
****
Pagi harinya, sosok yang masih merasa kurang dengan tidurnya itu pun terbangun. Ia mengerjap beberapa kali. Seperti ada yang mengganjal, matanya terasa bengkak. Ia seperti ingat apa penyebabnya.
Kejadian tadi malam? Ia menangis tersedu-sedu.
Nayla terkesiap seketika, ia menoleh kiri kanan melihat tempat tidurnya. Dimana? Dimana sosok itu? Semalam itu bukan mimpi, kan?
Ia menyingkap selimut yang sampai leher itu. Terduduk dari tidurnya, ia lalu beranjak turun dari ranjang. Nayla menuju kamar mandi, dilihatnya sosok yang dicari tidak ada.
Ya tuhan, dimana dia? Sosok itu terus merasakan cemas yang tiada terkira.
Sementara itu diruang keluarga, tidak tahu ada seseorang yang tengah panik mencari keberadaannya, kala itu Reynand tengah duduk bersama Romeo. Remaja tanggung itu tengah membantu Reynand untuk membersihkan dan mengobati luka memarnya. Sementara perban luka jahitnya belum diperbolehkan dibuka sebelum 24 jam.
"Sakit bang?" Begitulah pertanyaan polos yang Romeo lontarkan saat membantu Reynand mengobati luka itu.
Reynand meringis, bukan lagi, bahkan sekarang rasa berdenyut diluka itu semakin menjadi.
"Kenapa sih abang nggak nginap dirumah sakit aja?" Romeo terus mengutarakan apa yang ada didalam kepalanya.
"Hmmm...." sahut Reynand singkat. Karena otaknya memang tidak terpikir untuk mengurai jawaban saat itu.
Romeo mendesisi karena sebal Reynand tidak menjawab pertanyaannya.
Reynand tahu itu, tapi mau bagaimana lagi, jangankan luka-luka ini bahkan kepalanya pun tak kalah berdenyut seolah rasa sakit itu juga mengalir sampai keatas kepalanya.
"Bang, lesu?" Tanya Romeo kemudian.
Dan, Reynand hanya mengangguk.
"Kamu itu jangan banyak tanya deh. Kayak nggak ngerti aja orang lagi kesakitan." Mami yang baru saja dari ruang dapur pun nimbrung dan duduk bersama mereka.
"Romeo, udah sana siap-siap." Perintah Mami Miska pada putranya.
Saat itu jam menunjukkan pukul 05:30 pagi. Dan semalam Reynand hanya mendapatkan sedikit waktu tidur untuk dirinya. Pil dari dokter yang seharusnya membuat dirinya tertidur lebih lama. Rupanya tidak terlalu mempan untuk dirinya, beban pikiran yang pasti yang menjadi penyebabnya saat ini.
"Rey, tadi Mama kamu telepon, nanti kamu dijemput dan akan dirawat dirumah sakit." Ujar Mami kemudian.
Reynand menggeleng. "Nggak usah Mi...." ucap nafas yang memberat itu.
Mami paham soal penolakan itu. "Kamu nggak dengar penjelasan dokter semalam. Lebih baik kamu mendapat perawatan dirumah sakit." Mami kembali merasai kening Reynand. "Masih panas. Lihat, kamu juga demam Reynand." lanjut Mami lagi memberikan pengertian.
Tak selang berapa lama, terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Mami tak perlu banyak curiga siapa gerangan yang datang saat itu.
__ADS_1
Lantas benar saja, Mama Adel yang memang pertama kali melangkahkan kaki masuk kedalam langsung menghampiri.
Mama Adel mendudukkan diri disamping Reynand. Ia tatap wajah putranya yang memucat dengan keringat dipelipis yang mengucur deras itu.
Ya tuhan, dada Mama Adel begitu sesak. wanita paruh baya itu pun mengaliri wajahnya dengan derai air mata.
"Masih sakit?" Itulah pertanyaan Mama Adel yang pertama kali keluar saat menatap putranya. Luka-luka yang dibalut perban dan memar ditubuh Reynand mampu membuat air matanya semakin mengalir.
