Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Merasa Lapang


__ADS_3

****


Kegundahan hati Nayla terus menjadi. Apalagi Mama Adel yang biasanya cerewet sejak memasuki mobil tadi lebih banyak diam.


Tentunya sangat tidak enak jikalau orang lain bersedih karenanya. Meruntuhkan harapan sesorang itu rupanya sangat tidak enak.


Adalah memang wajar jika hasil pemeriksaannya tadi belum berhasil. Mengingat ia dan sang suami juga belum lama melakukan itu


Perasaan risau itu terus membuncah. Menatap Reynand yang duduk disampingnya maka Nayla segera bersender dibahu ternyaman baginya saat ini.


Reynand yang sedari tadi membaca pesan dari Dion yang terus mengajukan protes padanya karena tindakan tidak bertanggung jawab pada hari itu segera mengabaikan pesan-pesan itu.


"Em, Nay.... kamu nanti pas resepsi mau yang gimana acaranya?" Begitulah akhirnya bisikan Reynand yang mencoba berusaha mengubah suasana hati Nayla.


Seketika Nayla mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah yang tersenyum itu.


"Hem?"


Nayla terlihat berpikir. Resepsi, mereka memang belum melangsungkan resepsi. Dia juga belum tahu resepsi seperti apa yang ia inginkan.


"Abang maunya gimana?"


Reynand lagi-lagi tersenyum. Ia rupanya berhasil mengalihkan perhatian Nayla. Sebenarnya dia tidak terlalu perduli tentang resepsi, semua orang tahu kalu dia sudah beristri cukup baginya. Akan tetapi, mengingat siapa sebenarnya sang kakek, ia yakin resepsi akan tetap digelar sebagaimana mestinya.


"Kamu?" Reynand balik bertanya.


"Kamu maunya gimana?" Lalu Nayla tersenyum malu, apa sih?


Reynand terkekeh. "Nggak apa-apa dibiasain.


"Masih belum terbiasa." Nayla belum terbiasa memanggil Reynand dengan sebutan itu.


"Biasain dong yang, sayang...." Reynand mengedipkan sebelah matanya.


Lagi-lagi Nayla tersipu. "Apa sih?"


"Gitu dong senyum, aku tuh nggak suka lihat kamu cemberut kayak tadi."


Nayla memalingkan wajah saat Reynand terus menatapnya tanpa kedip. Lagi-lagi dia tersipu. Dia rupanya tidak sadar kalau Reynand sudah menjadi mood booster baginya.


"Nay...."


"Em...."


"Hadap sini dong...."


Maka Nayla pun menuruti kemauan Reynand. Ia kembali bersitatap pada wajah suaminya itu. Bersitatap lama kemudian dia tersipu lagi.


"Ih...." Nayla mencubit pelan lengan itu karena malu terus ditatap tanpa kedip.


"Sakit tau, tanggung jawab ah."


Nayla mengernyit, masak sih? "Lebay...." Ledeknya.


"Tuh, kan. Kamu tuh memang tega sama aku."

__ADS_1


Nayla lagi-lagi mencubit disana. "Nggak usah lebay ya."


"Kan dicubit lagi, kamu nggak sayang aku." Lalu Reynand pura-pura sedih, sok meringis, berekspresi alay bin lebay.


Benar-benar ya, Nayla merasa geli melihat ekspresinya. Untung saja ganteng, eh, untung suaminya. Untung.... dia cinta.


Kok untung terus sih yang disebut? Yang ganteng kan, suaminya. Yang dia cinta juga suaminya. Bukannya si untung.


Terus suaminya itu siapa coba?


Iya ini, laki-laki didepannya ini. Laki-laki yang pintar akting ini suaminya. Baik akting didepan kamera atau pun didepannya. Seperti akting gaya lebay saat ini.


Merasa gemas maka Nayla mengangkat kedua tangannya. Lalu mencubit manja pipi suaminya itu.


Terkejut sejenak oleh tingkah tidak terduga Nayla maka Reynand kembali tersenyum sumringah. "Kamu gemas ya sama aku. Aku tuh memang ngegemesin tau." Ucap Reynand kepedean.


Bukannya menjawab Nayla malah mencubit pipi itu semakin kencang. Iya, dirinya memang gemas sekali oleh tingkah konyol suaminya ini.


"Sakit sayang...." Ringis Reynand sembari memegangi kedua telapak tangan Nayla yang masih menempel diwajahnya.


"Kamu nggak ada niatan buat ikut acara baru di Tv? Jadi host mungkin." ucap Nayla setelah melepas cubitannya.


"Nggak ada? Acara apaan?" Tanya Reynand penasaran sembari menggosok-gosok pipinya yang terasa panas oleh ulah istrinya barusan. Reynand merasa bingung saja, soalnya tidak biasa Nayla akan membahas persoalan ini.


"Acara alay, coba deh kamu ikut. Kamu kayaknya cocok deh tuh kalau ikut acara itu." Nayla mengejek.


Mata Reynand mengerling nakal. Kini malah ia yang merasa gemas. "Ih kamu tuh sengaja ya, aku cium mau?"


Gelagapan, Nayla langsung menggeleng. Bukannya tidak mau. Dia suka-suka saja sih dicium dan ketagihan banget malah. Tapi, lihat dong yang duduk didepan itu siapa. Ya kali mereka tidak tahu tempat begini.


Hingga beberapa detik kemudian....


Reynand menangkup wajah istrinya, mengelus pipinya pelan dengan jari-jari itu. Sementara tangan Nayla ikut terangkat untuk memegangi tangan Reynand dan juga mengelus pelan.


Masih menghayati aktivitas itu mereka tidak sadar kalau tiba-tiba mobil sedikit bergoncang.


"Hati-hati Pak!" Mama Adel was-was karena Pak Tio hampir menyenggol pengendara motor disamping mereka.


"I-iya maaf buk. Saya nggak fokus." Ucap Pak Tio gugup.


Merasa penghuni belakang tiba-tiba sunyi, karena sedari tadi Mama Adel mendengar grasak-grusuk serta bisik-bisik tak terdengar. Maka perempuan paruh baya itu menoleh kebelakang. Namun belum sepenuhnya kepala itu berputar Mama Adel langsung berpaling dan menatap keluar jendela.


Ya tuhan! Kedua anak itu benar-benar tidak tahu tempat. Pantas saja Pak Tio barusan mengatakan tidak fokus, ini ternyata penyebabnya.


Mama melirik keatas kaca, memejamkan mata dalam-dalam karena pemandangan itu memang terlihat sangat jelas.


Dan, entah kenapa. Mama Adel tiba-tiba merasa canggung duduk bersama Pak Tio. Berdehem beberapa kali agar Pak Tio fokus menyetir mobil sekaligus mencoba menghentikan tingkah kedua orang dibelakang.


Melirik kekaca itu lagi. Astaga lama juga rupanya. Kenapa tidak dirumah saja sih?


Duh, tepok jidat deh Mama Adel.


~


"Ma...." Begitulah Nayla memanggil saat ia menyusul ke dapur disore hari itu.

__ADS_1


"Iya, Nay...." Mama Adel menyahut sembari mengikat erat tali celemeknya. Perempuan paruh baya itu tengah bersiap-siap mengeksekusi bahan makanan untuk malam ini.


"Aku mau bantuin."


"Nggak capek?" Tanya Mama Adel.


"Nggak kok."


"Kamu goreng ikan aja ya. Tuh ambil di kulkas sudah di bumbuin."


Lalu Nayla mengangguk. Segera menuju kulkas dan mengambil tupperwar* berisi ikan-ikan itu.


Sementara Nayla menggoreng maka beberapa asisten rumah tangga sibuk ingin menggantikan. Mereka sangat takut merasa tidak berguna dan makan gaji buta. Apalagi membiarkan menantu cantik majikan mereka nantinya kotor.


Maka berkali-kali pula Nayla menolak dengan halus. Dia merasa senang melakukan ini dan lagi pula ia sudah terbiasa sejak lama melakukannya.


Mama Adel tersenyum, beruntungnya Nayla tidak banyak tingkah seperti takut terciprat minyak atau semacamnya. Seperti takut kukunya kotor mungkin.


"Kalian bantuin bersihkan dan cuci sayuran saja." Ucap Mama Adel kepada para asisten itu. Dan, mereka pun nurut.


"Ma, soal tadi...." Nayla membuka pembicaraan disela-sela aktivitas mereka.


"Iya sayang...." Mama menoleh sembari mengaduk masakannya yang bersebelahan dengan penggorengan ikan itu.


"Aku mau minta maaf...."


Paham maksud ucapan itu Mama Adel langsung menyela. "Eh, nggak usah dipikirin. Mama nggak apa-apa kok." Mama Adel tersenyum menenangkan.


"Tapi...."


"Nggak apa-apa. Jangan dipikirin. Mama nggak mau nantinya kamu tertekan."


Nayla ragu-ragu mengangguk pelan.


Melihat Nayla seperti belum yakin akan ucapannya maka Mama Adel kembali berucap.


"Nggak usah buru-buru. Mama paham kok kalian berdua butuh waktu. Jangan dipaksakan, persiapkan diri kalian dulu matang-matang. Jangan dipikiran lagi oke, Mama nggak mau loh kamu nantinya tertekan gara-gara ini. Ya Nayla?" Mama mengintip wajah cantik itu.


Nayla mengangguk lega. "Iya Ma." Senyumnya pun mengembang sumringah. Hatinya merasa lapang setelah mendengarkan penjelasan Mama Adel.


"Ya udah lanjutin tuh, nanti ikan kamu gosong lagi."


Masih tersenyum maka Nayla pun kembali melanjutkan kegiatan menggoreng itu dengan hati riang.


*


*


*


*


Kalian artikan sendiri ya kalau ketemu kata-kata yang typo. Aku kadang udah berkali-kali baca tapi masih ada aja yang kelewat.


Terimakasih untuk yang selalu setia menunggu dan juga mendukung cerita ini.

__ADS_1


Like, vote, komen jangan lupa.


Happy Readingđź’‹


__ADS_2