Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Kenapa Juga Harus Izin Segala


__ADS_3

****


“Woi Rey, kenapa lo senyam-senyum gak jelas? Kesambet?” Dion yang sedang menyetir mobil masih sempat-sempatnya memperhatikan raut wajah Reynand. Memang benar sedari tadi dia heran sendiri melihat raut wajah yang sepertinya sedang berbunga-bunga itu.


“Menurut lo?” Bertanya balik.


“Awas lupa lo. Hari ini lo dipanggil sama pihak manajemen.”


“Iya gue tahu.” Huh! Reynand sangat sebal rasanya. Kenapa juga pihak manajemen harus mengajukan gugat padanya. Padahalkan syuting film itu belum dimulai. Bisa saja kan mereka mencari pemeran baru.


“Lo serius bakal nolak peran ini.” Ujar Dion saat mereka baru memasuki gedung perusahaan yang menaungi Reynand.


“Iya, gue kan udah bilang. Gue punya rencana lain.”


“Duh Rey, serius deh. Mending lo selesain dulu pekerjaan lo yang satu ini.”


“Maunya si gitu. Cuman, gue sekarang ingin serius meneruskan rencana gue yang sudah lama tertunda.”


Dion menghela nafas. Tingkah Reynand yang seperti inilah yang selalu membuat dirinya ikut terseret dalam masalah.


“Dasar emang keras kepala lo. Entar gue lagi nih yang kena semprot.” Gerutu Dion. Mau bagaimana lagi Reynand memang punya sifat keras kepala dari dulu. Dan hanya sedikit orang yang tahu soal itu.


“Sori.” Reynand terkekeh. Meskipun Dion bekerja untuk Reynand. Namun, sudah tidak ada lagi rasa canggung diantara mereka. Mereka layaknya sahabat yang tidak perlu lagi basa basi dalam berbicara.


Tak lama mereka pun tiba di perusahaan agensi yang menaungi Reynand.


“Reynand.”


Terdengar suara sepatu wanita melangkah kearahnya.


“Rey.” Langsung menggelayut manja.


“Airin?” Reynand mengernyit kaget.


“Duh nih cewek mulai lagi.” Gerutu Dion.


“Rin lepasin.” Ah, wangi parfum Airin sangat menyengat menusuk hidungnya. Huh! Pagi-pagi begini dia sudah dibuat pusing.


“Aku kangen sama kamu. Udah beberapa hari ini kita nggak ketemu.” Airin mengedipkan matanya centil.


“Heh inget si Nayla lo.” Bisik Dion akhirnya karena kesal melihat tingkah lebay Airin. Siapa tahu saja kan Reynand jadi lupa daratan.


“Iya gue tau.” Sambil terus mencoba bebas dari wanita agresif disebelahnya itu.


“Inget siapa? Rey kamu udah punya cewek? Nggak kan?” Mata Airin membulat.


“Kalau si Reynand udah punya cewek lo mau apa?” Timpal Dion yang langsung dibalas pelototan mata oleh Reynand.


“Nggak! Nggak mungkin, Reynand itu cuma milik aku.” Airin semakin menempelkan tubuhnya pada Reynand yang membuat nafas laki-laki itu tertahan.


“Idih pd banget.” Tambah Dion.


“Emang kenapa hah? Mending lo diam, nggak usah ikut campur urusan gue sama Reynand.” Sahut Airin tak kalah ganas. Suaranya nyaring memekak ditelinga Reynand.


Reynand mendadak pusing mendengar pentengkaran Airin dan Dion. Dengan cepat dia melepaskan diri dari wanita itu dan mempercepat langkahnya pergi. Dion pun segera menyusulnya dari belakang, melempar tatapan mengejek pada Airin.


“Reynand! Rey.” Airin terus memanggil Reynand yang semakin menjauh. Dadanya sesak karena terus-terusan ditolak oleh laki-laki itu. Dia mengepal kedua tangannya erat.


“Sampai kapan aku akan terus diabaikan begini sama kamu?” lirihnya.


“Lihat aja Rey. Gue harus bisa ngedapetin lo dengan cara apapun itu.” Matanya tajam lurus kedepan.


~


“Abang udah sampai?” Suara Nayla diponsel Reynand.

__ADS_1


“Iya didepan gerbang.”


“Jangan didepan gerbang parkirnya.” Suara diseberang merengek.


“Kenapa?”


“Nanti banyak yang curiga.”


Reynand menghela nafas. Sebenarnya dia tidak perduli dengan omongan orang. Tapi, mau bagaimana lagi dari pada Nayla ngambek kan.


