Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Perasaan ini, Indahnya....


__ADS_3

****


Beberapa tahun yang lalu, sangat jelas diingatan Nayla. Saat itu sang ayah yang baru saja mengantarnya sampai didepan gerbang sekolah, tiba-tiba langsung tersambar oleh mobil yang melaju dengan kencang ketika sedang menyeberangi jalan. Lambaian tanganya pun mendadak kaku, senyum yang sedang mengembang itu pun pudar. Dan, waktu itu juga tepat didepan matanya, ia menyaksikan sendiri bagaimana laki-laki yang selalu memperlakukannya bagai seorang putri itu meregang nyawa.


Cinta pertamanya, laki-laki yang selalu membanggakannys, terus membimbing dan menuntunnya menggapai cita.


Sunyi.... Mendadak dunianya kosong dan berhenti.


Ia berlari sekuat tenaga, membelah kerumunan yang menghalangi. Terduduk bersimpuh diantara aspal yang dialiri darah. Memeluk tubuh pahlawannya yang terbaring itu dengan ketakutan yang tiada terkira. Isak tangisnya pun terdengar pilu bagi semua. Beradu dengan suara orang-orang yang ikut terhenyak mengerumuni mereka.


Saat itulah terakhir kali dia melihat tatapan dan senyuman hangat yang selama ini menyejukkan jiwanya.


Sirna, semuanya telah sirna. Kelam, kelabu, semuanya pun berubah. Menghapus sebagian besar warna dihidupnya. Awal dari mimpi buruk yang terus datang kala ia menutup mata.


~


"Nay...."


"Hm...." Gadis yang sedang berkutat dengan buku-buku pelajarannya itu pun menyahut tanpa menoleh.


"Masih lama?"


Lagi-lagi dijawab dengan deheman.


Reynand pun memutar posisi miringnya kemudian terlentang diatas kasur. Memandangi langit-langit kamar dia sudah mulai bosan. Diliriknya lagi sosok tubuh yang sedang serius itu. Dengan cepat ia bangkit lalu perlahan mendekat.


"Ngerjain apa sih, Nay?"


Lagi-lagi berdehem tanpa menoleh.


Diabaikan lagi lagi. Reynand menghembuskan nafas jengah. Kemudian ia raih salah satu kursi kemudian menariknya duduk bersebelahan dengan sang istri.


Mengingat kata istri selalu membuat Reynand berbunga-bunga. Wanita cantik yang sedang serius ini istrinya, bukan. Lagi serius saja cantik apalagi kalau....


"Nay...." Reynand mulai menjatuhkan dagunya dibahu yang bergoyang karena gerakan tangan yang sedang menulis itu.


Berhenti menulis sejenak. Ia menarik nafas. "Bentar ya." Ucapnya memberi pengertian.


Senyum Reynand akhirnya mengembang setelah bola mata bening itu menatapnya. Dia pun semakin ingin bermanja.


Tanganya mulai menyusup dan melingkar ditubuh mungil itu "Masih lama?"


Dan, hal itu rupanya mulai berhasil menganggu fokus Nayla. "Em...." Sedikit menggoyangkan bahunya berusaha menjauhkan rasa berat yang terus menempel itu.


Reynand benar-benar tidak suka dibaikan. Nayla menjadi orang yang berbeda disaat sepert ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak ingin memaksakan kehendak. Gadis itu punya tanggung jawab atas tugas-tugasnya.


Tidak ingin mengganggu, akhirnya dia pun menjauh dari sosok yang selalu menjadi magnet baginya itu.


Dan.... beberapa saat kemudian Nayla telah menyelesaikan tugas-tugasnya, ternyata lumayan cepat. Rupanya membuat Reynand berhenti mengganggunya dengan cara mengabaikan ternyata jitu juga.


Mau bagaimana lagi, dia terpaksa harus melakukan cara itu. Kalau tidak tugas-tugas yang sudah menumpuk ini tidak akan selesai.


Ia pandang sosok yang sedang memunggunginya itu dengan rasa bersalah. Setelah memadamkan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Perlahan ia pun bergerak naik keatas ranjang. Karena dirasa tidak ada pergerakan apapun dari Reynand Nayla pun mulai menarik selimutnya.


Namun sebelum ia berbaring tiba-tiba tubuh yang sedang memunggunginya itu pun berbalik dan langsung mendekapnya erat sebelum keterkejutan itu menghilang, membuatnya tersentak didalam rengkuhan itu.


Benar-benar, terkadang Reynand selalu membuatnya lupa bagaimana caranya bernafas.

__ADS_1


"Sesak...." Ia menepuk-nepuk tangan kokoh itu.


Merasa Nayla terhenyak oleh perbuatannya, Reynand pun mulai melonggarkan dekapannya. Mengintip wajah yang sedang cemberut itu, dia pun terkekeh.


Lalu mengeratkan kembali pelukan itu "Lama banget sih, Nay...."


"Iya, kan tugasnya banyak." Protesnya cepat.


Reynand melepas pelukannya, kemudian tersenyum sembari memandangi keindahan dihadapannya. Menyingkirkan anak-anak rambut yang menghalangi pandangannya, wajah cantik itu pun semakin terlihat jelas.


"Abang...." Nayla akhirnya bersuara.


"Iya." Suara lembut Nayla memang selalu menenangkan.


"Soal itu...."


"Apa, soal apa?" Sahutnya semakin mendekat menipiskan jarak diantara mereka. Apa mungkin Nayla akan meminta sesi selanjutnya?


Gadis itu sedikit tertunduk.


