Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Apa Itu Cinta?


__ADS_3

****


 


 


“Makan malam?” Dion menatap Reynand tidak percaya dikursi kemudi.


 


 


“Hmmm…” menjawab malas.


 


 


“Terus lo setuju gitu? Heh lo mau jadi buaya darat?!” Ya kali sudah punya istri masih mau makan malam bersama wanita lain.


 


 


“Ya mau gimana. Gue juga nggak tau kalau tuh cewek, anaknya Haritano.”


 


 


“Ya kan lo bisa nolak Rey. Lo tu ya, duh. Lo gimana si?” Jelas saja Dion merasa kalau Reynand ini membuat ribet masalahnya sendiri. Ya, dia tau Reynand tidak ingin orang-orang tau tentang siapa dirinya. Selain itu laki-laki itu juga masih menolak tawaran sang kakek untuk menjadi pemimpin perusahaan. Reynand beralasan dirinya terlalu muda dan ingin mencoba membuka perusahaan sendiri. Dasar keras kepala!


 


 


“Gue cuma nggak mau mereka curiga, yon. Untuk saat ini gue ikut aja permainan mereka.”


 


 


“Rey, perusahaan kakek lo lebih besar dari perusahaan yang menaungi keartisan lo itu. lo ngerti!?” Tegasnya menyadarkan orang disampingnya itu.


 


 


“Iya gue ngerti. Tapi….” Reynand menghela nafas.


 


 


“Tapi apa Rey? Sulit Rey kalau lo ngejalanin rencana lo, itu nggak mudah, nggak gampang dan butuh proses.”


 


 


“Tapi itu udah tekad gue Yon. Bukan soal perusahaan kakek." Reynand menunduk sejenak mencoba meyakini ucapannya. "Gue, gak bisa. Elo udah tau bukan, gue punya cita-cita dan mimpi." Tatap Reynand nanar.


 


 


Dion memandang Reynand dengan intens sebelum kembali memandang lurus kejalan, untuk fokus menyetir. Dia tahu orang disampingnya itu adalah sosok pekerja keras. Bahkan demi menggapai apa yang dia inginkan, Reynand rela melakukan pekerjaan yang bukan dirinya sama sekali. Semata-mata hanya karena dia tidak ingin meminta bantuan dan memakai nama sang kakek yang seorang konglomerat.


 


 


Huh! Kalau dia jadi Reynad, lebih baik memilih menggantikan posisi kakeknya dari sekarang. Untuk apa capek-capek membangun sesuatu yang baru.


 


 


****


 


 


Saat itu sepulang sekolah Nayla terlihat ragu-ragu menatap kedua temannya. Sudah sedari tadi dia ingin mengatakan ini. Tapi kenapa rasanya susah sekali ya.


 


 


“Nay, lo nunggu taksi online lagi?” Tanya Suci. Karena setahu kedua sahabatnya Nayla selalu naik taksi online sepulang sekolah.


 


 


Begitulah memang yang diceritakan Nayla. Tentu dia tidak ingin mengatakan kalau dia dijemput oleh Pak Tio atau pun Mama Adel terkadang, atau juga Reynand waktu itu. Uh, bayangan kegiatan panas mereka dimobil waktu itu melintas lagi dikepalanya.


 


 


“Nay, woi.” Suci memanggil.


 


 


Nayla masih terdiam. Sebenarnya selama ini dia membiarkan kedua temannya itu untuk pulang lebih dulu. Tujuannya adalah agar mereka tidak menaruh curiga padanya.


 


 


“Nay, ditanya malah bengong.” Tanya suci lagi.


 


 


Nayla menatap kedua sahabatnya dengan seksama, keraguan dan ketakutan masih membuncah dalam hatinya. Haruskah dia melakukan ini.


 


 


“Itu, em…. Anu.”


 


 


“Apaan sia Nay?” Tia mengernyit melihat kegagapan Nayla. Ngomong-ngomong Tia sudah tidak ngambek lagi. Tadi pagi dia sendiri yang menegur sapa Nayla dan Suci duluan. Jadi Tia orangnya memang begitu ngambekkan tapi nggak akan lama.


 


 


“Lo berdua mau ikut gue pulang?” Huh! Akhirnya Nayla mengucapkannya juga.

__ADS_1


 


 


Tia dan Suci menerima ajakan Nayla dengan suka cita. Karena memang sudah lama sekali Nayla tidak mengajak mereka kerumahnya. Namun, ketertegunan terjadi ketika Nayla dijemput oleh seorang supir pribadi. Yang membuat tanda tanya besar dalam diri temannya terkhusus Tia. Tia-lah sahabat yang belum tahu apa-apa tentang sebuah rahasia besar yang telah disembunyikan rapat oleh Nayla.


 


 


“Ini rumah siapa?” bisik Tia saat mereka menginjakkan kaki dirumah besar, megah nan mewah tersebut.


 


 


“Kita masuk dulu yuk?” Ajak Nayla dengan degup jantung yang sangat kencang. Akhirnya bertambah satu orang teman yang akan mengetahui semuanya.


 


 


“Eh, sayang kamu sudah pulang.” Mama Adel memeluk Nayla dengan erat.


 


 


“Mama?” Tia membelalak penuh keheranan.


 


 


“Eh, ci ini si Nayla jadi anak angkat dirumah ini? Perasaan nyokap Nayla bukan ini deh.” Bisik Tia.


 


 


“Shut! Mending loh diem.” Ujar Suci.


 


 


“Wah, teman-temannya Nayla ya. Ayo masuk.” Ajak Mama Adel.