Reynand menggeleng pelan. Respon tubuhnya bertolak dengan apa yang ia rasakan. Entahlah disaat begini pun ia masih ingin berpura-pura kuat didepan Mama Adel.
Mama Adel memeluk Reynand dan mengusap kepalanya pelan-pelan. "Maafin Mama ya, harusnya Mama dengerin kamu malam itu. Harusnya Mama bujuk kakek supaya kamu bisa keluar."
"Nggak apa-apa Ma, lagian lukanya juga nggak seberapa." Sahut Reynand lagi, tetap mencoba terlihat kuat didepan sang Mama.
Wanita itu terus mengaliri wajahnya dengan banjiran air mata kepedihan yang dirasakan seorang ibu terhadap anaknya.
"Rey..." Suara Aldi yang juga baru memasukki rumah langsung memecah suasana.
"Ya, ampun Rey. Jadi ini dia orangnya yang udah mecahin kaca ruang kerja kakek semalam." Aldi langsung mendudukan dirinya disofa berhadapan dengan Reynand. "Wah, gila lo Rey." Aldi geleng-geleng kepala tak percaya.
"Berisik banget sih, lo bang." Dengus Reynand yang kemudian langsung beralih pandang pada sosok kakek, dokter Ridwan dan juga pak Tio. Pak Tio yang menunduk dengan rasa bersalahnya. Rasa bersalah karena dengan santainya telah meloloskan Reynand semalam tanpa menyadari apa yang terjadi dengan cucu big bosnya itu. Seharusnya pak Tio sadar kalau saat itu Reynand tengah terluka berat dengan tetesan darah disekitar pijakannya saat itu.
Tangisan Mama Adel masih memenuhi ruangan sementara Reynand menunduk langsung menatap protes. "Kok bisa heboh gini Ma?"
"Ma, aku nggak apa-apa. Lagian aku juga udah diobatin sama dokter."
"Reynand!" Kakek yang tengah terduduk disofa langsung menegur. Dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan kenekatan cucunya ini.
"Om akan periksa lagi luka kamu." Dokter Ridwan ambil suara. "Melihat darah yang bercucuran sangat banyak disekitar rumah sepertinya luka kamu lumayan parah. Dan, om yakin kamu sudah banyak kehabisan darah Reynand. Jadi, Om ingin agar kamu dirawat dirumah sakit." Dokter Ridwan terus memperhatikan raut wajah yang terlihat sangat tidak baik-baik saja dihadapannya.
"Nggak usah Om."
"Jangan ngebantah!" Sambut kakek kemudian. Kakek memijat sebelah keningnya yang berdenyut. "Jangan bikin kakek tambah pusing, kamu mau kakek jantungan mendadak."
"Pa!" Protes Mama Adel pada ucapan itu.
"Tadi malam, Reynand memang sudah mendapatkan pengobatan dari dokter." Jelas Mami Miska. "Namun benar seperti apa kata Mas Ridwan tadi, dokter tersebut tetap menyarankan Reynand untuk dirawat, luka disebelah pinggangnya lumayan dalam, aku saja nggak habis pikir Reynand bisa menahan luka separah itu. Ditambah lagi tubuhnya sangat panas pagi ini. Biar bagaimana pun semalam Reynand hanya mendapatkan pengobatan seadanya."
"Iya Rey, habis ini langsung ke rumah sakit ya, nak." Mama Adel masih terus merasakn kepiluan dalam hatinya saat itu.
"Tapi, Ma...."
"Reynand!" Suara kakek kembali menggelegar. "Jangan terus kebiasaan membantah. Lihat keadaan kamu sekarang. Ha! seharusnya kamu mengerti kenapa kakek melakukan itu kepada kamu."
__ADS_1
Seperti apa pun kakeknya marah, jujur sampai sekarang Reynand tidak mengerti kenapa ia bisa dikurung seperti itu. Tentu saja jiwanya memberontak. Ia dikurung bagaikan apa saja.
"Ikuti perintah! Kamu harus nurut dan dirawat di rumah sakit." tambah kakek lagi.
