
****
Nayla benar-benar membersihkan ruang dapur sedetail mungkin. Ia mengelap semua debu dan noda yang ada. Tiba-tiba kegiatannya terhenti. Ia mendengar dering handphone dari kamarnya. Bergegas Ia meletakkan serbet yang Ia pegang sebelum lari menuju kedalam kamar
Ia melihat keatas meja mengarah kesumber suara. Bukan handphone miliknya yang berbunyi melainkan handphone milik Reynand. Diraihnya handphone tersebut, namun suara panggilan tiba-tiba terhenti.
Dilihatnya layar ponsel yang masih menyala. Airin, begitu nama dari panggilan tidak terjawab itu.
Tiba-tiba ponsel Reynand berbunyi kembali, namanya yang sama. Spontan Nayla langsung mengangkatnya.
“Hallo Rey, aku kangen.” Suara wanita bernama Airin tersebut terdengar sangat lembut dan manja. Nayla mengutuk dirinya. Kenapa pula Ia harus mengangkat panggilan itu.
Nayla segera bergegas menuju kamar Reynand. Suara wanita itu masih terdengar.
Saat itu dikamar, Reynand baru saju keluar dari kamar mandi. Ia sedang berusaha mengeringkan rambutnya. Rasanya lumayan segar. Setelahnya Ia berkaca dicermin. Memperhatikan wajah gantengnya. Wajahnya tidak berubah. Masih ganteng seperti biasanya. Pantas saja kan banyak wanita yang tertarik padanya. Jadi wajah ini yang membuat mereka histeris. Ia terus menelusuri bentuk wajahnya dengan tatapan mata. Rupanya diam-diam Ia adalah orang yang lumayan narsis juga.
Tok! Tok!
Ketukan dari luar pintu kamarnya.
Ia tahu. Sudah pasti itu Nayla. Siapa lagi yang akan mengetuk pintu. Hanya satu orang yang tinggal diapartemen ini bersamanya. Ia pun melangkah menuju pintu kamar dan membukanya.
“Kenapa?”
Nayla refleks menundukkan kepalanya. Reynand hanya bertelanjang dada saat itu. Walaupun tidak lama melihat tubuh laki-laki itu. Namun Ia telah melihat otot perut yang sixpack dan lengan berotot Reynand. Benar-benar sesutau yang belum pernah Ia lihat secara nyata.
__ADS_1
“Ada yang menelpon.” Nayla menyerahkan handphone yang Reynand pinjamkan padanya tadi malam.
Reynand mengarahkan pandangannya kearah Nayla sebelum meraih ponsel tersebut. Ia menelisik. Memperhatikan Nayla yang menyerahkannya sambil menunduk. Gadis itu terlihat berkeringat. Mungkin kegiatan didapur tadi sudah menguras keringatnya. Tak berapa lama Ia tersadar. Sepertinya Ia tahu kenapa gadis itu menunduk. Reflex Ia menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangan.
“Ya sudah. Terima kasih.” Meraih ponsel tersebut. Dengan tangan satunya masih menutupi dadanya. Dilihat layar ponselnya panggilan telpon sudah mati.
“I-iya.” Segera Nayla berlalu. Ia pikir Reynand butuh bicara dengan wanita itu. Pasti laki-laki itu punya banyak teman wanita kan.
Nayla memejamkan matanya, kenapa Ia harus melihat hal seperti itu. tiba-tiba Ia menjadi geli sendiri memikirnya. Ia tidak habis pikir kenapa teman-temannya begitu penasaran dengan ABS laki-laki itu. Istilah yang sering teman-temannya sebutkan untuk laki-laki yang memiliki badan yang bagus dan berotot. Ia saja baru memahami istilah itu karena Suci sering menyebut-nyebut hal itu pada idola favoritnya. Anak itu benar-benar tergila-gila pada Drama Korea.
Nayla segera menggelengkan kepalanya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Lebih baik sekarang ia segera melanjutkan beres-beres yang belum terselesaikan.
