikepalanya, gemas.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1