
****
Mata indah yang sedari tadi terus berusaha terpejam itu kembali terbuka. Berusaha untuk terpejam disaat dirinya tidak bisa tidur hanya akan membuatnya tambah pusing saja. Dia ingin menangis saat itu juga. Benci dengan keadaannya yang selalu seperti ini. Sulit tidur dikala banyak pikiran.
Pelan-pelan Nayla bangkit dari kasur. Melirik sebentar kearah Reynand, laki-laki itu tertidur dengan sangat lelap menghadap kearahnya. Ah, kenapa dia jadi merasa bersalah lagi setelah mengabaikan Reynand tadi.
Nayla menyibak selimutnya perlahan sebelum akhirnya dia turun dari ranjang. Dengan langkah hati-hati dia berjalan menuju rak bukunya. Pencahayaan tidak terlalu terang karena mereka menggunakan lampu tidur dengan cahaya yang rendah. Namun dia masih bisa mengambil botol kecil berisi obat itu dari balik buku-bukunya.
Nayla duduk dikursi setelah mengambil air dingin dari dalam kulkas. Digenggamnya beberapa obat itu sebeum dia meminumnya. Dia tahu dua butir obat tidak akan cukup untuk membuatnya terlelap dikala stres dengan pikiran yang terus memenuhi kepalanya. Dia butuh lebih.
Namun, saat tangannya mulai memasukkan obat-obat itu kedalam mulutnya. Sebuah uluran tangan mengenggam pergelangannya dengan erat.
Nayla terkejut seketika. Reynand, laki-laki itu bangun. Apa Reynand menyusulnya?
Reynand membuka genggaman tangan Nayla dengan cepat. Keterkejutan tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Tegukan ludahnya terdengar dengan jelas. Apa ini? Nayla hendak meneguk empat butir obat dengan jenis yang sama.
“Kamu minum obat sebanyak ini?” tanyanya sebelum akhirnya dia mengambil botol obat itu dari atas meja. Membaca keterangan disana untuk mengetahui jenis obat seperti apa yang dia minum.
“Sejak kapan kamu mengkonsumsi obat ini? Kamu ke pskiater?” Tanyanya lagi masih tak percaya. Nayla meminum resep obat dari pskiater. Dia tahu betul jenis obat ini. Obat yang juga pernah dia minum beberapa tahun yang lalu. Kenapa dia tidak tahu kalau Nayla mengkonsumsinya selama ini?
“Nay.” Reynand menjadi tidak sabaran.
Nayla masih termangu. Dia ketahuan, selama ini dia menyembunyikannya dari Reynand.
“Nayla, kenapa kamu minum obat sebanyak ini? Ha? ” tanyanya semakin lembut, penuh kekhawatiran.
“Memangnya kenapa?” menarik nafas halus sebelum melanjutkan ucapannya. “Temen-temen aku juga ada beberapa kok yang datang ke pskiater dan minum obat seperti itu.” Jawabnya lirih sembari menahan kepala yang sudah berat. Dia benar-benar butuh istirahat.
“Sejak kapan kamu minum obat seperti ini?” Mereka saling bersitatap sejenak. “Apa…. sejak kita menikah!?” Reynand memiringkan kepala mulai was-was. Hatinya mencelos saat itu juga, bagaimana jika itu benar. Itu berarti Nayla tertekan dengan pernikahan ini. Ya tuhan. Dia sangat ingat kala dirinya dipertemukan dengan Nayla saat pertama kali sebelum mereka menikah. Mata gadis itu sembab penuh penolakan atas perjodohan yang mereka jalani.
“Nay?” Masih menunggu jawaban dengan was-was.
“Bukan…. Bukan karena aku nikah sama abang.” Jawabnya pelan. Nikah? Ah benar dia sudah menikah dengan Reynand. Seharusnya dia tidak usah menakutkan banyak hal. Karena saat ini Reynand itu…. miliknya? Suaminya!
Reynand mengehela nafas lega. Dia dapat melihat Nayla menjawab dengan jujur. Itu berarti gadis itu tidak menyesal menikah dengannya.
Reynand berjongkok sembari menahan beban tubuh menggunakan lututnya. Ditatapnya wajah gadis itu dari bawah sembari mengelus pipinya pelan.
__ADS_1
“Terus sejak kapan?” tanyanya lembut.
“Udah lama.” Nayla tertunduk dalam sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Sejak SMP kelas tiga.” Ucapnya pilu. Dia ingat dirinya mulai berani pergi kepskiater, kala itu tanpa sepengetahuan Mami. Setelah mendengar beberapa teman membahas itu bersamanya. Berteman dengan anak-anak broken home membuat dia jadi tahu banyak hal, khususnya masalah 'ketenangan batin'. Jujur saja kala itu benar-benar masa terberat dalam hidupnya. Kenyataan ayahnya yang sudah meninggal, Mami Miska yang harus bekerja dari pagi sampai malam dan ditambah lagi dia harus menjaga adiknya yang masih kecil. Itu semua menjadi beban tersendiri baginya.
Reynand segera merengkuh Nayla erat dalam pelukannya. Ya tuhan, kenapa dia tidak sadar kalau gadis ini menyimpan masalah. Dirinya benar-benar bodoh karena selama ini yang dia pikirkan tentang Nayla lebih sering tentang tubuhnya. Benar-benar memalukan! Suami apaan kamu Reynand?!
Dia pikir selama ini hanya dirinya yang punya beban. Dia ingat kala itu dia pernah melakukan hal yang sama seperti Nayla. Reynand menghela nafas berat mengingngat itu.
“Terus kenapa nggak bisa tidur? Malam-malam sebelumnya kan nggak kayak gini?” Tanyanya lembut sembari mengelus rambut panjang Nayla pelan.
