
****
Nayla menatap masih Reynand dengan rasa tidak percaya. Kenapa dia ada disini? Apa mungkin Reynand menyusul dirinya? Aduh, jangan terlalu mengahayal Nayla. Tidak mungkinkan seorang Reynand akan menysulnya sampai kesini.
“Abang ngapain disini?”
“Kebetulan saya lagi ada syuting disini.”
“Oh.”
Sudah ia duga. Tidak mungkin laki-laki itu menyusulnya. Mereka pasti kebetulan memiliki tempat tujuan yang sama. Memang apa yang harus diharapkan?
“Kamu bertemu saya disini dan cuma bilang oh?”
“Terus? Memang aku harus bilang apa?”
Reynand terdiam. Ia memandang Nayla dengan tatapan protes. Apa gadis itu tidak senang tiba-tiba bertemu dirinya disini.
Sementara itu Nayla masih tidak terlihat menunjukkan reaksi lainnya. Dia masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Reynand selanjutnya.
“Kenapa kamu nggak bilang sama saya kalau kamu pergi study tour?”
Nayla menatap Reynand dengan sedikit jengah.
“Hem.” Reynand mendekatkan wajahnya menunggu jawaban. Membuat Nayla mundur selangkah kebelakang menghindar.
“Aku udah mau bilang kok.”
“Kapan?”
“Semalam sebelum berangkat kesini aku mau minta izin sama abang. Tapi abang malah usir aku.”
Reynand mengingat-ingat. Ah, jadi malam itu Nayla masuk kedalam kamarnya hendak meminta izin untuk berangkat study tour. Dia pun merasa bersalah. Dirinya benar-benar bodoh. Harusnya ia mendengar dulu apa yang hendak dikatakan Nayla malam itu.
“Tapi kamu kan bisa hubungi saya atau kirim pesan besoknya.”
Kali ini Nayla diam lagi. Ia tidak mau menjawab kalau sebenarnya dia kesal kepada Reynand. Ia cukup kesal karena Reynand mengusirnya malam itu. Mengirimkan pesan? Hatinya saja sudah sakit. Malam itu Reynand mengusirnya seolah ia adalah orang lain yang patut untuk diperlakukan seperti itu.
“Nay?” masih menunggu jawaban.
Nayla memalingkan wajahnya dari Reynand.
“Nay, jawab pertanyaan saya.”
Nayla sangat benci dinterogasi seperti ini. Dirinya bukanlah orang yang suka berdebat. Dalam pikirnya seharusnya laki-laki itu bisa menebakkan kalau Ia kesal dan marah.
__ADS_1
“Nay?” memegang lengan Nayla.
“Em, bang aku mau kembali ketempat tadi ya. Nanti teman-teman aku nungguin.” Melepaskan pegangan Reynand dari lengannya.
“Sebentar, kamu jawab pertanyaan saya dulu.” Memegang tangan Nayla lagi. Nayla menghela nafas. Karena terus dipaksa, akhirnya dia pun berbalik hendak menjelaskan kepada Reynand.
Drrt…. Drrt….
Panggilan masuk dari ponsel Reynand.
*DION*
“Sebentar saya angkat telepon dulu.” Melepaskan tangannya dari Nayla.
“Halo. Iya? Sudah mau dimulai?” Reynand melihat jam ditangannya.
“I-iya gue bakalan kesana sekarang.” Menutup panggilan telepon.
“Nay.”
“Em.” Sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
“Saya pegi dulu ya. Mau syuting.”
“Nanti saya temui kamu lagi.”
“Terserah abang.”
“Saya pergi dulu ya.” Reynand pun meniggalkan Nayla sendirian, ditepi pantai.
Setelah ditinggalkan Reynand, Nayla tidak bisa mengerti perasaannya. Ada rasa marah, kesal, dan merasa tidak diperdulikan. Laki-laki itu bagaikan bayang-bayang baginya.
“Nay.”
Suara Riko tiba-tiba mengagetkan Nayla.
“Lo disini ternyata. Gue udah nyariin lo kemana-mana.” Riko terlihat ngos-ngosan, Ia memandang Nayla dengan sumringah seperti anak kecil yang baru bertemu ibunya. Ada kehangatan dimata laki-laki itu.
Sementara itu Nayla belum melepas arah pandangannya dari langkah kepergian Reynand.
“Nay, kamu lihat apa?” mengikuti arah pandang Nayla.
Perlahan Nayla mengalihkan pandangannya, beralih menatap Riko yang ada disampingnya. Pandang mata mereka bertemu. Dengan siratan yang berbeda.
“Kita balik ketempat tadi yuk!” Riko menarik tangan Nayla. Gadis itu pun mengangguk menurutinya.
__ADS_1
~
Saat itu ditepi pantai Nayla hanya memperhatikan teman-temannya dengan tatapan kosong. Dirinya sudah kehilangan semangat sejak Ia bertemu dengan Reynand tadi. Kenapa dirinya jadi begini? Ia memandangi ponselnya beberapa kali. Berharap ada pesan atau panggilan masuk.
Tak berapa lama Tia menghampiri Nayla, meninggalkan Suci yang masih asik berpoto. Sepertinya gadis itu kelelahan.
“Eh Nay, kita cari makan yuk laper.”
Nayla tidak menjawab pandangan matanya masih kosong.
“Lo kenapa si Nayla?” Tia menyenggol lengan Nayla. Membuat gadis itu akhirnya tersadar.
“Nggak apa-apa. Mau cari makan dimana?” Nayla mencoba untuk tersenyum.
“Kita cari tempat makan yang enak, tapi viewnya bagus.” Usul Tia.
“Aku ikut aja.” Sahut Nayla.
“Ci! Suci! Ayo cari makan yuk.” Teriak Tia nyaring.
“Bentar. Gue kesana.” Suci pun berlari mengahampiri mereka.
Mereka pun berjalan mencari tempat makan seperti yang dimaksud oleh Tia. Gadis-gadis itu sesekali bercanda dan tertawa. Kecuali Nayla, dirinya hanya menanggapi kejahilan temannya dengan senyuman.
“Lo kenapa si Nay.” Suci memperhatikan raut wajah Nayla.
“Tau dari tadi diam aja.” Sahut Tia.
Nayla hanya menyunggingkan senyumnya. Membuat kedua temannya saling pandang dan heran.
Tak berapa lama sampailah mereka disebuah cafe. Dengan view yang bagus mereka dapat menikmati pemandangi langit biru yang terbentang luas dengan semilir angin yang menerpa mereka.
Tapi dibalik itu semua sepasang terus mata memperhatikan mereka dari kejauhan.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1