
****
Kediaman mewah kakek tampak sibuk saat itu. Kakek baru saja pulang dari luar negeri dan sampai di indonesia pada jam 05 pagi ini. Tubuhnya terlihat lelah. Iya, akhir-akhir ini sangat nampak dengan jelas betapa laki-laki berkepala enam itu selalu kelihatan lelah.
Guratan kekecewaan tampak jelas diwajah berkerut kakek. Ada kilatan amarah dimatanya yang nampak sayu seperti kurang tidur. Tak menghiraukan sang cucu yang sedang menatapnya memelas maka kakek pun langsung saja masuk kedalam rumah melawati cucu tanpa menegur sapa sedikit pun.
Reynand bungkam dan menunduk. Ia yakin kakek sudah tahu, namun pastinya dia tidak mengerti siapa yang memberitahukan kakek perihal masalah ini. Ah, sial!
Reynand ingin meminta tolong dan berbicara, maka segeralah dia susul laki-laki yang semasa muda mempunyai kemiripan yang sangat jelas dengan dirinya itu dengan cepat.
"Kek...." Begitulah Reynand memanggil dengan permohonan.
Tak menggubris cucunya lagi kakek langsung memasuki lift rumah diikuti oleh dua orang bawahannya untuk segera sampai ke lantai atas menuju ruangan pribadinya. Bagaimana pun seorang Soeseno adalah pribadi yang super sibuk. Pekerjaannya terlalu banyak untuk meladeni sifat sang cucu yang masih kekanak-kanakkan ini.
Baiklah, Reynand tidak akan berhenti berusaha. Maka segeralah dia berbalik dan berjalan menuju tangga lalu menaikinya dengan langkah cepat.
Namun Reynand kalah cepat rupanya, kekuatan besi berbentuk kotak besar itu tidak bisa ia imbangi.
Reynand ngos-ngosan, ruangan pribadi kakek terkunci rapat. Kepalanya pun mendadak pusing. Entahlah Reynand tidak mengerti kenapa sejak kemarin kepalanya terasa sangat pusing.
Beberapa saat kemudian, Reynand benar-benar bosan menunggu diluar. Apa yang dilakukan kakek didalam sana? Sudah satu jam lebih dia mondar-mandir didepan ruangan ini.
Maka mata yang tengah jengah menunggu itu lalu berbinar bahagia saat tiba-tiba pintu ruangan kakek terbuka lebar. Reynand pun bergegas masuk kedalam. Dua orang bawahan kakek sedikit menundukkan kepala padanya sembari membawa beberapa berkas saat keluar dari dalam sana.
Yang Reynand lihat pertama kali disana adalah, kakek dan mama yang tengah duduk serius berhadapan dengan mata yang hanya sekilas menatapnya. Seolah-olah dirinya adalah orang yang enggan dilihat.
Reynand memejamkan mata dengan mengelus tengkuknya kaku. Ia paham, pasti kakek sudah sangat muak dengannya.
Entah kenapa Reynand merasakn suasana begitu tegang. Ia dapat merasakan tarikan nafas kakek yang begitu tegang saat ia semakin mendekat. Begitu pun juga dengan Mama, ibu kandungnya itu juga terlihat tampak menahan sesuatu tentang dirinya.
Tubuh Reynand perlahan mendarat mulus diatas sofa. Hah, kenapa dia kesusahan bernafas begini ya? Suasana ini terlalu mencekam. Marah besar, pasti kakek marah besar padanya. Ya ampun kek, jangan keseringan marah. Nanti kerutannya bertambah.
"Kek...." Begitulah Reynand berucap ditengah kekakuannya. Duh, belum apa-apa ia sudah merasa akan terpental keluar karena raut wajah kakek semakin tajam.
Maka sahutan yang Reynand dapatkan adalah tarikan nafas berat dari laki-laki itu. Reynand tidak perduli jika kakek jengah padanya. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan hatinya kakek pagi ini.
Kakek menaikkan satu kakinya diatas paha. Matanya sedari tadi enggan menatap cucunya itu.
__ADS_1
Lalu Reynand berbalik menatap Mama Adel, nampak sama raut wajahnya dengan kakek. Namun dengan Mama Adel, Reynand tidak setegang saat menghadapi kakek. Masih ada keberanian yang ia miliki ketika berhadapan dengan Mamanya.
"Ma...."
Mama menarik nafas dalam-dalam. "Mama yakin kamu paham Reynand, kakek sudah lelah menghadapi kamu. Kakek sudah kehabisan kata, tidak tahu lagi bagaimana membuat kamu mengerti."
Reynand mengusap kepalanya tampak frustasi. "Kek, aku minta maaf...." ucapnya pasrah. "Gara-gara aku kurang tanggap dalam bersikap, Mami jadi memisahkan kami."
Lalu kakek menoleh. "Sudah sewajarnya bukan...."
"Kek...."