“Hem?” Melepaskan pelukannya. Memberi jarak untuk menatap mata yang sudah memerah itu. Terlihat jelas mata itu sudah sangat lelah dan butuh istirahat. Nayla butuh istirahat sekarang. Gadis itu harus sekolah besok.
Nayla enggan menatap mata Reynand. Ditanya seperti itu membuat dia jadi tidak tahan. Menyebabkan dadanya kembali sesak. Ingin rasanya dia menceritakan semuanya. Akan tetapi, dia tidak ingin Reynand tahu penyebab dirinya jadi seperti ini. Takutnya Reynand menganggap diirnya terlalu egois, karena mempermasalahkan tentang pekerjaan laki-laki itu.
Sebenarnya bukan tentang pekerjaannya yang Nayla permasalahkan. Tapi, tentang…. Kedekatan Reynand dengan banyak wanita. Ya, dia hanya tidak suka Reynand terlalu dekat dengan wanita, selain dirinya?
Hatinya menginginkan dia adalah wanita satu-satunya yang harus berada disisi Reynand.
Egoiskah?
Nayla kembali menunduk dalam. Seperti membenarkan pertanyaan Reynand.
Reynand menganggap diamnya Nayla menunjukkan kebenaran itu. Dia kembali menghela nafas. Berarti benar Nayla sedang banyak pikiran. Tapi apa? Apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Tentang sekolah? Apa dia rindu Mami Miska dan Romeo? Atau….
Ah, dia ingat. Nayla mulai seperti ini sejak dirinya pulang tadi sore. Sejak gadis itu….salah satu temannya yang berambut agak ikal, dia lupa namanya. Tapi, apa mungkin? Nayla seperti ini karena teman centilnya itu menghambur memeluknya tadi sore. Tapi, mungkin saja. Selain itu Nayla yang biasanya terlihat duduk dimeja belajar membaca buku, tiba-tiba menonton film diatas kasur disaat jam belajarnya. Film yang diperankan olehnya. Film dengan peran paling berani yang pernah dia ambil.
Sepertinya benar apa kata kakek. Nayla akan terusik dengan pekerjaannya. Pekerjaannya yang mengharuskan dirinya bersikap ramah kepada semua orang. Terkhusus fansnya yang kebanyakan adalah….wanita. Apalagi jika wanita itu suka nyosor, seperti teman Nayla tadi.
Reynand kembali memeluk Nayla dengan erat mencoba menyelami perasaan sang istri. Sebelum akhirnya dia membisikkan sesuatu dengan lembut ditelinga gadis itu.
“Nayla, apa yang kamu lihat, itu belum tentu benar. Jangan terlalu dipikirkan. Hem?” seolah dia tahu apa yang ada didalam kepala istrinya itu.
Ada helaan nafas halus dari Nayla. Perkataan Reynand barusan sedikit menenangkannya. Seakan-akan laki-laki itu tahu apa yang dia pikirkan sedari tadi.
“Jangan minum obat itu lagi. Hem?"
“Kamu pernah bilang kan waktu itu, kamu merasa nyaman dan bisa tidur nyenyak saat Abang peluk kamu."
__ADS_1
Ah, iya. Nayla ingat dia pernah mengatakan itu kepada Reynand dikala otaknya sedang konslet karena sakit. Duh, dia jadi malu sendiri mengingatnya. Dengan beraninya dia meminta Reynand untuk memeluknya ketika tidur. Laki-laki ini ingat rupanya.
Nayla semakin menyembunyikan wajahnya diceruk leher Reynand. Menggenggam kaos belakang laki-laki itu dengan erat. Benar-benar memalukan. Dia tidak ingin mengingat itu lagi.
“Kenapa tadi waktu dipeluk nggak mau? Padahal abang sudah pengen lo meluk kamu. Tapi kamu malah nolak berkali-kali.” Ucapnya sok sedih.
Bugh! Nayla memukul bahu Reynand. Memang dasar, mesum! Sontak Reynand terkekeh geli. Eh, tapi apa yang salah dengan pelukan.
Mereka masih berpelukan. Nayla semakin menjatuhkan kepalanya dipundak Reynand. Matanya mulai berat menahan kantuk. Tanpa sadar dia menggesekan wajahnya dipundak itu, nyaman. Ah, kenapa dia jadi suka wangi tubuh ini.
“Kekamar yuk!?” Ajak Reynand sebelum akhirnya dia mendaratkan kecupan dipipi sang istri. Hingga tanpa dia sadari membuat wajah sang wanita memanas dengan jantung yang mendadak berdegup kencang, seperti akan meledak saat itu juga.
Nayla mengangkat kepalanya perlahan, dia mengangguk. Namun sebelum itu Reynand menyatukan wajah mereka sejenak, membuat kening dan hidung mereka saling bersentuhan.
“Kamu lebih bagus galak daripada pendiam gini.” Ucap Reynand yang akhirnya membuat Nayla memasang wajah sok cemberut.
Namun akhirnya Nayla memeluk tubuh suaminya itu dengan erat. Suami? dia harus terbiasa mulai sekarang.
Reynand kembali tersenyum geli, dengan tingkah ngambekkan Nayla.
Sehingga, tanpa mereka sadari ada Mama yang sedari tadi sudah sangat lama mengintip dari balik dinding. Mama terus berusaha menempel di dinding seperti cicak berusaha mendengar percakapan mereka.
Mama kepo rupanya.
*
*
*
*
Cerita ini hanya fiksi belaka, jangan terlalu dijadikan beban emosi dan fikiran.
Happy Reading!!
__ADS_1