Melihat rona itu Reynand mulai berbinar. Mungkinkah Nayla akan meminta itu? Kalau iya, dia sih, mau-mau saja. Memang itu yang dia harapkan, bukan.


Nayla menggigit bibir bawahnya sejenak terlihat ragu-ragu "Soal, gosip itu...."


Terbayang apa yang dimaksud, Reynand menyentuh bibir itu dengan jari telunjuknya cepat. Ia dapat melihat Nayla mulai sesak. Gadis itu sangat mudah sekali terbawa perasaan. Maka dia tidak ingin membahas masalah yang menurutnya tidak penting itu sebelum mereka tidur. Padahal dia benar-benar berharap Nayla akan meminta itu.


Nayla benar-benar tidak suka, Reynand selalu tidak ingin membahas masalah ini "Tapi...." Bibir mungil itu kembali bergerak kembali.


"Nay...."


Reynand menghela nafas.


"Iya, abang tau. Sabar ya, sebentar lagi orang-orang akan tau tentang pernikahan kita."


Namun, rupanya gadis itu masih tidak puas. Terlihat dari air matanya yang mulai menggenang.


Melihat itu dengan cepat Reynand kembali memeluk Nayla erat. Mengelus punggung gadis itu pelan, mencoba menenangkan.


"Jangan nangis lagi, ok. Tadi kamu sudah nangis. Nanti kepala kamu pusing kalau nangis terus, Nay." Reynand benar-benar khawatir. Sungguh sifat perasa Nayla benar-benar dominan. Moodnya gampang berubah tergantung bagaimana suasana yang ada saat itu.


Ia juga gadis yang terlalu memendam masalahnya sendiri. Tadi, saja Nayla sampai sesenang itu karena diizinkan kuliah. Entah apa yang belum dia ketahui dari pikiran yang tersembunyi itu. Rasanya Reynand harus terus berhati-hati dengan sikapnya sendiri mulai sekarang. Salah-salah nanti Nayla kemungkinan juga menyimpan pikiran buruk lainnya tentang dirinya.


"Nay...." Kemudian mengangkat tubuhnya untuk memandang wajah yang mulai gerimis itu dari atas.


Mendadak Nayla gelagapan.


"Berat." Kemudian tersentak kala kaki Reynand tiba-tiba menindih kaki mulusnya.


Reynand terkekeh sejenak.


"Iya jangan nangis, ok." Kini ia malah menggosok-gosokkan kakinya. "Kalau kamu nangis...." Menatap penuh perasaan "Nanti abang minta lanjutin yang malam itu, mau?"


Ish, Nayla mengernyit. Reynand ini apa-apaan sih. Pembahasannya tidak jauh-jauh dari sana. Dengan cepat Nayla menyentak sosok yang sedang menatap mesum dari atas tubuhnya itu hingga jatuh tepat disampingnya.


Dengan wajah yang sudah memerah gadis itu berbalik memunggungi.


Ia menggenggam sprei dengan erat. Mengulang hal itu untuk kedua kali sebenarnya ia masih belum siap. Ingatkan saja yang bertama itu rasanya sangat sakit dan rasa malunya terus datang bertubi-tubi. Walaupun pada akhirnya saat itu dia dan Reynand bisa....

__ADS_1


Nayla semakin mengeratkan genggamannya disprei itu dan menggigit bibir bawahnya kuat. Kilasan malam itu tiba-tiba melintas dikepalanya. Bagaimana dia berteriak dan mengeluarkan suara-suara aneh itu. Ia pun memejamkan mata, malu.


Seketika ia ingat bisikan Mama Adel, kalau lama-lama nanti dia akan, ketagihan. Huh, kenapa tubuhnya tiba jadi memanas begini, sih.


"Nay, hadap sini dong."


Pelukan Reynand dari belakang tiba-tiba menyadarkannya.


Deg!


Deg!


Deg!


Debaran itu datang lagi.


Pelan-pelan ia memutar tubuh kakunya itu, kemudian tatapan mereka pun beradu pandang.


Reynand tersenyum, ia sangat suka tatapan malu-malu ini. Pipinya merah merona, bersemu merah. Indah, sangat indah.


"Tidur, yuk!" Ajak Reynand akhirnya.


Gadis itu pun mengangguk pelan. Reynand semakin erat memeluknya. Sepertinya kebiasaan ini akan terus mereka lakukan.


Diam-diam Reynand sudah menduga, Nayla pasti akan lupa dengan pembahasan yang hampir membuatnya berderai air mata itu. Cukup alihkan saja perhatiannya. Seperti membahas tentang sesi selanjutnya, begitu.


Reynand kembali mengeratkan pelukan mereka. Kira-kira kapan ya bisa dilakukan? Dasar! Dalam hati ia memaki dirinya sendiri, benar-benar tidak sabaran.


Tidak apa-apa kok Rey, kan sudah halal (Duh, bisikan malaikat).


"Aku...."


Suara Nayla yang membuat laki-laki yang sedang terpejam itu berdehem.


"Aku gak serius soal mau kuliah keluar negeri...."


"Iya, abang tau kok, Nay. Udah cepetan sekarang kamu tidur." Mengecup puncak kepala itu cepat dan memeluk semakin erat.


Nayla pun mulai memejamkan mata.


Perasaan ini, indahnya....


*


*


*


*


Aku penasaran cerita ini masih ada yang nungguin gak? Komen dong!


Kira-kira lanjut up gak nih?


Komen, like and votenya, ok!


Happy Readingđź’“

__ADS_1


__ADS_2