
****
Selepas Mami Miska pulang. Reynand juga tak lepas dari kakek. Keningnya sudah mengkerut mendengar setiap ucapan kakek. Ini dia kenapa jadi seperti anak kecil yang akan diberi hukuman karena melakukan kesalahan, sih.
Mau bagaimana lagi. Lebh baik dia turuti kemauan kakek sekarang. Lebih baik menyelesaikan semuanya malam ini dari pada nanti urusannya malah semakin menjadi panjang.
"Duh, kek, dia yang ngejar-ngejar aku." begitulah akhirnya Reynand membela diri karena cercaan kakeknya.
Kakek terdiam dengan sorot mata lurus menatap cucunya dalam-dalam. Ia menatap Reynand dengan sorot mata seolah tidak percaya, dimana akhirnya membuat Reynand menghela nafas kasar, karena dirinya merasa tidak dipercayai.
"Aku bisa apa kek, dia yang naksir aku." Akhirnya ucap Reynand frustasi.
Hmm, kakek menyentuh hidung dengan kepalan tangannya. Mau bagaimana lagi, cucunya memang populer, tentu saja banyak wanita yang mengejar-ngejar, sama seperti dirinya waktu muda dulu (kakek kepedean).
Akhirnya kakek pun menghela nafas panjang, ia menunduk sejenak sebelum berucap seolah berpikir.
"Soal pernikahan kalian, apa sebaiknya dipublikasikan secepatnya?" Kakek menatap Reynand penuh keyakinan. "Mungkin dengan begitu, perempuan yang mengejar-ngejar kamu itu akan berhenti."
Reynand menatap kakek dengan seksama mencari keseriusan disana. Sebenarnya dia tidak masalah soal itu. Tapi, Nayla, dia yakin gadis itu belum siap jika pernikahan ini dipublikasikan sekarang. Akan banyak netizen yang tahu dan dia takut akan menjadi pro dan kontra. Ditambah lagi dengan setatus Nayla yang masih pelajar.
~
Reynand terus menatap Nayla yang sedang duduk bercermin, gadis itu terus mendiamkannya sedari dia memasuki kamar tadi. Sebenarnya dia sangat cemas setelah viralnya poto dia dan Airin di sosial media maupun infotainment. Dia juga benar-benar takut saat tadi Mami ingin membawanya pulang.
“Nay.... Maaf.” Satu kalimat yang hanya bisa ia lontarkan saat itu untuk menghilangkan rasa bersalahnya.
Nayla menghela nafas bukan apa-apa, sebenarnya dia tidak ingin mendiamkan Reynand seperti ini. Tapi, mau bagaimanapun dia kecewa. Melihat poto Reynand bersama wanita itu sedang makan malam ditempat yang mewah yang romantis membuat hatinya sakit.
“Abang tau, udah ngecewain kamu.” Lirihnya pelan.
Hati Nayla tiba-tiba terenyuh mendengarnya. Ia dapat merasakan kalau Reynand benar-benar merasa bersalah dan menyesal.
“Nay....” Reynand merasakan getar kerinduan pada sosok cantik yang sedang duduk termenung dari pantulan cermin itu. Ia ingin sekali menggapainya saat itu juga, namun tertahan karena rasa bersalahnya.
Nayla masih terdiam mematung didepan cermin. Jujur dia tidak suka suasana ini. Suasana yang ia rasa penuh kecanggungan. Dalam hati sebenarnya ia yakin, Reynand tidak seperti yang ia kira. Dia ingat pernah mengangkat telepon Airin diponsel Reynand waktu mereka masih diapartemen, pernah melihatnya diacara talkshow dan saat itu Airin memang terlihat ganjen, tak hanya itu saat ia memaksa Reynand untuk mengajaknya kestudio dia juga bertemu Airin wanita itu juga yang terlalu menempel pada Reynand. Terakhir Airin menelpon Reynand divila padahal ia tahu Reynand sudah memblokir nomornya, lalu tadi pagi saat Airin memposting potonya dengan Reynand seolah mereka berdua adalah sepasang kekasih. Cih, tidak tahu diri sekali.
__ADS_1
Jadi Nayla dapat menarik kesimpulan, kalau wanita itu yang terus mengejar Reynand.
Diam-diam dia mencuri pandang dari pantulan kaca pada sosok yang sedang memandanginya itu. Ck, sial tatapan mereka bertemu. Nayla langsung mengalihkan pandangan. Dan saat itu juga dia dapat melihat sosok itu perlahan turun dari ranjang kemudian berjalan mendekat kearahnya.
“Abang, nggak tahan Nay, kita seperti ini.”
Nayla mendadak terpaku saat Reynand tiba-tiba membungkuk dan memeluk lehernya dari belakang.
Deg!
Deg!
“Kangen Nay, Abang kangen kamu yang galak.... cerewet.... suka marah-marah....” Kemudian mengecup puncak kepala itu dengan lembut.
