
****
Seperti yang Mama Adel sarankan dan juga Nayla ingat perkataan Reynand semalam yang juga menyarankan dirinya untuk membawa bekal ke kantor suaminya itu. Nayla jadi berpikir apa jangan-jangan Reynand sengaja meninggalkan bekal makanan yang sudah ia siapkan? Ha, ia menepuk kepalanya pelan. Kenapa juga dia harus berpikiran buruk begini. Siapa tahu suaminya memang lupa.
Dengan diantar oleh pak Tio Nayla melaju menuju kantor sang suami yang selama ini tidak pernah ia datangi.
Nayla turun dari mobil dan perlahan masuk menuju gedung tempat suaminya berada. Tak pelak kedatangannya menjadi sorotan banyak pasang mata.
"Istri pak Rey...." ujar salah satu karyawan terperangah.
"Aslinya lebih cantik."
"He em...."
"Nggak kelihatan baru tamat SMA."
"Kok dia sendirian?"
"Gak tau, mau apa ya?"
"Ya, mau ketemu suaminya." Ujar salah satu karyawan nyolot.
Nayla sedikit mendengar bisik-bisik itu, ia tersenyum sembari terus melanjutkan langkahnya. Namun seketika ia tercekat saat ada beberapa karyawan datang untuk menyapa.
"Siang buk...."
"Ibuk selamat siang...."
"Iya, selamat siang...." balas Nayla ramah.
Setelah Nayla sudah berada dibagian dalam gedung ia berhenti sejenak. Dia lupa kalau dirinya sendiri tidak mengetahui dimana tepatnya ruang kerja Reynand berada.
Melihat banyak pasang mata seperti sedang memperhatikannya ia berencana untuk bertanya kepada salah satu dari mereka. Namun, belum sempat ia melangkah sosok laki-laki muda tiba-tiba mendekatinya.
"Cari siapa dek." ujar laki-laki itu.
"Saya mau cari ruangan Pak Reynand, dimana ya?"
"Maaf sebelumnya sudah buat janji." Karyawan laki-laki tersebut terlihat mesam-mesem, berbunga-bunga.
Nayla tahu gelagat seperti ini, namun ia berusaha mengabaikan. "Saya belum bikin janji tapi, saya mau...."
Belum sempat Nayla meneruskan ucapannya seorang karyawan wanita tiba-tiba mendekat. "Permisi buk, ibuk cari ruangan pak Reynand. Ruangannya ada dilantai sepuluh, mari saya antar." tanya perempuan itu ramah.
"Bentar-bentar adek ini nggak ada janji sama pak Rey...."
Karyawan itu lalu mendekati temannya tadi. "Lo gak sopan banget sih, dia ini istrinya pak Reynand." mendengkus kesal lalu berbalik menatap Nayla yang masih berdiri disana. "Maaf ya buk, teman saya ini emang orangnya kudet. Dia jarang lihat berita. Makanya gak ngenalin ibuk" Ia melotot tajam kepada rekannya tersebut lalu berbalik menatap Nayla dengan ramah.
Nayla tersenyum dan mengangguk. "Iya, nggak apa-apa."
Karyawan wanita sedikit membungkuk. "Terimakasih banyak buk, mari saya antar ketempat suami ibuk."
"Oh, iya, terimakasih." Nayla lagi-lagi menyunggingkan senyum.
Ibuk? Baru kali ini dia dipanggil dengan formal begitu rasanya agak aneh. Mungkin karena dia tidak pernah mendapat panggilan seperti itu.
Setelah keluar dari lift, Nayla pun langsung pun langsung diantar menuju ruangan pribadi Reynand. Tentu tidak sulit baginya untuk menuju kesana karena hampir seluruh karyawan disana mengenalnya.
Saat Nayla memasuki ruangan itu ia lihat Reynand yang tengah sibuk memeriksa berkas-berkas perusahaan. Beberapa kali ia melihat ayah dari calon anak yang ia kandung itu memegangi kening sambil mengkerut. Nayla tersenyum kemudian berjalan mendekat menuju meja presiden direktur.
__ADS_1
"Hai...." Sapa Nayla.
Reynand mendongak sedikit terkejut. "Kamu yang datang??!!"
Nayla mengangguk. "Kenapa nggak seneng, ya?"
Reynand yang masih terkejut kemudian berdiri. "Bukannya nggak seneng, tapi tadi karyawan aku bilang kalau yang datang itu...."
Nayla yang memasang senyum diwajahnya mendekat. "Siapa? Kakek?"
Reynand mencabit dagu Nayla pelan. "Udah berani bohong ya sekarang."
Perempuan itu tertawa. "Ya, aku kan, cuma mau kasih kejutan."
"Iya, aku hampir jantungan tau gak. Gimana kalau kakek tahu aku kerjanya lamban kayak gini." Benar saja hingga hari ini Reynand masih belum menemukan sekretaris yang cocok untuk dirinya.
"Nggak boleh ngomong gitu, namanya juga masih penyesuaian. Entar lama-lama juga gesit." Nayla menepuk-nepuk bahu suaminya pelan memberi semangat, kemudian berjinjit dan mengalungkan tangannya dileher Reynand sembari menempelkan hidung mereka.
Sebuah kecupan ia berikan dibibir istrinya. "Gemes sama bumilku." Reynand menyubit hidung Nayla pelan dan Nayla menyunggingkan senyumnya sumringah.
"Sayang, kamu kangen ayah?" Ujar Reynand sesaat setelah ia membungkukkan tubuh sembari mengelus-elus perut istrinya.
"Iya, ayah kangen banget." Nayla menyahuti. "Ayah gak nakal, kan?"
