
****
Memperhatikan Nayla yang tengah duduk disofa sembari sibuk melepas sepatu dan kaos kakinya menjadi pemandangan yang tidak Reynand lewatkan. Segala yang dilakukan gadis itu selalu menarik untuk diperhatikan. Lalu ia yang tadinya tengah merebahkan diri disisi ranjang kemudian bangkit dan terduduk.
"Nay, rok kamu kayaknya perlu diganti."
Hah? Nayla membelalak.
"Maksudnya beli yang baru."
Oh,
Begitu, dia telah salah tanggap.
Lalu Nayla penasaran saat tengah melepas sebelah kaos kakinya yang tersisa "Kenapa?"
Belum menjawab Reynad lalu beranjak berdiri, ia kemudian mendekati Nayla "Tuh, kelihatan." Menunjuk paha mulus yang terekspos itu dengan mulutnya.
Sadar dan salah tingkah, Nayla langsung menarik ujung roknya untuk menutupi bagian paha yang terekspos itu.
Lalu karena merasa greget, Reynand ikut-ikutan menariknya untuk menutupi bagian yang masih terlihat jelas oleh matanya, takut saja nanti dia malah melakukan sesuatu yang diluar dugaan, begitu "Beli yang baru, yang lebih panjang."
"Ini udah ukuran yang paling panjang kok." Ucap Nayla dengan wajahnya yang sudah memerah.
Lalu ikut duduk disamping Nayla "Iya, tapi kalau duduk roknya keangkat Nay, tuh." Membenahi rok itu lagi.
Nayla sedikit menggeser duduknya dan memalingkan wajah gugup "Iya, nanti deh, aku coba cari ukuran yang lebih panjang." Entah kenapa duduk bersebelahan dengan Reynand didalam satu kamar tiba-tiba membuatnya tidak bisa berpikir. Setelah kejadian itu dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Huh, jiwa perawannya benar-benar sudah hilang. Lalu Ia pun beranjak cepat.
"Sh...." Mendesis nyeri saat Reynand tiba-tiba menariknya lebih cepat, lalu terhempas duduk dipangkuan laki-laki itu.
Reynand menatap khawatir "Masih sakit?"
"Apanya?" Nayla gelapan dan dengan cepat mengapit kedua pahanya seperti sadar maksud ucapan Reynand.
"Masih? Em?" Sedikit mengintip wajah yang memerah itu.
Nayla terus memalingkan wajah. Apa sih, kok malah nanya kesitu. Reynand ini pembahasannya, selalu tidak pernah diduga. Akhirnya karena saking malunya pelan-pelan ia pun kemudian berusaha turun dari pangkuan Reynand.
Namun pergerakannya tiba-tiba lumpuh saat Reynand menahan dengan menarik pinggangnya erat "Nanti dulu, kita ngobrol dulu Nay?"
Masih berusaha melepaskan diri "Aku mau mandi...."
"Mandi bareng aja, mau?" Bisiknya pelan ditelinga yang kemudian tiba-tiba membuat bulu kuduk Nayla meremang.
Nayla melepas cengkraman erat pada baju Reynand dengan cepat, kemudian mendorong tubuh laki-laki itu jauh.
"Ng-gak mau." Tolaknya gugup. "Aku mandi duluan aja." Ia jadi semakin gugup, apalagi saat tangan Reynand mulai menyusuri pahanya menuju bagian yang masih tertutup itu "Abang aku mau turun...." Sembari menyingkirkan tangan itu
Menarik kembali saat gadis itu berusaha beranjak "Kamu mau kuliah dimana?"
Pertanyaan Reynand yang akhirnya membuat Nayla sontak terdiam dipangkuannya.
Sembari menunggu jawaban Reynand kemudian mulai mengecup puncak kepala itu pelan-pelan.
__ADS_1
Masih berusaha menepis tangan yang tidak berhenti jahil itu "Emang boleh?"
"Boleh, ssh aauw...." Meringis sebentar, lalu mengalihkan tangannya yang habis dicubit keras oleh Nayla dan beralih memainkan rambut panjang gadisnya.
Lalu bola mata itu mulai menatap penuh binar "Serius. Aku boleh kuliah?"
Reynand mendadak termangu.
Dan, seketika itu juga gerakkan tangan Reynand pun terhenti. Ia kemudian menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Hatinya tiba-tiba mencelos. Nayla sampai sesenang ini karena diizinkan kuliah. Jadi selama ini gadis itu berpikir kalau dia tidak akan bisa kuliah lagi, begitukah?
Apa, ini karena pernikahan mereka? Sehingga Nayla jadi berpikir demikian.
"Abang...." Sorot mata penuh tanya.
