
****
"Reynand...." Airin semakin terisak saat Reynand menahan dirinya dengan menggenggam erat pergelangannya. Dia tidak terima penolakan seperti ini. Bibirnya pun ia gigit kuat-kuat karena saking putus asa.
Reynand masih menahan kuat tangan yang hendak menggapainya. Dion benar, Airin memang perempuan nekat. "Gue gak bisa ngasih lo harapan." ucapanya memberikan pengertian.
Airin menunduk pasrah dan isakan itu semakin keras terdengar. "Kasih aku kesempatan Rey...."
Reynand tidak tahu lagi bagaimana memberikan pengertian kepada Airin. Wanita yang ada dihadapannya ini benar-benar keras kepala.
"Mending lo pulang sekarang...." kalimat kesekian yang Reynand lontarkan untuk membuat gadis itu segara berlalu dari hadapannya.
Dan, akhirnya tangan yang terus berusaha menggapai itu melemah. "Kamu jahat...."
Reynand melepaskan genggamannya, lalu tangan gadis itu pun terjatuh disisi tempat duduknya.
"Reynand...." Airin terus menunduk dan berucap lirih tanpa menyerah.
"Maafin gue Rin...." Menjeda ucapannya sejenak untuk mempersiapkan apa yang akan dia katakan selanjutnya. "Gue udah punya seseorang, yang gue cintai sekarang."
Isakan Airin tiba-tiba terhenti. Perlahan ia mengangkat kepala lalu menatap Reynand tak percaya dengan mata sembab itu.
"Bohong...."
"Kamu bohong, Reynand!"
Reynand mendongak, lalu ia memalingkan wajah semakin jengah. Kemudian ia kembali menatap gadis itu dengan jenuh.
Menyadari sorot mata yang seperti menatapnya muak itu, maka Airin tak perduli. Wanita itu semakin keras hati, terserah jika Reynand terus menunjukkan penolakan. Yang ia hanyalah terus menggapai apa yang ia inginkan saat ini, yaitu mendapatkan hati Reynand sepenuhnya.
"Aku gak perduli kalau kamu sudah mencintai orang lain, aku bakalan terus berjuang. Aku nggak akan biarin diri aku kalah dari orang lain." Lalu bibir itu tersungging tipis.
Sementara Reynand masih menyorot tajam pada wanita itu. Tiba-tiba perhatiannya kembali teralihkan oleh dering ponselnya.
Menatap Airin sejenak seperti mewanti sesuatu maka ia pun mengangkat panggilan itu.
"Iya sayang."
"Bentar lagi pulang."
"Belum tidur?"
"Nungguin pulang?"
"Iya sabar ya, kamu tidur duluan gak apa."
"Mau nungguin?....
__ADS_1
Reynand sadar arah pandang Airin mengikuti ponsel yang ia letakkan kembali diatas dashboard saat panggilan itu selesai. Wanita itu seperti menerka siapa yang meneleponnya barusan.
"Cepetan keluar gue mau pulang." Ujar Reynand datar masih dengan kesabaran yang ada.
Airin pun sadar dari bengongnya oleh suara itu.
"Tadi siapa?"
"Lo gak perlu tau." Jawab Reynand cuek.
Airin tampak frustasi, ia tidak puas dengan jawaban itu. "Siapa Reynand...." Maka ia pun kembali terisak.
Mungkin Reynand sudah benar-benar lelah dengan tingkah Airin saat ini.
"Siapa Reynand?" Kini kedua tangan Airin menarik lengan kaos yang Reynand kenakan.
"Reynand, siapa? siapa?" Airin menarik-narik lengan kaos Reynand dengan frustasi.
Saking tidak sabarannya Airin maka ia mulai menarik lengan kaos itu kuat karena saking frustasinya.
"Reynand! Siapa?!!!" Airin menyentak Reynand dengan keras.
Disentak seperti itu Reynand langsung menoleh dan berucap spontan. "Lo mau tau? Dia istri gue. Gue udah nikah." Pengakuan jujur itu rupanya mampu membuat gadis itu terdiam sejenak. Namun krmudian ia malah tertawa kuat seakan Reynand telah memberikan lelucon padanya.
"Gila kamu! Kamu jangan gila Reynand. Kamu menikah dengan siapa?" Tawanya semakin kencang.
Airin benar-benar sudah membuat Reynand muak, maka secara tiba-tiba secara sepontan ia melontarkan kata yang mampu menggores hati wanita itu.
"Airin!!!!" Dan, mata itu langsung melotot tajam.
Deg! Benar saja Airin langsung terdiam mendengar suara menggelegar itu. Ini pertama kalinya laki-laki itu menyentakknya seperti ini.
Laki-laki yang biasa bertutur halus terhadap wanita seperti Reynand tiba-tiba saja membentaknnya.
Isakan Airin semakin gemetar karena itu. Ia tidak menyangka, jantungnya serasa dihujam.
Menelan ludah sesaat maka ia kembali berucap dengan suara gemetarnya. "Kamu jahat.... kamu tega.... kamu bentak aku." Airin menundukkan kepalanya sejenak. "Kamu juga bohong, nggak mungkin kamu udah punya istri. Kamu punya cita-cita, aku ingat Reynand. Nggak mungkin kamu nikah di umur semuda ini. Aku nggak nyangka kamu bohong hanya demi membuat aku jauh dari kamu."