Kecupan diperut Nayla. "Nggak dong, kamu ada-ada aja deh."
Nayla mengangkat kedua alisnya. "Ya, siapa tahu."
Reynand pun merasa harus mengalihkan pembicaraan yang sudah ngalur-ngidul itu. "Ya udah yuk, masuk...." Ia menarik tangan Nayla dan mengajaknya duduk disofa.
Wanita itu mengeluarkan bekal makanan yang ia bawa dari rumah untuk diberikan kepada suaminya.
"Seneng banget kamu ada disini." Ujar Reynand seraya memperhatikan Nayla yang mulai menyiapkan makan untuk ya.
Nayla mendelik. "Jangan-jangan kamu emang sengaja ya, ninggalin bekal yang udah disiapin tadi...."
Namun tiba-tiba, suara bel interkom menginterupsi mereka.
Sesaat kemudian sesosok wanita cantik masuk dengan membawakan makanan. Ia sejenak menatap Nayla yang tengah sibuk dengan kotak makanan itu. Istrinya Reynand! Cantik! Tapi, kalau dibanding dirinya, kalah modis. Membandingkan dan menilai sendiri antara dirinya dengan sang istri bos besar mereka.
"Kenapa kamu berdiri disitu?" Tanya Reynand kemudian yang membuat Nayla langsung menoleh diarah yang sama.
"Oh, tadinya saya mau tanya, bapak mau makan apa siang ini." ujarnya tersenyum sembari menyeleksi setiap jengkal tubuh atasannya itu. "Tapi, sepertinya istri bapak sudah bawakan makan siang." melirik bekal yang dibawakan Nayla.
Nayla lalu tersenyum. Cara wanita ini menatapnya sepertinya sangat sering ia lihat, pada sosok seseorang yang tidak ingin dia ingin ia ingat.
"Suami saya sudah saya bawakan makan siang yang saya masak sendiri." ujarnya tersenyum. "Saya lebih senang dia makan masakan dari rumah. Besok-besok kamu nggak usah menawarkan makan siang lagi untuk suami saya, karena saya akan menyiapkannya setiap hari." tambahnya lagi.
Perempuan yang bernama Viola itu mencoba tersenyum dengan bibir bergetar sembari menghela nafas. "Oh, iya buk. Kalau begitu saya permisi." Wanita itu langsung berbalik setelah merubah raut wajahnya.
"Siapa?" Tanya Nayla sesaat setelah perempuan itu pergi.
"Karyawan, biasa."
"Oh, aku kira sekretaris baru kamu."
Reynand menelisik. "Cemburu?"
"Kenapa? Nggak boleh cemburu?" Nayla memanyunkan bibir kemudian.
__ADS_1
Reynand terkekeh. "kamu kelihatan beda banget hari ini. Nggak kayak biasanya." Tanya Reynand.
"Beda gimana?"
"Beda, gak pernah sekalipun aku lihat kamu begini."
Nayla mendongak. "Emang salah ya, kalau aku ngomong gitu ke dia."
"Aku malah suka kamu yang seperti ini. Jadi aku makin yakin kalau sebenernya kamu tu cintanya kebangetan sama aku."
"Udah deh, gombal terus. Emang gak bosen ya."
"Ah, mana bisa aku bosan ngegombal kalau punya istri secantik kamu." Reynand menatap tampilan Nayla dari atas sampai bawah.
Sadar, Nayla pun mengikuti pandang itu. "Kenapa?"
"Kamu dandan sendiri?"
Nayla mengangguk.
"Cantik...."
Dres berawarna kalem selutut dengan riasan simpel diwajahnya. Membuat Nayla yang saat itu tengah terduduk disofa terlihat sangat manis.
"Kamu kenapa sih, aneh banget...." ujarnya saat melihat gelagat aneh Reynand.
Reynand menarik dirinya untuk mendekat, lalu meraih kotak bekal yang dibawakan Nayla dan meletakkannya ke atas meja.
"Ih, kenapa diambil. Aku mau siapin makan buat kamu."
"Nanti aja makan siangnya." Menaik turunkan kedua alisnya dengan gelagat tertentu.
Nayla bergidik geli saat Reynand tiba-tiba mengecup tengkuknya pelan. Saat perilaku Reynand semakin tak terkondisikan dengan tangan sudah menyusup ke dalam bagian bawah dresnya, Nayla langsung bergegas dan berdiri dari duduknya.
Merapikan pakaiannya yang sudah berantakkan perempuan itu kemudian mengomel. "Gak boleh ya. Makan dulu."
Reynand tersenyum penuh arti kemudian berdiri. "Nanti aja Nay makannya, kita...." Memeluk tubuh dihadapannya lalu kembali mengecupi area terbuka tubuh itu.
Nayla semakin tidak bisa berkutik, tentu saja ia tidak bisa menolak jika Reynand sudah teguh pada keinginannya. Ia hanya bisa memejamkan mata saat Reynand mulai mengecap bibirnya dengan lembut hingga menyusupkan indera pengecap kedalam mulutnya.
"Bentar, bentar...." Nayla mendorong Reynand.
"Kamu kenapa?" Tanyanya kemudian.
"Aku mau muntah...."
Akhirnya jadilah agenda mendadak yang ingin dilakukan Reynand pada siang hari itu pun gagal dikarenakan sang istri tiba-tiba mendadak mual. Mual oleh aroma pewangi diruangannya.
*
*
*
*
Tadinya mau aku bikin 2 part, karena terlalu panjang. Maaf kalau ada kekurangan.
Kalau kalian berkenan silahkan mampir di novel terbaru aku yang berjudul "Alfiya". Masih on going sih, sebenarnya.
__ADS_1
Happy Reading!