Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Apakah Dia Penculik?


__ADS_3

****


Keesokan harinya saat itu Nayla bersama teman-temannya tengah bermain ditepi pantai. Mereka terlihat sangat gembira. Bersua poto bersama. Mengabadikan pemandangan laut yang begitu indah dengan langit biru diatasnya.


“Nay.” Riko mendekati Nayla yang sedang berfoto selfi bersama kedua sahabatnya yaitu Suci dan Tia.


“Ni cowok dimana-mana nongol aja.” Suci menyambut Riko dengan sewot.


“Eh, biarin aja. Kebetulan kan kita lagi butuh orang buat motoin.” Sahut Tia.


“Idih, ogah gue motion lo pada. Kecuali Nayla.” Timpal Riko.


“Pelit banget si Lo.” sungut Tia.


“Gue kesini itu mau ketemu Nayla. Bukan jadi fotografer kalian.” Riko mendekati Nayla, dan berdiri disamping gadis itu.


“Heh, Lo udah gue bilangin jangan nempel-nempel sama Nayla.” Suci mendorong Riko menjauh dari Nayla.


“Lo kenapa si hah? Nggak suka banget kalau gue deket-deket sama Nayla.” Riko menatap Suci penuh protes.


“Aduh udah deh Ci. Lo nggak usah lebay juga kenapa. Entar kalau orang-orang curiga gimana?” Bisik Nayla, yang akhirnya membuat Suci langsung terdiam.


“Udah mending Lo potoin kita bertiga.” Tia menyerahkan kameranya kepada Riko.


Riko pun segera mengambil kamera itu walau pun sedikit kesal akibat ulah suci yang mendorongnya menjauh dari Nayla tadi. Akhirnya dengan perasaan terpaksa Riko pun mengambil poto Nayla bersama kedua sahabatnya beberapa kali.


“Nih udah.” Riko menyerahkan kamera kepada Tia.


“Mana-mana bagus nggak potonya. Awas kalau gue jelek.” Suci berlari antusias sembari mengancam Riko.


“Nay, kesana yuk.” Riko menggandeng tangan Nayla dan mengajaknya lebih mendekat kebibir pantai.


“Heh, kenapa poto gue cuma setengah.” Terdengar protes Suci dari kejauhan.


Riko tidak menghiraukan suara nyaring Suci. Ia tersenyum karena telah berhasil mengerjai gadis itu. merasa senang karena bisa membalas dendam. Gadis itu terlalu sering menganggu dirinya yang berusaha mendekati Nayla.

__ADS_1


“Nay.” Riko mendekati Nayla dengan kedua tangan disembunyikan dibelakangnya.


“Apa?” Nayla yang sedang berjalan santai sambil menikmati angin sepoi-sepoi menoleh.


“Gue ada sesuatu buat lo.”


“Apa?”


“Mana tangan Lo?"


Nayla menjulurkan kedua tangannya.


“Tutup mata dulu.”


“Ha?”


“Tutup mata dulu. Atau nggak jadi gue keluarin nih.”


Nayla pun akhirnya menutup kedua matanya, walaupun merasa aneh. Tak berapa lama perlahan dia dapat merasakan sesuatu ditangannya dan itu bergerak-gerak.


“Buka mata Lo.”


Saat terkejut saat membuka kedua matanya. Seekor keong mirip kepiting tengah merangkak disana.


“Aaaaa.” Nayla segera melemparkan binatang tersebut. Ia merasa takut sekaligus geli.


“Kok takut si. Lucu tau.” Riko memungut binatang yang terlempar itu dari pasir. Kemudian mengangkatnya lagi dan mendekatkan kearah Nayla.


“Ih Riko gue takut.” Nayla berusaha menghindar.


Sementara itu melihat tingkah Nayla yang ketakutan. Riko sepertinya semakin semangat menjahili. Ia pun mengejar Nayla dengan membawa binatang itu ditangannya.


“Riko! Gue takut.” Nayla berlari kencang. Tidak perduli seberapa jauh. Dia memang sangat takut dengan binatang kecil. Menurutnya itu sangat menggelikan. Apa lagi jika orang dengan sengaja menakutinya dengan jenis binatang itu.


Bugh!!!! Tanpa sengaja Nayla menabrak seorang. Seorang lelaki dengan tubuh yang tinggi. Nayla pun mendongak. Telihat lelaki tersebut memakai topi, kacamata hitam dan masker wajah.

__ADS_1


“Aduh maaf, saya nggak sengaja.”


Bukannya menerima maaf laki-laki tersebut malah menarik Nayla menjauh dari keramaian. Sontak hal tersebut membuat Nayla kaget. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan laki-laki itu darinya.


“Aduh, lepasin. Anda siapa.” Nayla mencoba melepaskan tangannya. Mendadak dirinya menjadi sangat panik. Laki-laki itu, siapa dia? Apakah dia penculik? Tapi sepertinya benar, laki-laki itu sedang berusaha menculiknya.


“Toloooooong…. Tol… hemph….” Tiba-tiba laki-laki itu membekap mulut Nayla membuatnya semakin berontak.


Nayla terus meronta namun laki-laki tersebut tidak melepaskannya. Tenaganya terlalu kuat untuk ia lawan. Hingga akhirnya mereka tiba dibalik batu besar. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan melepaskan Nayla.


Merasa tangan dan mulutnya terlepas Nayla berniat untuk kabur. Namun gagal laki-laki itu kembali meraih tangannya.


“Lepasin! Anda mau apa? Toloong! Tolong!” Nayla berteriak begitu kencang.


“Nayla.” Laki-laki tersebut melepas masker dan kacamatanya. Membuat Nayla langsung terdiam dan termangu seketika.


“Abang?” Nayla memandangi Reynand tak percaya.


“Ini beneran abang?” Menelisik.


Reynand mengangguk dengan nafas yang ngos-ngosan. Ia benar-benar sudah seperti penculik saja tadi.


“Kok bisa ada disini?”


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2