“Iya abang pindah parkirnya didepan supermarket cinday yang diseberang ya.”


“Iya nanti aku kesitu.”


Tut! Panggilan ponsel terputus. Dia pun segera memutar arah mobilnya.


Anak-anak SMA keluar berhamburan. Mereka benar-benar berisik, saling bercanda dan mengejek. Reynand tertawa melihatnya. Sudah lama, Reynand rupanya merasa rindu dengan suasana seperti itu. Sudah berapa lama ya dia lulus sma?


“Nggak ada yang lihat kan?” Nayla menutup pintu mobil dengan cepat. Dia celingak celinguk melihat kearah luar.


“Memang kenapa kalau ada yang lihat.”


“Nggak apa-apa nanti mereka curiga.” Sahut Nayla.


“Bukannya dulu pernah ya abang anterin kesekolah sekali? Waktu itu ada yang curiga?” Reynand menatap jeli.


Nayla terkekeh. Waktu itu kan dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Dulu mah dia lebih bodoh amat. Dia juga bingung kenapa sekarang dirinya lebih was-was.


“Abang tumben.”


“Apanya yang tumben?” tanya Reynand balik.


“Ya tumben aja. Abang jemput hari ini.”


“Em…. Boleh.” Jawab Nayla ragu. Ya, dia hanya bingung saja tiba-tiba Reynand menjemputnya pulang sekolah. Ini pertama kali dan terasa aneh baginya.


“Koyo-nya kok masih dipakai.” Mencobo melepas koyo dari leher Nayla.


“Abang.” Menepis tangan Reynand. Awas saja kalau dia berani.


Reynand tersenyum. Dih, galak amat. Tadi pagi aja dirinya dicium secara diam-diam selagi masih tidur.


“Kan udah pulang sekolah. Nggak ada juga yang bakal lihat.”


“Biarin.” Nayla mempertahankan koyo dengan terus memegang lehernya. Baru tadi pagi dia menyesal jadi istri durhaka sekarang Reynand malah memancingnya untuk jadi lebih durhaka lagi. Huh! Sebal rasanya.


“Nayla.”


“Iya? Apa?”


“Abang boleh minta cium?”


Eh? Mata Nayla membulat. Lagi-lagi debaran jantungnya tidak terkontrol. Nggak salah panas-panas gini minta cium. Mana berisik, perpaduan suara riuh anak-anak dan suara kendaraan yang bersahut-sahutan.


“Em, boleh?” Sorot mata penuh harap.


“Abang apaan. Ini kan lagi diluar.”


“Tapi kan didalam mobil.”


“Tapi….”


“Jadi nggak boleh ni?” Reynand berujar kecewa. Masak ditolak lagi. Tadi pagi kan Nayla berani mencium dia diam-diam. Masak ini orangnya lagi sadar nggak mau praktek.


Nayla masih terdiam dan menunduk. Iya, dia mau. Tapi….

__ADS_1


“Biasanya abang kalau mau cium nggak nanya dulu.”


“maksudnya?”


“Ya biasanya kan abang langsung nyosor.” Jelas Nayla.


“Nyosor?”


“Iya.” Tegas Nayla.


“Jadi? Boleh nggak ni?”


“Tau ah.” Kenapa si harus membuat malu.


“Cium tinggal cium kan. Biasanya juga asal nyosor. Kenapa juga harus izin-izin segala. Huh! Aneh. Sekarang sok-sok an izin. Apaan?” Nayla bergumam menahan kesal.


“Kamu ngomongin abang.”


“Nggak. Ngomongin mamang becak yang disana.” Jawab Nayla asal.


“Nay, kok ngambekkan terus si.”


Nayla menghela nafas panjang. Dia berbalik lalu menatap Reynand. Ah, kenapa wajah yang ada dihadapannya ini terpahat begitu sempurna.


Deg! Deg! Debaran apa lagi ini ya tuhan.


“Apa?” tanya Nayla. Suaranya mendadak mengecil.


“Nggak apa-apa.”


Reynand tersenyum. Dia bergegas menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya perlahan.


Namun belum separuh jalan….


“Abang nggak jadi?”


“Apanya?”


“Katanya mau cium.”


“Emang boleh? Nanti ngambek lagi.” Tanya Reynand santai.


“Boleh.”


Reynand mengerem mobilnya mendadak. Ini nggak salah dengar kan.


“serius?! Boleh?”


Mengangguk.


“Nggak bakalan ngambek lagi kan?”


“Em, Iya.” Jawab Nayla malu. Wajahnya panas dan mungkin sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus saking malunya.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2