Kegiatan Nayla membersihkan apartemen sudah selesai. Saat itu Ia tengah duduk termenung diatas kasur. Kepalanya masih terlilit handuk. Ia baru saja selesai mandi dikarenakan tubuhnya sangat berkeringat tadi.
Tiba-tiba pikirannya sudah melayang-layang, Ia teringat akan rumahnya. Teringat akan Mami dan Romeo. Dulu ketika masih dirumahnya Ia akan melakukan hal yang sama. Membantu Mami membereskan rumah. Memasak makanan kesukaan Romeo dikala adiknya itu merengek lapar dimalam hari. Sekarang Mami pasti tambah repot. Mami harus kerja sampai malam dan harus mengurus rumah serta Romeo sendirian. Ia merasa kasihan kepada Mami. Mami yang harus membesarkan Ia dan adiknya sendirian. Mami yang harus bekerja keras untuk mereka. Nayla mulai dipengaruhi pikiran buruk lagi. Ia benar-benar gadis yang sangat pemikir.
Beberapa saat kemudian Ia memikirkan tentang dirinya. Bagaimana nasibnya kelak. Ia merasa terjebak atas pernikahan ini. Ia ingin kuliah. Ia punya mimpi dan cita-cita. Tapi, apa dia bisa menggapai semuanya nanti. Walaupun Mami pernah meyakinkannya tentang itu. tapi, Ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Reynand, laki-laki itu entah apa yang Ia pikirkan tentang dirinya. Dia pasti juga tidak perduli kan. Dia hanya menuruti Kakeknya. Dia lebih tua. Sudah lulus kuliah dari luar negeri dan juga sudah mempunyai pekerjaan. Orang sibuk sepertinya pasti tidak akan memikirkan banyak hal seperti ini. Ia orang yang sangat terkenal dan sedang naik daun. Pergaulan mereka jelas berbeda. Reynand adalah seorang artis yang banyak memilik teman. Reynand pasti bergaul dengan semua kalangan dari berbagai usia. Sementara dirinya hanya anak SMA dan Ia hanya bergaul dengan anak-anak sebayanya.
Nayla semakin menunduk dalam. Dadanya sesak. Air matanya terus mengalir. Ia menahan suara tangisnya. Takut kalau orang yang tinggal bersamanya diapartemen itu mendengar.
Sangat lama, Ia menangis sangat lama. Sampai akhirnya pada tengah hari itu Ia menangis dalam tidurnya. Mengiringi langit mendung dan rintik-rintik hujan yang belum juga berhenti dari semalam.
Sementara itu Reynand tengah duduk disofa perpustakaan pribadinya. Pikirannya menerawang. Ia benar-benar butuh rileks saat itu. Ia benar-benar jarang menikmati waktu sendiri akhir-akhir ini. Ditelinganya sudah terdengar dengan jelas suara musik dari earphone. Musik itu sangat lembut dan menenangkan. Ia sangat menikmatinya. Rupanya banjir hari ini membuat Ia bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Sekitar satu jam mendudukan dirinya disofa, Reynand mulai bosan. Ia pun keluar dari perpustakaan melewati kamarnya. Sejenak Ia melirik kearah kamar Nayla. Pintu kamar itu terkunci, Ia berpikir apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu saat ini.
Ia mencoba mendekat kearah pintu. Istri? Gadis didalam kamar itu adalah istrinya. Tapi kenapa mereka seperti orang asing. Ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nayla. Bahkan gadis itu sangat kaku saat berhadapan dengannya. Mereka hanya pasangan suami istri yang dijodohkan oleh Kakek.
Reynand mendongakkan kepalanya, menghela nafas. Ia rasa tidak perlu memikirkan hal yang bukan-bukan saat ini. Pada akhirnya berpikir untuk membiarkan semua ini berlalu dengan sendirinya.
Tak berapa lama Ia mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia pun menjauhkan dirinya dari kamar Nayla. Hendak mencari tahu siapa yang bertamu disaat banjir seperti ini.
Pintu apartemen terbuka. Ia terkejut melihat siapa yang datang.
“Reynand.”
“Mami.”
Kenapa Mami tidak memberitahu mereka jika akan datang.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*