Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Pergilah!


__ADS_3

****


"Kenapa sih, ngedumel mulu?"


Nayla masih menunduk saat mendengar suara yang sedang menegurnya itu. Menganggap itu hanyalah ilusi maka dia pun mengabaikannya. Mungkin karena beberapa hari ini yang ia pikirkan hanya lelaki itu jadi dirinya seperti mendengar suara itu setiap saat.


Ia tersengal, sepertinya Nayla cukup lama memendam perasaan ini. "Aku capek, aku belum paham semua ini dan aku harus mengalaminya. Bisa nggak, ada yang jelasin ke aku, aku harus gimana?"


Perempuan yang masih bersimpuh dilantai basah itu lalu menyentuh dadanya dengan telapak tangan. "Dada aku sesak, kenapa semua orang seperti nggak paham aku. Kenapa juga aku seperti nggak ingin semua orang tau apa yang aku rasain." Lalu suara itu tertahan sejenak, Nayla kesusahan untuk melepaskan apa yang ia rasa. "Aku terlalu nggak enak hati untuk ngungkapi semuanya. Kenapa semuanya seperti berusaha untuk mematahkan hati aku? Aku salah apa?" Ia menunduk, beban didalam hatinya begitu besar saat ini.


Kalimat panjang yang baru saja keluar dari keluh kesah perumpuan itu mampu membuat sosok yang tadinya ingin mendekat perlahan memundurkan dirinya kebelakang.


"Mami, kakek, bahkan sekarang...." Hah, Nayla jadi susah bicara saat hendak menyebut namanya.


"Kenapa seperti nggak ada yang perduli sama aku, perasaan aku, apa aja yang aku rasain sekarang." Terisak sejenak.


"Romeo apa kakak nggak boleh sedih?"


Romeo yang bediri didepan pintu kamarnya termangu hati tiba-tiba terenyuh melihat kakaknya seperti itu.


"Kamu harus kuat, jangan jadi seperti kakak...." Entahlah banyak sekali yang Nayla sesali atas dirinya saat ini.


"Kak...." Lirih Romeo.


"Kakak cuma mau ketenangan Romeo, semua ini rasanya terlalu sulit untuk kakak hadapi." Semuanya, segala hal yang membuat dirinya tidak tenang selama ini.


Nayla mengatur nafasnya sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan untuk meluapkan kegundahan hatinya.


"Kalau pun memang pernikahan ini cuma untuk mainin hati kakak, mungkin lebih baik kakak kayak gini.... Kembali dengan kehidupan dulu lagi, tinggal dirumah ini bersama kamu dan Mami dengan nyaman. Hanya kita bertiga."


Lalu hening sesaat menyelimuti perasaan mereka yang terdengar hanyalah isak pilu yang keluar dari bibir gemetar itu.


Nayla mendongak untuk menatap Romeo yang masih mematung disana.


"Kakak bakalan temenin kamu tiap hari, jadi kamu nggak bakalan kesepian lagi."


Mata Romeo yang malihat itu tiba-tiba berkaca-kaca.


"Kakak juga bakalan selalu masakin makanan kesukaan kamu. Maafin kakak ya, pasti selama ini kamu kesepian. Kakak sampai lupa kalau selama kakak punya seorang adik yang selalu butuh kakak selama ini."


Romeo yang masih menatap wajah menuduk itu tiba-tiba mulai meneteskan air mata. Bersedih mendengar segala penuturan dari luapan isi hati kakaknya. "Kakak, jangan ngomong gitu. Sekarang disini ada...." Lalu suara itu terhenti oleh sebuah isyarat sesorang yang masih bersembunyi dibalik pintu.


"Kakak udah nerima semuanya, tapi kenapa sekarang jadi kayak gini.... Kakak udah capek, kakak nggak ngerti lagi harus gimana? Semuanya terlihat nggak perduli, semuanya egois, kakak dipaksa ini itu, tapi nggak ada satu pun yang ngerti perasaan kakak."


Entah kenapa Romeo pun tiba-tiba ikut terisak mendengar itu. "Kakak jangan gini aku jadi ikut sedih." Lalu adik laki-lakinya itu tidak tahan untuk mendekat. "Kakak jangan begini, maafin aku. Iya aku yang ngotorin rumah. Jangan nangis. Aku sayang kakak. Aku ngertiin kakak. Janji deh nggak bakalan bikin kakak kesel lagi." Romeo memeluk tubuh bergetar itu dengan erat. "Aku sayang kakak .... jangan nangis, maafin aku. Kakak capek, kan? Ya udah aku anterin istirahat di kamar."


Lalu tiba-tiba sebuah sentuhan lembut dipunggung Romeo membuat ia akhirnya melepas pelukan itu dan perlahan menggeser tubuhnya.


Nayla menahan tangan Romeo. "Jangan pergi, kakak mau dipeluk...." namun, tangan Romeo akhirnya terlepas dari genggaman Nayla.


Nayla mendongak protes. "Meo...."


