Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
S2 - Bayi Mungil


__ADS_3

****


Beberapa saat kemudian Reynand yang baru saja sampai di rumah sakit langsung berlari sekencang mungkin. Ia masih syok, bagaimana bisa Nayla melahirkan mendadak begini. Bukannya menurut perhitungan hari satu minggu lagi?


Ya tuhan, untungnya dia bisa memakai jet pribadi perusahaan yang ada dibali dikala genting begini. Jadi dirinya bisa sampai dijakarta dengan cepat.


Reynand terus mencari ruangan istrinya. Hingga akhirnya sampailah ia pada ruangan bersalin tempat istrinya berada. Ia pun bergegas menghampiri perempuan yang tengah mengerang kesakitan itu.


Semuanya merasa sangat lega akhirnya Reynand telah tiba. Jadi, karena hanya diperbolehkan sang suami yang masuk kedalam ruangan bersalin itu, maka mama Adel dan mami Miska pun keluar.


Bergegas Reynand segera memeluk sanga istri dengan perasaan iba. "Nay.... Sayang." ujar Reynand.


"Kamu lama banget...." protes Nayla pada suaminya. "Aku nungguin kamu. Anak kita mau lahir, aku takut...." ujarnya terus mengadu.


Reynand yang masih ngos-ngosan langsung mengecup kening berkeringat istrinya. "Maaf aku telat...." Reynand menatap wajah sang istri dan mengecupnya berkali-kali. "Sekarang aku ada disini buat temani kamu." setelahnya Reynand memeluk tubuh Nayla erat.


Entah karena hawa-hawa suaminya yang sudah ada bersamanya, Nayla merasa sakit yang ia rasakan tidak sehebat tadi. Ia merasa tenang karena Reynand sudah datang dan memeluknya yang tengan terbaring diatas ranjang.


Beberapa saat kemudian Nayla udah siap untuk mengejan. Beta yang tengah melihat layar monitor untuk mengetahui tanda kontraksi menyuruh dua orang bidan untuk berdiri dikedua sisi kaki Nayla yang sudah terbuka lebar.


"Nay, nanti saat kontraksi datang kamu harus mengejan...." Nayla mengangguk ditengah rasa sakitnya. "Dan, disaat itu juga kamu tekan kedua kaki kamu di pinggang kedua bidan ini kuat-kuat dan nanti mereka akan mendorong pinggul mereka kearah kaki kamu." ujar Beta sembari menatap bergantian kedua bidan yang telah bediri pada posisinya.


Mendengar ucapan Beta tersebutNayla pun kembali mengangguk paham.


"Semangat Nay...." ujar Reynand. "Kamu pasti bisa...." ia memegangi satu tangan Nayla kuat.


Beta melihat tanda kontraksi dari layar monitor. "Dorong Nay, dorong yang kuat."


Nayla pun menuruti itu. Ia mengejan dan mendorong kakinya kuat kearah pinggang kedua bidan yang berdiri disampingnya. Begitu pun kedua bidan tersebut mereka ikut balas mendorong pinggang mereka hingga menambah kekuatan pada Nayla.


"Oke sekarang tarik nafas lalu hembuskan." ujar Beta dan Nayla pun menurutinya disaar kontraksi menghilang.


Nayla merasa keringatnya semakin bercucuran. "Aku nggak sanggup, aku rasanya mau pingsan."


Reynand yang tengan menggenggam tangan istrinya terus memberikan kekuatan. "Jangan ngomong begitu sayang, kamu pasti bisa. Semangat Nay, semangat.... ayo sayang kamu pasti kuat buat lahirin anak kita." bisiknya pada Nayla.


Nayla menggeleng kuat. "Sakit.... aku rasanya nggak kuat. Sakit banget...." Nayla berujar pasrah.


"Ingat Nay, anak kita, kita akan segera bertemu dengan dia. Jadi kamu harus semangat, oke? Supaya anak kita juga semangat buat keluarnya." Reynand menatap istrinya terus menguatkan.


Nayla mengangguk. Ia kemudian berusaha mengatur nafasnya dan kembali berusaha mengejan. "Agghhh...." teriaknya.

__ADS_1


"Nanti Nay, kontraksi belum datang." Ujar Beta. "Mengejannya nggak tiap saat...."


"Tapi aku mau dedeknya cepat-cepat keluar mbak...." ujar Nayla.


"Ayo nak keluar, ayah udah mau ketemu kamu nih." Reynand mengelus-elus perut istrinya. "Keluar ya sayang...." bergumam-gumam. "Kasihan mama."


Beta kemudian tersenyum dan geleng-geleng kepala. Baru kali ini dia melihat seorang suami yang menyemangati istrinya begini. "Tenang aja anak kalian pasti sebentar lagi keluar kok."


Disaat Nayla merasakan kontraksi diperutnya Beta kembali memberi instruksi dan dia pun mulai mendorong.


"Semangat sayang.... kamu hebat, kamu kuat, kamu pasti bisa melahirkan anak kita, istri aku harus berjuang." Reynand terus menyemangati tiada henti.


Mendengar suara suaminya yang terus memberi semangat, Nayla pun terus berjuang dengan semangat yang tumbuh berkali-kali lipat. Saat kontraksi datang ia mengejan dan mendorong sekuat-kuatnya. Ia ingin anaknya segera lahir kedunia, mendekap dan memeluknya erat. Pokonya Nayla ingin menyudahi ini.


