Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Sang Sahabat


__ADS_3

****


Nayla menatap layar ponselnya, mengusapnya pelan dengan jari jempol. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Setelah memaksa Reynand untuk menjemputnya tadi tiba-tiba ia merasa tidak enak.


Dia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri. Perasaannya sangat cepat berubah. Tadi sangat ingin Reynand datang untuk menjemput, namun sekarang tiba-tiba ia merasa tidak enak.


Terbesit untuk mengurungkannya dan berniat menelepon Reynand kembali. Memberitahu laki-laki itu agar tidak usah datang.


Apalagi dia tahu bahwa Reynand saat ini sedang bekerja. Ah, apa dia langsung memesan taksi online saja. Dasar dia benar-benar seorang yang perasa. Tapi....


"Nay...."


Nayla sontak menoleh pada sumber suara itu. Sosok jangkung nan populer diseluruh angkatan bahkan hampir disetiap sekolah yang ada dikota itu pun menatapnya dalam, lalu kemudian melempar senyum tipis kepadanya.


Tubuhnya berkeringat dengar rambut yang terlihat sangat basah. Dari pakaian yang ia pakai terlihat kalau ia baru saja selesai olahraga basket.


"Belum pulang....?" Tanyanya kaku.


Nayla tersenyum tipis dan mengangguk.


Lalu Riko mendekat.... "Emh.... gue temenin ya." anggukan dari gadis itu pun membuat ia mendudukan diri bersebelahan.


Huh,


Nayla dapat mendengar hembusan nafas dari orang disampingnya itu. Ia yang tertunduk mengangkat kepala dan melirik sejenak. Dilihatnya laki-laki itu sesekali tersenyum lalu kemudian berpaling lagi sembari menaruh tangan dikedua lututnya.


"Udah lama...." Dan ucapan itu mampu membuat Nayla menatap Riko kembali.


"Gue kangen...." Lalu Riko menoleh, bersitatap dengan mata bening yang juga sedang menyorotnya itu.


"Riko...." Nayla mencoba membaca raut wajah laki-laki yang ia anggap sahabat itu.


Mendengar Nayla menyebut namanya Riko tersenyum, lalu kembali beralih pandang dan menunduk seperti tersimpan emosi disana. Kemudian terlihat lagi laki-laki itu menengadah kelangit.


Gelisah, Nayla dapat melihat Riko gelisah.


Lalu menoleh Ke Nayla sejenak hingga akhirnya beralih pandang lagi seolah tidak bisa menatap gadis itu lebih lama "Lo mau gue antar pulang?" Tanyanya ragu.


Nayla sontak menoleh mendengar penawaran Riko, yang mana penawaran itu membuat ia tiba-tiba merasa tidak enak. Dia ingin menolak.... bukan, akan tetapi dia terpaksa harus menolaknya, karena bagaimana pun itu tidak mungkin. Tidak mungkin ia membiarkan Riko mengantarnya pulang sementara itu nantinya pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan dari laki-laki itu.


Dan, lagi pula sekarang ia sedang menunggu Reynand untuk menjemputnya. Iya, yang ia harapkan sedari tadi adalah Reynand segera datang. Nayla celingak-celinguk mengharapkan kehadiran itu, tapi, kenapa sampai sekarang laki-laki yang berstatus suaminya itu belum juga sampai.


Was-was Nayla menatap Riko kembali.

__ADS_1


"Rik gue...."


"Nay...."


Dan, suara lirih Nayla langsung diputus tiba-tiba oleh laki-laki yang terlihat sangat putus asa itu.


Lalu setelah helaan itu, Riko kembali berucap "Gue kangen kita kayak dulu...." hembusan nafas dikalimat terputus itu menandakan bahwa ia sedang menahan sesak.


Sementara Nayla mendengarkan dengan hati sendu, ia juga dapat melihat Riko berbicara tanpa melihat kearahnya. Sesekali terlihat laki-laki menunduk seperti ada sesuatu yang tertahan. Lagi-lagi Nayla merasa bersalah, lebih tepatnya merasa bersalah karena ada yang ia tutupi dari sahabatnya itu.