Maka suasana hening sesaat. Hanya isakan Airin yang terdengar saat itu. Sementra Reynand menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya.
"Aku nggak nyangka Rey, hari ini kamu melakukan sesuatu yang sangat nggak aku suka. Kamu ngebentak dan bohongin aku."
Lalu ucapan itu terdengar santai namun berhasil menusuk hati. "Kalau lo emang nggak suka, ya udah. Keluar dari mobil gue sekarang." Reynand menoleh, sorot mata itu seolah mengatakan kalau ia memang tidak perduli dengan ucapan Airin barusan.
Sedih, ditatap seperti itu membuat Airin semakin sedih. Ia benar-benar tidak menyangka Reynand akan sekejam ini padanya.
Membuka pintu mobil Reynand perlahan maka ia pun berbalik dan mulai menurunkan kaki kakinya.
__ADS_1
Namun sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari mobil itu Airin berbalik kembali. "Kamu bentak aku dan juga, bohong tentang kalau kamu udah punya istri yang aku tangkap kalau itu hanya alasan untuk membuat aku menjauh dari kamu." Airin menunduk sejenak. "Tapi, aku nggak bisa Rey, seberapa keras kamu mencoba untuk membuat aku jauh dari kamu, itu nggak akan pernah bisa. Hati aku udah benar-benar jatuh, sejatuh-jatuhnya untuk kamu Rey...."
Airin tidak perduli Reynand enggan menatapnya, maka ia terus mengutarakan apa yang ia rasa saat ini. "Aku cinta kamu, sejak saat itu. Sejak pertama kali kamu perduli sama aku, saat kamu menolong aku ketika itu. Aku rindu saat itu Rey, perilaku kamu waktu kita masih sama-sama kuliah di luar negeri. Saat di mana mata kamu tidak berpaling ketika aku menatap kamu dengan binar yang masih sama hingga saat ini."
Lalu keheningan itu benar-benar terasa saat Reynand sedikit pun tidak menggubris ucapannya.
"Seberapa keras kamu berusaha untuk menolak aku, maka lebih keras lagi aku akan berusaha untuk mendapatkan hati kamu."
Airin menghela nafas sejenak. Ia berpaling dalam kesedihannya karena Reynand sedikit pun tidak perduli. Dengan menahan rasa samit itu, lalu ia kemudian turun dan menutup pintu mobil itu segera.
Seiring dengan pintu mobil yang tertutup makan sesegera itu pula Reynand menghidupkan mesin mobilnya kemudian segera berlalu dari tempat itu.
Mata Airin masih berkaca-kaca, menatap kepergian mobil itu yang berlalu dengan sangat cepat, membuat hatinya pun semakin mengeras. Mengeras untuk menolak kenyataan pahit ini.
"Di tolak lagi lo?" Suara hak sepatu yang berbunyi kencang saat menginjak lantai itu pun terhenti.
Sontak Airin menoleh ke arah sumber suara. Wanita itu, Selena!
Bersidekap dan semakin mendekat, maka Selena menghadapkan tubuhnya dengan perempuan yang tingginya sejajar dengan dirinya itu.
Airin menatap sosok itu dengan penuh ketidak sukaan.
Menyunggingkan bibir, berpaling sejenak seolah mencobir. Selena lalu menatap sosok menyedihkan itu kembali. "Untungnya Reynand nggak mau ya sama cewek muna kayak lo." Selena kembali menyunggingkan bibir penuh ke sinisan. "Kapan sih lo, jadi diri sendiri. Reynand mana mau dengan cewek topeng macam lo ini." Selena lalu menjulurkan telunjuknya untuk mendorong kuat bahu Airin. Sehingga kuku tajam itu menukik disana.
Menepis telunjuk itu, Airin lalu tersenyum sinis. "Reynand pasti bakalan jatuh ke pelukan gue." Sorot mata sedih itu mencoba meyakinkan diri.
Dan, itu membuat Selena tertawa. Membuat sosok Airin merasa seperti direndahkan. "Mimpi sih, boleh-boleh aja. Tapi lo harus sadar diri, dasar cupu." Begitulah kalimat centil yang santai namun menyakitkan itu keluar begitu saja.
Deg! Airin langsung tersentak, Selena benar-benar membuatnya geram. Lalu tangannya mengepal kuat saat sosok seksi itu melenggang congkak meninggalkannya begitu saja.
Ia tatap tajam sosok tinggi semampai yang semakin berlalu itu. Di rendahkan seperti ini tentu saja membuat darahnya semakin mendidih.
Lihat saja, tidak ada yang bisa menghalangi mimpinya untuk menjadi kenyataan. Apa pun caranya, dia pasti akan membuat Reynand jatuh, sejatuh-jatuhnya di pelukannya.
Ia pastikan itu. Tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Tekad Airin pun semakin bulat.
Reynand pasti akan menjadi miliknya! Itu pasti!
*
*
*
*
Like, vote, komen!
__ADS_1
Happy Reading!