Deg! Ditengah tangisan itu Nayla termangu. Sejak kapan sosok ini berada disini? Berarti tadi ia tidak salah dengar akan suara itu, berarti ia tidak sedang berhalusinasi.


Terlihat Reynand dengan mata menyoroti perempuan itu lurus menahan pandangan yang berkaca-kaca. Hatinya terenyuh seperti ada sesuatu yang menancap disana.


Dan, disaat tangan itu ingin menyentuh tubuh Nayla, gadis itu langsung menolak.


"Jah-ngang.... sentuh aku." Tiba-tiba ia jadi kesulitan berbicara, mulutnya terasa kaku. Seolah Reynand adalah penyebab rasa sesaknya saat ini. "Nga-pain kamu...." Terisak tersengguk-sengguk. ".... disini?"


"Sayang...." Reynand ingin meraih tubuh yang bergetar pilu itu.


Mengusir pelan. "Pergi...." Lalu Nayla memundurkan tubuhnya secara perlahan dengan bertopang pada telapak tangan dikedua sisi tubuhnya.


"Nay...." Kini perasaan Reynand semakin pilu melihat Nayla yang seperti ini. "Maaf...."


Bukannya menjawab, gadis itu semakin tersedu sedan menangis hingga terasa sangat menekan dadanya. Ia terus menggeleng mundur saat Reynand berusaha mendekat untuk meraihnya.


"Nayla jangan begini...." Ya tuhan, Reynand benar-benar ingin memeluknya. Reynand ingin menenangkannya dengan penuh kasih sayang.


"Aku nggak mau...." Lalu suara itu mengecil seperti tertekan dengan senggukkan yang semakin menjadi.

__ADS_1


"Abang mau peluk kamu...."


"Jangan peluk aku...." Tersengguk-sengguk terus. "Jangan temui aku...." Kini tangisan itu seperti tarikan dan hembusan nafas yang begitu cepat.


"Sayang.... jangan begini. Aku rindu kamu...." Reynand berusaha membujuk.


"Bohong, kamu nggak rindu aku. Kamu bohong."


Reynand akhirnya bungkam sejenak mendengar suara itu. Ya tuhan, dia benar-benar ingin menangis sekarang. Dia benar-benar tidak tahu kalau Nayla akan semenderita ini.


Reynand memberi jeda sejenak. Dilihatnya Nayla sudah menangis dengan mata yang terpejam bersender pada kaki sofa diruangan itu. Tak lama ia mendengar suara rintihan diantara tangisan itu seolah menandakan kalau saat ini hatinya benar-benar sengsara.


Akhirnya tanpa pikir panjang Reynand mengeser dirinya cepat untuk meraih dan memeluknya erat. Reynand ingin agar Nayla membagi rasa sakit itu padanya.


Lagi-lagi Nayla menolak, ia menundukan kepalanya agar tubuh Reynand tidak sampai padanya.


"Udah, aku capek, nggak ada yang ngertiin aku."


"Aku ngerti kamu Nay."


"Bohong...."


Reynand meneguk ludah merasa bersalah. Tanpa ia sadari ucapannya pada malam hari itu rupanya memberikan harapan yang begitu besar pada Nayla.


Nayla kembali berucap lirih. "Tolong udah, aku nggak kuat...."


Reynand bungkam. Biarlah dia ingin mendengarkan keluh kesah itu saat ini.


"Mungkin lebih baik begini. Biar aku nggak berharap terus, selama ini aku terlalu berharap kalau ternyata akhirnya aku punya sosok yang akan selalu ada disamping aku. Sosok yang bisa membuat aku kuat."


"Aku akan selalu ada disamping kamu." Reynand mencoba menenangkan.


"Aku, nggak akan maksa untuk itu. Jadi, lebih baik abang pulang sekarang. Kembali kerumah kakek."


"Nayla kamu?"


"Tolonglah.... aku capek. Aku benar-benar lelah.... setiap hari aku nggak pernah ngerasa tenang. Selalu ada yang mengganjal di hati aku."


"Aku mau tidur disini...." Ucap Reynand.


"Nggak usah...."


"Aku mau temenin kamu Nay, kamu pasti butuh aku...."


"Nggak, aku nggak butuh kamu." Ucap Nayla pasrah.


Reynand pun bungkam menatap sosok yang tengah melangkah itu dengan seksama. Mencari arti sebenarnya dari setiap kalimat itu.


"Aku nggak butuh siapa-siapa, aku nggak butuh orang buat sayang sama aku." ucapnya terbata-bata.


Reynand bungkam memejamkan mata mendengarkan itu.


"Aku nggak butuh seseorang disisi aku."


"Lebih baik abang pulang...."


Reynand masih memejamkan mata, namun kini kesabarannya sudah habis.


"Jangan pernah temui aku. Abang pasti nggak bakalan apa-apa tanpa aku."


Reynand benar-benar tidak tahan sekarang. Maka dengan cepat dan penuh paksaan akhirnya ia pun memeluk tubuh ia dengan erat.


Air mata yang sudah tenang itu akhirnya semakin tumpah. "Nggak usah peluk-peluk. Jangan begini. Lebih baik abang bersama orang lain yang selama ini selalu berusah mati-matian lebih keras dari aku. Dia lebih pantas, dari pada aku yang selalu berdiam diri dirumah menunggu abang untuk datang." Nayla terus memberontak. Ingatan akan Airin yang selalu berusaha untuk mengejar-ngejar Reynand terbayang saat itu. Bahkan ingatan ketika ia ditampar, hatinya sesak mengingatnya. Sesak dan masih mengganjal sampai sekarang.


"Aku nggak seberani itu untuk mempertahankan abang ada disisi aku."


Tak perduli Reynand semakin memeluk tubuh itu dengan erat, seolah ingin agar Nayla berbagi rasa padanya.


"Pulang!!" Sentaknya tertahan masih berusaha mendorong tubuh itu darinya. "Udah cukup, aku mau sendiri. Abang pergi aja, pergi.... untuk apa bertahan sama aku."


Lalu semakin memberontak dipelukan itu. "Pulaaang...." kini kata itu terdengar memohon. "Aku mohon pulanglah.... nyatanya abang bukan milik aku seutuhnya."

__ADS_1


"Lo itu ya, lo nggak mikirin perasaannya Nayla.”


“Duh lo gimana si. Suaminya itu kan artis. Ya resiko dia dong.”


"Lo itu b3go atau apa sih, Nay? Riko itu punya perasaan sama lo. Lo jangan pura-pura buta ya. Selama ini dia nganter jemput lo. Dan, tiba-tiba denger kalau lo udah nikah, lo pikirin dong perasaan dia. Selama itu dia nunggu lo dan lo malah pura-pura b3go kayak gini."


"Enak ya jadi lo, udah cantik, pinter, banyak yang suka, terus udah nikah lagi sama orang kaya dan terkenal. Enak banget sih, hidup lo."


"Lo tau kan, gimana hubungan gue dengan Reynand. Ya, pasti lo tau lah. Secara pemberitaan tentang kita berdua itu seakan nggak ada habisnya. Pasangan fenomenal, pasangan cinlok."


"Reynand itu punya cita-cita, gue tau. Dan, gue nggak percaya sih dia udah nikah di usia semuda itu. Karena gue yakin itu bakalan merusak masa depannya dia."


Plak!! Plak!!


"Makanya punya mulut itu dijaga jangan asal ngom...."


Ingatan yang selalu membuatnya merasa sesak....


Reynand masih memeluk tubuh yang semakin genetar itu dengan erat. "Aku akan temani kamu tidur malam ini...."


"Nggak usah temani aku tidur.... Aku nggak butuh itu. Sebelumnya aku udah biasa sendiri, dulu hidup aku selalu dalam kesendirian."


"Nay, maaf...."


"Pulang...."


"Aku akan tidur disini bersama kamu...."


"Jangan.... tolong.... Aku nggak mau kecewa, tolong jangan bersama aku disini malam ini kalau ternyata saat aku bangun abang nggak ada disamping aku...."


Deg! Jantung Reynand berdegub sangat kencang.


"Aku akan berada disamping kamu sampai besok pagi...."


"Bohong!"


"Jangan janjikan apa-apa lagi buat aku.... jangan bilang kata-kata manis lagi.... jangan ikat perasaan aku dengan semua itu...."


"Nayla kamu kenapa jadi seperti ini??"


"Pergi!!!! Hah, aku takut.... aku nggak pernah nyangka ternyata mencintai seseorang ternyata semenakutkan ini...."


"Nay??"


"Nyatanya aku ingin disisi abang selamanya, tapi beberapa hari ini aku takut. Baru beberapa hari kita pisah, tapi aku ngerasa itu terlalu lama."


"Jadi pergilah, tinggalin aku, aku mohon.... Kembalilah ke kehidupan yang dulu. Dimana saat itu nggak ada aku. Lihat, nggak ada yang bisa aku lakuin kecuali begini."


Laki-laki itu masih bungkam. Ia terus menampakan raut wajah tak terbaca.


"Tolong.... Pergi!!!!" Jerit Nayla kencang.


Reynand menutup matanya dalam-dalam, perlahan ia melonggarkan pelukan itu. Ia lepaskan Nayla. Ia pun berbalik dan melangkah untuk meninggalkan tempat itu.


Kini Nayla merasakan hatinya tertarik perlahan untuk pergi. Biarlah, lepaskan?


Seiring dengan langkah kaki Reynand yang melangkah perlahan, Nayla pun ikut berbalik. Menutup mulutnya untuk menahan suara yang bergetar itu.


Sebentar, benar-benar hanya sebentar. Semuanya terasa cepat berlalu sejak hari itu. Hari dimana semua ini dimulai.


*


*


*


*


 


 Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2