Semua yang ada diruangan itu menegang dan bungkan oleh aura kakek. Aura tajam kakek memang sanagt berpengaruh besar. Hening seketika lalu menyelimuti mereka, hanya suara isakan kecil Mama Adel yang terdengar saat itu. Terus membelai dan mencium putranya beberapa kali itulah yang dilakukan Mama Adel sedari tadi.
Sosok yang sedari tadi dilanda kekhawatiran karena gerangan yang ia cari tidak ada disampingnya itu, kini masih mematung setelah keterkejutan yang ia dapati oleh ramai orang dihadapannya. Ia sudah mendengar semuanya dan hatinya pun terenyuh.
Mata Reynand bertemu dengan sorot itu. Mereka saling melempar senyum seolah dunia milik berdua.
Tentu saja arah pandang Reynand tersebut langsung diikuti oleh semuanya. Arah pandang yang tertuju pada sosok bangun tidur yang sedang berdiri dibalik dinding tengah menyungging senyum pada bibirnya.
"Kakek." Begitulah Nayla langsung menghadap kakek. Ia membungkukkan tubuhnya lalu memeluk laki-laki itu erat. "Kakek sehat?" Entah kenapa langkah pertama yang ingin ia tuju saat itu adalah kakek. Wajah dengan tampang sedang serius itu rupanya tidak membuat Nayla merasa takut.
Laki-laki yang menatapnya penuh kerinduan itu lalu mengangguk. "Iya, kakek sehat." membalas pelukan Nayla lalu mengelus-elus punggung itu.
"Maaf, aku nggak ada ada dirumah waktu kakek pulang. Aku juga minta maaf nggak izin sama kakek kalau aku pulang kerumah."
Kakek hanya bisa mengangguk dengan rasa bersalah. Rasa bersalah karena telah membiarkan Nayla menderita selama ini. "Kakek juga minta maaf, telah membuat kamu kesulitan." Ujar kakek tulus.
Nayla kemudian melepas pelukan itu sejenak. "Kakek nggak bikin aku kesulitan...." Lalu Nayla tersenyum penuh ketulusan. "Aku menyayangi kakek. Aku rindu kakek, terimakasih karena kakek sudah memberikan kasih sayang buat aku selama ini. Walau pun awalnya aku sempat salah paham sama kakek." Ia kembali memeluk tubuh itu dengan erat. Kakek yang dulu sangat ia benci, kakek yang dulu memaksakan kehendak terhadap dirinya dan Reynand, kini Nayla tidak memikirkan itu lagi. Apa pun itu dimasa lalu kini ia sangat menyayangi kakek.
Dipeluk seperti itu membuat hati kakek menjadi luluh dan merasa sejuk. "Kakek juga menyayangi kamu, kamu cucu tersayang. Kamu cucu yang penurut." Kakek kembali mengelus-elus pundak Nayla pelan. "Untungnya Nayla penurut tidak seperti Reynand. Setidaknya kamu tidak membuat kepala kakek nyut-nyutan setiap hari."
Semua yang ada diruangan itu lalu tersenyum mendengar ucapan terakhir kakek. Semuanya menunduk menahan tawa. Mereka seolah sedang tidak sadar bahwa orang yang hampir mereka tertawakan itu tengah menahan sakit yang teramat sangat.
Ah, Reynand mendadak kesal. Memang dia seburuk itu ya dimata kakek?
"Tuh, Rey dengerin, jangan bikin kakek pusing lagi lo." Aldi langsung bersuara.
"Sudah, di!" Dokter Ridwan menghentikan tingkah anaknya. "Kamu malah lebih parah dari Reynand, kapan kuliah kamu selesai? Jangan bisanya cuma ngomongin orang." Dokter berkacamata itu pun langsung memeloti putranya yang langsung terdiam seketika.
Lagi-lagi semuanya tergelak oleh itu.
Begitulah, suasana terasa begitu haru pagi ini bagi mereka semua. Perasaan bercampur aduk menjadi satu. Mereka saling memahami satu sama lain. Mencurahkan rasa yang ada selama ini di pagi itu.
*
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading!