
****
Sesampainya dirumah, Nayla langsung buru-buru menuju kedalam kamar. Benar-benar hari yang melelahkan. Dia terus beraktivitas sedari pagi hingga menjelang jam 8 malam. Ternyata mengikuti ibu-ibu itu rupanya benar-benar ribet.
Tadi ketika teman-teman Mama Adel menanyakan perihal tentang dirinya. Nayla hanya bisa terdiam. Tidak mungkinkan dia mengatakan siapa dia yang sejujurnya. Bisa heboh nantinya dunia entertainment Indonesia.
Mungkin mereka akan memberi judul seperti ini nanti di acara gosip.
Reynand Anugerah Menikahi Gadis SMA Karena dijodohkan sang Kakek
Atau, mereka bisa saja memberikan judul yang mengada-ada.
Seorang Gadis SMA Merayu Reynand Anugerah, sehingga sang aktor terpaksa menikahinya
Merayu?
Hahaha, ia tergelak dalam hati. Cara merayu saja dia tidak tahu.
Ya ampun, khayalannya benar-benar buruk. Coba berkhayal yang bagus sedikit, Nayla, Nayla.
Tapi, untung saja Mama Adel bisa mengatasi teman-temannya yang super kepo itu dengan baik.
Sejenak dia merebahkan tubuhnya diatas kasur, dengan kaki masih menjuntai kelantai. Tangannya direntangkan, bergerak seperti hendak terbang, merasakan kasur yang empuk.
Nyaman, sudah dari tadi dia menginginkannya. Dia sangat rindu wangi kasur ini. Hingga, tanpa dia sadari dirinya pun sudah tertidur dengan lelap.
Reynand menaiki tangga dengan langkah gontai. Kepalanya benar-benar pusing. Haritano benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Mau bagaimana lagi. Akhirnya dia pun harus terpaksa menyetujui penawaran itu. Pergi berkencan dengan Airin selama satu malam.
Hanya satu malam kan?
Dia tidak harus melakukan itu untuk seterusnya. Demi pencabutan surat gugatan yang membuat dia harus membayar denda yang sangat besar. Dia harus berkorban, melawan kata hatinya.
Sempat berpikir untuk mengiyakan permintaan kakek. Tapi, tidak. Dia tidak ingin menjalani sesuatu dengan penuh rasa bosan, hanya karena menerima sesuatu yang sudah ada. Hasratnya sekarang adalah membangun sesuatu yang dia inginkan sudah lama.
Huh, ternyata memang benar. Sangat susah menggapai sesuatu yang diimpikan.
Saat masuk kedalam kamar, langkah Reynand langsung terhenti. Pemandangan ini sudah berapa kali dia melihatnya. Gadis itu ternyata mempunyai gaya tidur yang berbeda-beda.
Dia hanya bisa tersenyum menatapnya.
Namun, saat ia mendekat satu langkah, dia terhenti. Mengingat hari-hari sebelumnya ketika melihat Nayla seperti ini, dia langsung menggila.
Reynand langsung mundur, lebih baik dia mandi sekarang. Membersihkan diri dan menjernihkan pikiran. Ya, pikirannya harus dibersihkan dari hal yang tidak-tidak.
Tapi, berpikir seperti itu kepada istri sendiri boleh tidak si? Boleh kan? Tentu saja tidak akan ada yang menyalahkan itu.
Lalu apa masalahnya?
Bagaimana dengan pemaksaan?
Pemaksaan!? Ya ampun, apakah dia harus menjadi orang jahat.
Reynand mengutuk dirinya sendiri. Otaknya benar-benar sudah tidak waras. Astaga, jangan sampai anak orang menjadi trauma karena pikiran buruk yang terlintas dikepalanya.
Beginilah, susah memang menikah dengan gadis yang belum mengerti. Gadis yang taunya hanya belajar dan belajar. Dia harus selalu banyak mengalah disetiap keadaan. Sekalipun keadaan itu darurat. Darurat, ya seperti sekarang ini. Seperti, menahan diri untuk menyentuhnya.
Ah, sudahlah tidak usah dipikirkan.
__ADS_1
Reynand meletakkan kembali hydryer setelah membuat rambutnya setengah kering. Ternyata benar, mandi membuat ia lebih segar dan sedikit berpikiran jernih.
Hanya sedikit!
Pelan-pelan dia mendekati Nayla yang sedang terbaring dikasur. Dia merasa ada sesuatu yang beda dengan penampilan Nayla. Tapi apa?
Reynand mencoba memperhatikan dengan seksama. Dari ujung kepala sampai kaki. Tapi, bukan perbedaan itu yang dia cari. Matanya malah fokus memandangi kesempurnaan yang terlihat disana. Pipi yang merona, leher yang indah, semuanya. Dia terus menelusuri dengan matanya. Tegukan liur terdengar kala ia tertuju pada paha mulus yang tereskpos dengan jelas itu, karena bawahan dres selutut yang Nayla pakai terangkat. Ditambah lagi dengan pencahayaan yang terang, jadilah bagian itu tambah bersinar dimatanya.
Reynand menggelengkan kepalanya. Mencoba mengatur nafas senormal mungkin. Ternyata membersihkan diri dengan berlama-lama dikamar mandi tidak membuat otaknya benar-benar jernih.
“Astaga.” Reynand menggeram. Ada apa dengan otaknya ini.
Tiba-tiba gadis itu menggeliat. Matanya mengerjap-ngerjap mengenali sosok yang berdiri didepannya. Dia pun berusaha bangkit, namun sepertinya agak kesusahan.
Lantas Reynand langsung menyambar tangannya. Membantu gadis itu hingga terduduk dipinggir ranjang.
Kruyuk! Kruyuk!