Dia sudah tidak perduli dengan apa pun. "Ayo dek, keluar, ayo sayang Mama udah semangat nih mau ketemu kamu." ujarnya Nayla tersengal dan ia berhenti sejenak kemudian mengejan lagi. "Eeggggghhh...." Matanya terpejam dan gigi-giginya kuat merapat. Wajahnya menegang dengan otot-otot yang tertarik, Nayla benar-benar berjuang sekuat tenaga.


"Semangat Nay...." Reynand mengelus dan mencium kening istrinya.


"Ia Nay, terus dorong. Kepala bayinya sudah kelihatan." ujar Beta mengintip dibawah Nayla.


Disisa tenaganya Nayla terus berjuang dengan meremas tangan Reynand semakin kuat sementara Reynand menahan tangannya dengan kokoh sebagai pegangan sang istri. Dengan penuh semangat Nayla mengejan sekuat-kuatnya dan menghentakkan kaki dikepinggang kedua bidan yang mendorong pinggang mereka kearah kakinya dengan sekuat tenaga hingga kekuatannya pun bertumbuh berkali-kali lipat.


"Semangat Nay...." Peluh istrinya, rasa sakitnya saat melahirkan anak mereka. Reynand yakin ia tidak akan pernah bisa membalasnya. Maka yang dia lakukan saat ini harus terus memberi semangat dan dukungan kepada sang istri tercinta.


"Terus Nay, kepala bayinya sudah keluar." ujar Beta memberi semangat. "Dorong terus, ayo, ayo nay, sedikit lagi."


Teriakan terus bersahut-sahutan. Ada yang memberi semangat dan ada yang berjuang demi buah sang hati.


Hingga akhirnya setelah merasakan sesuatu keluar dan ditarik dari intinya yang terasa amat sangat perih, beberapa saat kemudian tangisan bayi pun terdengar.


Akhirnya Nayla dan Reynand pun bernafas dengan lega penuh syukur.


"Sayang anak kita sudah lahir, selamat ya. Kamu jadi ibu sekarang." ujar Reynand terharu.


Nayla masih memejamkan mata. Ia tidak menyangka bahwa melahirkan adalah sebuah perjuangan yang luar biasa, nafasnya masih terengah-engah. Akhirnya ia benar-benar menjadi seorang ibu.


"Rey, selamat ya. Anak kalian perempuan." Ujar Beta yang menggendong bayi mungil ditangannya. Kemudian meletakkannya diatas dada Nayla.


"Reyana...." satu kata yang terucap dari mulut Reynand saat itu. "Halo Reyana, ini ayah sayang."


"Reyana Nay, yang lahir Reyana." Reynand memandang haru bayi mungil yang diletakkan diatas tubuh polos istrinya.

__ADS_1


Bayi mungil itu terus menangis diringi dengan tetesan air mata haru ibunya. Nayla memandang putrinya dengan perasaan haru. Akhirnya putri kecilnya lahir kedunia.


Begitu pun juga Reynand ia tak henti-hentinya mengucap syukur. Ia dengar merdu tangisan anakny, ia sentuh kulit basahnya yang memerah, sangat mungil.


"Nay, dia lucu." lirih Reynand haru, air matanya tiba-tiba menetes memperhatikan putri kecil mereka. "Nay, akhirnya aku dapat anak perempuan." ia mengecup kening Nayla yang tengah tersenyum bahagia.


"Aku sayang kamu, aku bangga akhirnya anak kita lahir kedunia berkat perjuangan kamu."


Nayla mengangguk mendengarkan ocehan suaminya. "Aku juga sayang kamu." ujarnya menatap Reynand. "Terima kasih sudah berusaha hadir disini menemani aku."


"Udah seharusnya Nay, dia darah daging kita. Tanggung jawab aku. Seharusnya aku ada disisi kami dari awal kamu merasakan sakit." ujar Reynand menyesal.


Begitulah keharuan itu terus terasa. Akhirnya Keinginan Reynand pun tercapai. Ia memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik. Rasanya kebahagian terus menyelimuti mereka berdua.


"Selamat datang Reyana Putri Prasaja." Lirih Reynand.


"Untung dia gak mirip pak Tio."


"Dia mirip aku Nay, kan anak aku." Reynand menatap wajah Reyana penuh kekaguman. Ia kembali mengecup Nayla berkali-kali karena saking bangga terhadap sang istri. "Terima kasih sayang, aku cinta kamu."


Nayla melirik Reynand dan tersenyum dibalik wajah lelahnya. "Aku juga cinta kamu, ayahnya Reyana."


*


*


*


*


Hai Readers!


Terimakasih banyak buat kalian yang dari awal sudah menikmati cerita ini. Maafkan kalau cerita ini kurang memuaskan/kurang mendebarkan/atau apa pun dan segala kesalahan lainnya.


Jujur ini baru pertama kalinya aku menulis novel hingga selesai. Maklumi saja kalau kalian menemukan kejanggalan, namanya juga penulis pemula, masih belajar hehe.


Cerita ini harus aku tamatkan karena ada sebuah pekerjaan yang saat ini tidak bisa aku tinggalkan dan takut nanti cerita ini menggantung terlalu lama.


Terimaksih buat yang sudah mendukung cerita ini dari awal sampai akhir, yang udah kasih like, vote, dan komen juga mendukung terimakasih. Aku minta maaf gak bisa balas apa pun. Tapi sekali lagi terimakasih ya sudah menemani hari-hariku menulis cerita Rey dan Nay selama +- 6 bulan ini.


Kemungkin cerita ini juga akan aku revisi untuk beberapa part hehe.

__ADS_1


Sekali lagi aku mau berterima kasih banyak dan mohon maaf kalau tamatnya novel ini terkesan sangat terburu-buru.


TAMAT


__ADS_2