
Setelah mengantarkan sang istri tercinta dengan selamat sampai tujuan. Istri tercintanya yang sempat tidak habis pikir dengan tingkah nyelenehnya tadi dan Reynand menyadari itu sebenarnya.
Raut wajah geli itu, rasa tidak percaya Nayla saat melihat tingkahnya anehnya tadi, Reynand melihatnya dengan jelas. Reynand beruntung karena Nayla tidak sampai muntah melihat tingkahnya itu. Jujur saja melihat ekspresi Nayla yang seperti tadi membuatnya tergelitik. Sepertinya dia akan sering mengulanginya lagi.
Reynand pun lalu bergegas menemui kakek diruang kerjanya. Ia pun lantas membuka pintu itu tanpa mengetoknya terlebih dahulu. Ruangan kerja punya kakeknya, sih.
"kakek tadi mau ngomong apa?" Ujarnya terengah-engah karena tadi buru-buru habis menaiki tangga.
Melihat cucunya datang kakek lalu menyuruh asisten pribadinya untuk keluar, sang asisten yang merupakan seorang pria paruh baya itu pun mengangguk. Sesaat setelah Reynand duduk, kakek menyodorkan tablet kepada cucunya itu.
Kedua alisnya terangkat bingung. Lalu ia pun meraih tablet itu. Berita tadi malam? Jadi kakek memanggilnya karena ini?
Apa yang akan kakek lakukan sekarang?
"Sudah berapa kali kakek menyuruh kamu untuk keluar dari pekerjaan itu" Kakek mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja menyoroti wajah cucunya itu lama lalu menghela nafas.
Kakek tahu brbicara dengan Reynand tentunya harus berhati-hati, kalau tidak takutnya cucunya itu nanti malah salah tanggap. Dan, sikap keras yang sangat mirip denganya itu nanti keluar. Takutnya malah dia sendiri nantinya yang kewalahan.
"Itu, mereka yang mengatur. Aku juga gak tau kek kalau wanita itu juga dihadirkan diacara tersebut." Ia harap kakek mengerti wanita itu yang dia maksudkan.
"Kakek tau Reynand, tapi...." membaca raut wajah cucunya itu sejenak "Kamu punya istri sekarang, dan kamu tentu harus menjaga perasaanya." Jelas kakek.
Reynand hanya menjawab dengan berde-em.
Kemudian kakek penasaran "Tadi kenapa kalian ribut dimeja makan?" Lagi-lagi kakek mengetuk-getukkan jari telunjuknya diatas meja.
"Bukan apa-apa." Sahut Reynand akhirnya.
Kakek menegakkan badan lalu memajukan posisi duduknya, menyatukan jari-jari kedua telapak tanganya lalu meletakkan itu diatas meja.
Lalu sorot mata kakek pun mulai lebih serius "Reynand sudah seharusnya kamu belajar, sudah saatnya semua orang tahu tentang kamu." Kakek menjeda perkataannya sejenak, karena kembali lagi Reynand tidak bisa diajak bicara dengan menggebu-gebu.
Reynand menghela nafas "Aku belum mau kek."
"Umur kamu akan semakin bertambah Reynand, kapan lagi kalau bukan sekarang. Selama ini kakek selalu menahan diri untuk berbicara dengan kamu." Kakek memjamkan mata, dia tahan-tahan emosinya. Jangan sampai Reynand mengeras lagi karena penekanannya. Ingatkan saja, keputusan sang cucu yang akhirnya menjadi seorang artis adalah sebagian dari sifat kerasnya yang suka menekan itu.
"Aku masih muda kek" Ucap Reynand beralasan.
"Waktu seumuran kamu, kakek sudah punya Mama kamu yang usianya sudah 3 tahun Reynand."
"Kan kakek sama aku berbeda." Sahutnya santai. Seolah lupa kepada siapa dia berkata.
Kakek hanya bisa terdiam dan memejamkan mata. Itulah dia kalau berbicara dengan Reynand, ada kata pasti ada jawabnya. Kalau mendengar dari teman-temannya, katanya anak jaman sekarang memang sepeti itu. Tidak bisa lagi diajari pakai kekerasan. Yang ada orang tua nanti yang pusing sendiri.
"Lalu kapan kamu siapnya, jangan sampai nanti kakek suruh Aldi yang memimpin perusahaan."
"Kek!"
Tuh, kan. Kakek tersenyum sinis, giliran disuruh orang lain baru dia gelagapan. Jadi mau cucunya ini apa, sih sebenarnya.
Lalu kakek mendesah pelan seolah-olah telah pasrah "Ya, mau bagaimana lagi. Nungguin kamu kapan entahnya kamu mau Reynand." Ucap kakek santai lalu menyibukkan diri membaca berkas-berkasnya.
"Ya, sudah nanti kakek akan hubungi Aldi untuk kekantor. Sekarang kakek berangkat dulu." Menenteng tasnya lalu beranjak.
__ADS_1
"Kakek kenapa sih, sukanya maksa?" Reynand mulai gelagapan dan itu mampu membuat kakek tersenyum sinis. Rupanya taktiknya perhasil juga.
Lalu kakek menelisik "Maksa bagaimana Reynand." Masih berdiri didekat tempat duduknya tadi.
"Iya maksa, sekolah, tempat kuliah, bekerja, menikah.... Semuanya harus menuruti kakek."