 


 


Dengan keterpanaan dan keanehan yang belum surut kedua sahabat Nayla itu pun ikut masuk kedalam.


 


 


Saat itu dikamar Tia mencerca Nayla dengan begitu banyak pertanyaan. Meminta penjelasaan atas semua kejadian aneh tapi nyata yang dilihatnya saat ini.


 


 


“Nayla tolong lo jelasin ke gue sekarang. kenapa lo bisa tinggal dirumah besar ini, dimana setiap sudutnya pasti ada poto-poto Reynand Anugrah?” Tia bertanya penuh antusias.


 


 


Nayla masih terdiam. Dia belum bisa menjelaskan apa-apa. Tangannya gemetaran, dia terlalu gugup. Kenapa ya? Padahal saat Suci mengetahi semuanya dia merasa biasa saja.


 


 


 


 


“Dan ini apa Nay?” bola mata Tia menunjuk poto pernikahan Reynand dan Nayla yang terpampang didinding kamar. “Lo nggak ngehalu kan, ngedit poto beginian?”


 


 


“Ci, lo jangan diem aja dong bantuin gue nanya.” Tia bertanya dengan frustasi.


 


 


“Huh! Lo tu ya, paling nggak biarin dulu Nayla cerita.” Sahut Suci.


 


 


“Jadi….” Nayla mulai bersuara.


 


 


“Jadi apa?” Tanya Tia tak sabaran.


 


 


“Eh bisa diam dulu nggak. Biarin Nayla ngejelasin.” Timpal Suci lagi.


 


 


Duh, Nayla pusing sendiri. Kalau tau reaksi Tia seperti ini menyesal dia mengajaknya.


 


 


“Ya ampun ci lihat deh ni anak tinggal ngasih penjelasan aja susah amat….” Tia mulai gusar karena tidak sabar.


 


 


“Gue nikah…. Sama orang yang ada dipoto itu.” cih, kenapa dia tidak bilang saja kalau menikah dengan Reynand, begitu.


 


 


Sontak Tia tergelak. Dia menganggap Nayla sedang membuat lelucon.


 


 

__ADS_1


“Gue serius.”


 


 


Benar saja melihat sorot mata keseriusan Nayla, Tia langsung terdiam.


 


 


“Sejak kapan!!??” Seru Tia dan seketika terduduk ditepi ranjang, menatap Nayla yang duduk disampingnya.


 


 


Suci yang melihat keingin tahuan Tia berjalan mendekat sembari bersidekap. “Lo inget nggak, pernah waktu itu selama satu minggu lebih nih anak datang kesekolah dalam keadaan kusut, pucat, dan mata bengkak. Semacam orang bosan hidup.” Suci memulai cerita.


 


 


“Oh, iya waktu itu.” Tia mencoba mengingat, saat-saat dimana sosok pemikir dan perasa disampingnya itu terlihat sangat stres dengan hidupnya seperti orang depresi berat. Jadi Nayla terlihat depresi karena dinikahkan?


 


 


“Ya waktu itulah ni  anak lagi dalam proses penikahannya dengan  Reynand.” Terang Suci lagi.


 


 


“Kenapa lo waktu itu nangis, terus kayak orang kena gangguan mental?? Elo nggak cinta sama Reynand.” Ini antara Tia bertanya polos atau memancing reaksi Nayla.


 


 


“Maksud lo?” Nayla dapat melihat keanehan dari sorot mata Tia.


 


 


“Nggak apa-apa.” Jawab Tia pelan. "Gue heran aja, apa lo sebegitu nggak sukanya dinikahin sama aktor terkenal macam Reynand." Sahutnya kaku.


 


Nayla bungkam. Lagi kepalanya langsung berputar berpikir oleh banyak hal. Bukannya dia tidak suka, siapa coba yang siap dinikahkan saat masih sekolah.


 


 


“Ya udah sekarang cerita dong, gimana rasanya nikah sama Reynand?” Tia langsung mengubah pertanyaannya. Dengan raut wajah sok ceria.


 


 


“Lo sekarang, udah cinta kan sama dia?” Tia mencari-cari jawabat lewat raut wajah Nayla.


 


 


“Lo kepo banget si! Udah nggak usah banyak nanya.” Timpal suci. Entah kenapa dia merasa kesal dengan cara bertanya Tia.


 


 


Nayla bergeming mendengar kata cinta. Cinta? Dia tidak tahu soal cinta yang seperti itu. Tak pernah sekali pun dia merasakannya. Yang dia tahu jantungnya, jantungnya selalu menunjukkan debaran aneh tatkala bersama Reynand. Tidak bukan begitu saja, terkadang membayangkan lelaki itu saja membuat jantungnya serasa mau melompat dari tubuhnya. Bahkan saat ini pun, saat dia mendengar nama Reynand disebut. Dirinya selalu merasa terpanggil. Berlebihan, mungkin iya? Tapi itulah yang dia rasakan saat ini, debaran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


 


 


Reynand? Apakah dia juga merasakan debaran yang sama? Laki-laki seperti Reynand apa mungkin merasakan itu padanya. Entah kenapa rasanya mustahil. Dia tahu betul, jelas sekali perbedaan besar diantara mereka. Dari segi usia, pergaulan, jelas mereka sangat berbeda. Apa mungkin Reynand akan mencintai gadis sepertinya?


 


 


Dia jelas juga selalu penasaran, apa yang selalu laki-laki itu lakukan diluar sana.


 


 


*


 


 


*


 


 


*


 


 


*


 


 


*


 


 


*


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2