Suara perutnya terdengar dengar jelas seketika itu juga.
“Kamu lapar?” tanya Reynand seiring mendudukan dirinya disamping Nayla.
Gadis itu mengangguk ditengah sedang memulihkan kesadarannya.
Reynand tersenyum. Terlihat menggemaskan.
“Makan bareng abang mau?” tanyanya.
“Iya bentar.” Ucapnya lirih. Tubuhnya ternyata masih terasa remuk redam. Ia pun mencoba membaringkan dirinya kembali diatas kasur.
“Capek?”
“Karena ikut Mama yoga tadi?”
Nayla mengangguk lagi.
“Emang yang mana aja yang sakit?”
“Semuanya. Sakit semua, nyeri.” Ucapnya pelan dengan suara khas bangun tidur.
Reynand memandangi gadis yang sedang terbaring disampingnya itu dengan seksama. Diusapnya rambut Nayla pelan.
Halus! Sangat halus.
“Tadi kamu selain ikut Mama latihan yoga. Kemana lagi?” Tanyanya lagi masih memainkan rambut Nayla.
“Kesalon.” Jawabnhya singkat. Kini mengubah posisinya miring menghadap Reynand. Mencoba menatap sosok yang terlihat segar itu. Nayla dapat mencium wangi sabun yang Reynand pakai. Seperti kenal. Apa Reynand memakai sabun miliknya.
“Pantesan kamu beda hari ini.” Ucapannya terjeda sejanak, memperhatikan rambut itu lagi. “ kamu potong rambut juga?”
“Iya sedikit.” Menyentuh rambutnya.
Hingga tanpa dia sadar tanganya bersentuhan dengan tangan Reynand yang juga tengah asik bermain disana.
Deg!
Keduanya merasakan sengatan yang sama saat bersentuhan. Dengat tatapan yang saling beradu. Detak jantung mereka pun ikut bersahut-sahutan.
__ADS_1
Deg!
Deg!
Nayla mendadak kaku, tiba-tiba dia merasa hening, hanya detak jantungnya yang terdengar saat itu. Ya tuhan, jantungnya serasa akan melompat dari tubuhnya saat itu juga.
Diperhatikannya Reynand yang perlahan ikut turun berbaring disampingnya tanpa melepas tatapan mereka berdua.
Dengan menopang tubuhnya dengan sikunya dibawah dan satu tangannya lagi masih bermain di rambut Nayla. Reynand berbaring miring menghadap gadis yang wajahnya sudah penuh ketegangan itu.
Ia tersenyum menatapnya. Apa karena habis kesalon, gadis itu terlihat sangat cantik malam ini. Bahkan dengan wajah bangun tidurnya.
Kedekatan wajah mereka benar-benar membuat Nayla tidak bisa bernafas dengan normal. Dia terlalu gugup. Padahal setiap hari dia selalu bertemu wajah ini. Huh, entah kapan jantung ini akan berdetak dengan normal saat bersitatap dengan sosok ini. Lama-lama kalau begini terus dia bisa gila.
Dia memejamkan mata saat tangan yang tadi mengelus rambutnya itu kini turun menyusuri setiap jengkal wajahnya. Tanpa menyadari sosok dihadapannya itu juga mendekatkan wajah kearahnya.
Hingga, entah sejak kapan dia membiarkan indra pengecap itu masuk kedalam rongga mulutnya. Bermain dengan lembut didalam sana dengan miliknya.
Membuatnya serasa.... terbang semakin tinggi menuju langit ketujuh.
Tak hanya itu saja Reynand mengubah posisi dengan dia berada diatas tubuh Nayla. Memeluk erat dan memagut mesra. Tangan gemulai itu pun juga melingkar dilehernya. Gadis itu semakin terbuai dibawah kungkungannya. Suasana hening itu perlahan diisi dengan suara decapan dan deru nafas yang semakin memburu dari mereka berdua. Desahan-desahan kecil pun mengiringi aktivitas mereka.
Mereka semakin lupa diri. Nayla membiarkan Reynand menyentuh dan menelusuri setiap bagian tubuhnya. Dia benar-benar terhanyut oleh sentuhan laki-laki yang berstatus suaminya itu. Rasanya benar-benar memabukkan. Tubuh yang merasa remuk redam itu tadi kini tidak terasa lagi.
Nikmat, itulah yang dia rasakan saat ini. Sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata.
Nayla melingkarkan kakinya ditubuh Reynand, membuat mereka semakin erat tanpa jarak.
Diam-diam Reynand tersenyum, rupanya gadis itu semakin berani sekarang. Namun, ketika tangan itu mulai membelai paha dan semakin masuk kedalam sana, Nayla langsung sadar membelalak.
“Emmh….” Lenguhnya, menghentikan aktivas tangan yang hampir menyentuh bagian sensitif yang masih berbungkus kain itu.
Reynand terperanjat saat Nayla mendorong keras aktivitas tangannya. Nafasnya terengah-engah, matanya berkabut mencoba menatap gadis yang kondisinya tak jauh beda dengan dirinya itu.
“A-abang mau apa?”
Nayla benar-benar terkejut.
Reynand tersentak dan menjauh dari tubuh itu. ini gila, dia benar-benar gila. Kenapa bisa jadi seperti ini.
Dengan cepat dia mengambil kunci mobilnya kemudian bergegas keluar dari kamar.
“Reynand mau kemana buru-buru?”
Suara Mama Adel terdengar dari arah pintu kamar yang masih terbuka. mlMenyadarkan Nayla yang masih terbaring mematung. Dia pun langsung terduduk.
Ini terlalu membingungkan untuknya. Reynand meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Tanpa penjelasan apapun?
Ini tidak bisa maafkan!
*
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading!!