"Kakek pun juga akan melakukan hal yang sama kalau berada diposisi itu." Lalu tatapan kakek berbalik pada Mama Adel dengan tatapan yang sama tajamnya, membuat ibu dari Reynand itu langsung menunduk paham.
Reynand lagi-lagi tertunduk, kakinya terus melakukan gerakan-gerakan yang menunjukkan kegugupannya.
"Kek aku minta tolong...."
"Minta tolong apa?! Hem?! Bukannya kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Bukannya kamu bisa melakukan segala hal tanpa kakek. Rasanya kakek tidak perlu terlalu jauh untuk mencampuri urusan kamu."
Reynand bungkam sejenak. Ucapan kakek begitu tajam menyentak dadanya. "Bukannya kakek bilang, akan ikut campur waktu itu kalau sampai Nayla kenapa-kenapa." Ucapnya ragu dengan polosnya.
Lalu Reynand menatap frustasi. "Kek!" Tak mendapat respon belas kasih lalu dia berbalik menatap sang Mama. Lagi-lagi sama, tidak ada yang merasa kasihan padanya saat ini. Baiklah, dia memang pantas dicampakan.
"Kek, aku mohon. Tolong bantu aku, aku nggak bisa jauh dari istri aku, kek. Aku mohon.... bantu ak...." Reynand spontan menutup mulutnya dengan dua tangan. Mual??!! Reynand mengerjap kaget sampai akhrinya mendapat serangan itu lagi.
Sama terkejutnya kakek dan mama menyoroti Reynand heran. Kemudian keduanya kembali membelalak saat laki-laki muda itu kembali mual beberapa kali dihadapan mereka.
"Reynand, kamu apa-apaan sih. Yang sopan dong sama kakek." Mama melotot menatap putranya yang tengah menunduk sembari menutup mulutnya itu.
"Aku, nggak tau. Tiba-tiba aku mua... huek!" Ash, Reynand benar-benar tidak tahan. Ini dirinya kenapa, sih?
"Reynand! Kamu kenapa sih, hah! Nggak usah aneh-aneh deh."
"Ma?!" Sahut Reynand meminta pengertian.
Saat Reynand mengangkatnya sehingga kepala Mama dapat melihat dengan jelas pelipis putranya itu tiba-tiba berkeringat. Astaga, kenapa wajah putranya pucat begini. Duh, mama jadi kasihan.
__ADS_1
Dan, saat itu juga Reynand pun mual kembali sehingga dengan cepat Mami pun memijat-mijat tengkuknya. "Makanya kamu tuh jangan suka membiarkan masalah berlarut-larut. Jadinya seperti ini, kan. Seharusnya, berusahalah memecahkan masalah dengan cepat Reynand. Sekarang gimana, kamu jadi banyak pikiran, kan."
Tidak menggubris ucapan sang Mama maka Reynand pun kembali merasakan gejolak itu.
Mama semakin khawatir. "Aduh, nggak usah dipikirin ah." Kini salah satu tangan mami mengelus pelan punggung putranya itu.
Entahlah Reynand juga tidak mengerti kenapa dirinya jadi begini. Sedari semalam ia merasakan pusing yang teramat sangat. Dan, pagi ini ia malah merasa mual. Sepertinya ia ketularan Nayla.
"Makanya kakek bantuin aku buat bawa Nayla pulang. Ini akibatnya kalau orang lagi jatuh cinta dipisahin. Kakek nggak ngerti kan, sakitnya nahan rindu tuh gimana." jelas Reynand.
Mama menepuk lengan Reynand pelan. "Kamu tuh ya, keadaan lagi begini aja masih bisa ngomong konyol begitu."
Menyoroti keadaan cucunya tersebut bukannya kasihan, kakek malah ingin tertawa. Maka untuk menahan gejolak yang tertahan itu kakek memalingkan wajah sembari menutup wajahnya.
Sangat menggelikan. Lucu sekali melihat cucunya tersiksa seperti itu. Sepertinya kenangan yang ia alami dahulu rupanya terulang kembali pada sang cucu.
"Kek, aku mohon...." ulang Reynand lagi sembari menahan rasa yang terus menyerang itu.
Berbalik menatap Reynand serius, kakek memberi isyarat untuk Mama memberikan waktu mereka berdua agar berbicara empat mata.
"Tapi pa, Reynand lagi sakit. Apa nggak sebaiknya diobati dulu. Kasihan pa, dia mual-mual terus." Jelas Mama.
"Biarlah mungkin itu akibat telah membiarkan masalah berlarut-larut, lalu menyakiti hati istrinya."
Reynand mendongak, kakek kejam! (Lebay Rey)
Maka beberapa saat kemudian ruangan itu kembali tertutup rapat sesaat setelah Mama keluar dari sana dengan masih menaruh rasa khawatir pada sang putra. Sang putra yang tiba-tiba mual.
Serius, keadaan terasa lebih serius diruangan itu saat ini. Tapi, bagaimana Reynand mau bicara serius kalau dirinya terus merasakan mual begini.
*
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading semua!