Hati Nayla tiba-tiba luluh dan tersentuh. Pada kenyataannya dia juga merasakan hal yang sama. Dan, saat Reynand mulai menyentuhnya dia hanya bisa terdiam. Ia juga menginginkan sentuhan yang diberikan Reynand untuknya.
Apa ini, menginginkannya? Nayla merasa dia sudah gila.
Dalam sekejap Nayla benar-benar tidak mengerti kenapa ia bisa sangat terbuai saat Reynand mulai mengecupi tengkuknya. Mengecup menjalar menuju leher dan kemudian mengigit pelan telinganya. Ia pun menurut saja saat dagunya ditarik untuk menghadapkan wajah mereka. Bersitatap penuh sirat hingga akhirnya berciuman mesra.
Seketika itu juga dalam hitungan detik Nayla terkesiap saat Reynand mengangkat dirinya pada tubuh itu. Membuat kakinya melingkar erat untuk menahan tubuhnya.
Perlahan Reynand membawa Nayla keranjang tanpa melepas ciuman mereka. Kemudian setelah itu gadis itu pun dibaringkan. Reynand menopang tubuhnya dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya ia gunakan untuk membuka kancing baju gadis itu perlahan. Ia dapat melihat rona malu disana, namun tanpa perlawanan. Seiring dengan semua kancing baju itu terlepas ia mulai menyusuri kulit bening itu dengan tangannya seiring masih dengan melakukan ciuman panas mereka.
Namun, setelahnya tak sampai disitu, ia pun mulai menaikkan tangannya kemudian menangkup gundukan itu dan memijatnya pelan. Memberikan rangsangan-rangsangan tak terkirakan.
Nayla dapat merasakan tangan Reynand terasa panas dikulitnya, semakin panas saat laki-laki itu berhasil melepas pengait dari sisa kain yang menutup tubuh bagian atasnya. Ia menyilangkan tangan untuk menutupinya, malu. Benar-benar malu. Namun, perlahan Reynand menjauhkan tangannya hingga bagian itu kembali terpampang nyata.
Tubuh gadis itu tiba-tiba mulai menekuk keatas saat Reynand mulai mengecup gundukan indah itu. Mencumbu dengan mesra dibagian sana. Lenguhan dan desahan pun tak tertahan mulai keluar dari mulut gadis itu, membuat Reynand semakin berhasrat diatasnya.
Tak lama Reynand pun membuka kemeja yang ia pakai. Melepas satu persatu kancingnya sembari masih melakukan cumbuannya pada kulit mulus itu. Setelah kancing kemejanya terlepas dengan sembarang ia pun membuangnya kelantai.
Nayla dapat melihat dengan jelas tubuh Reynand terpampang nyata didepannya. Membuat ia membelalak dan ternganga. Mendadak dia pun semakin gugup. Sangat gugup, gugup, segugup-gugupnya sampai tak terkira. Hingga akhirnya ia dapat merasakan kulit mereka perlahan menyatu, membuat desiran menjalar pada dirinya. Sengatan-sengatan yang tidak pernah ia rasakan.
Jadi, seperti rasanya bersentuhan kulit. Nayla semakin memejamkan mata menikmatinya.
__ADS_1
Tubuh mereka semakin memanas dengan deru nafas yang semakin memburu.
Hingga beberapa saat kemudian saat Reynand berhasil membujuk Nayla dengan penuh rayu dan pengorbanan, pekikan itu pun akhirnya keluar dari mulutnya saat penyatuan itu tiba.
"Sakiiiit!"
Pada akhirnya malam itu Reynand berhasil membuatnya merintih, memekik dan meringis bahkan tersedu-sedu terpejam menangis menahan sakit. Laki-laki itu benar-benar pandai merayunya untuk sampai ketahap ini. Tahap yang membuat mereka menjadi suami istri sepenuhnya.
Ia memang tidak pingsan malam itu, tapi mungkin saja hampir. Jujur tadi itu benar-benar sakit. Tubuhnya benar-benar lemas seketika saat hentakan tadi memasukinya semakin dalam, saat setelah berkali-kali berusaha, Reynand pun berhasil membobol dirinya.
Sisa-sisa air matanya masih ada saat bergulatan itu berakhir, wajahnya memerah panas dan kepalanya terasa pusing. Ia masih merasa syok. Jadi, begini rasanya malam pertama. Ia benar-benar masih merasa gugup, ia tidak pernah gugup seperti ini seumur hidupnya.
Cup! Sebuah kecupan dikening yang ia terima, sebelum akhirnya dia mendengar Reynand mengucapkan sesuatu yang tidak pernah dia duga seiring dengan deru nafas yang belum teratur.
"I love you, Nay."
Hai, Readers! Apa kabar?
Author balik lagi nih. Jangan lupa like, vote dan komennya ya. Kalau bisa komennya yang banyak, ya.
Maafkan typo dan sebagainya. Soalnya ngetiknya buru-buru.
Happy Reading💓
__ADS_1