Mereka akhirnya saling bertatapan, mencoba mencari jawaban masing-masing dari sorot mata yang terpancar.
"Em...." Nayla masih menunggu jawaban.
"Iya." Sahutnya pelan lalu mulai mengelus pipi gadis itu dengan lembut. "Kamu boleh kuliah dimana pun kamu mau."
Dan, binar mata itu pun semakin terpancar "Kalau diluar kota atau luar negeri? boleh?" Tanyanya menelisik.
Ha? Reynand mendadak cemas. Dia tadi bilang apa, sih sebelumnya.
"Tapi, nggak diluar negeri juga Nay...."
"Katanya boleh, dimanapun." Ucapnya cemberut. Tadi siapa coba yang bilang boleh dimanapun.
"Ya, tapi Nay...."
"Nggak keluar negeri juga...."
"Tapi pengen, penasaran." Mengedip-ngedipkan matanya.
Reynand mengernyit, mencari adakah keseriusan dari ucapan itu.
Mencubit hidung bangir itu gemas "Terus nanti abang gimana?"
"Apanya?" ucapnya sok polos.
"Kamu tinggalin, gitu?"
"Kan liburnya aku pulang." Tuh, Nayla semakin semangat dan terlihat sangat yakin dengan ucapannya.
Lalu mereka sama-sama terdiam kembali, saling bersitatap lama untuk beberapa saat.
"Boleh ya?" Nayla mengintip wajah Reynand yang masih serius menatapnya.
"Beneran, pengen banget kuliah diluar negeri?"
Nayla mengangguk dengan senyum dikulum.
"Tapi abang ya yang pilih tempat kamu kuliah nanti."
__ADS_1
"Dimana?"
Hening untuk beberapa saat.
"Disingapur, kamu mau?"
Lalu menerka-nerka "Singapur? Bukannya tempat tinggal...."
"Papa...." Sambar Reynand cepat.
Tiba-tiba keheningan terjadi lagi, menyiratkan pembicaraan ini tidak sesantai saat mereka membahas tentang perkuliahan barusan.
"Em, kenapa Papa gak datang waktu kita nikah?" Pertanyaan polos Nayla akhirnya memecah keheningan itu.
Reynand menanggapi dengan senyuman, namun terlihat jelas ada luka disana.
Nayla mulai sesak "Maksudnya, waktu kita nikah...." Air mata Nayla mulai menggenang.
Reynand tidak butuh waktu lama untuk mengartikan maksud perkataan Nayla.
Pernikahan mereka waktu itu sama-sama tidak dihadiri oleh ayah mereka masing-masing. Pernikahan yang sempat ia tolak sebelumnya.
Menyebut kata ayah, laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Garda terdepan yang melindungi keluarga.
Mereka berdua tidak memilikinya. Maksudnya bukannya Reynand tidak memilikinya. Dia mempunya ayah tiri dari pernikahan kedua Mamanya. Yang sekarang Reynand juga tidak mengerti kenapa sang Mama belum kembali keluar negeri menemui suaminya. Akankah semuanya akan bertambah rumit?
Mengenai Ayah kandungnya, orang pertama yang memberinya kehangatan itu, beliau harus pergi meninggalkannya karena sebuah perceraian yang kemudian meninggalkan sebuah sayatan yang menimbulkan luka besar dihatinya.
Berbeda dengan Nayla, Reynand tentu masih bisa mencari keberadaan sang ayah sudah sangat lama tidak berjumpa. Tapi, gadis itu tidak akan pernah lagi menemui ayahnya lagi, selamanya.
Reynand mendengar isak tangis itu dengan jelas didepan matanya. Rembesan air mata itu mulai turun dengan deras.
Ia pun mulai menyeka air mata itu. Tidak menyuruhnya diam. Namun ingin membuatnya tenang, maka dengan penuh kelembutan ia dekap tubuh yang sedang gemetar itu dengan erat. Mencoba meraih kepedihan yang Nayla rasakan.
Rasanya sama, mereka sama-sama mempunyai luka. Mungkin itulah, kehadiran masing-masing diantara mereka seolah menjadi obat untuk penawarnya.
Pelukan itu pun berlangsung lama, seolah tahu, mereka pun saling menyelami dan memahami perasaan satu sama lain.
Pernah merasakan kehampaan dan kekosongan yang mengguncang jiwa, hingga tanpa sadar sebenarnya mereka berdua sudah saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain.
*
*
*
*
Hai, up-nya satu dulu ya. Tergantung banyak tidak yang minta.
Author tuh suka sedih, kalau gak ada yang komen, hiks (lebay)
Komen, like, votenya!
__ADS_1
Happy Readingđź’“