
****
Malam itu Reynand benar-benar tidur bersama istrinya. Rupanya ranjang itu cukup muat untuk mereka berdua tempati. Walaupun tidak seluas ranjang mereka saat berada dirumah kakek, namun rasa bahagia yang mereka rasakan malam itu sudah cukup lebih dari apapun dari pada hanya memikirkan seberapa luas tempat tidur mereka malam ini.
Padahal baru beberapa hari mereka tidak bertemu. Namun, dirasakan begitu lama bagi mereka. Keduanya tidak melepaskan tatapan satu sama lain sedari tadi, jantung keduanya berdegub kencang merasakan debaran yang sama tiada menentu. Reynand memeluk tubuh disampingnya itu dengan erat. Ia memiringkan tubuhnya agar bisa memandang wajah itu dengan seksama, sekaligus menahan rasa yang semakin sakit sejak tadi ia tahan.
"Tidurlah...." Ucapnya setelah mengecup kening itu dengan lembut.
Nayla mendongak dan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Reynand yang ada diatasnya. Malam ini ia begitu lega, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Dari beberapa waktu yang lalu ia begitu takut dan gelisah. Ia takut saat sosok ini tidak ada disinya, benar-benar takut.
Menurunkan tangannya dari wajah itu, lalu Nayla kemudian memeluk tubuh itu dengan erat. Ia tidak ingin berpisah lagi dengan cara dipaksa seperti saat itu, walau hanya sebentar, dia tidak ingin.
Reynand membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Mereka masih merindukan satu sama lain. Sangat, sangat-sangat merindukan.
"Aku sayang kamu...." ucap mata berat yang mulai terlelap itu.
"Aku juga...." Reynand menyunggingkan senyumnya saat mata itu mulai terpejam. "Tidurlah dengan tenang, aku ada disini...." Ia mengecup puncak kepala itu pelan.
Saat dirasa mata Nayla benar-benar terkatup, Reynand lalu mengelus-elus perut rata itu dengan pelan. Benarkah, benarkah dia sudah ada didalam sini sekarang?
Beranjak dengan hati-hati sambil menahan ringisan sakit di beberapa bagian tubuhnya, Reynand lalu menurunkan selimut mereka dan menyingkap kain yang menutup perut rata itu secara perlahan.
Ia kecup perut itu pelan-pelan, seolah keyakinannya memang benar.
Ia lalu berbisik disana. "Sayang.... benar kamu udah ada di dalam sini?" usapnya pada perut rata itu. Reynand tersenyum, kalau memang benar, pantas saja ia tersiksa beberapa hari ini. "Kalau kamu benar-benar ada disini, jangan bandel-bandel ya." Ia lalu menggigit bibirnya kuat-kuat malu sendiri. "Ayah ada disini untuk ibu dan juga kamu." Reynand kembali tersenyum seolah sosok yang ia ajak komunikasi menyambutnya. Benarkah dia akan segera menjadi seorang ayah?
Entahlah walau belum pasti, Reynand seolah dapat merasakan itu. Huh, ia menarik nafas dalam-dalam. Entah kenapa dia jadi begitu gugup saat ini, ia sangat gugup menerima akan kedatangan buah hati mereka.
Sementara itu Nayla yang sudah terlelap, entahlah dia merasakan atau tidak apa yang dilakukan Reynand saat itu. Yang pasti tidurnya malam ini benar-benar tenang ada perasaan lega dalam hatinya. Seolah beban yang ia pendam selama ini telah terlepaskan. Lebih jelasnya saat ini dia merasa sangat-sangat bahagia.
Beberapa saat kemudian, Reynand sudah berusaha sejak tadi untuk membuat matanya terpejam, namun rasa sakit itu terus membuatnya tidak nyaman. Ia kembali beranjak duduk, menuju kamar mandi, lalu ia singkap bajunya. Merembes, darah yang sudah ditutupi dengan kain kasa yang cukup tebal itu rupanya masih bisa tembus.
Karena ia terlalu terburu-buru dan takut ketahuan kakek, akhirnya jadilah dia seperti ini. Benar-benar, rasanya tubuhnya remuk redam akibat terjatuh menghempas di balkon tadi. Inilah kelau mencoba sok-sokan jadi superhero. Tapi, kalau tidak begitu dia tidak akan berada disini malam ini. Bersama istri tercinta.
Lagi-lagi Reynand meringis, goresan pada pecahan kaca tadi benar-benar menyayat beberapa bagian tubuhnya. Bagaimana ini? Darah itu kembali mengalir. Ingin mencari kain kasa dikamar itu, namun ia takut membangunkan Nayla. Maka bergegaslah ia keluar dari kamar.
Sesaat pintu kamar terbuka, Reynand terkejut melihat Mami berdiri tepat didepan pintu.
Mami menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
Reynand lalu melihat kebawah, Mami tengah memegang baju basah yang berlumur darah tadi. Bagaimana Mami menemukannya? Padahal ia sudah menyuruh Romeo untuk membuanganya di tempat sampah luar rumah.
Reynand lalu menatap Mami dengan cemas. "Mi aku...."
"Sini Mami lihat luka kamu...." Sambar Mami cepat.
Lalu, saat itu, mereka berdua berada diruang tamu. Mami yang membawa kotak obat-obatan segera mendudukkan dirinya didekat Reynand.
__ADS_1
Ia pandangi penampilan menantunya itu dari atas sampai bawah. Baju panjang yang memang modelnya kebesaran dan juga celana training milik Romeo.
"Banyak lukanya." Tanya Mami kemudian dengan raut datar.
"Hm...." Jawab Reynand singkat. Ia tidak bisa menatap wajah Mami saat itu.
"Buka baju kamu...."
Reynand lalu mendongak. "Mi...."
Mami kemudian mendesah berat. Ia beranjak kemudian duduk tepat disamping Reynand. Ia memperhatikan tangan yang tengah menutupi pinggang itu.
"Astaga...." ucap Mami pelan saat ia melihat kain kasa yang telah berlumuran darah itu. "Ya ampun Reynand...." Mami lalu memperhatikan raut wajah yang meringis itu dengan iba. Mami mendesah lagi. Ia buka lilitan kain itu perlahan. Mami memejamkan. Luka yang cukup parah. Seperti sayatan benda tajam yang menganga.
Tidak hanya dibagian pinggang. Dipunggung bahkan bahkan disebelah betisnya Reynand mendapatkan luka yang yang hampir sama. Tidak hanya itu engsel antara batas telapak dan kaki serta kedua lututnya tampak memar. Pantas saja saat berjalan tadi Reynand terlihat menahan sesuatu.
"Mami akan panggilin dokter, kamu tunggu sebentar." Ucap Mami kemudian.
Beberapa saat kemudian dokter wanita berwajah serius itu mengobati dan menjahit luka dibeberapa bagian tubuh Reynand dengan hati-hati. Mengingat luka yang cukup parah, dokter yang merupakan tetangga dekat Mami itu sempat merekomendasikan untuk ke rumah sakit.
Berkali-kali ia menolak, Reynand tidak ingin pergi kemana-mana saat ini. Bahkan ketika Mami memaksa, berkali-kali pula Reynand memohon pada ibu mertuanya itu.
Mami mengucapkan terimakasih sesaat sebelum dokter wanita itu benar-benar keluar dari rumah.
Reynand masih terduduk disofa sementara Mami melangkah untuk mendekatinya. Melihat laki-laki itu sesaat setelah ia duduk dengan sempurna, Mami lagi-lagi menghembuskan nafas dengan berat.
"Iya! Kamu salah." Ketus Mami kemudian. Lalu wanita itu memejamkan mata sesaat.
"Kamu kenapa bisa senekat ini dih, Reynand?" Mata Mami mulai berkaca-kaca. "Ya tuhan, Mami benar-benar nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu...."
Reynand bungkam, ia hanya bisa menunduk. Dengan kepala terasa pusing saat ini.
"Gimana kalau kamu nggak bisa selamat sampai kesini? Gimana kalau bukan hanya tubuh kamu yang terluka.... Ha?"
"Mi aku...."
"Reynand.... Mami bukannya ingin membuat kalian terpisah selamanya. Mami hanya ingin kalian berpikir satu sama lain." Mami lalu mendongak sembari menahan genangan dipelupuk matanya.
"Mami.... aku benar-benar minta maaf...."
Mami mengusap kepalanya dengan jari-jari yang menyisir rambutnya itu. Ia lalu mengintip wajah Reynand lagi. "Bisa-bisanya ya kamu melakukan ini."
"Aku melakukannya karena perasaan aku benar-benar nggak enak Mi. Dan, benar.... Nayla butuh aku. Nayla butuh aku untuk ada disisinya."
Mami lalu bungkam sejenak. "Mami cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Bagaimana kalau tadinya kepala kamu yang cidera? Bagimana kalau akhirnya kamu...." Mami benar-benar frustasi. Ada ketakutan yang besar ia rasakan saat ini.
"Kamu mau Nayla bernasib sama seperti Mami?!"
__ADS_1
Tahu maksud ucapan itu Reynand langsung menggeleng. "Nggak Mi...."
"Makanya Reynand jangan kamu ulangi lagi yang seperti ini. Kalau Nayla benar-benar kehilangan kamu bagaimana?" Dan, benar saja akhirnya air mata Mami mengalir. Mami merasakan dejavu saat ini, saat-saat dimana ia mengalami kejadian memilukan beberapa tahun lalu. Ia benar-benar takut Nayla mengalami hal yang sama. Apalagi dia menduga kalau putrinya itu sekarang sedang.... Mami menggeleng, ia benar-benar tidak sanggup untuk memikirkannya.
"Mi...." Reynand kemudian berjongkok dan bersimpuh dihadapan Mami. Ia seperti paham kesedihan yang Mami rasakan.Tidak perduli rasa sakit yang ia radakan pada begian bawah tubuhnya.
Setelah mengusap air matanya pelan, Mami lalu mengusap-usap kepala Reynand. "Tolong jangan lagi kamu melakukan hal menakutkan itu Reynand.... Mami nggak sanggup, bukan hanya Mami bahkan kakek dan mama kamu juga begitu." Mami masih mengusap kepala itu pelan-pelan. "Maafkan Mami karena tidak memperdulikan perasaan kalian padahal Mami sangat mengerti apa yang kalian rasakan."
Entah kenapa Reynand sedari tadi menahan diri akhirnya melepaskan tetesan air mata itu juga.
"Mami menyayangi kamu, semuanya, kakek dan mama kamu juga.... kami menyayangi kamu, menyayangi kalian berdua."
Reynand masih menunduk dengan kening menyentuh kedua lutut Mami.
"Mami tidak pernah berniat untuk menghalangi kalian bahagia. Tapi, Mami hanya ingin kamu paham dan menyadari apa yang salah dari kamu Reynand."
Benar-benar, Reynand tidak menduga kalau akhirnya air mata itu berhasil membasahi telapak tangan Mami.
"Mi...." Akhirnya tanpa malu-malu lagi Reynand memperlihatkan wajah yang sudah banjir itu kepada Mami.
"Reynand buatlah anak Mami bahagia, kamu harus membahagiakan dia. Kalian berdua harus bahagia...." Mami kemudian menghapus air mata menantunya itu pelan. Meraih kedua telapak tangan Reynand, Mami kembali berucap. "Terimakasih...." Lirih Mami pelan. "Terimakasih akhirnya kamu mau menerima anak mami sepenuhnya. Dulu mami benar-benar takut kalian tidak akan sampai seperti ini." Air mata Mami semakin mengalir.
Tanpa ragu-ragu lagi Mami pun langsung memeluk tubuh itu.
Dipeluk seperti itu membuat jiwa dan hati Reynand semakin bergetar hebat. "Aku juga mau berterimakasih sama Mami." Ucapan itu terjeda sejenak. "Terima kasih telah melahirkan Nayla untuk aku. Karena Mami akhrinya aku bertemu wanita selembut dia. Dia wanita yang nggak neko-neko, dia nggak terlalu banyak mengatur aku. Aku merasa nyaman bersama dia, Mi.... Dia nerima bagaimana pun aku, dia juga nggak banyak minta. Dia sangat sederhana.... Maafin aku karena telah membuat dia dan Mami tersakiti...."
Entahlah Reynand tidak mengerti kenapa ia jadi sesenggukkan begini dipelukan Mami. Emosi yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Tidak perduli ia adalah laki-laki dewasa yang seharusnya menampakkan kekuatan. Namun malam ini dia benar-benar tidak tahan. Walau bagaimana pun ia adalah manusia biasa yang mempunyai sisi kelemahan juga.
Aaaa, Mami..... Reynand benar-benar tidak tahan untuk menumpahkan air mata dengan begitu derasnya. Kalau beginin kan, dia jadi rindu Mama Adel. Reynand ingat dia banyak salah dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
*
*
*
*
Aku tadi ngitung kejadian satu hari dalam cerita ini bisa aku buat sekita tujuh episode. Pantas saja cerita ini jadi semakin panjang. Padahal target nggak sampai segini.
Gak apa-apa ya. Mungkin karena aku terlalu menghayati. Niat untuk menamatkan udah ada dari beberapa minggu yang lalu. Namun, balik lagi, ternyata menurut aku sendiri menamatkan sebuah cerita tidaklah mudah.
Untuk yang masih menikmati cerita ini dan buat yang masih setia menunggu serta selalu ngasih vote terimakasih banyak sudah mau mendukung aku.
Kok cuma satu episode? Tapi panjang, kan. Besok-besok aku usahain lagi deh up lebih banyak.
Happy Readingđź’“
__ADS_1