Tunggu Reynand menyadari sesuatu, dia tadi menyebut kata yang janggal. Tapi apa?
"Soal perjodohan kamu masih menyesalinya Reynand? Bukannya kakek lihat kamu seperti budak cinta saat bersama istrimu itu."
Reynand mengerjap salah tingkah "Maksudnya waktu itu, aku kan dipaksa." Menunduk.
"Tapi sekarang cinta, kan?"
Lagi-lagi Reynand bisa menunduk salah tingkah. Ia kemudian mengelus tengkuknya kaku.
"Kalau sudah cinta, kenapa masih dibahas soal perjodohan itu, kamu mau nanti istri kamu mendengarnya dan salah paham."
Lagi-lagi Reynand tertunduk seolah merenung. Kakek memang benar sih, toh dia sekarang juga sudah memiliki rasa dengan Nayla.
Dia saja tidak mengerti kenapa bisa sampai seperti ini. Ia yang awalnya hanya ingin melindungi gadis itu oleh rasa tanggung jawab karena kakek menikahkan mereka. Namun, lama-kelaman perasaannya malah berubah dan akhirnnya berlabuh menjadi perasaan yang namanya... Cinta. Ah, Reynand jadi tersipu mengingatnya.
Tapi, kok kakek bisa tahu kalau dia dan Nayla sudah...
"Kelihatan Reynand, siapa pun yang milihat tingkah kamu saat dimeja makan tadi pasti tahu kalau kamu sedang dimabuk cinta."
Reynand menatap kakek tak percaya, kakek kok bisa tau pikirannya?
Reynand memiringkan kepalanya. Ini kakek masih dendam begitu? Atau cemburu? Apa iya cemburu karena cucunya lebih perhatian kepada sanga istri?
Reynad pun akhirnya mencoba berucap "I-itu...."
"Sudahlah kakek sekarang mau kekantor. Kamu harus kerja juga kan." Kakek tidak mau menyebut pekerjaan sang cucu yang tidak ia sukai itu.
"Kek...." Reynand memanggil kakek cemas. Karena jujur saja perkataan kakek yang akan menyerahkan perusahaan kepada Aldi tadi membuatnya tiba-tiba kepikiran.
"Kakek akan kasih kamu waktu untuk berpikir, setidaknya sampai istri kamu lulus, kalau tidak...." Menelisik sejenak wajah sang cucu yang semakin terlihat cemas, lalu kakek kakek mengangkat sebelah bibirnya "Kalau tidak kakek benar-benar akan memberikan perusahaan kepada Aldi."
"Sudah sana kamu keluar, kakek mau kunci ruangan ini. Nanti kamu acak-acak lagi isinya."
Dan,benar saja sepanjang keluar dari ruangan itu kakek dapat melihat kerutan didahi Reynand. Senyuman laki-laki tua itu pun mengembang penuh kemenangan.
~
Saat itu, sesampainya Nayla didalam kelas ia langsung disambut oleh kedua sahabatnya dengan raut wajah yang tidak terbaca.
Manarik kursi lalu menanyai kedua sahabatnya itu sebelum duduk "Kalian berdua kenapa?" Menatap Suci dan Tia bergantian.
Lalu kedua sahabatnya itu saling pandang sejenak seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Lo baik-baik aja kan?"
Nayla menatap Suci kebingungan "Maksudnya?"
__ADS_1
Tidak langsung melanjutkan ucapannya, Suci dan Tia malah saling senggol.
"Apaan sih?" Nayla mengerutkan kening heran.
"Em, Nay.... soal berita semalam...."
"Berita apa?" Nayla memotong ucapan Suci cepat.
Hening sejenak.
Nayla menatap kedua sahabatnya bergantian penuh tanya.
"Berita soal Airin yang ngasih kejutan ke laki lo sambil bawain bunga."
Suci menyenggol lengan Tia, sahabatnya yang satu ini memang suka langsung to the point. Ia juga tolah-toleh takut ada yang mendengar.
"Pelan-pelan...." Suci mengecilkan suaranya.
"Berita apa?!!?" Nayla masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Jadi lo bener-bener gak tau?! Lo gak nonton!?" Ujar Suci dengan tatapan tak percaya.
"Gue gak ngerti lo ngomong apa?" Ucap Nayla akhirnya.
Tia menyerahkan ponselnya pada Nayla "Nih, lo lihat sendiri beritanya, deh."
Meraih ponsel tersebut, seketika Nayla langsung tertarik dan memutar video disana dengan cepat. Menyaksikan video tersebut beberapa saat dan air muka Nayla langsung berubah.
"Ada lagi gak lanjutan videonya?" Ucapnya tanpa menatap kedua sahabatnya tersebut.
"Gak ada, soalnya setelah itu Reynand dan Airin gak muncul lagi di sesi selanjutnya. Kata hostnya sih ada urusan mendadak." Jelas Suci dengan hati-hati
Urusan mendadak? Mereka berdua?
Jadi ini maksud dari ucapan Reynand semalam. Berita ini yang dimaksud olehnya. Reynand menyuruh dia untuk tidak mempercayai ini, begitu?
*
*
*
*
Like, vote, komen!
Maafkan jika banyak typo dan sebagainya.
Masih mau dilanjutin gak cerita ini?
Aku masih lesu, nih. (ngeluh)
Happy readingđź’‹
__ADS_1