"Tapi, kan lo sendiri yang ngejauhin gue. Sejak hari terakhir waktu kita study tour dibali....."


Dan, kali ini Riko mampu untuk menatap Nayla. Ia sorot telaga bening itu dalam-dalam seolah menyiratkan sesuatu disana. Lama ia menatap lalu kemudian berpaling lagi.


"Rik...."


"Nay...."


Ucap mereka bersamaan. Lalu kembali saling bersitatap, hingga akhirnya Nayla pun bersuara.


Lagi-lagi Riko hanya bisa merunduk memejamkan mata seperti memendam sesuatu yang dalam. Merunduk disetiap kalimat yang tidak bisa ia jawab.


Tapi, tidak ada yang salah dalam diri gadis itu. Hanya saja dia terlalu berharap dan tidak bisa menerima kenyataan.


"Menurut lo apa rasanya disaat sesuatu yang kita harapkan akan jadi milik kita, tapi tidak bisa kita miliki karena kenyataannya sudah dimiliki orang lain...."


Nayla hanya bisa terdiam oleh ucapan itu.


Dan, ditengah ketertegunan itu.... "Riko...."


"Dua tahun lebih gue jemput lo pas mau berangkat sekolah sejak pertama kali kita deket...."


"Nganterin pas pulang sekolah, nemenin lo belanja, belajar bareng...." matanya lurus menatap, nanar.


"Rik...."


Lalu ia menoleh untuk menatap gadis yang menganggapnya sahabat itu "Tapi gue senang ngelakuinnya. Gue senang ngelakuin semua itu Nay, apapun saat bersama lo. Dan, selama itu lo ternyata gak sadar-sadar...."


Tidak sadar apa? Satu bulan mereka tidak lagi ngobrol sedekat ini, Nayla rasa Riko berubah. Sikap Riko yang seperti ini belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Tapi, mungkin itu memang salah gue, karena gak gerak cepat."


Riko kembali menghela nafas, ia rasa sesuatu yang tertahan itu membuat ia terlalu banyak meraup dan membuang udara dari dalam tubuhnya. Rasanya ia semakin sesak mendengar ketidakpekaan gadis itu. Apa sesulit itu Nayla membaca perasaannya.

__ADS_1


"Hingga akhirnya gue sadar kalau harapan itu udah gak ada lagi buat gue..." Suara Riko semakin mengecil.


"Riko...."


Riko sontak menoleh sekaligus menyambar cepat "Nayla gue...."


Dan, kedua bola mata itu pun kembali beradu.


Nayla gelagapan Riko mendekatkan wajah dan menipiskan jarak mereka berdua.


"Jangan Rik!!" tahannya.


****


Akhirnya Reynand dapat terlolos dari kemacetan ibu kota. Benar-benar, waktunya harus terkuras selama tiga puluh menit untuk terlepas dari keadaan yang membuatnya menumpuk kesal ini.


Ia lirik lagi jam ditangannya, pukul setengah enam. Ah, sial. Reynand benar-benar merasa sial.


Dan, lagi kenapa ponselnya harus tiba-tiba habis baterai begini. Dia jadi tidak bisa menghubungi Nayla, kan. Duh, bagaimana ini? Dia jadi semakin cemas.


Dipacunya mobil itu lebih cepat, menyalib setiap kendaraan yang ia lewati tidak perduli sumpah serapah orang-orang yang ia dengar. Inginnya saat ini adalah dia segera sampai ketempat tujuannya.


Sesampainya ia ditempat yang dituju. Dari balik kaca mobil ia tercekat, itu yang ia lihat Nayla, kan?


Reynand menggeram, kesal. Adrenalinnya serasa dipacu melihat pemandangan ini.


Sial berani-beraninya anak itu....


*


*


*


*


Hai Readers!


Aku up satu episode dulu ya, kalau sempat nanti malam aku up lagi. Maafkan jika banyak typo, pengulangan kata, dan sebagainya.


Mohon maaf lahir dan batin.


Like, vote, komen!

__ADS_1


Happy Reading!


__ADS_2