
****
Nayla masih belum bisa menghilangkan rasa kesalnya akibat ulah Reynand tadi. Rupanya sengatan itu membuat moodnya jadi tidak bagus malam hari itu. Ada-ada saja, memang dia daging ayam apa sampai digigit sekuat itu.
Selesai meminum air dari kulkas. Dia bergegas menuju meja makan. Perutnya sudah sangat lapar rupanya.
“Masih ngambek?” Reynand tiba-tiba datang dan duduk disebelahnya. Nayla menggeser kursinya mencoba menjauh dan kembali menyendok makanan kemulutnya.
“Nay kok masih ngambek si? Nggak baik tau cemberut terus.”
Nayla mendelik acuh.
“Tolong ambilin nasi dong Nay.”
“Ambil sendiri.”
“Kamu kan deket.”
Huh! Nggak tau apa orang lagi kesal. Peka sedikit kenapa?
“Nggak boleh loh istri nggak nurut sama suami.”
Deg! Suami? Istri? Nayla mengernyit. Kenapa kedua kata itu terdengar sangat aneh ditelingannya? Sepertinya ini pertama kali Nayla mendengar Reynand berbicara seperti itu.
“Nay.” Menaik turunkan kedua alisnya.
“I-iya.” Duh, kenapa dia jadi menurut begini si? Padahal kan lagi ngambek. Apa karena kata-kata Reynand barusan. Dan lagi kenapa semakin hari berada didekat Reynad debaran didadanya menjadi semakin kencang.
Kebiasaan Nayla setelah makan adalah membereskan meja makan dan selalu mencuci piring. Walaupun ada ART dirumah besar itu, namun entah kenapa dia merasa gatal jika harus menunggu orang lain yang membersihkan bekas makannya.
“Loh kok kamu yang cuci piring sayang? Kan ada Mbok Yana.” Mama Adel tiba-tiba datang.
“Nggak apa-apa Ma. Udah kebiasaan. Em, lagian kayaknya Mbok Yana lagi ada kerjaan lain.” Nayla tersenyum.
“Kamu tuh ya. Beruntung Mama punya menantu seperti kamu.” Mengusap rambut basah Nayla pelan. Tapi, eh…. Pandangan mata Mama tiba-tiba berubah saat menatap leher Nayla. Disibakkannya rambut panjang yang masih sedikit basah itu.
“Ya ampun Nayla. Leher kamu.” Mama tiba-tiba terkesiap.
“Ha? Kenapa Ma?” Nayla kaget tiba-tiba. Memegang kedua sisi lehernya bergantian.
“Baju yang kita beli tadi memang udah kamu coba ya didepan Reynand?!”
“Baju tadi?” Nayla mengernyit. Didepan Reynand?
__ADS_1
“Iya baju tidur yang Mama beliin buat kamu tadi.”
Ah, baju tidur super seksi itu.
“Nggak belum. Memang kenapa Ma?”
Belum dipakai? Tapi…. Ah, sudahlah. Mama tidak kuat melihatnya. Leher Nayla sangat mengerikan. Tanda itu, ya tuhan. Apa Reynand melakukannya dengan sangat kuat? Memang si tandanya cuma satu. Tapi bekasnya itu loh. Berwarna biru dan kehitaman. Seperti habis dihajar orang saja. Memar dan….duh, putranya benar-benar melakukannya dengan agresif rupanya. Baju tidurnya belum dipakai saja sudah begitu apalagi kalau Nayla sudah mengenakannya. Bisa habis seluruh tubuh gadis kecil dihadapannya ini.
Tapi ngomong-ngomong Mama penasaran, apa selama ini hubungan mereka sudah sejauh itu?
~
Brak! Reynand yang sedang menatap layar laptop tiba-tiba terkejut. Nayla mendorong pintu sebegitu kuat.
Setelah menutup pintu kamar dengan lebih keras lagi. Gadis itu bergegas menuju cermin. Tak lama, dia terkesiap. Ya tuhan, ini apa? Kenapa dilehernya ada tanda mengerikan seperti ini. Ini memar atau….
“Kamu kenapa?” Reynand mendadak kaget melihat tatapan membunuh dari Nayla.
Gadis itu mengepal kedua tangan. Dadanya naik turun seperti menahan amarah.
“Nayla apa ada sesuatu….”
“Abaaang!” Nayla berteriak sekencang mungkin.
“I-iya.”
“Maksudnya? Ini lagi kerja lewat internet.” Menunjukkan laptop dipangkuannya.
“Abang tu ya nyebelin memang! Dasar cabul! Mesum! Predator!”
Eh? Reynand bertambah kaget. Nayla kenapa ya. Ya tuhan, itu nggak salah? Darimana Nayla menemukan kata-kata seperti itu? Baru kali ini dia mendengar Nayla mengatakan hal seperti itu. Astaga kenapa semakin hari sifat asli gadis ini semakin berubah.
“Astaga Nayla kamu kenapa si? Kamu ngatain saya apa tadi, cabul? Mesum? Predator?”
“Iya.”
“Kenapa? Saya salah apa?”
Dengan cepat Nayla melangkah kemudian menghempas duduk ditepi ranjang.
“Ini apa?” menunjuk lehernya.
“Oh itu. abang kira apa.” Menjawab santai.
__ADS_1
“Ini gara-gara abang! Gimana aku sekolah besok coba. Ha? Abang tu ya. Lihat bekasnya kayak gini. Bekas gigitan abang kelihatan jelas banget." Nayla berbicara menggebu-gebu tanpa jeda.
"Besok pasti bekasnya masih ada.” Lirihnya pelan, Nayla menunduk. Dia Sudah hampir menangis. Apa kata teman-temannya nanti jika melihat tanda dilehernya itu. bisa-bisa semua orang curiga kepadanya. Untuk yang satu ini dia tidak terlalu polos-polos amat. Mengingat dia pernah melihat tanda seperti itu disalah satu teman sekolahnya. Tapi, miliknya ini beda loh. Ini seperti digigit makhluk astral.
“Ya memang kenapa? Semua orang pernah melakukannya.” Ucap Reynand santai.
Emosi dengan jawaban santai Reynand, gadis itu mengambil bantal dan melempar Reynand dengan bantal tersebut. Tak cukup sekali dia kembali memukuli Reynand pakai bantal dengan brutal.
“Nay, Nay, nanti laptopnya rusak.” Mencoba menangkis.
“Nayla.” Menghentikan Nayla dengan memegang tangan gadis itu kuat.
Setelah dirasa tidak bisa mengimbangi kekuatan Reynand. Gadis itu pun akhirnya terduduk dan menunduk.
“Kamu nangis?”
Nayla masih menunduk.
“Nayla.”
Nayla beringsut. Sudahlah dia pusing sendiri menghadapi Reynand.
“Tunggu.” Menarik tangan Nayla hingga terduduk kembali.
“Udah deh aku malas ngomong sama abang.” Mencoba bangkit kembali.
Reynand menarik nafas panjang. Baiklah dia mengerti. Pikiran Nayla belum seperti dirinya. Gadis itu masih gampang uring-uringan. Memang susah menyamakan pikiran dirinya dengan gadis yang masih SMA ini.
“Besok sekolah lehernya ditutupin aja.”
Nayla berhenti dari langkahnya yang hendak keluar kamar.
“Pakai apa!?” Menjawab cemberut sambil menahan kesal yang masih ada.
“Pakai ini.” mengeluarkan sesuatu dari laci lemari.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*